LOGINSisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.
Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.
Ironis sekali.
Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.
Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus.
Apakah ia lelah? Tentu.
Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.
“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat Karuna menoleh cepat. Ah, tentu saja. Si sumber masalah berdiri santai seperti manusia yang baru selesai rapat.
Rajendra berdiri beberapa langkah darinya, tangan masuk ke saku celana, ekspresinya sama datarnya seperti ketika duduk di meja makan tadi.
Kedua keluarga mereka sudah pulang. Papi dan Maminya ke rumah, Ayah dan Bunda Rajendra ke hotel. Sengaja. Terlalu sengaja. Akarnya adalah akal-akalan Winanto bahkan tidak dicoba untuk disembunyikan.
Karuna mendengus kecil.
“Kamu pion catur, ya?"
Namun yang didapatinya, hanya Rajendra yang menggeleng. Tenang. Selalu tenang.
Menyebalkan.
“Kamu juga,” Karuna berbalik penuh, menatapnya tajam. “Kenapa nggak nolak? Kamu dapet untung apa?"
Hening sebentar. Lalu perempuan itu tertawa kecil. "Benar juga. Kalau gak menguntungkan berarti bisa dibuang."
Air mancur terus berbunyi di belakang mereka, ilusi suaranya semakin keras.
Dan Karuna … gadis itu mendapatkan jawabannya.
Karuna mengenalnya. Rahang tegas itu selalu muncul tiap kali Rajendra berada di posisi yang tidak nyaman. Bedanya, raut wajahnya kali ini begitu datar.
“Benar, kan?” desaknya.
Rajendra membasahkan bibirnya, menarik napas pendek. Sepoi angin yang sama, yang sedikit membuat kerah kemeja putih juga potongan koma rambutnya bergerak, “Saya harus jadi pimpinan Witavest Group.”
Detik bergelantungan tanpa tahu harus berbuat apa.
Karuna berkedip sekali. Dua kali. Lalu tertawa pendek yang sama sekali tidak terdengar lucu.
Sederet fakta itu, cukup untuk membuat Karuna merasa konyol.
Ia menatapnya lama, seperti mencoba mencari sisa manusia yang dulu pernah ia kenal.
Sederet fakta itu, cukup untuk membuat Karuna menggigit bibirnya dalam, “Jadi … ini semua cuma tentang jabatan yang kamu incer?” Karuna tak menyangka, “Mengecewakan,” katanya serak.
“Tidak ada perubahan sejak tujuh tahun lalu, ya?”
Di sana, Karuna dapati Rajendra yang terdiam.
“Masih sama-sama mengecewakan.”
Sungguh sialan. Masa depannya adalah harga yang harus ia berikan demi membuat Rajendra berada di rantai makanan tertinggi Witjaksana? Tanpa peduli bagaimana Karuna menerimanya, tanpa peduli bagaimana perasaannya.
“Kamu serakah juga ya. Sudah pernah meninggalkan, sekarang?” rasanya seperti ditikam, berulang-ulang.
Rajendra tidak menyangkal, tidak juga mencoba untuk mengonfirmasi apa yang Karuna simpulkan. Lelaki itu pada akhirnya menghembuskan napas, “Saya butuh bantuan kamu.”
Napasnya naik turun. Tangannya bahkan masih gemetar—entah karena marah atau panik.
“Terus ikut ke Jakarta sama kamu?” lanjutnya, satu langkah maju. “Kamu pikir kamu siapa punya hak kayak gitu?”
Rajendra tidak menyela.
Tidak membela diri.
Tidak juga marah.
Dan justru itu membuat dada Karuna makin panas.
“Saya butuh paling tidak empat sampai lima investor utama Witavest percaya penuh sama saya sebagai pimpinan,” lanjut Rajendra stabil. “Kalau kepercayaan datang lebih cepat, waktunya bisa lebih singkat.”
Kening Karuna mengerut. Ada hal yang terasa salah dan membuat Karuna merasa marah. Apa urusannya pernikahan ini dengan kepercayaan dan waktu?
“Maksud kamu… apa, sih?”
“Dua tahun.” Rajendra menatapnya lurus. “Itu waktu terlama yang bisa saya janjikan ke kamu untuk pernikahan ini. Setelah itu, kita bisa urus sisanya.”
Angin malam lewat di antara mereka, membawa bau tanah basah.
“...Cerai?” tembak Karuna.
Ekspresi Rajendra yang tidak berubah,
Adalah kesalahan terbesarnya malam itu.
“KAMU GILA!?” kedua telapak Karuna mendorong keras dadanya sampai pria dewasa itu sedikit mundur. “PERNIKAHAN BUKAN MAINAN, RAJENDRA!”
Namun, suara Rajendra tetap sama, tidak gemetar sama sekali. “Apa bedanya dengan kita sekarang?” tanyanya. “Kalau pun kita menikah, apa kamu bisa mencintai saya–lagi?”
Saat itu, Karuna kehilangan pembelaan kata. Jemari dengan kukunya yang tajam itu jatuh masing-masing di sisi tubuh–kehilangan kekuatannya. Kalimat Rajendra selanjutnya menghantam Karuna lebih keras.
“Saya cuma ingin ini jadi kewajiban,” lanjut Rajendra. “Kita jalani saja. Anggap partner kerja. Kamu bebas buat aturan apa pun di rumah. Saya turuti.”
Partner kerja.
Luar biasa.
Karuna hampir tertawa kalau saja dadanya tidak terasa sesak.
“Pernikahan apa yang ada di kepala kamu, sih?” tanyanya lirih.
“Kita menikah bukan karena cinta, Karuna.”
Oh.
Kalimat itu lebih tajam dari teriakan.
Karuna menatapnya terkejut. Meski ada banyak penghianatan yang sudah ia temui, ternyata Rajendra selalu jadi salah satu yang tak pernah bisa ditebaknya. Memuakkan.
Air mata jatuh di sudut mata kirinya tanpa izin. “Kamu–duh.” katanya pelan, lambat, namun kini makin sarat akan kebencian. “Rajendra, kamu tuh–dua puluh sembilan tahun. Demi jabatan kamu rela balik ke masa lalu?”
Karuna tersenyum getir, menggeleng tak percaya, “Dulu, satu tahun bareng kamu aja aku nggak sanggup.”
“Karuna,” panggil Rajendra sekali lagi.
“Nggak perlu.” Ia mundur satu langkah. “Ujung-ujungnya juga aku yang dipaksa harus setuju, kan…” napasnya bergetar. “... Kak Rajendra.”
Panggilan itu membuat Rajendra diam.
Benar-benar diam.
Karuna berbalik, langkah stiletonya menjauh di atas batu paving. Suaranya teratur, tegas–sampai akhirnya menghilang bersama udara malam.
Meninggalkan Rajendra sendirian.
Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga
Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang
Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan
Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K
Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K
Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se







