Home / Romansa / PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN / BAB 2 - PERTEMUAN KELUARGA

Share

BAB 2 - PERTEMUAN KELUARGA

last update Last Updated: 2026-02-24 01:21:33

Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.

“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”

“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”

Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.

“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.

“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.

“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”

Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk sekali, To. Proyek Jakarta kemarin akhirnya selesai lebih cepat dari target.”

“Oh, ya?” Winanto tampak tertarik, kini menatap Rajendra. “Yang akuisisi itu?”

Lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu hanya mengangguk singkat. “Masih tahap integrasi, Om.”

“Rajendra kalau kerja memang begitu,” Dahlia ikut menimpali, nada suaranya lembut. “Jarang cerita di rumah, tahu-tahu sudah selesai saja.”

“Direksi sampai langsung turun tangan waktu itu, takut proyeknya loss. Saya saja ikut khawatir,” tambah Hartono, terkekeh kecil. “Eh, di presentasi final malah dipuji habis-habisan sama investor–katanya berani ambil keputusan terjal, tapi hasilnya justru paling optimal. Padahal di keluarga, dia ini bungsu, ‘kan. Tapi rasa-rasanya, malah dia yang paling dewasa.”

Winanto tersenyum tipis. Ia tentu ingat, Rajendra bukan anak satu-satunya–ada Mahendra Deenan Witjaksana, sang kakak yang usianya terpaut dua tahun.

Rajendra menghela napas kecil, Ayah dan Bundanya memang selalu berlebihan. Lelaki itu memotong steknya rapi. “Semua opsinya memang mengarah ke sana.”

Winanto mengangguk-angguk, sembari tatapannya justru beralih jahil pada puterinya sendiri. “Itu juga karena kamunya yang hebat, Nak Rajendra. Iya, 'kan, Runa?”

Yang tentu dibalas delikan datar milik Karuna.

Percakapan kembali mengalir di antara para orang tua, bergeser ke angka, proyek, dan rencana ekspansi yang terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang jelas bernilai miliaran.

Suara alat makan berdenting pelan. Karuna lebih sering mengunyah daripada bicara. Sesekali ia tertawa kecil ketika namanya ikut diseret ke dalam obrolan, lalu kembali diam. Canggungnya tidak bisa disembunyikan.

Di seberangnya, Rajendra tetap tenang–menyimak seperlunya, mengangguk saat dibutuhkan, menjawab singkat tanpa benar-benar terlibat. Seolah makan malam ini hanyalah satu agenda sosial yang harus ia selesaikan sebelum kembali bekerja.

Dan justru itu yang membuat Karuna semakin gelisah.

Hingga, sesuatu yang menjadi tujuan pertemuan mereka akhirnya dimulai oleh Hartono.

“Seperti yang kalian tau, sebetulnya ini adalah harapan lama kami, sejak kalian masih kecil. Sampai akhirnya sekarang, usia kalian sama-sama matang. Di waktu yang tepat juga, saat Rajendra sebentar lagi naik jabatan.”

Karuna menoleh. Apa ‘perjodohan’ ini ada kaitannya dengan kenaikan jabatan Rajendra?

“Hari ini, kami mau dengar langsung jawaban kalian.” Winanto tersenyum, kini memandang Rajendra yang juga menatapnya–meski tatapan itu terlalu stabil untuk emosi bahagia. “Pendapat Rajendra, bagaimana?”

Gadis itu refleks menatap Rajendra. Ternyata oh ternyata, pria itu balik menatapnya, meski hanya sekilas. Sayang, tatapan itu tidak memiliki arti, monoton–tidak membantu sama sekali. Karuna memutusnya dan kini menatap taplak meja yang polanya kabur, tanpa sadar napasnya memberat.

Sebab yang Karuna pahami, ia tidak punya pilihan, tetapi Rajendra punya.

Harapannya menyempit agar pria itu menolak.

Mengatakan bahwa pria itu ragu.

Mengatakan bahwa pria itu tidak siap dan bukan Karuna orangnya.

Lagi pula, membayangkan mantan kekasihnya itu jadi suami seumur hidupnya tentu sebuah lelucon kosmik–

“Saya setuju.”

Karuna melotot, kepalanya naik.

Rajendra gila.

Gadis itu mendadak tersedak, padahal seingatnya makanan terakhir sudah lama ditelan. Tapi sekarang, kerongkongannya seperti dicekoki bubuk cabai.

“Uhuk–uhuk!” Karuna memegang mulutnya, takut muntah–tidak etis. “Kamu … bilang apa?” Karuna bersuara, mencoba mengonfirmasi.

Sementara Rajendra bersedekap, pria itu menatapnya lurus. “Saya setuju.”

Pengulangan itu terasa seperti vonis.

Di saat seperti ini, respon tubuhnya justru memalukan. Bahu naik-turun, ia hampir memuntahkan isi perut jika saja Marlina tak sigap menyodorkan gelas ke arahnya. “Ya ampun, Karuna! Minum! Dari kemarin kesedak mulu, sih, Kak.”

“Karuna, kamu nggak papa?” Dahlia ikut cemas.

Lebih-lebih melihat mata Karuna yang mulai berair.

Karuna meminum air itu dengan sedikit gemetar. Pewarna persik matang di bibirnya telah hilang. Netranya naik kembali menatap Rajendra yang menatapnya tak terganggu.

Rajendra.

Benar-benar.

Tidak waras.

Cepat sekali.

Terlalu cepat.

“Rajendra bagaimana? Ada keinginan tanggal tertentu?” tanya Winanto.

Karuna memalingkan wajah ke arah jendela kaca besar. Malam Bandung berpendar megah, lampu-lampu kota menyala tanpa peduli pada hidup seseorang yang baru saja runtuh pelan-pelan.

Untuk kedua kalinya dalam hidup, ia kehilangan hak bersuara.

Mustahil.

Mustahil orang-orang ini tidak melihat penolakan yang begitu jelas di wajahnya.

Atau … mereka memang memilih untuk tidak melihat.

Di bawah meja, jemarinya mengepal.

Ah, Rajendra.

Apakah pria itu juga akan membuka rahasia mereka berikutnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 7 - VACUUM DAN NODA YANG PAHIT

    Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 6 - PAGI PERTAMA

    Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 5 - MALAM TAK WARAS

    Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 4 - PESTA PERNIKAHAN

    Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 3 - OBROLAN IRONIS

    Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K

  • PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN   BAB 2 - PERTEMUAN KELUARGA

    Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status