MasukSudah empat hari berlalu sejak kepulangan Seraphine dari Nagoya. Empat hari yang diisinya tanpa jeda. Segala ppekerjaannya mulai dari tanda tangan puluhan berkas, laporan audit keuangan hingga rapat bersama jajaran direksi dari Seraphine Aesthetic Group—anak perusahaan dibawah Kirana Group yang ia kelola penuh.Seraphine duduk di tegak di balik meja kerjanya. Kacamata berbingkai tipis berwarna rose gold bertengger di pangkal hidungnya, memantulkan pendar biru dari layar monitor iPad Pro dan lembaran dokumen fisik di hadapannya.Ketukan pintu kayu jati tebal di ujung ruangan memecahkan keheningan, disusul oleh derit halus saat daun pintu itu terdorong terbuka.Adrian Baskara Kirana—CEO Kirana Group, melangkah masuk. Pria tegap berusia tiga puluh lima tahun itu sudah menanggalkan jas resminya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung hingga ke siku.“Sera,” panggil Adrian.Seraphine tidak langsung mendongak. Ia membubuhkan tanda tangan elektronik di atas iPad sebelum akhirny
Bab 163Pagi itu, Seraphine adalah yang pertama kali terbangun. Ia berkedip pelan, menundukkan pandangannya sedikit ke arah pinggangnya sendiri. Ada rasa hangat di sekitar pinggangnya yang sangat dipeluk erat oleh dua lengan kokoh milik suaminya.Samudera benar-benar tidak melepaskannya semalam. Fakta yang membuat Seraphine berdesir hangat karena sudah lama tidak merasakan pelukan suaminya, tetapi gengsi seolah tidak membiarkannya runtuh dalam sekejap.Seraphine mencoba menggeser lengan besar suaminya. “Sam,” panggil Seraphine dengan suara serak khas orang bangun tidur. “Lepasin. Udah pagi.”Bukannya melepaskan kuncian lengannya, Samudera justru mengerang rendah di balik leher Seraphine. Pria alpha yang pada dasarnya belum sepenuhnya tersadar dari tidur lelapnya itu malah makin mengeratkan dekapan tangannya, menarik pinggul Seraphine semakin menempel rapat pada tubuhnya yang panas."Sebentar lagi, Sayang," gumam Samudera dengan suara bariton yang sangat berat dan parau, membenamkan hi
“Asal kamu tahu,” ujar Seraphine dengan suaranya yang mulai merendah. "Aku gak cuma marah gara-gara cemburu. Aku ini perfeksionis. Di dalam bisnis, aku gak pernah mau ngasih hasil kerja yang bernilai B atau C. Aku selalu ngasih standar A plus. Dan di dalam hubungan kita... hal yang paling bikin aku muak dan takut adalah... fakta kalau aku gak bisa bikin kamu puas."Samudera tertegun. Kelopak matanya membelalak lebar dalam kegelapan. Ia mematung, seolah otaknya butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja meluncur dari bibir istrinya."Kamu ngomong apa, Sayang...?" bisik Samudera tak percaya.Seraphine tetap mempertahankan posisinya. "Kamu denger dengan jelas omongan aku, Samudera," jawab Seraphine datar dan tanpa basa-basi. "Aku ini amatir. Sebelum nikah sama kamu, aku gak tahu apa-apa soal seks. Semua hal yang aku lakuin di atas kasur sama kamu... itu cuma hasil dari aku yang berusaha nyesuaiin diri sama dominasi kamu. Dan setiap kali aku nginget kalau kamu pernah
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Seraphine baru saja keluar dari walk-in closet setelah mengganti pakaiannya dengan piyama panjang berbahan sutra tebal berwarna krem gading. Mendengar langkah kaki Seraphine, Samudera mendongakkan kepalanya. "Sayang..." panggil Samudera dengan suara parau yang sangat bergetar. Seraphine mengangkat alis menatap suaminya. “Kenapa belum tidur? Besok kamu harus packing ke Fukuoka, kan?” Samudera menatap kasur utama kemudian beralih menatap wajah Seraphine dengan wajah memohon. “Sayang… malam ini malam terakhir kamu di Nagoya. Besok pagi kamu udah mau pulang ke Jakarta dan kita bakal pisah lagi berminggu-minggu.” Samudera menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. “Boleh nggak, aku tidur sama kamu malam ini?” bisik Samudera. "Aku mohon, Sayang... Cuma tidur di kasur yang sama... Aku gak bisa tidur di kasur extra bed itu sambil ngebayangin besok pagi kamu udah gak ada di samping aku..." Seraphine menatap suaminya d
Setelah menyelesaikan konser Day 2 di Vantelin Dome selama tiga jam lebih, Samudera tidak menunggu para membernya selesai makan. Setelah mandi singkat dan ganti baju di venue, Samudera langsung bergegas menuju hotel tempat istrinya menginap.Pintu utama suite mendadak berbunyi klik, disusul oleh derit halus saat daun pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka. Samudera melangkah semakin dalam, menangkap sosok istrinya yang sedang berdiri di dekat meja makan.“Sayang…” panggil Samudera dengan suara baritonnya yang parau dan amat rendah.Pria itu melangkah cepat, mengikis jarak di antara mereka. Ia menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Seraphine. Mengingat batasan ketat yang dipasang sang istri sejak pagi tadi, Samudera menahan jemari besarnya agar tidak langsung meraih pinggang Seraphine, meski seluruh sel tubuhnya berteriak ingin memeluk wanita itu erat-erat.Seraphine membalikkan tubuhnya anggun. Ia menatap suaminya dari atas ke bawah dengan mata hazelnya yang tajam dan
Selama tiga jam berikutnya di pusat perbelanjaan Sakae, Seraphine benar-benar melampiaskan seluruh gejolak emosi di kepalanya melalui aksi shopping spree yang fantastis.Ia melangkah masuk dari satu boutique mewah ke boutique mewah lainnya—mulai dari Hermès, Chanel, Cartier, hingga toko perhiasan berlian ternama di Nagoya. Setiap kali memilih barang, Seraphine tidak pernah menanyakan harga. Ia hanya menunjuk dua set gaun malam haute couture, tiga tas kulit exotic, dan satu set kalung berlian berpotongan emerald yang bernilai miliaran rupiah.Dan setiap kali membayar di kasir, Seraphine selalu menyerahkan Centurion Black Card atas nama Samudera Adikara Wicaksana.Bip!Transaction Approved: ¥ 4,500,000 (Hermès Sakae)Bip!Transaction Approved: ¥ 12,000,000 (Cartier Nagoya)Bip!Transaction Approved: ¥ 8,200,000 (Chanel Boutique)Di area backstage Vantelin Dome Nagoya, suasana di ruang ganti Motion13 sedang sibuk-sibuknya jelang persiapan rehearsal panggung terakhir untuk Konser Day 2.S
Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita c
Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam
Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asram
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa arom







