MasukSamudera meletakkan tubuh Seraphine dengan hati-hati di atas kasur yang empuk, lalu segera menyusul naik dan menindih sebagian tubuh istrinya dengan bertumpu pada kedua sikunya. Tatapan mata pria itu kini menggelap, sarat akan rasa lapar, rindu yang belum terjadi, dan kepemilikan yang absolut. Seraphine menatap wajah suaminya di bawah temaram cahaya lampu tidur. Hatinya berdegup kencang. Meskipun usia pernikahan mereka baru menginjak beberapa bulan, namun malam ini terasa jauh lebih berat dibandingkan saat Samudera harus pergi meninggalkannya untuk tur sebulan penuh di awal pernikahan mereka dulu. "Dulu... waktu awal kita nikah dan kamu pergi tur sebulan, aku biasa aja," cicit Seraphine tiba-tiba, menyuarakan apa yang ada di kepalanya. Tangannya terulur mengelus rahang tegas Samudera. "Iya, dulu gengsi kamu masih setinggi langit. Malah kayaknya kamu seneng aku tinggalin," goda Samudera dengan senyum miring yang sangat tampan. "Terus kalau sekarang? Masih biasa aja?" Seraphine meng
Setelah liburan yang sangat singkat tapi memiliki banyak kenangan indah di Bali selesai. Malam itu, di rumah mereka yang berada di Jakarta Selatan, Seraphine duduk di walk in closet kamar mereka. Mengenakan piyama silk panjang berwarna navy elegan sambil membawa sebuah iPad di tangan kirinya.Di depannya, satu koper rimowa berukuran besar dalam keadaan terbuka lebar. Dahi Seraphine sedikit berkerut, matanya bergerak lincah menelusuri daftar barang bawaan sambil sesekali tangannya yang bebas memindahkan dan merapikan lipatan baju di dalam koper.“Jaket tebal satu, coat panjang satu. Kaos kaki hitam sama putih total ada delapan pasang,” gumam Seraphine pelan, jarinya men-ceklist layar iPad. “Obat-obatan pribadi kamu udah aku masukin ke pouch hitam. Paspor, dompet, sama dokumen penerbangan ada di tas tangan kamu. Sam, charger cadangan sama powerbank udah kamu masukin belum?”Hening. Tidak ada jawaban.Seraphine menghela napas, mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Di sana, bersan
"Terus gimana jalan-jalannya? Seneng kan bisa quality time sama anak-anak Inner Circle?"Mendengar pertanyaan itu, wajah Seraphine mendadak berubah sedikit pias. Ia teringat kejadian sore tadi. Tangan kanannya secara refleks bergerak ke arah pinggang belakangnya, meremas pelan area panggulnya sendiri."Seneng sih... tapi pas di butik ketiga, tiba-tiba apes," keluh Seraphine dengan bibir sedikit mengerucut.Alis Samudera langsung bertaut. "Apes kenapa?""Tadi pas lagi asik milih-milih baju, mendadak pinggang aku keram banget, Sam. Ngilunya nyetrum sampai ke paha bagian dalam. Sakit banget sampai aku gak bisa jalan dan harus duduk di sofa butik lumayan lama. Untung anak-anak gak nanya yang aneh-aneh," gerutu Seraphine.Mendengar itu, raut wajah Samudera seketika berubah seratus delapan puluh derajat. "Tuh kan! Apa aku bilang, Sera!" suara Samudera meninggi satu oktaf, rahangnya sedikit mengeras menahan panik. "Tadi pagi aku udah larang kamu ikut mereka jalan-jalan! Badan kamu itu belum
Malam sudah semakin larut di Kawasan Uluwatu. Seraphine duduk bersandar di kepala ranjang yang empuk. Kakinya yang jenjang diselonjorkan ke depan, tertutup separuh oleh selimut tebal bernuansa putih bersih. Ia baru saja mengoleskan pelembap di kedua tangannya. Pakaian tidurnya malam ini hanya berupa slip dress berbahan sutra lembut berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhnya.Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sebelum keheningan itu dipecahkan oleh suara kenop pintu yang diputar. Sosok Samudera melangkah masuk ke dalam kamar, wajahnya tampak sedikit kelelahan.Begitu netra gelapnya menangkap sosok Seraphine di atas ranjang, gurat kelelahan di wajah tampan pria itu seakan menguap begitu saja. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya."Belum tidur, Sayang?" sapa Samudera dengan suara deep baritone-nya yang khas, melangkah perlahan mendekati sisi ranjang.Seraphine meletakkan botol pelembapnya ke atas nakas, lalu menoleh menatap sang suami. "Belum. Nungguin kamu bal
Keheningan yang nyaman itu berlangsung selama sekitar sepuluh menit, sampai akhirnya ketenangan mereka terganggu oleh suara getaran konstan yang nyaring dari atas meja nakas.Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...Seraphine menghela napas berat, merasa terganggu karena momen manjanya terusik. Dengan malas, ia mengulurkan tangan kanannya dari balik selimut, meraih ponsel pintarnya yang terus bergetar menampilkan nama 'Valerie Aureliana Hartono' di layarnya."Siapa pagi-pagi udah berisik banget?" tanya Samudera, matanya ikut melirik ke arah layar ponsel istrinya."Valerie," jawab Seraphine singkat. Ia menggeser layar ponselnya, membuka aplikasi pesan singkat yang ternyata sudah dipenuhi oleh puluhan notifikasi dari grup obrolan 'The Inner Circle' mereka.Valerie Aureliana Hartono: SERA!!!! BANGUN WOY!!!Valerie Aureliana Hartono: Gila ya ini anak jam segini belum muncul juga di grup. Pasti masih tepar gara-gara digempur Lider Semalam wkwkwk 🤪Valerie Aureliana Hartono: Ayo keluar jalan-jalan! Gabu
Sinar matahari pagi Uluwati perlahan menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra tipis di Vila Cempaka, membangunkan Seraphine yang mulai merasakan pegal yang luar biasa menjalar di sepanjang pinggang, panggul, hingga paha bagian dalamnya.Seraphine menghela napas panjang, berniat membalikkan badannya untuk mencari kehangatan di dada suaminya. Namun, begitu tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, ia hanya menemukan kekosongan. Kasur di sampingnya sudah mendingin."Sam...?" gumam Seraphine dengan suara yang teramat serak.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengumpulkan fokus pandangannya. Begitu kepalanya menoleh ke arah sofa panjang di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke laut, sudut bibir Seraphine secara otomatis melengkung membentuk senyuman tipis.Di sana, suaminya sudah berdiri dengan sangat rapi. Pria itu sedang menyesuaikan letak jam tangan mewah pemberian Seraphine tempo hari di pergelangan tangan kirinya. Pagi ini, Samudera terlihat sangat tampan
Paris baru saja memasuki pukul dua dini hari. Suasana di luar hotel tempat Motion13 menginap sudah sangat sunyi. Tetapi di dalam kamar suite-nya, Samudera tidak langsung terlelap. Meskipun tubuhnya terasa remuk setelah membawakan lebih dari dua puluh lagu dengan koreografi yang menguras fisik, otak
Paris di sore hari biasanya memberikan kesan romansa melankolis yang megah. Tetapi, di dalam backstage Accor Arena, suasana justru terasa tegang. Sebuah kesalahan teknis kecil pada sistem audio saat latihan terakhir membuat Zian terlihat frutasi. Sementara Daksa dan Sekala tampak cemas menjaga kual
Setelah hampir seminggu diculik oleh Mama Alice ke berbagai pusat perbelanjaan dan restoran bintang lima di Singapura. Seraphine memutuskan untuk kembali ke Jakarta, banyak tumpukan pekerjaan yang menunggunya, yang tidak bisa di delegasikan atau dikerjakan melalui daring.Pukul sepuluh pagi, Seraph
Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel







