Share

Bab 4

Author: yourayas
last update publish date: 2026-02-25 23:07:40

Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita cuma orang asing yang pernah jadi rekan kerja.”

Samudera menyeringai. “Gue tahu lo benci basa-basi, Seraphine, dan gue juga. Tapi kalau lo pikir pernikahan ini cuma soal mindahin koper ke rumah yang sama dan pura-pura romantis di depan kamera, lo berarti meremehkan apa yang bakal terjadi diluar sana. Fans gue, media, bahkan keluarga kita sendiri… gue yakin mereka bakal ngebedah hidup kita sampai ke akar-akarnya.”

Seraphine menatap steak wagyunya yang mulai mendingin. "Makanya gue bilang, kita butuh kesepakatan. Gue udah nyiapin draf kontrak internal di luar apa yang bokap lo buat. Poin pertama: privasi mutlak. Kamar kita terpisah. Poin kedua: jadwal pertemuan publik bakal disesuaikan sama kalender rilis produk gue dan jadwal tur Motion13. Poin ketiga..."

"Poin ketiga: lo nggak boleh ngatur perasaan gue," Samudera memotong pembicaraan itu lagi, kali ini dengan tatapan yang sangat intens hingga Seraphine merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis.

“Maksud lo?” tanya Seraphine mengerutkan kening.

“Gua nggak bakal janjiin hidup kita bakalan tenang. Tapi gue bisa janji, gue nggak akan pernah jadi beban dalam hidup lo,” Samudera memandang Seraphine, mengeluarkan aura alpha leader-nya yang selama ini hanya terlihat oleh member dan fansnya.

“Tapi… jangan harap gue bakal jadi pion catur yang bisa diarahin atau jadi robot yang Cuma jalan di samping lo tanpa nyaman. Kalau gue ngerasa lo dalam bahaya gara-gara pekerjaan gue, gue bakalan ambil tindakan. Dan kalau gue ngerasa gue pengen kenal lo lebih jauh… gue nggak bakalan minta izin sama kontrak yang lo bikin itu.”

Seraphine terdiam cukup lama. Ia merasakan ketegangan yang aneh di dadanya. Sejak awal, ia mengira Samudera adalah pion yang mudah diatur—seorang pemuda tampan yang terbiasa mengikuti arahan manajer. Namun, pria yang duduk di depannya malam ini adalah seorang pria dewasa dengan otoritas yang nyata. Pria yang selama ini memimpin dua belas kepala dengan ego yang berbeda-beda, dan kini ia menggunakan kekuatan kepemimpinan itu untuk menghadapinya.

“Lo… lo sadar nggak sih kalau posisi kita sekarang itu konyol?” Seraphine akhirnya kembali bersuara, nadanya sedikit lebih lembut dari sebelumnya. “Gue sama lo, dua orang yang paling nggak percaya dan menghindari cinta di industry masing-masing. Sekarang, kita malah dipaksa jadi simbol cinta paling berpengaruh di mata publik,”

Samudera menyandarkan tubuhnya, memperhatikan Seraphine dengan seksama. “Mungkin itu poinnya. Mungkin karena kita sama-sama tahu kalau ini ‘permainan’ sejak awal, kita bisa bikin permainan ini lebih baik daripada orang-orang yang beneran jatuh cinta tapi akhirnya hancur gara-gara tekanan.”

Samudera menyesap kembali anggurnya, kemudian mulai teringat sesuatu. “Waktu itu… di Paris. Kenapa lo milih gue buat jadi muse utama parfum ‘The Muse’? Padahal ada Mahesa yang postur tubuhnya lebih disukai brand kecantikan atau Jauzan yang visualnya juga lebih manis buat produk-produk yang lo punya. Kenapa lo lebih milih gue?”

Seraphine menyesap anggurnya, matanya menghadap ke arah Samudera, namun sebenarnya dia menerawang ke arah salah satu lukisan abstrak di dinding galeri. Seolah lukisan itu bisa membawanya ke Paris tahun lalu.

“Karena mata lo, Sam,” ujar Seraphine lirih.

Samudera tertegun. “Mata gue?”

"Iya. Lo punya tatapan orang yang udah ngeliat segalanya tapi tetep nggak puas. Ada ambisi yang gelap, tapi ada kesepian yang dalam di sana. Parfum itu temanya 'The Unseen'. Gue butuh seseorang yang nggak cuma 'kelihatan' bagus, tapi punya aura yang bikin orang pengen tahu apa yang dia pikirin. Dan ternyata gue bener... lo emang punya banyak hal yang lo sembunyiin di balik topeng 'Leader Motion13' lo itu."

Samudera tersenyum tipis, merasakan sebuah sensasi yang sangat jarang ia rasakan. Biasanya orang akan memuji Samudera karena ketenarannya atau gerakannya yang sempurna saat melakukan dance. Tetapi, Seraphine melihat sisi dirinya yang lain.

Untuk menutupi kegugupannya, Samudera kembali mengambil sepotong steak yang mulai dingin. Ia mengunyahnya seperti biasa, sesekali menatap Seraphine yang juga melakukan hal yang sama.

"Lo tau nggak, Sam," Seraphine menatap gelas kosongnya. "Bokap gue bilang, kalau gue nggak nikah sama lo, dia bakal jual saham Seraphine Aesthetic ke perusahaan asing. Pernikahan ini... ini cara gue buat tetep megang apa yang gue bangun dari nol. Jadi, tolong jangan rusak ini. Gue butuh stabilitas."

Samudera tertegun mendengar itu. Untuk pertama kalinya, dia bisa menerawang jauh pada titik rapuh Seraphine meskipun wanita itu menutupnya dengan sangat rapi. Di balik gelar Ice Queen dalam mengelola Seraphine Aesthetic Brand dan kesuksesannya sebagai pewaris Kirana Group, ternyata Seraphine juga sedang mempertahankan dunia yang dia bangun dari keserakahan orang tuanya sendiri.

Mereka ternyata berada di perahu yang sama, meskipun dengan alasan yang sedikit berbeda.

Samudera mengulurkan tangannya di atas meja, tidak menyentuh tangan Seraphine secara langsung, tetapi cukup dekat untuk menyalurkan panas tubuh masing-masing. “Gue nggak akan pernah ngerusak dunia yang lo bangun, Seraphine. Gue bakal jadi benteng buat dunia lo biar gak runtuh. Kalau memang itu yang lo butuhin, stabilitas, gue bakal kasih itu.”

“Tapi gue bukan tipe laki-laki yang bakalan diem aja kalau gue liat lo nanggung beban itu sendirian.”

Seraphine menatap tangan Samudera. Ia merasa seolah ada arus listrik yang menariknya untuk menyentuh tangan itu, namun egonya masih menahan. "Kita mulai dari kontrak bisnis dulu, Samudera Wicaksana. Jangan langsung lompat ke bagian 'melindungi'."

"Kontrak bisnis biasanya punya masa berlaku, Seraphine," Samudera tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terlihat tulus. "Tapi apa yang bokap lo dan bokap guemau, itu sesuatu yang nggak punya tanggal kadaluwarsa. Lo siap buat itu?"

"Gue selalu siap buat apa pun," sahut Seraphine, kembali menegakkan punggungnya. "Asal lo nggak bikin masalah di tur dunia lo nanti. Kalau gue denger lo deket sama model atau aktris lain saat kita udah sah, gue sendiri yang bakal batalin kontrak kerja sama World Entertainment."

Samudera tertawa, tawa yang lepas dan maskulin. "Lo cemburu bahkan sebelum kita mulai?"

"Gue protektif sama aset gue, Samudera. Dan setelah ini, lo adalah aset paling berharga sekaligus paling berisiko yang pernah gue punya."

"Gue suka disebut 'aset paling berharga'," Samudera berdiri, menandakan bahwa pertemuan malam itu harus segera berakhir karena ia memiliki latihan subuh dengan Motion13.

"Gue bakal anter lo pulang," kata Samudera saat makan malam berakhir.

"Gue bawa supir, Sam."

"Gue nggak tanya lo bawa supir atau nggak," Samudera berdiri, memberikan senyum terbaiknya—senyum yang biasanya ia simpan hanya untuk orang-orang terdekat. "Gue bilang, gue bakal anter lo pulang. Kontraknya mulai malam ini, kan? Dan salah satu poin 'Power Couple' adalah... gentleman behavior."

Seraphine menatapnya lama, lalu menghela napas panjang, meski matanya menunjukkan kekalahan yang manis. "Jangan lewat jalan utama. Banyak paparazzi."

Samudera membukakan pintu SUV hitamnya dengan gerakan yang presisi, memastikan Seraphine masuk dengan aman sebelum dia sendiri memutari kap mobil. Aroma parfum sandalwood milik Seraphine menusuk indera penciuman Samudera semakin tajam, membuat dirinya tersenyum dalam diam.

Samudera memilih jalur tikus melalui jalan-jalan kecil di daerah Kebayoran. Selama perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Samudera fokus pada kemudi, sementara Seraphine menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan lampu kota.

"Lo selalu nyetir sendiri kalau mau kabur dari kenyataan?" tanya Seraphine pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin yang halus.

"Nyetir bikin gue ngerasa punya kendali penuh atas arah hidup gue, walaupun cuma buat satu atau dua jam," jawab Samudera tanpa menoleh. "Di panggung, arah gue ditentukan oleh koreografi. Di kantor, arah gue ditentukan oleh Papa. Tapi di balik kemudi ini... cuma ada gue dan jalanan."

Seraphine menoleh sedikit, memperhatikan jemari Samudera yang panjang dan kuat mendekap setir. "Kalau gitu, malem ini lo juga lagi pegang kendali atas arah hidup gue."

Samudera melambat saat mereka memasuki gerbang kompleks apartemen mewah tempat Seraphine tinggal. Ia menghentikan mobil tepat di depan lobi privat yang dijaga ketat.

"Gue nggak cuma pegang kendali, Seraphine," Samudera memutar tubuhnya menghadap wanita itu, mata tajamnya mengunci tatapan Seraphine yang biasanya tak tertembus. "Gue lagi mastiin kalau arah yang kita ambil nggak akan bikin kita nabrak tembok. Gue serius soal jadi benteng buat lo."

Seraphine terdiam sebentar, lalu jemarinya meraih gagang pintu. Namun, sebelum dia keluar, dia menatap Samudera kembali. "Kalau gitu, jangan bikin gue nyesel udah biarin lo pegang setirnya, Sam."

Seraphine turun dari mobil dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja menyelesaikan perundingan wilayah kekuasaan. Samudera memperhatikannya sampai sosok wanita itu menghilang di balik pintu kaca lobi. Setelah Seraphine benar-benar tak terlihat, Samudera baru mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan.

Ia melihat ke kursi penumpang, ada selembar tisu kecil yang tertinggal—bekas Seraphine menyeka tangannya tadi. Samudera mengambilnya, menyimpannya di kantong jaket, lalu memutar setir dengan cepat. Dia punya latihan subuh dengan Motion13, tapi entah kenapa, rasa lelah yang biasanya menghantui setiap kali ia pulang kerja, malam ini mendadak hilang digantikan oleh adrenalin baru yang jauh lebih mendebarkan daripada konser di hadapan puluhan ribu orang.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 101 (21+)

    Tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphine untuk menawar, Samudera tiba-tiba menarik tubuhnya menjauh, melepaskan penyatuan mereka dengan satu tarikan panjang yang menghasilkan bunyi 'plop' basah di udara."Ahhh... Sam, dingin..." keluh Seraphine secara naluriah saat kekosongan mendadak menyergap intinya. Cairan benih suaminya yang melimpah ruah seketika merembes keluar, membasahi sprei yang sudah sangat berantakan.Samudera tidak menjawab. Dengan gerakan cepat dan dominan, Samudera meraih pergelangan kaki Seraphine, lalu menarik tubuh wanita itu mendekat ke tepi ranjang."Astaga, Sam! Kamu mau ngapain?” pekik Seraphine panik, tangannya meraba-raba sprei mencoba mencari pegangan.Samudera hanya tersenyum. “Rasain aja, Sayang. Jangan banyak tanya,” balas Samudera dengan nada mutlak. Ia memposisikan pinggul Seraphine tepat di ujung kasur, membuat kaki jenjang istrinya menggantung bebas.Lalu, dalam satu gerakan yang menunjukkan betapa besar tenaga pria itu, Samudera mengangkat kedua kak

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 100 (21+)

    Bunyi tamparan kulit mulai terdengar nyaring di kamar itu seiring dengan pergerakan Seraphine yang semakin cepat. Suara kecipak cairan penyatuan mereka terdengar sangat basah dan jorok, menambah kesan liar dalam pergumulan malam itu. "Ahhh! Sam... ahhh! Gesekannya... mhh, dalem banget... akhh!" Seraphine mulai kehilangan kendalinya sendiri. Ia berniat menyiksa suaminya, tapi sensasi kejantanan Samudera yang menembus ke inti terdalamnya setiap kali ia menghempaskan pinggul ke bawah justru membuat dirinya sendiri kalang kabut. "Terus, Sayang... nghhh, ya Tuhan, rapet banget... hisap terus punya aku!" Samudera mengerang keras, kedua tangannya kini tak lagi bisa diam. Ia melepaskan cengkeramannya pada sprei dan langsung meraup kedua payudara Seraphine yang sedang memantul. Pria itu meremasnya kasar, memelintir ujungnya yang sudah mengeras, memberikan stimulasi ganda yang membuat Seraphine nyaris menjerit. "AAAHHH! Sam... jangan diremas keras-keras... ahhh! Mhh, gila... rasanya... akhhh!

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 99 (21+)

    "Kamu mau di atas, Sayang? Sini, pimpin permainan suami kamu malam ini."Tawaran itu menggantung di udara. Seraphine menoleh, menatap lurus ke arah kejantanan Samudera yang berdiri tegak, tebal, dan berkilat basah oleh cairannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya memang terasa remuk, tulang-tulangnya seolah luruh, namun ego seorang CEO yang selalu ingin memegang kendali diam-diam mulai terpancing.Samudera menantangnya. Suaminya yang arogan dan mendominasi itu berani menantangnya di atas ranjang.Mata Seraphine yang semula sayu kini menajam, memancarkan kilat kompetitif yang berpadu dengan gairah yang kembali menyala. Bibirnya yang sedikit bengkak menyunggingkan senyum miring yang teramat seksi."Kamu nantangin aku, Sam?" suara Seraphine terdengar serak, parau, namun sarat akan provokasi.Samudera tertawa rendah, membiarkan kedua tangannya bersandar santai di atas kasur. Ia memamerkan tubuh atletisnya yang berkilat oleh keringat, menatap istrinya dengan sorot memuja sekali

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 98 (21+)

    Beberapa menit berlalu, namun Samudera masih enggan menyingkirkan tubuhnya dari atas Seraphine. Kejantatannya yang masih berada di dalam perlahan-lahan mulai melunak, namun belum sepenuhnya mengecil. Pria itu menyandarkan kepalanya di ceruk leher Seraphine, menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan aroma keringat dan gairah yang khas. Seraphine terkulai lemas di atas kasur yang berantakan. Sprei mahal yang semula rapi kini telah kusut masai di beberapa bagian akibat cengkeraman tangannya. Dadanya masih naik turun secara ekstrem, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Mata sayunya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang masih setengah kosong. "Kamu... bener-bener... brutal, Sam..." bisik Seraphine akhirnya dengan suara yang teramat serak, nyaris kehilangan suaranya akibat terlalu banyak menjerit tadi. Samudera terkekeh rendah. Suara tawa maskulinnya bergetar di leher Seraphine, memberikan sensasi geli yang membuat wanita itu sedikit merinding. Ia men

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 97 (21+)

    "AAAHHH! S-SAMUDERA!" Jeritan Seraphine pecah seketika, menggema di seluruh penjuru kamar mewah bernuansa temaram itu. Kedua matanya membelalak lebar, pupilnya melebar sempurna saat merasakan hujaman masif yang dilepaskan Samudera tanpa ragu sedikit pun. Tubuh mungilnya terdorong ke atas, punggungnya melengkung indah dari atas kasur seiring dengan rasa penuh yang teramat sangat, merenggangkan dinding-dinding intimnya yang semula begitu rapat dan sempit. "Nghhh... aaah... S-Sam... k-kamu... terlalu dalam... hnggh..." Seraphine terengah-engah, tangannya yang gemetar langsung mencengkeram erat bahu kokoh Samudera. Kuku-kukunya yang terawat rapi menancap di kulit pria itu, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang tiba-tiba melanda seluruh saraf tubuhnya. Samudera tidak langsung bergerak. Pria itu mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menegang keras. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam melalui hidung demi menahan diri agar ti

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 96 (21+)

    Tanpa mengulur waktu, Samudera langsung memajukan wajahnya, membenamkan mulut dan hidungnya sepenuhnya di liang sensitivitas Seraphine. "AAAHHH!" Seraphine berteriak histeris, tangannya langsung mencengkeram sprei tempat tidur hingga kukunya nyaris merobek kain mahal tersebut. Pria itu menjilat dengan sapuan lebar dari bawah ke atas, memutari area klitoris yang menegang, lalu menusukkan lidahnya dalam-dalam ke dalam liang yang sempit dan panas tersebut, menghisap cairan keintiman yang keluar dari sana dengan suara sesapan yang sangat intim dan kotor di keheningan kamar. Sementara mulutnya sibuk memanjakan area bawah, kedua tangan besar Samudera bergerak kembali ke atas, meremas, meraup, dan mencengkeram kedua payudara Seraphine dengan kasar, memberikan stimulasi ganda yang benar-benar menghancurkan seluruh sisa kewarasan Seraphine. "Sam... ohhh, mhh, gila... ahhh! Kamu... kamu ngapain... mhh, geli banget, Samh! Please, stop... ahh, aku bisa gila..." Seraphine terus mendesah parau,

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 10

    Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 14

    Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 12

    Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 26

    Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status