Mag-log inSeraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita cuma orang asing yang pernah jadi rekan kerja.”
Samudera menyeringai. “Gue tahu lo benci basa-basi, Seraphine, dan gue juga. Tapi kalau lo pikir pernikahan ini cuma soal mindahin koper ke rumah yang sama dan pura-pura romantis di depan kamera, lo berarti meremehkan apa yang bakal terjadi diluar sana. Fans gue, media, bahkan keluarga kita sendiri… gue yakin mereka bakal ngebedah hidup kita sampai ke akar-akarnya.”
Seraphine menatap steak wagyunya yang mulai mendingin. "Makanya gue bilang, kita butuh kesepakatan. Gue udah nyiapin draf kontrak internal di luar apa yang bokap lo buat. Poin pertama: privasi mutlak. Kamar kita terpisah. Poin kedua: jadwal pertemuan publik bakal disesuaikan sama kalender rilis produk gue dan jadwal tur Motion13. Poin ketiga..."
"Poin ketiga: lo nggak boleh ngatur perasaan gue," Samudera memotong pembicaraan itu lagi, kali ini dengan tatapan yang sangat intens hingga Seraphine merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis.
“Maksud lo?” tanya Seraphine mengerutkan kening.
“Gua nggak bakal janjiin hidup kita bakalan tenang. Tapi gue bisa janji, gue nggak akan pernah jadi beban dalam hidup lo,” Samudera memandang Seraphine, mengeluarkan aura alpha leader-nya yang selama ini hanya terlihat oleh member dan fansnya.
“Tapi… jangan harap gue bakal jadi pion catur yang bisa diarahin atau jadi robot yang Cuma jalan di samping lo tanpa nyaman. Kalau gue ngerasa lo dalam bahaya gara-gara pekerjaan gue, gue bakalan ambil tindakan. Dan kalau gue ngerasa gue pengen kenal lo lebih jauh… gue nggak bakalan minta izin sama kontrak yang lo bikin itu.”
Seraphine terdiam cukup lama. Ia merasakan ketegangan yang aneh di dadanya. Sejak awal, ia mengira Samudera adalah pion yang mudah diatur—seorang pemuda tampan yang terbiasa mengikuti arahan manajer. Namun, pria yang duduk di depannya malam ini adalah seorang pria dewasa dengan otoritas yang nyata. Pria yang selama ini memimpin dua belas kepala dengan ego yang berbeda-beda, dan kini ia menggunakan kekuatan kepemimpinan itu untuk menghadapinya.
“Lo… lo sadar nggak sih kalau posisi kita sekarang itu konyol?” Seraphine akhirnya kembali bersuara, nadanya sedikit lebih lembut dari sebelumnya. “Gue sama lo, dua orang yang paling nggak percaya dan menghindari cinta di industry masing-masing. Sekarang, kita malah dipaksa jadi simbol cinta paling berpengaruh di mata publik,”
Samudera menyandarkan tubuhnya, memperhatikan Seraphine dengan seksama. “Mungkin itu poinnya. Mungkin karena kita sama-sama tahu kalau ini ‘permainan’ sejak awal, kita bisa bikin permainan ini lebih baik daripada orang-orang yang beneran jatuh cinta tapi akhirnya hancur gara-gara tekanan.”
Samudera menyesap kembali anggurnya, kemudian mulai teringat sesuatu. “Waktu itu… di Paris. Kenapa lo milih gue buat jadi muse utama parfum ‘The Muse’? Padahal ada Mahesa yang postur tubuhnya lebih disukai brand kecantikan atau Jauzan yang visualnya juga lebih manis buat produk-produk yang lo punya. Kenapa lo lebih milih gue?”
Seraphine menyesap anggurnya, matanya menghadap ke arah Samudera, namun sebenarnya dia menerawang ke arah salah satu lukisan abstrak di dinding galeri. Seolah lukisan itu bisa membawanya ke Paris tahun lalu.
“Karena mata lo, Sam,” ujar Seraphine lirih.
Samudera tertegun. “Mata gue?”
"Iya. Lo punya tatapan orang yang udah ngeliat segalanya tapi tetep nggak puas. Ada ambisi yang gelap, tapi ada kesepian yang dalam di sana. Parfum itu temanya 'The Unseen'. Gue butuh seseorang yang nggak cuma 'kelihatan' bagus, tapi punya aura yang bikin orang pengen tahu apa yang dia pikirin. Dan ternyata gue bener... lo emang punya banyak hal yang lo sembunyiin di balik topeng 'Leader Motion13' lo itu."
Samudera tersenyum tipis, merasakan sebuah sensasi yang sangat jarang ia rasakan. Biasanya orang akan memuji Samudera karena ketenarannya atau gerakannya yang sempurna saat melakukan dance. Tetapi, Seraphine melihat sisi dirinya yang lain.
Untuk menutupi kegugupannya, Samudera kembali mengambil sepotong steak yang mulai dingin. Ia mengunyahnya seperti biasa, sesekali menatap Seraphine yang juga melakukan hal yang sama.
"Lo tau nggak, Sam," Seraphine menatap gelas kosongnya. "Bokap gue bilang, kalau gue nggak nikah sama lo, dia bakal jual saham Seraphine Aesthetic ke perusahaan asing. Pernikahan ini... ini cara gue buat tetep megang apa yang gue bangun dari nol. Jadi, tolong jangan rusak ini. Gue butuh stabilitas."
Samudera tertegun mendengar itu. Untuk pertama kalinya, dia bisa menerawang jauh pada titik rapuh Seraphine meskipun wanita itu menutupnya dengan sangat rapi. Di balik gelar Ice Queen dalam mengelola Seraphine Aesthetic Brand dan kesuksesannya sebagai pewaris Kirana Group, ternyata Seraphine juga sedang mempertahankan dunia yang dia bangun dari keserakahan orang tuanya sendiri.
Mereka ternyata berada di perahu yang sama, meskipun dengan alasan yang sedikit berbeda.
Samudera mengulurkan tangannya di atas meja, tidak menyentuh tangan Seraphine secara langsung, tetapi cukup dekat untuk menyalurkan panas tubuh masing-masing. “Gue nggak akan pernah ngerusak dunia yang lo bangun, Seraphine. Gue bakal jadi benteng buat dunia lo biar gak runtuh. Kalau memang itu yang lo butuhin, stabilitas, gue bakal kasih itu.”
“Tapi gue bukan tipe laki-laki yang bakalan diem aja kalau gue liat lo nanggung beban itu sendirian.”
Seraphine menatap tangan Samudera. Ia merasa seolah ada arus listrik yang menariknya untuk menyentuh tangan itu, namun egonya masih menahan. "Kita mulai dari kontrak bisnis dulu, Samudera Wicaksana. Jangan langsung lompat ke bagian 'melindungi'."
"Kontrak bisnis biasanya punya masa berlaku, Seraphine," Samudera tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terlihat tulus. "Tapi apa yang bokap lo dan bokap guemau, itu sesuatu yang nggak punya tanggal kadaluwarsa. Lo siap buat itu?"
"Gue selalu siap buat apa pun," sahut Seraphine, kembali menegakkan punggungnya. "Asal lo nggak bikin masalah di tur dunia lo nanti. Kalau gue denger lo deket sama model atau aktris lain saat kita udah sah, gue sendiri yang bakal batalin kontrak kerja sama World Entertainment."
Samudera tertawa, tawa yang lepas dan maskulin. "Lo cemburu bahkan sebelum kita mulai?"
"Gue protektif sama aset gue, Samudera. Dan setelah ini, lo adalah aset paling berharga sekaligus paling berisiko yang pernah gue punya."
"Gue suka disebut 'aset paling berharga'," Samudera berdiri, menandakan bahwa pertemuan malam itu harus segera berakhir karena ia memiliki latihan subuh dengan Motion13.
"Gue bakal anter lo pulang," kata Samudera saat makan malam berakhir.
"Gue bawa supir, Sam."
"Gue nggak tanya lo bawa supir atau nggak," Samudera berdiri, memberikan senyum terbaiknya—senyum yang biasanya ia simpan hanya untuk orang-orang terdekat. "Gue bilang, gue bakal anter lo pulang. Kontraknya mulai malam ini, kan? Dan salah satu poin 'Power Couple' adalah... gentleman behavior."
Seraphine menatapnya lama, lalu menghela napas panjang, meski matanya menunjukkan kekalahan yang manis. "Jangan lewat jalan utama. Banyak paparazzi."
Samudera membukakan pintu SUV hitamnya dengan gerakan yang presisi, memastikan Seraphine masuk dengan aman sebelum dia sendiri memutari kap mobil. Aroma parfum sandalwood milik Seraphine menusuk indera penciuman Samudera semakin tajam, membuat dirinya tersenyum dalam diam.
Samudera memilih jalur tikus melalui jalan-jalan kecil di daerah Kebayoran. Selama perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Samudera fokus pada kemudi, sementara Seraphine menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan lampu kota.
"Lo selalu nyetir sendiri kalau mau kabur dari kenyataan?" tanya Seraphine pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin yang halus.
"Nyetir bikin gue ngerasa punya kendali penuh atas arah hidup gue, walaupun cuma buat satu atau dua jam," jawab Samudera tanpa menoleh. "Di panggung, arah gue ditentukan oleh koreografi. Di kantor, arah gue ditentukan oleh Papa. Tapi di balik kemudi ini... cuma ada gue dan jalanan."
Seraphine menoleh sedikit, memperhatikan jemari Samudera yang panjang dan kuat mendekap setir. "Kalau gitu, malem ini lo juga lagi pegang kendali atas arah hidup gue."
Samudera melambat saat mereka memasuki gerbang kompleks apartemen mewah tempat Seraphine tinggal. Ia menghentikan mobil tepat di depan lobi privat yang dijaga ketat.
"Gue nggak cuma pegang kendali, Seraphine," Samudera memutar tubuhnya menghadap wanita itu, mata tajamnya mengunci tatapan Seraphine yang biasanya tak tertembus. "Gue lagi mastiin kalau arah yang kita ambil nggak akan bikin kita nabrak tembok. Gue serius soal jadi benteng buat lo."
Seraphine terdiam sebentar, lalu jemarinya meraih gagang pintu. Namun, sebelum dia keluar, dia menatap Samudera kembali. "Kalau gitu, jangan bikin gue nyesel udah biarin lo pegang setirnya, Sam."
Seraphine turun dari mobil dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja menyelesaikan perundingan wilayah kekuasaan. Samudera memperhatikannya sampai sosok wanita itu menghilang di balik pintu kaca lobi. Setelah Seraphine benar-benar tak terlihat, Samudera baru mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan.
Ia melihat ke kursi penumpang, ada selembar tisu kecil yang tertinggal—bekas Seraphine menyeka tangannya tadi. Samudera mengambilnya, menyimpannya di kantong jaket, lalu memutar setir dengan cepat. Dia punya latihan subuh dengan Motion13, tapi entah kenapa, rasa lelah yang biasanya menghantui setiap kali ia pulang kerja, malam ini mendadak hilang digantikan oleh adrenalin baru yang jauh lebih mendebarkan daripada konser di hadapan puluhan ribu orang.
***
Di kamar hotelnya yang mewah di Amsterdam, Samudera baru saja menyelesaikan sarapan bersama member Motion13. Samudera mulai melepaskan kaos hitamnya, menyisakan tubuh atletis dengan garis otot yang tegas, hasil dari latihan bertahun-tahun. Ia memiliki waktu singkat untuk membersihkan diri sebelum bus tur menjemput mereka menuju Ziggo Dome untuk sesi final soundcheck dan persiapan konser malam pertama. Ia meletakkan ponselnya di atas meja marmer kamar mandi, mengatur posisinya agar stabil, lalu menekan tombol panggilan video. Wajah Seraphine muncul di layar. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah. Ia mengenakan silk robe berwarna putih tulang yang kontras dengan warna kulitnya. "Baru mandi, Sayang?" tanya Samudera dengan suara yang sengaja direndahkan. Seraphine sedang duduk di depan meja riasnya, mengoleskan skincare dengan gerakan ritmis. "Hm. Temen-temen gue baru aja pulang setengah jam lalu. Rumah lo udah bersih, tim kebersihan lo bener-b
Pagi di Amsterdam terasa sangat menenangkan dengan langit biru pucatnya yang cerah. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Samudera Adikara Wicaksana. Di meja panjang restoran hotel bintang lima tempat Motion13 menginap, seluruh member berkumpul disana. Mereka memperhatikan Samudera yang tidak lepas dari layar ponsel yang ia letakkan di samping garpu. Leader mereka itu bahkan mengabaikan sepiring omelet dan sosis jerman yang masih utuh, belum disentuh sama sekali. “Bang, makan dulu. Nanti maag lo kumat pas soundcheck,” tegur Danendra—si bungsu sambil mengoleskan selai kacang ke rotinya. Samudera tidak menjawab. Ia kembali menekan tombol panggil. “Jakarta udah jam 1 lebih. Dia pasti masih tidur,” gumamnya pada kegelisahannya. Pada deringan kedelapan di panggilan keenam, layar itu akhirnya berubah. Sebuah panggilan video diterima. Wajah Seraphine muncul. Rambutnya berantakan di atas bantal sutra, matanya masih terpejam rapat dengan dahi yang sedikit mengernyit. Cahaya matahari pa
Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samudera, area lantai atas, terutama kamar tidur utama mereka, adalah zona terlarang bagi siapa pun. Seraphine sudah memastikan Bianca dan yang lainnya terlelap di kamar tamu yang luas, berselimut hangat setelah pesta satin mereka berakhir.Begitu pintu jati kamar utama itu tertutup rapat, Seraphine menjatuhkan dirinya di atas ranjang king size yang terasa terlalu luas tanpa sosok pria yang biasanya mendominasi tempat itu. Ia meraba bantal di sampingnya, lalu meraih ponselnya.Di Amsterdam, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Samudera baru saja kembali ke hotel setelah rehearsal yang melelahkan. Saat ponselnya bergetar menampilkan panggilan video dari "Wifey 🤍", ia langsung menyambarnya dengan ge
Suasana rumah megah di Kawasan Jakarta Selatan itu benar-benar terasa ramai oleh kehadiran The Inner Circle—teman-teman circle sosialita Seraphine sejak masa SMA. Ruang tengah yang didominasi marmer italia dan furniture minimalis karya desainer eropa itu kini berubah menjadi pusat keramaian. Suara melengking Gisela, nyanyian-nyanyian dari Anya, dan denting gelas kristal yang saling beradu memenuhi setiap sudut ruangan.Seraphine Swarna Kirana, yang kini sudah menanggalkan gaun silk hitamnya dan berganti dengan piyama sutra berwarna champagne, duduk di sofa panjang sambil mengamati sahabat-sahabatnya. Di atas meja marmer di depannya, terhampar kemewahan yang dipesan secara impulsif: tumpukan kotak sushi premium dari Senopati, Wagyu A5 yang masih hangat, truffle fries yang aromanya memenuhi ruangan, hingga botol-botol wine dan champagne dari cellar pribadi Samudera yang harganya cukup untuk membeli sebuah mobil kota."Sera! Gila, ini Krug Clos d'Ambonnay? Suami lo beneran biarin kita mi
Samudera duduk di tepi ranjang hotelnya di Amsterdam, menatap room chatnya dengan Seraphine. Sejak menutup panggilan, Seraphine mengabaikan seluruh pesannya. Membuat Samudera berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 15.15 di Belanda. Itu berarti di Jakarta sudah pukul 20.15 malam. Hanya butuh 45 menit sebelum pukul 9 malam—waktu dimana Seraphine bilang dia akan berangkat ke bar."Gila, gue nggak bisa begini," gumam Samudera. Ia berdiri, mondar-mandir di kamar hotelnya yang luas. “Dia pasti beneran berangkat kalau gue nggak telepon sekarang," gumam Samudera.Ia mengabaikan rasa pusing yang tersisa dari penerbangan Berlin-Amsterdam. Pikirannya hanya satu: Seraphine tidak boleh berada di Blue Terrace malam ini tanpa dirinya.Ia menekan tombol panggilan video. Ditolak.Ia menekan lagi. Ditolak lagi.Hingga pada panggilan kelima, layar itu akhirnya terhubung.Wajah Seraphine muncul di layar. Samudera nyaris menahan napas. Seraphine sedang berada di depan
Di Jakarta, hari sudah memasuki sore hari dengan semburat jingganya yang memasuki kaca jendela ruangan Seraphine Swarna Kirana. Ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi terakhirnya di hari itu. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, memutar lehernya yang terasa kaku. Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Begitu melihat nama pengirimnya: Suami, sudut bibir Seraphine terangkat tanpa disadari. Samudera: Obat sama supnya sudah habis. Enak banget, makasih ya Nyonya Wicaksana. Maaf buat semalam... gue beneran di luar kendali. Tapi satu hal yang perlu lo tau, bagian 'The Muse' itu... itu satu-satunya bagian yang paling jujur dari semua racauan gue. Gue siap kasih penjelasan lengkap, tapi syaratnya, gue harus jelasin itu sambil peluk lo di rumah. Amsterdam sebentar lagi mendarat. I love you, Sera. Seraphine tertegun, dadanya berdesir hangat. “Sambil peluk lo di rumah katanya?” gumamnya p
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan







