Share

Bab 6

Author: yourayas
last update publish date: 2026-03-17 18:49:49

Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.

Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asrama dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela, memikirkan bagaimana sisa parfum sandalwood yang tertinggal di mobilnya akan segera menjadi aroma yang sah di hidupnya.

Tepat pukul 10:00 pagi, sebuah pemberitahuan serentak muncul di seluruh platform media sosial resmi World Entertainment dan Kirana Group. Sebuah foto hitam putih dengan kualitas artistik tinggi diunggah: kelingking tangan Samudera dan Seraphine yang saling bertautan.

[PENGUMUMAN RESMI WORLD ENTERTAINMENT]

Halo, kami World Entertainment.

Kami membawa berita bahagia mengenai artis kami, Samudera Adikara Wicaksana, Leader dari Motion13.

Selama satu tahun terakhir, Samudera dan Seraphine Swarna Kirana (CEO Seraphine Aesthetic Group) telah menjalin hubungan privat yang didasari oleh rasa saling menghormati dan visi hidup yang sama.

Setelah melalui pertimbangan matang dan diskusi bersama kedua keluarga besar, keduanya telah memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan yang direncanakan akan berlangsung dalam waktu dekat.

Samudera akan tetap menjalankan kewajibannya sebagai Leader Motion13 dengan dedikasi penuh, termasuk rencana world tour yang akan datang. Kami memohon dukungan dan pengertian dari seluruh Nation agar Samudera dan Seraphine dapat membangun masa depan mereka dengan damai.

Terkait spekulasi dan detail privat lainnya, kami memohon agar para penggemar dan media memberikan ruang privasi. Segala bentuk rumor jahat atau pencemaran nama baik akan kami proses secara hukum.

Terima kasih.

World Entertainment.

***

Malam itu. Samudera duduk di ruang tengah asrama, mematikan layar ponselnya yang terus bergetar. Banyak brand hingga orang-orang terdekatnya yang menanyakan kebenaran berita tersebut. Namun, Samudera tidak membalasnya. Dia memilih duduk dengan kedua belas membernya.

Di hadapannya, kedua belas member Motion13 menatapnya dengan berbagai ekspresi—sebagian lega karena rahasia itu akhirnya keluar, sebagian lagi masih mencerna kegaduhan yang terjadi di luar sana.

"Gimana, Bang?" Harsa memecah keheningan. "Dunia kiamat nggak?"

Samudera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa lelah sekaligus kelegaan luar biasa. "Hampir. Tapi kita masih aman disini."

Dion tertawa hambar sambil menggeleng kecil. “Gila, tim PR bokap lo bener-bener jenius bangun narasi satu tahun itu,” Dion menatap Samudera sambil mengangkat alis. “Atau ternyata lo juga setuju sama hal itu, Bang?”

Samudera menghela napas panjang, menyisir rambut cokelatnya ke belakang. Belum sempat dia menjawab, Zian, sang produser, mendongak.

Dia angkat bicara dengan nada serius. “Bang, jujur sama kita. Narasi satu tahun itu… buat nutupin perjodohan ini biar nggak kelihatan kayak transaksi bisnis saham, kan? Tapi kenapa gue ngerasa kalau lo nggak keberatan sama narasi publik ini?”

Samudera menatap Zian. “Gue emang keberatan sama cara Papa maksa gue nikah. Tapi kalau ditanya soal siapa orangnya… Seraphine bukan orang yang bisa gue tolak sembarangan. Kalian lihat sendiri waktu itu di Paris, gimana cara dia kerja. Dia punya ‘isi kepala’ yang sama kerasnya kayak gue.”

Danendra, si bungsu yang biasanya paling ceria, mendekat dengan wajah cemas. "Bang, kalau nanti Nation tahu ini cuma gara-gara kontrak poin 14.B itu, apa mereka bakal benci kita?"

Yosua segera menepuk bahu Danendra dengan lembut. "Dek, dengerin. Kita semua sudah tanda tangan kontrak itu sepuluh tahun lalu karena kita percaya sama Samudera. Kalaupun nanti badai datang, kita hadapi bareng-bareng. Lagian, narasi 'satu tahun' ini sebenernya ngelindungi kita juga. Fans lebih bisa nerima idol yang jatuh cinta daripada idol yang 'dijual' demi saham."

Samudera memandang satu per satu wajah mereka—orang-orang yang telah bersamanya sejak masa latihan yang berat hingga muntah dan menangis bersama. "

Gue janji satu hal sama kalian semua," suara Samudera terdengar berat dan penuh otoritas seorang alpha leader. "Gue nggak akan biarin pernikahan ini ngerusak apa yang udah kita bangun selama sepuluh tahun. Gue udah bilang ke Papa, kendali pernikahan ini ada di tangan gue sama Seraphine, bukan di tangan agensi"

Sekala merangul Samudera dari samping. "Yaudah, Bang. Yang penting lo bahagia. Kita semua tahu standar lo setinggi langit, dan kalau Seraphine yang berhasil bikin lo 'jinak', berarti dia emang orangnya.”

Samudera hanya bisa tersenyum tipis, meski dalam hatinya ia tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai. Ia mengingat kembali aroma parfum sandalwood Seraphine yang masih membekas di ingatannya—aroma yang kini bukan lagi sekadar memori dari Paris, melainkan masa depannya.

"Gue bakal pergi ketemu dia sekarang," ujar Samudera sambil bangkit berdiri dan mengambil jaket kulitnya. "Kita perlu diskusiin langkah selanjutnya sebelum paparazzi mulai ngetok pintu asrama ini.”

"Jangan lupa bawa martabak, Bang! Kali aja Ice Queen bisa lumer dikit!" teriak Daksa yang langsung disambut tawa oleh member lainnya, memecah ketegangan terakhir di malam yang bersejarah itu.

Samudera hanya tertawa sebelum benar-benar melangkah keluar dari asrama. Sambil berjalan menuju parkiran, Samudera mengetikkan pesan di ponselnya dengan cepat.

Samudera: Lo dimana?

Samudera: Kita ketemu hari ini. Jangan lupa sama draft kontrak internal yang lo janjiin.

Samudera menutup pintu mobil SUV hitamnya, belum benar-benar menyalakan mesin sambil menunggu balasan dari sang Ice Queen. Samudera mengetuk kemudinya beberapa kali, menunggu.

Barulah 10 menit kemudian. Sebuah balasan datang yang membuatnya membentuk senyuman sempurna.

Seraphine: [Share Location]

Seraphine: Dateng ke apartemen gue. Ketemuan di luar bisa bahaya buat kita hari ini.

Samudera tersenyum, segera menjalankan mobilnya keluar dari gedung asrama. Apartemen ya?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 148

    Setelah konser berakhir, Seraphine memimpin melangkah melewati koridor utama menuju ruang tunggu VIP Motion13. Di depan pintu ruang ganti utama, tiga belas member Motion13 baru saja selesai mengelap keringat dan melepaskan aksesoris panggung yang berat. Begitu pintu koridor terbuka lebar dan memperlihatkan kedatangan Seraphine beserta rombongannya, suasana yang tadinya ramai mendadak senyap seketika.“Kak Sera!” Mahesa menjadi orang pertama yang bersuara. Pria jangkung itu melangkah maju mendekati Seraphine. “Makasih banget, Kak. Gue pikir lo beneran gak sudi dateng kesini.”Seraphine menghentikan langkahnya, menatap Mahesa dengan seulas senyum tipis yang amat dingin namun berwibawa. "Kan gue udah bilang di telepon, Hes. Jangan biarin leader lo mati di panggung. Dan lo berhasil jalanin tugas lo."Seraphine menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Tatapan matanya yang tajam dan berwibawa menyapu wajah adik-adik ipar dan sahabat-sahabat suaminya itu satu per satu. Senyum tipis y

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 147

    Udara malam di Nagoya terasa sangat menusuk. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangat penggemar Motion13 yang sudah memenuhi area Vantelin Dome Nagoya sejak sore tadi. Dan di dalam salah satu suite VIP Box privat yang terletak di lantai paling atas stadium, Seraphine duduk disana bersama kelima sahabatnya.Ia mengenakan trench coat cashmere berwarna beige-grey dan trousers hitam bermerek Celine. Makeup tegas dengan garis eyeliner tajam dan perona bibir nuansa deep rose membuat sosoknya memancarkan aura seorang pimpinan eksekutif Kirana Group yang tak tersentuh."Gue masih gak nyangka kita beneran mendarat di Nagoya jam tiga sore tadi tanpa ngasih tahu satu orang pun dari tim manajemen Motion13," gumam Valerie sambil memutar gelang emasnya. "Gue rasa Mahesa atau Jauzan bisa kena serangan jantung kalau tahu lo ada di VIP Box ini sekarang, Ra.""Gue di sini bukan buat bikin kejutan romantis," sahut Seraphine dingin, matanya menatap lurus ke arah screen raksasa di panggung yang menam

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 146

    Di suite mewah hotel bintang lima di Kawasan Paradeplatz, Zurich, udara sore hari terasa mulai semakin dingin. Seraphine sedang duduk di sofa velvet, dikelilingi oleh kelima sahabatnya. Keadaan di dalam kamar itu mulai membaik setelah perdebatan sengit kemarin mengenai analogis bisnis Gisela dan teguran keras dari Karin.Tiba-tiba, ponsel Seraphine—yang ia nyalakan tadi pagi sesuai saran dari Valerie—yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan internasional.Mahesa Motion13 calling...Seraphine menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak tipis. Sahabat-sahabatnya seketika menghentikan pembicaraan. Suasana kamar menjadi hening seketika."Mahesa?" bisik Valerie mengintip layar. "Kenapa adik kesayangan suami lo itu nelfon sore-sore gini?"Seraphine memejamkan mata sejenak, menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Suaranya terdengar sangat dingin, datar, dan berwibawa—topeng ketahanan khas seorang Seraphine

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 145

    Siang itu, reherseal untuk konser hari pertama di Osaka baru saja diselesaikan. Selama hampir tiga jam di atas panggung, Samudera Adikara berdiri tegak bagaikan karang di tengah badai. Otoritasnya sebagai leader Motion13 tidak bergeser satu milimeter pun. Suaranya yang berat dan bertenaga menggelegar melalui mikrofon, koreografinya presisi, dan instruksinya kepada tim teknis mengenai pencahayaan serta tata suara terdengar sangat tajam.Namun, begitu sesi latihan selesai dan lampu panggung dipadamkan, seluruh atmosfer seolah ikut berubah.“Lampu midsage kurang lambat setengah detik pas drop kedua, tolong catat—”Kalimat Samudera terputus. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga panggung belakang mendadak limbung. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin menggelap."Bang Sam!" Mahesa yang berjalan tepat di belakang Samudera refleks memburu maju. Tangan besarnya merengkuh dada sang leader sebelum tubuh tinggi itu roboh menghantam anak tangga besi."Sam! Samudera!" Jauzan berter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 144

    Sementara itu…Kota Osaka sedang diselimuti rintik hujan gerimis. Di dalam bus eksekutif yang membawa seluruh member Motion13 dari stasiun Shinkansen menuju hotel di Osaka, suasana terasa sangat sunyi dan tegang.Di baris kursi paling belakang, Samudera menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Wajahnya semakin tirus, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah kehitaman akibat dehidrasi serta kekeringan nutrisi yang parah.Meskipun di konser day 2 Tokyo Dome kemarin malam ia berhasil tampil sangat sangar dan ganas di atas panggung, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik profesionalisme leader yang legendaris, begitu lampu panggung padam, tubuhnya langsung ambruk total.Danendra, member termuda yang ditugaskan oleh Jauzan dan Zian untuk memantau pola makan Samudera selama di Osaka, duduk persis di sebelah sang leader. Di pangkuan Danendra, terdapat sebuah kotak bekal berisi hidangan nasi tim ayam yang dimasak khusus oleh koki pribadi agensi agar mudah dicerna.

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 143

    Sudah lima hari berlalu sejak penerbangan darurat dari Jakarta menuju Swiss malam itu. Namun, kehancuran di dalam dada Seraphine tidak kunjung reda. Siang itu, Seraphine berdiri membisu di hotel mewah bintang lima di Kawasan Paradeplatz.Tangannya memegang cangkir berisih teh chamomile hangat, namun minuman itu tidak sedikit pun menyentuh bibirnya. Wajahnya yang terbiasa tampil cantik dan menawan, kini tampak pusat pasi. Lingkaran hitam nampak jelas di bawah matanya, pertanda bahwa sejak malam menyakitkan itu, Seraphine benar-benar kesulitan menutup mata.“Sera…” suara lembut Bianca memecah kesunyian. Bianca melangkah mendekat membawa nampan kecil berisi piring dengan potongan buah segar dan roti croissant hangat. “Cobain crossaint­-nya dikit, ya? Ini freshly baked dari toko roti bawah. Lo dari pagi cuma minum teh dua teguk.”Seraphine tidak menoleh dari jendela. “Gue gak laper, Bi. Makasih ya.”“Sera, lo gak bisa gini terus!” Karin melangkah masuk, menatap Seraphine dengan dahi berke

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 79

    Suasana di kamar itu masih dipenuhi dengan keheningan. Samudera masih mengusap lembut lengan istrinya dengan gerakan yang ritmis, sesekali mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang, membuat Seraphine yang bersandar di dada bidang suaminya menikmati momen ini sambil memejamkan mata. Tetapi, sema

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 77

    Samudera sampai rumah tepat saat waktu menunjukkan pukul 17.30. Ia langsung berjalan cepat menuju kamar utama. Senyumannya mengembang hanya dengan membayangkan ada istri cantik yang menunggunya. Begitu pintu kamar terbuka, pandangan Samudera langsung terkunci pada sosok wanita yang sedang bersandar

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 63

    Di bawah guyuran hujan yang masih turun, kedua manusia iu masih berdiri mematung. Seraphine akhirnya berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Samudera, mendengar detak jantung pria itu yang berpacu sama liarnya dengan detaknya sendiri.Samudera membenamkan wajahnya di ceruk leher Seraphi

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 1

    Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status