LOGINTiga hari ternyata berlalu dengan cepat.
Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asrama dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela, memikirkan bagaimana sisa parfum sandalwood yang tertinggal di mobilnya akan segera menjadi aroma yang sah di hidupnya. Tepat pukul 10:00 pagi, sebuah pemberitahuan serentak muncul di seluruh platform media sosial resmi World Entertainment dan Kirana Group. Sebuah foto hitam putih dengan kualitas artistik tinggi diunggah: kelingking tangan Samudera dan Seraphine yang saling bertautan. [PENGUMUMAN RESMI WORLD ENTERTAINMENT] Halo, kami World Entertainment. Kami membawa berita bahagia mengenai artis kami, Samudera Adikara Wicaksana, Leader dari Motion13. Selama satu tahun terakhir, Samudera dan Seraphine Swarna Kirana (CEO Seraphine Aesthetic Group) telah menjalin hubungan privat yang didasari oleh rasa saling menghormati dan visi hidup yang sama. Setelah melalui pertimbangan matang dan diskusi bersama kedua keluarga besar, keduanya telah memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan yang direncanakan akan berlangsung dalam waktu dekat. Samudera akan tetap menjalankan kewajibannya sebagai Leader Motion13 dengan dedikasi penuh, termasuk rencana world tour yang akan datang. Kami memohon dukungan dan pengertian dari seluruh Nation agar Samudera dan Seraphine dapat membangun masa depan mereka dengan damai. Terkait spekulasi dan detail privat lainnya, kami memohon agar para penggemar dan media memberikan ruang privasi. Segala bentuk rumor jahat atau pencemaran nama baik akan kami proses secara hukum. Terima kasih. World Entertainment. *** Malam itu. Samudera duduk di ruang tengah asrama, mematikan layar ponselnya yang terus bergetar. Banyak brand hingga orang-orang terdekatnya yang menanyakan kebenaran berita tersebut. Namun, Samudera tidak membalasnya. Dia memilih duduk dengan kedua belas membernya. Di hadapannya, kedua belas member Motion13 menatapnya dengan berbagai ekspresi—sebagian lega karena rahasia itu akhirnya keluar, sebagian lagi masih mencerna kegaduhan yang terjadi di luar sana. "Gimana, Bang?" Harsa memecah keheningan. "Dunia kiamat nggak?" Samudera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa lelah sekaligus kelegaan luar biasa. "Hampir. Tapi kita masih aman disini." Dion tertawa hambar sambil menggeleng kecil. “Gila, tim PR bokap lo bener-bener jenius bangun narasi satu tahun itu,” Dion menatap Samudera sambil mengangkat alis. “Atau ternyata lo juga setuju sama hal itu, Bang?” Samudera menghela napas panjang, menyisir rambut cokelatnya ke belakang. Belum sempat dia menjawab, Zian, sang produser, mendongak. Dia angkat bicara dengan nada serius. “Bang, jujur sama kita. Narasi satu tahun itu… buat nutupin perjodohan ini biar nggak kelihatan kayak transaksi bisnis saham, kan? Tapi kenapa gue ngerasa kalau lo nggak keberatan sama narasi publik ini?” Samudera menatap Zian. “Gue emang keberatan sama cara Papa maksa gue nikah. Tapi kalau ditanya soal siapa orangnya… Seraphine bukan orang yang bisa gue tolak sembarangan. Kalian lihat sendiri waktu itu di Paris, gimana cara dia kerja. Dia punya ‘isi kepala’ yang sama kerasnya kayak gue.” Danendra, si bungsu yang biasanya paling ceria, mendekat dengan wajah cemas. "Bang, kalau nanti Nation tahu ini cuma gara-gara kontrak poin 14.B itu, apa mereka bakal benci kita?" Yosua segera menepuk bahu Danendra dengan lembut. "Dek, dengerin. Kita semua sudah tanda tangan kontrak itu sepuluh tahun lalu karena kita percaya sama Samudera. Kalaupun nanti badai datang, kita hadapi bareng-bareng. Lagian, narasi 'satu tahun' ini sebenernya ngelindungi kita juga. Fans lebih bisa nerima idol yang jatuh cinta daripada idol yang 'dijual' demi saham." Samudera memandang satu per satu wajah mereka—orang-orang yang telah bersamanya sejak masa latihan yang berat hingga muntah dan menangis bersama. " Gue janji satu hal sama kalian semua," suara Samudera terdengar berat dan penuh otoritas seorang alpha leader. "Gue nggak akan biarin pernikahan ini ngerusak apa yang udah kita bangun selama sepuluh tahun. Gue udah bilang ke Papa, kendali pernikahan ini ada di tangan gue sama Seraphine, bukan di tangan agensi" Sekala merangul Samudera dari samping. "Yaudah, Bang. Yang penting lo bahagia. Kita semua tahu standar lo setinggi langit, dan kalau Seraphine yang berhasil bikin lo 'jinak', berarti dia emang orangnya.” Samudera hanya bisa tersenyum tipis, meski dalam hatinya ia tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai. Ia mengingat kembali aroma parfum sandalwood Seraphine yang masih membekas di ingatannya—aroma yang kini bukan lagi sekadar memori dari Paris, melainkan masa depannya. "Gue bakal pergi ketemu dia sekarang," ujar Samudera sambil bangkit berdiri dan mengambil jaket kulitnya. "Kita perlu diskusiin langkah selanjutnya sebelum paparazzi mulai ngetok pintu asrama ini.” "Jangan lupa bawa martabak, Bang! Kali aja Ice Queen bisa lumer dikit!" teriak Daksa yang langsung disambut tawa oleh member lainnya, memecah ketegangan terakhir di malam yang bersejarah itu. Samudera hanya tertawa sebelum benar-benar melangkah keluar dari asrama. Sambil berjalan menuju parkiran, Samudera mengetikkan pesan di ponselnya dengan cepat. Samudera: Lo dimana? Samudera: Kita ketemu hari ini. Jangan lupa sama draft kontrak internal yang lo janjiin. Samudera menutup pintu mobil SUV hitamnya, belum benar-benar menyalakan mesin sambil menunggu balasan dari sang Ice Queen. Samudera mengetuk kemudinya beberapa kali, menunggu. Barulah 10 menit kemudian. Sebuah balasan datang yang membuatnya membentuk senyuman sempurna. Seraphine: [Share Location] Seraphine: Dateng ke apartemen gue. Ketemuan di luar bisa bahaya buat kita hari ini. Samudera tersenyum, segera menjalankan mobilnya keluar dari gedung asrama. Apartemen ya? ***“Berita apa?” tanya Seraphine penasaran. Samudera memajukan wajahnya ke layar. "Yosua... dia bilang dia udah ada niatan serius mau nikah." Mata Seraphine melebar sedikit. "Serius? Yosua sama Jivana?" "Iya!" jawab Samudera semangat. "Si Yosua ngaku kalau dia udah gak tahan mau nyusul kita. Dia bilang hubungannya sama Jivana kan udah empat tahun, terus dia terinspirasi sama kita yang tetap bisa jalanin rumah tangga dengan tenang walaupun status pernikahannya di-publish. Rencananya akhir tahun ini Yosua mau resmi melamar Jivana ke orang tuanya di Jakarta." Seraphine mengangguk-angguk pelan. “Bagus dong. Jivana itu cantik dan baik banget. Aku beberapa kali ketemu dia di acara fashion brand internasional. Kita jadi lumayan deket dan sering contact-an setelah aku nikah sama kamu. Emang serasi banget sih mereka berdua. Jivana juga gak kelihatan nuntut macem-macem ke Yosua.” "Bener," setuju Samudera. "Terus kamu tahu gak berita dari si Jauzan?" "Jauzan?" ulang Seraphine. "Jangan bilang J
Setelah menempuh jam-jam latihan di KSPO Dome, mulai dari soundcheck, dry rehearsal, hingga penyesuaian tata letak panggung selesai, Samudera masuk ke dalam kamarnya di hotel Grand InterContinental Seoul.Begitu melepaskan topi dan hoodie-nya, Samudera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat yang menempel. Selama lima belas menit, ia menikmati pancuran air hangat yang membasahi kulitnya. Setelahnya, Samudera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana abu-abu longgar tanpa atasan.Ia meraih botol air mineral dari dalam kulkas mini, meminumnya hingga tersisa separuh, kemudian merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang king-size yang empuk. Matanya melirik jam digital di atas meja nakas. Pukul 23.45 KST—berarti di Jakarta masih pukul 21.45 WIB.Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil ponsel pribadinya yang tadi ia letakkan di atas nakas. Jemari besarnya membuka aplikasi WhatsApp lalu menekan ikon panggilan video pada kontak istrinya.
Jauzan berdehem pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sebuah gestur langka dari seorang Jauzan yang biasanya selalu tampil tenang dan percaya diri di depan siapa saja.“Kalian inget gak pas acara Jakarta High-End Fashion Week dua bulan lalu sebelum kita berangkat tur Asia?” tanya Jauzan pelan.“Inget,” jawab Samudera cepat. “Yang lo diundang jadi guest of honor itu kan?”"Nah," lanjut Jauzan, matanya menerawang membayangkan momen tersebut. "Pas di backstage VIP, gue gak sengaja tabrakan kecil sama salah satu owner brand lokal yang lagi naik daun. Namanya Sheila Maheswari."Yosua membelalakkan matanya sedikit. "Sheila Maheswari? Pemilik brand busana etnik modern Maheswari Couture yang terkenal itu?"“Iya, dia. Bini lo pasti juga kenal, Sam,” pangkas Jauzan melirik Samudera.“Oke, tapi momen pertemuan kalian kayak sinetron televisi yang biasa ditonton pembantu gue di rumah,” ujar Samudera sengaja menggoda Jauzan.Jauzan mendengus, kembali menendang kecil tumit Samudera. “Sialan l
Pagi-pagi sekali, private jet yang membawa rombongan Motion13 menuju korea sudah lepas landas. Keramaian member Motion13 memenuhi bagian tengah kabin. Beberapa ada yang mengobrol, merekam vlog harian menggunakan kamera, hingga yang tertidur pulas dengan noise-canceling headphone untuk meredam keberisikan tiga belas pria itu.Jauh di area paling belakang kabin utama, sebuah lounge area eksklusif yang dipisahkan oleh sekat kayu jati dan tirai beludru tebal, tiga anggota tertua Motion13 duduk melingkar di sofa kulit costum-made berwarna abu-abu gelap.Jauzan menyilangkan kakinya, menatap Samudera dengan seringai tipis yang amat khas dan penuh keusilan. “Muka lo kenapa gitu, Sam?” tanya Jauzan pelan sambil menyenggol ujung sepatunya ke kaki Samudera. “Dari pas masuk van di hotel tadi subuh sampai udah naik jet, senyum-senyum sendiri kayak orang kasmaran. Serem gue liatnya.”Yosua yang sedang menyesap teh hangatnya terkekeh rendah. “Biasa, Zan. Yang habis didatengin istri jauh-jauh dari Ja
Pukul tiga sore lebih sedikit, Samudera dan Seraphine telah sampai di kamar presidential suite mereka. Dua jam sebelum keberangkatan Seraphine menuju Bandara Internasional Haneda untuk terbang kembali ke Jakarta.Empat kantong belanja dari butik-butik paling bergengsi di Ginza sudah tertata rapi di dekat sofa utama. Namun, tak satu pun dari mereka yang melirik pada tumpukan barang bernilai miliaran rupiah tersebut.Samudera melepaskan jaket nya, melemparnya sembarangan ke atas sandaran sofa tanpa peduli. Pria itu langsung berbalik, matanya terkunci sepenuhnya pada Seraphine yang sedang berdiri di dekat meja, melepaskan trench coat warna camel-nya dengan gerakan yang amat anggun."Aku rapiin barang-barang aku dulu," ujar Seraphine tenang.Sebelum wanita itu sempat melangkah menuju kamar tidur utama, sebuah lengan kokoh melingkar sempurna di pinggang rampingnya dari belakang. Samudera menumpukan dagunya di ceruk leher Seraphine. Pria itu menghirup aroma sandalwood yang menguar hangat da
Pagi itu setelah mandi, Samudera bergerak dengan telaten. Pria itu memaksa istrinya untuk duduk tenang di kursi meja rias, sementara dirinya mengeringkan rambut panjang Seraphine menggunakan hairdryer, jemari besarnya menyusup lembut di antara helai-helai rambut hitam istrinya.“Jangan ditarik, Samudera,” tegur Seraphine memperingatkan saat merasa sapuan sisir suaminya sedikit tersangkuk.“Iya, Sayang, ini pelan-pelan banget kok,” sahut Samudera dengan suara rendahnya. Ia menunduk sebentar, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Seraphine yang harum. “Rambut kamu wangi banget. Aku beneran bis agila kalau tiap hari cium wangi ini.”"Kamu udah gila dari tadi," balas Seraphine datar, walau sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum tipis di depan cermin rias.Samudera turut terkekeh kecil, pria itu tidak mengelak. Ia justru menundukkan tubuhnya, lengan kokohnya melingkar di pinggang ramping sang istri, menumpukan dagunya di bahu Seraphine. Matanya menatap bayangan mereka di cer
Samudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.Pintu terbuka bahkan sebelum Sam
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa arom
Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, B
Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang







