Share

Bab 5

Author: yourayas
last update publish date: 2026-03-12 09:02:26

Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.

Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa aroma sandalwood yang ditinggalkan Seraphine di dalam mobilnya terasa seperti masih menguar di udara. Ada getaran aneh di dadanya ketika merasakan tekstur tisu yang masih tersimpan dalam kantong jaketnya.

Samudera melangkah masuk dengan tenang. Menekan tombol lift ke lantai teratas. Ia tidak akan membiarkan Papanya merasa menang telak hanya karena ia setuju untuk menikah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Ardhaka Wicaksana.

Ardhaka sedang menyesap kopi hitamnya. Ia menaikkan alis begitu melihat Samudera datang dengan aura yang berbeda.

“Sudah bertemu Seraphine semalam?” tanya Ardhaka tanpa basa-basi.

Samudera menarik kursi di depan meja maoni itu, duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritas yang setara. "Sudah."

Ardhaka meletakkan cangkir kopinya, ia menyeringai tipis. “Dan? Apa dia melemparkan gelas anggurnya ke wajahmu? Atau dia cukup cerdas melihat keuntungan yang kita tawarkan?”

Samudera mencondongkan tubuhnya, mengunci mata Ardhaka. “Seperti dugaan Papa, dia setuju. Tapi bukan karena angka-angka itu.”

“Jangan naif, Sam. Di dunia bisnis ini, tidak ada yang lebih penting dari angka,” Ardhaka terkekeh.

“Mungkin itu hanya bagi Papa. Tapi bagi Sam dan Seraphine, ini soal kendali,” Samudera mengetuk meja maoni itu dengan jarinya. “Aku kesini untuk memperjelas satu hal, Pa. Papa dan Om Handoko boleh mengatur terjadinya perjodohan ini. Papa boleh mengatur kapan tim PR rilis berita pernikahan kami, kapan pengumuman resepsi, atau tentang narasi ‘Power Couple’ dijual ke public. Pengumumannya tiga hari lagi, kan?”

Ardhaka mengangguk tenang. “Tiga hari lagi. Papa dan Handoko sudah mengatur semuanya. Beritanya akan keluar serentak di kanal berita utama maupun media sosial resmi agensi.”

Samudera balas mengangguk, sama tenangnya. “Oke. Silakan urus sampah-sampah berita itu,” suara Samudera mulai merendah, penuh penekanan pada setiap katanya. “Tapi ada satu hal yang harus aku pastikan. Begitu Samudera dan Seraphine menikah, Papa berhenti sampai sana. Papa gak punya hak untuk mengatur hidup kami di rumah atau bagaimana aku memperlakukan istriku.”

Ardhaka menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur. “Kamu sedang menegosiasikan kehidupan pernikahanmu itu dengan Papa, Sam?”

“Ya. Memang itu tujuannya, Pa,” jawab Samudera tanpa terusik. “Pernikahan ini adalah transaksi terakhirku dengan Papa. Setelah pernikahan itu terjadi, kendali sepenuhnya ada di tangan kita berdua. Papa atau Om Handoko tidak boleh ikut campur lebih jauh.”

Samudera melanjutkan, menerawang mata Ardhaka yang terlampau tenang. “Kalau Papa ikut campur sekali lagi, aku tidak keberatan menarik Motion13 keluar dari agensi ini, terlepas dari apapun risikonya.”

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Ardhaka menatap putra tunggalnya, mencari celah keraguan. Namun yang ia temukan hanyalah tekad yang keras kepala—tekad yang secara ironis sangat mirip dengan miliknya sendiri

“Papa pegang kata-kata kamu, Samudera Adikara Wicaksana,” Ardhaka akhirnya berkata. “Selama stabilitas terjaga dan narasi public kalian sempurna, Papa tidak keberatan kalian mengatur semuanya berdua.”

“Lagipula, itu pernikahan kalian. Papa cukup tahu batasan untuk tidak ikut campur terlalu jauh,” ujar Ardhaka menyeringai tipis.

Samudera mengangguk, bahunya perlahan merosot turun seolah baru saja menanggalkan beban berat di pundaknya. Samudera balas menyeringai. “Oke, aku juga pegang kata-kata Papa.”

Tanpa berpamitan lebih lama lagi, Samudera keluar dari ruangan Papanya. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Seraphine.

Samudera: Gue baru selesai ketemu sama bokap. Urusan orang tua kita cuma sampai pengumuman media tiga hari lagi dan setelah resepsi pernikahan itu selesai. Sisanya, kendali ada di tangan kita berdua.

Hanya butuh lima menit sampai ponselnya bergetar.

Seraphine: Bagus. Gue juga akan bicara sama bokap pagi ini.

Samudera: Jangan lupa draft kontrak internal kita, Sera. Gue perlu lihat aturan-aturannya sebelum gue tanda tangan.

Seraphine: Gue kirim 3 hari lagi, setelah pengumuman itu rilis.

Samudera tersenyum tipis membaca balasan itu. Ia bisa membayangkan wajah Seraphine saat mengetik pesan itu—mungkin sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, dengan punggung tegak yang menantang dunia.

Ia tidak memberi tahu Seraphine bahwa sebenarnya, ia sudah lama menunggu momen di mana ia bisa memiliki alasan yang sah untuk berada di dekat wanita itu tanpa harus bersembunyi di balik lensa kamera. Baginya, kontrak tiga puluh tahun yang mengikatnya dengan sang ayah kini terasa seperti harga yang murah untuk mendapatkan kesempatan ini

***

Di gedung Kirana Group.

Handoko Kirana sedang memeriksa beberapa laporan keuangan saat putri tunggalnya masuk. Ia mendongak, menatap Seraphine dengan kebangaan seorang ayah sekaligus seorang pebisnis.

"Papa dengar kamu sudah bertemu dengan Samudera semalam," ujar Handoko, meletakkan dokumennya. "Bagaimana? Dia cukup menarik untuk ukuran seorang idol, bukan?"

Seraphine duduk di hadapan ayahnya, punggungnya tegak lurus, menunjukkan bahwa ia datang bukan sebagai putri yang penurut, melainkan sebagai pemilik Seraphine Aesthetic Group yang setara.

"Dia lebih dari sekadar idol, Pa. Dia tahu persis apa yang dia mau," jawab Seraphine dingin. "Aku ke sini untuk memastikan satu hal. Om Ardhaka dan Papa sudah mengatur jadwal pengumuman tiga hari lagi, kan?"

Handoko mengangguk puas. “Tiga hari lagi adalah waktu yang tepat untuk menaikkan nilai saham kita, Sera.”

Seraphine mengangguk. “Kalau gitu, mari kita perjelas aturannya,” potong Seraphine dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Papa bilang pernikahan ini harus terjadi untuk stabilitas perusahaan, supaya ancama Papa menjual sahamku ke pihak asing itu tidak kejadian. Aku setuju karena aku ingin memegang kendali penuh atas apa yang sudah ku bangun.”

Handoko tidak bergeming, menunggu putrinya menyelesaikan kalimatnya. Sementara Seraphine menatap matanya dengan tajam. “Tapi, begitu pengumuman itu keluar dan saham benar-benar naik seperti yang Papa harapkan, urusan operasional Seraphine Aesthetic tetap 100% di tanganku. Aku tidak mau ada andil Papa atau pihak Wicaksana soal bagaimana aku menjalankan bisnisku.”

Seraphine menjeda sejenak, kali ini suaranya lebih penuh penekanan. “Dan yang paling penting… setelah kami menikah nanti, Papa tidak punya hak untuk mengatur bagaimana rumah tangga kami atau bagaimana aku dan Samudera berinteraksi.”

Handoko tersenyum tipis, melihat ambisi yang sama pada mata putrinya. “Selama kalian terlihat sebagai pasangan yang solid di depan public dan media, Papa tidak akan ikut campur urusan dapur kalian.”

"Bagus," sahut Seraphine sambil berdiri. "Aku sudah bicara dengan Samudera. Kami setuju bahwa kendali pernikahan ini ada di tangan kami berdua, bukan sebagai alat permainan orang tua."

Handoko mengangguk. “Papa cukup percaya kalian berdua sudah dewasa untuk mengatur semuanya,” tatapan mata Handoko melembut, kali ini terlihat seperti seorang ayah yang menyayangi putrinya. “Lagipula, tidak ada jaminan bahwa pernikahan kalian akan terus formal atau kaku selamanya. Papa cukup yakin, kalian bisa mengatur arah pernikahan itu menjadi sesuatu yang… lebih manis mungkin?”

Seraphine tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Jangan berharap terlalu banyak pada bagian ‘manis’ itu, Pa,” sahut Seraphine dengan nada bicara yang tetap tenang. “Aku dan Samudera sudah sepakat kalau prioritas kami adalah stabilitas dan ambisi kerja yang seimbang.”

Seraphine keluar dari ruangan tanpa menunggu respon tambahan dari ayahnya. Di koridor gedung Kirana Group yang sunyi, ia teringat kembali pada ucapan Samudera semalam tentang bagaimana pria itu ingin menjadi benteng bagi dunianya. Ada sebuah getaran aneh yang sempat singgah di dadanya, namun dengan cepat ia menepisnya. Baginya, saat ini yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi badai pengumuman yang akan pecah tiga hari lagi.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 181

    “Berita apa?” tanya Seraphine penasaran. Samudera memajukan wajahnya ke layar. "Yosua... dia bilang dia udah ada niatan serius mau nikah." Mata Seraphine melebar sedikit. "Serius? Yosua sama Jivana?" "Iya!" jawab Samudera semangat. "Si Yosua ngaku kalau dia udah gak tahan mau nyusul kita. Dia bilang hubungannya sama Jivana kan udah empat tahun, terus dia terinspirasi sama kita yang tetap bisa jalanin rumah tangga dengan tenang walaupun status pernikahannya di-publish. Rencananya akhir tahun ini Yosua mau resmi melamar Jivana ke orang tuanya di Jakarta." Seraphine mengangguk-angguk pelan. “Bagus dong. Jivana itu cantik dan baik banget. Aku beberapa kali ketemu dia di acara fashion brand internasional. Kita jadi lumayan deket dan sering contact-an setelah aku nikah sama kamu. Emang serasi banget sih mereka berdua. Jivana juga gak kelihatan nuntut macem-macem ke Yosua.” "Bener," setuju Samudera. "Terus kamu tahu gak berita dari si Jauzan?" "Jauzan?" ulang Seraphine. "Jangan bilang J

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 180

    Setelah menempuh jam-jam latihan di KSPO Dome, mulai dari soundcheck, dry rehearsal, hingga penyesuaian tata letak panggung selesai, Samudera masuk ke dalam kamarnya di hotel Grand InterContinental Seoul.Begitu melepaskan topi dan hoodie-nya, Samudera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat yang menempel. Selama lima belas menit, ia menikmati pancuran air hangat yang membasahi kulitnya. Setelahnya, Samudera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana abu-abu longgar tanpa atasan.Ia meraih botol air mineral dari dalam kulkas mini, meminumnya hingga tersisa separuh, kemudian merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang king-size yang empuk. Matanya melirik jam digital di atas meja nakas. Pukul 23.45 KST—berarti di Jakarta masih pukul 21.45 WIB.Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil ponsel pribadinya yang tadi ia letakkan di atas nakas. Jemari besarnya membuka aplikasi WhatsApp lalu menekan ikon panggilan video pada kontak istrinya.

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 179

    Jauzan berdehem pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sebuah gestur langka dari seorang Jauzan yang biasanya selalu tampil tenang dan percaya diri di depan siapa saja.“Kalian inget gak pas acara Jakarta High-End Fashion Week dua bulan lalu sebelum kita berangkat tur Asia?” tanya Jauzan pelan.“Inget,” jawab Samudera cepat. “Yang lo diundang jadi guest of honor itu kan?”"Nah," lanjut Jauzan, matanya menerawang membayangkan momen tersebut. "Pas di backstage VIP, gue gak sengaja tabrakan kecil sama salah satu owner brand lokal yang lagi naik daun. Namanya Sheila Maheswari."Yosua membelalakkan matanya sedikit. "Sheila Maheswari? Pemilik brand busana etnik modern Maheswari Couture yang terkenal itu?"“Iya, dia. Bini lo pasti juga kenal, Sam,” pangkas Jauzan melirik Samudera.“Oke, tapi momen pertemuan kalian kayak sinetron televisi yang biasa ditonton pembantu gue di rumah,” ujar Samudera sengaja menggoda Jauzan.Jauzan mendengus, kembali menendang kecil tumit Samudera. “Sialan l

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 178

    Pagi-pagi sekali, private jet yang membawa rombongan Motion13 menuju korea sudah lepas landas. Keramaian member Motion13 memenuhi bagian tengah kabin. Beberapa ada yang mengobrol, merekam vlog harian menggunakan kamera, hingga yang tertidur pulas dengan noise-canceling headphone untuk meredam keberisikan tiga belas pria itu.Jauh di area paling belakang kabin utama, sebuah lounge area eksklusif yang dipisahkan oleh sekat kayu jati dan tirai beludru tebal, tiga anggota tertua Motion13 duduk melingkar di sofa kulit costum-made berwarna abu-abu gelap.Jauzan menyilangkan kakinya, menatap Samudera dengan seringai tipis yang amat khas dan penuh keusilan. “Muka lo kenapa gitu, Sam?” tanya Jauzan pelan sambil menyenggol ujung sepatunya ke kaki Samudera. “Dari pas masuk van di hotel tadi subuh sampai udah naik jet, senyum-senyum sendiri kayak orang kasmaran. Serem gue liatnya.”Yosua yang sedang menyesap teh hangatnya terkekeh rendah. “Biasa, Zan. Yang habis didatengin istri jauh-jauh dari Ja

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 177

    Pukul tiga sore lebih sedikit, Samudera dan Seraphine telah sampai di kamar presidential suite mereka. Dua jam sebelum keberangkatan Seraphine menuju Bandara Internasional Haneda untuk terbang kembali ke Jakarta.Empat kantong belanja dari butik-butik paling bergengsi di Ginza sudah tertata rapi di dekat sofa utama. Namun, tak satu pun dari mereka yang melirik pada tumpukan barang bernilai miliaran rupiah tersebut.Samudera melepaskan jaket nya, melemparnya sembarangan ke atas sandaran sofa tanpa peduli. Pria itu langsung berbalik, matanya terkunci sepenuhnya pada Seraphine yang sedang berdiri di dekat meja, melepaskan trench coat warna camel-nya dengan gerakan yang amat anggun."Aku rapiin barang-barang aku dulu," ujar Seraphine tenang.Sebelum wanita itu sempat melangkah menuju kamar tidur utama, sebuah lengan kokoh melingkar sempurna di pinggang rampingnya dari belakang. Samudera menumpukan dagunya di ceruk leher Seraphine. Pria itu menghirup aroma sandalwood yang menguar hangat da

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 176

    Pagi itu setelah mandi, Samudera bergerak dengan telaten. Pria itu memaksa istrinya untuk duduk tenang di kursi meja rias, sementara dirinya mengeringkan rambut panjang Seraphine menggunakan hairdryer, jemari besarnya menyusup lembut di antara helai-helai rambut hitam istrinya.“Jangan ditarik, Samudera,” tegur Seraphine memperingatkan saat merasa sapuan sisir suaminya sedikit tersangkuk.“Iya, Sayang, ini pelan-pelan banget kok,” sahut Samudera dengan suara rendahnya. Ia menunduk sebentar, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Seraphine yang harum. “Rambut kamu wangi banget. Aku beneran bis agila kalau tiap hari cium wangi ini.”"Kamu udah gila dari tadi," balas Seraphine datar, walau sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum tipis di depan cermin rias.Samudera turut terkekeh kecil, pria itu tidak mengelak. Ia justru menundukkan tubuhnya, lengan kokohnya melingkar di pinggang ramping sang istri, menumpukan dagunya di bahu Seraphine. Matanya menatap bayangan mereka di cer

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 1

    Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 7

    Samudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.Pintu terbuka bahkan sebelum Sam

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 6

    Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asram

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 4

    Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status