MasukPagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.
Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa aroma sandalwood yang ditinggalkan Seraphine di dalam mobilnya terasa seperti masih menguar di udara. Ada getaran aneh di dadanya ketika merasakan tekstur tisu yang masih tersimpan dalam kantong jaketnya.
Samudera melangkah masuk dengan tenang. Menekan tombol lift ke lantai teratas. Ia tidak akan membiarkan Papanya merasa menang telak hanya karena ia setuju untuk menikah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Ardhaka Wicaksana.
Ardhaka sedang menyesap kopi hitamnya. Ia menaikkan alis begitu melihat Samudera datang dengan aura yang berbeda.
“Sudah bertemu Seraphine semalam?” tanya Ardhaka tanpa basa-basi.
Samudera menarik kursi di depan meja maoni itu, duduk dengan kaki menyilang, menunjukkan otoritas yang setara. "Sudah."
Ardhaka meletakkan cangkir kopinya, ia menyeringai tipis. “Dan? Apa dia melemparkan gelas anggurnya ke wajahmu? Atau dia cukup cerdas melihat keuntungan yang kita tawarkan?”
Samudera mencondongkan tubuhnya, mengunci mata Ardhaka. “Seperti dugaan Papa, dia setuju. Tapi bukan karena angka-angka itu.”
“Jangan naif, Sam. Di dunia bisnis ini, tidak ada yang lebih penting dari angka,” Ardhaka terkekeh.
“Mungkin itu hanya bagi Papa. Tapi bagi Sam dan Seraphine, ini soal kendali,” Samudera mengetuk meja maoni itu dengan jarinya. “Aku kesini untuk memperjelas satu hal, Pa. Papa dan Om Handoko boleh mengatur terjadinya perjodohan ini. Papa boleh mengatur kapan tim PR rilis berita pernikahan kami, kapan pengumuman resepsi, atau tentang narasi ‘Power Couple’ dijual ke public. Pengumumannya tiga hari lagi, kan?”
Ardhaka mengangguk tenang. “Tiga hari lagi. Papa dan Handoko sudah mengatur semuanya. Beritanya akan keluar serentak di kanal berita utama maupun media sosial resmi agensi.”
Samudera balas mengangguk, sama tenangnya. “Oke. Silakan urus sampah-sampah berita itu,” suara Samudera mulai merendah, penuh penekanan pada setiap katanya. “Tapi ada satu hal yang harus aku pastikan. Begitu Samudera dan Seraphine menikah, Papa berhenti sampai sana. Papa gak punya hak untuk mengatur hidup kami di rumah atau bagaimana aku memperlakukan istriku.”
Ardhaka menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur. “Kamu sedang menegosiasikan kehidupan pernikahanmu itu dengan Papa, Sam?”
“Ya. Memang itu tujuannya, Pa,” jawab Samudera tanpa terusik. “Pernikahan ini adalah transaksi terakhirku dengan Papa. Setelah pernikahan itu terjadi, kendali sepenuhnya ada di tangan kita berdua. Papa atau Om Handoko tidak boleh ikut campur lebih jauh.”
Samudera melanjutkan, menerawang mata Ardhaka yang terlampau tenang. “Kalau Papa ikut campur sekali lagi, aku tidak keberatan menarik Motion13 keluar dari agensi ini, terlepas dari apapun risikonya.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Ardhaka menatap putra tunggalnya, mencari celah keraguan. Namun yang ia temukan hanyalah tekad yang keras kepala—tekad yang secara ironis sangat mirip dengan miliknya sendiri
“Papa pegang kata-kata kamu, Samudera Adikara Wicaksana,” Ardhaka akhirnya berkata. “Selama stabilitas terjaga dan narasi public kalian sempurna, Papa tidak keberatan kalian mengatur semuanya berdua.”
“Lagipula, itu pernikahan kalian. Papa cukup tahu batasan untuk tidak ikut campur terlalu jauh,” ujar Ardhaka menyeringai tipis.
Samudera mengangguk, bahunya perlahan merosot turun seolah baru saja menanggalkan beban berat di pundaknya. Samudera balas menyeringai. “Oke, aku juga pegang kata-kata Papa.”
Tanpa berpamitan lebih lama lagi, Samudera keluar dari ruangan Papanya. Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Seraphine.
Samudera: Gue baru selesai ketemu sama bokap. Urusan orang tua kita cuma sampai pengumuman media tiga hari lagi dan setelah resepsi pernikahan itu selesai. Sisanya, kendali ada di tangan kita berdua.
Hanya butuh lima menit sampai ponselnya bergetar.
Seraphine: Bagus. Gue juga akan bicara sama bokap pagi ini.
Samudera: Jangan lupa draft kontrak internal kita, Sera. Gue perlu lihat aturan-aturannya sebelum gue tanda tangan.
Seraphine: Gue kirim 3 hari lagi, setelah pengumuman itu rilis.
Samudera tersenyum tipis membaca balasan itu. Ia bisa membayangkan wajah Seraphine saat mengetik pesan itu—mungkin sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, dengan punggung tegak yang menantang dunia.
Ia tidak memberi tahu Seraphine bahwa sebenarnya, ia sudah lama menunggu momen di mana ia bisa memiliki alasan yang sah untuk berada di dekat wanita itu tanpa harus bersembunyi di balik lensa kamera. Baginya, kontrak tiga puluh tahun yang mengikatnya dengan sang ayah kini terasa seperti harga yang murah untuk mendapatkan kesempatan ini
***
Di gedung Kirana Group.
Handoko Kirana sedang memeriksa beberapa laporan keuangan saat putri tunggalnya masuk. Ia mendongak, menatap Seraphine dengan kebangaan seorang ayah sekaligus seorang pebisnis.
"Papa dengar kamu sudah bertemu dengan Samudera semalam," ujar Handoko, meletakkan dokumennya. "Bagaimana? Dia cukup menarik untuk ukuran seorang idol, bukan?"
Seraphine duduk di hadapan ayahnya, punggungnya tegak lurus, menunjukkan bahwa ia datang bukan sebagai putri yang penurut, melainkan sebagai pemilik Seraphine Aesthetic Group yang setara.
"Dia lebih dari sekadar idol, Pa. Dia tahu persis apa yang dia mau," jawab Seraphine dingin. "Aku ke sini untuk memastikan satu hal. Om Ardhaka dan Papa sudah mengatur jadwal pengumuman tiga hari lagi, kan?"
Handoko mengangguk puas. “Tiga hari lagi adalah waktu yang tepat untuk menaikkan nilai saham kita, Sera.”
Seraphine mengangguk. “Kalau gitu, mari kita perjelas aturannya,” potong Seraphine dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Papa bilang pernikahan ini harus terjadi untuk stabilitas perusahaan, supaya ancama Papa menjual sahamku ke pihak asing itu tidak kejadian. Aku setuju karena aku ingin memegang kendali penuh atas apa yang sudah ku bangun.”
Handoko tidak bergeming, menunggu putrinya menyelesaikan kalimatnya. Sementara Seraphine menatap matanya dengan tajam. “Tapi, begitu pengumuman itu keluar dan saham benar-benar naik seperti yang Papa harapkan, urusan operasional Seraphine Aesthetic tetap 100% di tanganku. Aku tidak mau ada andil Papa atau pihak Wicaksana soal bagaimana aku menjalankan bisnisku.”
Seraphine menjeda sejenak, kali ini suaranya lebih penuh penekanan. “Dan yang paling penting… setelah kami menikah nanti, Papa tidak punya hak untuk mengatur bagaimana rumah tangga kami atau bagaimana aku dan Samudera berinteraksi.”
Handoko tersenyum tipis, melihat ambisi yang sama pada mata putrinya. “Selama kalian terlihat sebagai pasangan yang solid di depan public dan media, Papa tidak akan ikut campur urusan dapur kalian.”
"Bagus," sahut Seraphine sambil berdiri. "Aku sudah bicara dengan Samudera. Kami setuju bahwa kendali pernikahan ini ada di tangan kami berdua, bukan sebagai alat permainan orang tua."
Handoko mengangguk. “Papa cukup percaya kalian berdua sudah dewasa untuk mengatur semuanya,” tatapan mata Handoko melembut, kali ini terlihat seperti seorang ayah yang menyayangi putrinya. “Lagipula, tidak ada jaminan bahwa pernikahan kalian akan terus formal atau kaku selamanya. Papa cukup yakin, kalian bisa mengatur arah pernikahan itu menjadi sesuatu yang… lebih manis mungkin?”
Seraphine tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Jangan berharap terlalu banyak pada bagian ‘manis’ itu, Pa,” sahut Seraphine dengan nada bicara yang tetap tenang. “Aku dan Samudera sudah sepakat kalau prioritas kami adalah stabilitas dan ambisi kerja yang seimbang.”
Seraphine keluar dari ruangan tanpa menunggu respon tambahan dari ayahnya. Di koridor gedung Kirana Group yang sunyi, ia teringat kembali pada ucapan Samudera semalam tentang bagaimana pria itu ingin menjadi benteng bagi dunianya. Ada sebuah getaran aneh yang sempat singgah di dadanya, namun dengan cepat ia menepisnya. Baginya, saat ini yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi badai pengumuman yang akan pecah tiga hari lagi.
***
Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asrama dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela, memikirkan bagaimana sisa parfum sandalwood yang tertinggal di mobilnya akan segera menjadi aroma yang sah di hidupnya.Tepat pukul 10:00 pagi, sebuah pemberitahuan serentak muncul di seluruh platform media sosial resmi World Entertainment dan Kirana Group. Sebuah foto hitam putih dengan kualitas artistik tinggi diunggah: kelingking tangan Samudera dan Seraphine yang saling bertautan.[PENGUMUMAN RESMI WORLD ENTERTAINMENT]Halo, kami World Entertainment.Kami membawa berita bahagia mengenai artis kami, Samudera Adikara Wicaksana, Leader dari Motion13.Selama satu tahun terakhir, Samudera dan Seraphine Swarna Kirana (CEO Seraphine Aesthet
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa aroma sandalwood yang ditinggalkan Seraphine di dalam mobilnya terasa seperti masih menguar di udara. Ada getaran aneh di dadanya ketika merasakan tekstur tisu yang masih tersimpan dalam kantong jaketnya.Samudera melangkah masuk dengan tenang. Menekan tombol lift ke lantai teratas. Ia tidak akan membiarkan Papanya merasa menang telak hanya karena ia setuju untuk menikah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Ardhaka Wicaksana.Ardhaka sedang menyesap kopi hitamnya. Ia menaikkan alis begitu melihat Samudera datang dengan aura yang berbeda.“Sudah bertemu Seraphine semalam?” tanya Ardhaka tanpa basa-basi.Samudera menarik kursi di depan meja maoni itu, duduk dengan kaki menyilang, menunj
Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita cuma orang asing yang pernah jadi rekan kerja.”Samudera menyeringai. “Gue tahu lo benci basa-basi, Seraphine, dan gue juga. Tapi kalau lo pikir pernikahan ini cuma soal mindahin koper ke rumah yang sama dan pura-pura romantis di depan kamera, lo berarti meremehkan apa yang bakal terjadi diluar sana. Fans gue, media, bahkan keluarga kita sendiri… gue yakin mereka bakal ngebedah hidup kita sampai ke akar-akarnya.”Seraphine menatap steak wagyunya yang mulai mendingin. "Makanya gue bilang, kita butuh kesepakatan. Gue udah nyiapin draf kontrak internal di luar apa yang bokap lo buat. Poin pertama: privasi mutlak. Kamar kita terpisah. Poin kedua: jadwal pertemuan publik bakal disesuaikan sama kal
Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam. Tetapi, ia tidak ingin pertemuan itu diatur oleh asisten Ardhaka atau tim PR perusahaan. Ia ingin ini dimulai darinya.Samudera menghela napas sebelum mengambil handphonenya di meja nakas. Dia mengirimkan pesan kepada Seraphine.To: SeraphineSamudera: Seraphine.Samudera: Ini Samudera,Samudera: Gue rasa kita perlu ketemu soal rencana gila bokap kita.Samudera: Nanti malam jam 7 di VIP Lounge Hotel Luminary.Samudera: Gue udah pesen tempatnyaSingkat. Padat. Profesional.Begitu pikir Samudera. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada balasan dalam sepuluh menit pertama. Samudera bahkan berdecak saat melihat notifikasi grup chatnya dengan manajemen yang mengingatkan jadwa
Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, Bang? Bokap lo ngasih bonus apa buat kemenangan tadi? Saham tambahan? Atau mobil sport baru?”Samudera tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya dan melemparnya dengan asal. Samudera mengambil posisi duduk di tengah, bersandar pada sofa.“Gue harus ngomong,” suara Samudera memecah keheningan. Wajahnya nampak lebih serius kali ini, bahkan serratus kali lebih serius daripada speech di panggung setelah mendapatkan daesang beberapa jam yang lalu.Jauzan, sang main vocal sekaligus salah satu member tertua dibawah Samudera, mengerutkan kening. “Kenapa, Sam? Muka lo kayak habis lihat hantu, pucet banget. Bokap lo bilang apa? Saham perusahaan turun? Atau ada masalah sama sponsor?”Jauzan bertanya banya
Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin s







