ログインPagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.
Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam. Tetapi, ia tidak ingin pertemuan itu diatur oleh asisten Ardhaka atau tim PR perusahaan. Ia ingin ini dimulai darinya.
Samudera menghela napas sebelum mengambil handphonenya di meja nakas. Dia mengirimkan pesan kepada Seraphine.
To: Seraphine
Samudera: Seraphine.
Samudera: Ini Samudera,
Samudera: Gue rasa kita perlu ketemu soal rencana gila bokap kita.
Samudera: Nanti malam jam 7 di VIP Lounge Hotel Luminary.
Samudera: Gue udah pesen tempatnya
Singkat. Padat. Profesional.
Begitu pikir Samudera. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada balasan dalam sepuluh menit pertama. Samudera bahkan berdecak saat melihat notifikasi grup chatnya dengan manajemen yang mengingatkan jadwal.
Seolah dia menunggu jawaban Seraphine.
Atau dia memang menunggu…
Di menit kelima belas, sebuah balasan masuk yang hampir membuat Samudera menjatuhkan ponselnya. Samudera menghela napas panjang tanpa sadar sebelum membuka room chat Seraphine. Pria itu menatap layar handphonenya lama, membaca satu persatu-satu pesan dari Seraphine.
Seraphine: [Shared Location: A private art gallery in South Jakarta]
Seraphine: gue gak suka ketemuan di hotel
Seraphine: lo yang butuh bicara sama gue, jadi lo yang dateng ke tempat gue
Seraphine: jam 7 malam.
Seraphine: jangan telat, Samudera.
Samudera tertegun sejenak, lalu sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. “Sial,” gumamnya pelan. “Dia bener-bener Ice Queen.”
Alih-alih marah karena perintahnya ditolak, Samudera justru merasakan percikan tantangan yang sudah lama tidak ia rasakan
***
Malam itu, Jakarta diguyur gerimis tipis. Samudera datang tepat waktu, mengenakan setelan berwarna hitam lengkap dengan masker dan topi yang ditarik rendah. Meskipun tempat yang dipilih Seraphine jauh dari jangkauan fans maupun media karena tidak mudah ditebak, Samudera tetap menggunakan protokol keamanannya untuk keluar.
Galeri itu sunyi, hanya ada beberapa lukisan abstrak yang diterangi lampu sorot kuning redup. Suasananya cukup dingin, namun juga candu. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar kecil telah ditata dengan dua piring porselen putih dan sebotol anggur merah.
Seraphine sudah duduk disana. Tampilannya sederhana, hanya mengenakan gaun beludru hitam berlengan panjang. Rambutnya dibiarkan jatuh tergerai, meninggalkan kesan mahal dan anggun pada wajah dinginnya yang legendaris.
“Lo telat satu menit,” suara Seraphine membuka keheningan. Mengalun dingin dan tajam memandang Samudera yang baru datang.
Samudera menarik kursi di hadapannya, duduk dengan gaya yang sedikit lebih santai. “Jalanan Jakarta nggak peduli siapa yang mau bahas pernikahan, Seraphine. Jalanan tetep macet.”
Seraphine menatapnya datar. Matanya yang tajam seolah sedang membedah isi kepala Samudera. Dia menghela napas dengan anggun, bermaksud membuka botol anggur merah di tengah meja. Namun, Seraphine sedikit tersentak saat tangan Samudera lebih dulu mengambilnya.
Samudera berdehem pelan, membuka botol tersebut dengan mudah. Dia menuangkannya ke gelas depan Seraphine terlebih dahulu. “Jadi… tempat ini punya lo?” tanyanya sambil mendongak menatap Seraphine.
Seraphine berdehem pelan. “Bukan. Punya temen gue.”
Samudera mengangguk, tersenyum tipis sambil menuangkan anggur merah ke gelasnya sendiri. “Terus lo sengaja milih tempat ini biar gak ada orang yang curiga?” tanyanya mengangkat alis.
Seraphine mendengus. “Gue males jadi headline berita,” jawabnya singkat sebelum meneguk anggur merahnya dengan elegan.
Seraphine mengusap pinggiran gelasnya menggunakan jari, menghapus sisa lipstick yang menempel dengan anggun. Dia lantas memandang Samudera. “Jadi, mari kita langsung ke intinya. Lo ke sini buat protes soal perjodohan ini,atau buat minta gue supaya nolak rencana bokap lo?"
Samudera terdiam sejenak, bertepatan dengan pelayan yang datang menyajikan hidangan pembuka.
“Gue baru tahu kalau bokap udah rencanain pernikahan gue dari lama dan ada di kontrak debut member,” Samudera membuka percakapan setelah pelayan pergi. “Bokap gue licik. Dia jadiin masa depan member gue sebagai sandera.”
Seraphine meletakkan gelas anggurnya dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tak terdengar bunyi benturan kaca dengan meja marmer itu. Ia tidak tampak terkejut. Matanya yang jernih namun dingin menatap Samudera, seolah informasi tentang kontrak debut itu adalah berita basi yang sudah ia ketahui sejak lama.
“Dunia bisnis emang kotor, Samudera. Lo baru sadar sekarang atau baru mau nerima kenyataan itu sekarang?” tanya Seraphine retoris. “Bokap lo, Ardhaka Wicaksana, nggak akan bangun agensi sebesar World Entertainment kalau dia cuma pakai perasaan. Dia juga gak mungkin ngeizinin anak tunggalnya debut tanpa jaminan. Dia butuh jaminan terbaik, yaitu lo—aset paling berharga yang dia punya.”
Samudera mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang dingin. "Aset? Jadi itu sebutan lo buat gue sekarang? Gue pikir kita setidaknya punya rasa kemanusiaan yang lebih tinggi daripada sekadar angka di saham perusahaan."
“Gue bicara realistis,” potong Seraphine cepat. “Gue juga aset di keluarga gue. Bokap ngeizinin gue bangun brand sendiri bukan tanpa jaminan, Samudera. Bedanya, gue milih buat jadi orang yang memegang kendali atas aset itu.”
Seraphine menghela napas. “Perjanjian antara bokap kita berdua bukan cuma soal menyatukan dua dinasti keluarga, tapi soal monopoli pasar. Motion13 punya massa besar dan gila-gilaian yaitu Nation—fans kalian, dan Seraphine Aesthetic Group punya kelas di dunia bisnis. Kita adalah kombinasi yang secara logika dan matematika mustahil buat gagal.”
Samudera mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan cahaya lampu sorot galeri menonjolkan garis rahangnya yang tegas. "Tapi ini bukan soal matematika, Sera. Ini soal hidup. Lo beneran mau menghabiskan sisa hidup lo sama orang yang dipantau sama ribuan fans dua puluh empat jam? Orang yang jadwal tidurnya diatur sama manajer? Orang yang bahkan nggak bisa janji bakal pulang tepat waktu karena harus latihan sampai subuh?"
Seraphine terdiam sejenak. Ia memperhatikan Samudera dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit kilatan di matanya yang biasanya sedingin es—sebuah pengakuan tersirat yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Gue udah sering liat lo di balik layar, Sam," suara Seraphine melunak, meski tetap terjaga. "Tahun lalu, pas kita kerja sama di Paris... gue nggak cuma liat seorang idol yang jago pose. Gue liat leader yang rela nahan laper demi mastiin member bungsu lo, Danendra kalau nggak salah, dapet porsi makan yang bener. Gue liat lo debat sama fotografer karena dia memperlakukan kru lokal dengan nggak sopan. Gue tahu lo bukan sekadar produk agensi."
Samudera tertegun. Ia tidak menyangka Seraphine memperhatikan hal-hal sekecil itu. Ingatannya kembali ke Paris, di mana ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari balik monitor direktur kreatif. Ia pikir itu hanya perasaannya yang terlalu sensitif karena diam-diam ia pun selalu mencuri pandang ke arah Seraphine.
"Jadi..." Samudera berdehem, mencoba mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Lo setuju karena lo pikir gue orang baik? Atau karena lo pikir gue partner bisnis yang kompeten?"
“Dua-duanya,” jawab Seraphine tanpa pikir panjang. “Gue butuh pasangan yang punya etos kerja seimbang sama gue, bukan cuma pasangan yang bisa diajak pamer di red carpet atau media. Dan dari semua nama yang pernah bokap gue kasih, cuma lo yang nggak bikin gue pengen muntah.”
Seraphine melanjutkan dengan tenang. “Gue nggak bakalan setuju sama perjanjian ini kalau lo cuma idol manja, pewaris tunggal pemilik agensi yang cuma tahu cara tebar pesona.”
Samudera tertawa hambar. "Pujian yang sangat tinggi, Seraphine. Thanks."
Hidangan utama tiba—wagyu steak dengan saus truffle yang aromanya memenuhi ruangan, memotong percakapan mereka sebelumnya. Namun, nafsu makan Samudera seolah hilang. Pikirannya masih tertuju pada fakta bahwa Seraphine, wanita yang selama ini ia kagumi dalam diam, ternyata menyetujui pernikahan ini dengan penuh kesadaran.
"Gue tanya sekali lagi," Samudera memotong steaknya dengan presisi. "Kalau gue minta lo buat batalin ini, apa lo bakal lakuin?"
Seraphine menghentikan gerakannya. Ia menatap Samudera dalam-dalam. "Kenapa? Lo punya cewek lain yang lo sayang? Lo takut dia terluka?"
"Nggak ada," jawab Samudera cepat. "Gue nggak punya siapa-siapa. Hidup gue cuma buat Motion13."
"Bagus," kata Seraphine pendek. "Karena gue juga nggak punya waktu buat drama perselingkuhan. Kalau kita mau lakuin ini, kita harus jadi tim yang solid. Gue nggak akan ganggu karier lo, dan lo nggak akan ganggu operasional perusahaan gue. Di depan publik, kita adalah Power Couple. Di rumah... kita bisa jadi apa pun yang kita sepakati."
"Termasuk jadi orang asing?" tanya Samudera getir.
Seraphine terdiam sejenak. Ia menatap Samudera. “Gue nggak gampang buka diri.”
Samudera tersenyum, kali ini bukan senyum idol di depan kamera. Lebih tajam. Lebih pribadi.
“Gue juga nggak gampang tertarik,” katanya pelan. “Tapi lo berhasil bikin gue penasaran.”
Untuk pertama kalinya, Seraphine tidak langsung membalas.
Samudera tertawa. “Tapi kita pernah ketemu tahun lalu, Seraphine. Setidaknya gue bukan orang seasing itu dalam hidup lo, isn’t right?”
***Di kamar hotelnya yang mewah di Amsterdam, Samudera baru saja menyelesaikan sarapan bersama member Motion13. Samudera mulai melepaskan kaos hitamnya, menyisakan tubuh atletis dengan garis otot yang tegas, hasil dari latihan bertahun-tahun. Ia memiliki waktu singkat untuk membersihkan diri sebelum bus tur menjemput mereka menuju Ziggo Dome untuk sesi final soundcheck dan persiapan konser malam pertama. Ia meletakkan ponselnya di atas meja marmer kamar mandi, mengatur posisinya agar stabil, lalu menekan tombol panggilan video. Wajah Seraphine muncul di layar. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah. Ia mengenakan silk robe berwarna putih tulang yang kontras dengan warna kulitnya. "Baru mandi, Sayang?" tanya Samudera dengan suara yang sengaja direndahkan. Seraphine sedang duduk di depan meja riasnya, mengoleskan skincare dengan gerakan ritmis. "Hm. Temen-temen gue baru aja pulang setengah jam lalu. Rumah lo udah bersih, tim kebersihan lo bener-b
Pagi di Amsterdam terasa sangat menenangkan dengan langit biru pucatnya yang cerah. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Samudera Adikara Wicaksana. Di meja panjang restoran hotel bintang lima tempat Motion13 menginap, seluruh member berkumpul disana. Mereka memperhatikan Samudera yang tidak lepas dari layar ponsel yang ia letakkan di samping garpu. Leader mereka itu bahkan mengabaikan sepiring omelet dan sosis jerman yang masih utuh, belum disentuh sama sekali. “Bang, makan dulu. Nanti maag lo kumat pas soundcheck,” tegur Danendra—si bungsu sambil mengoleskan selai kacang ke rotinya. Samudera tidak menjawab. Ia kembali menekan tombol panggil. “Jakarta udah jam 1 lebih. Dia pasti masih tidur,” gumamnya pada kegelisahannya. Pada deringan kedelapan di panggilan keenam, layar itu akhirnya berubah. Sebuah panggilan video diterima. Wajah Seraphine muncul. Rambutnya berantakan di atas bantal sutra, matanya masih terpejam rapat dengan dahi yang sedikit mengernyit. Cahaya matahari pa
Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samudera, area lantai atas, terutama kamar tidur utama mereka, adalah zona terlarang bagi siapa pun. Seraphine sudah memastikan Bianca dan yang lainnya terlelap di kamar tamu yang luas, berselimut hangat setelah pesta satin mereka berakhir.Begitu pintu jati kamar utama itu tertutup rapat, Seraphine menjatuhkan dirinya di atas ranjang king size yang terasa terlalu luas tanpa sosok pria yang biasanya mendominasi tempat itu. Ia meraba bantal di sampingnya, lalu meraih ponselnya.Di Amsterdam, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Samudera baru saja kembali ke hotel setelah rehearsal yang melelahkan. Saat ponselnya bergetar menampilkan panggilan video dari "Wifey 🤍", ia langsung menyambarnya dengan ge
Suasana rumah megah di Kawasan Jakarta Selatan itu benar-benar terasa ramai oleh kehadiran The Inner Circle—teman-teman circle sosialita Seraphine sejak masa SMA. Ruang tengah yang didominasi marmer italia dan furniture minimalis karya desainer eropa itu kini berubah menjadi pusat keramaian. Suara melengking Gisela, nyanyian-nyanyian dari Anya, dan denting gelas kristal yang saling beradu memenuhi setiap sudut ruangan.Seraphine Swarna Kirana, yang kini sudah menanggalkan gaun silk hitamnya dan berganti dengan piyama sutra berwarna champagne, duduk di sofa panjang sambil mengamati sahabat-sahabatnya. Di atas meja marmer di depannya, terhampar kemewahan yang dipesan secara impulsif: tumpukan kotak sushi premium dari Senopati, Wagyu A5 yang masih hangat, truffle fries yang aromanya memenuhi ruangan, hingga botol-botol wine dan champagne dari cellar pribadi Samudera yang harganya cukup untuk membeli sebuah mobil kota."Sera! Gila, ini Krug Clos d'Ambonnay? Suami lo beneran biarin kita mi
Samudera duduk di tepi ranjang hotelnya di Amsterdam, menatap room chatnya dengan Seraphine. Sejak menutup panggilan, Seraphine mengabaikan seluruh pesannya. Membuat Samudera berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 15.15 di Belanda. Itu berarti di Jakarta sudah pukul 20.15 malam. Hanya butuh 45 menit sebelum pukul 9 malam—waktu dimana Seraphine bilang dia akan berangkat ke bar."Gila, gue nggak bisa begini," gumam Samudera. Ia berdiri, mondar-mandir di kamar hotelnya yang luas. “Dia pasti beneran berangkat kalau gue nggak telepon sekarang," gumam Samudera.Ia mengabaikan rasa pusing yang tersisa dari penerbangan Berlin-Amsterdam. Pikirannya hanya satu: Seraphine tidak boleh berada di Blue Terrace malam ini tanpa dirinya.Ia menekan tombol panggilan video. Ditolak.Ia menekan lagi. Ditolak lagi.Hingga pada panggilan kelima, layar itu akhirnya terhubung.Wajah Seraphine muncul di layar. Samudera nyaris menahan napas. Seraphine sedang berada di depan
Di Jakarta, hari sudah memasuki sore hari dengan semburat jingganya yang memasuki kaca jendela ruangan Seraphine Swarna Kirana. Ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi terakhirnya di hari itu. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, memutar lehernya yang terasa kaku. Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Begitu melihat nama pengirimnya: Suami, sudut bibir Seraphine terangkat tanpa disadari. Samudera: Obat sama supnya sudah habis. Enak banget, makasih ya Nyonya Wicaksana. Maaf buat semalam... gue beneran di luar kendali. Tapi satu hal yang perlu lo tau, bagian 'The Muse' itu... itu satu-satunya bagian yang paling jujur dari semua racauan gue. Gue siap kasih penjelasan lengkap, tapi syaratnya, gue harus jelasin itu sambil peluk lo di rumah. Amsterdam sebentar lagi mendarat. I love you, Sera. Seraphine tertegun, dadanya berdesir hangat. “Sambil peluk lo di rumah katanya?” gumamnya p
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan







