共有

Bab 3

作者: yourayas
last update 公開日: 2026-02-25 23:00:34

Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.

Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam. Tetapi, ia tidak ingin pertemuan itu diatur oleh asisten Ardhaka atau tim PR perusahaan. Ia ingin ini dimulai darinya.

Samudera menghela napas sebelum mengambil handphonenya di meja nakas. Dia mengirimkan pesan kepada Seraphine.

To: Seraphine

Samudera: Seraphine.

Samudera: Ini Samudera,

Samudera: Gue rasa kita perlu ketemu soal rencana gila bokap kita.

Samudera: Nanti malam jam 7 di VIP Lounge Hotel Luminary.

Samudera: Gue udah pesen tempatnya

Singkat. Padat. Profesional.

Begitu pikir Samudera. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada balasan dalam sepuluh menit pertama. Samudera bahkan berdecak saat melihat notifikasi grup chatnya dengan manajemen yang mengingatkan jadwal.

Seolah dia menunggu jawaban Seraphine.

Atau dia memang menunggu…

Di menit kelima belas, sebuah balasan masuk yang hampir membuat Samudera menjatuhkan ponselnya. Samudera menghela napas panjang tanpa sadar sebelum membuka room chat Seraphine. Pria itu menatap layar handphonenya lama, membaca satu persatu-satu pesan dari Seraphine.

Seraphine: [Shared Location: A private art gallery in South Jakarta]

Seraphine: gue gak suka ketemuan di hotel

Seraphine: lo yang butuh bicara sama gue, jadi lo yang dateng ke tempat gue

Seraphine: jam 7 malam.

Seraphine: jangan telat, Samudera.

Samudera tertegun sejenak, lalu sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. “Sial,” gumamnya pelan. “Dia bener-bener Ice Queen.”

Alih-alih marah karena perintahnya ditolak, Samudera justru merasakan percikan tantangan yang sudah lama tidak ia rasakan

***

Malam itu, Jakarta diguyur gerimis tipis. Samudera datang tepat waktu, mengenakan setelan berwarna hitam lengkap dengan masker dan topi yang ditarik rendah. Meskipun tempat yang dipilih Seraphine jauh dari jangkauan fans maupun media karena tidak mudah ditebak, Samudera tetap menggunakan protokol keamanannya untuk keluar.

Galeri itu sunyi, hanya ada beberapa lukisan abstrak yang diterangi lampu sorot kuning redup. Suasananya cukup dingin, namun juga candu. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar kecil telah ditata dengan dua piring porselen putih dan sebotol anggur merah.

Seraphine sudah duduk disana. Tampilannya sederhana, hanya mengenakan gaun beludru hitam berlengan panjang. Rambutnya dibiarkan jatuh tergerai, meninggalkan kesan mahal dan anggun pada wajah dinginnya yang legendaris.

“Lo telat satu menit,” suara Seraphine membuka keheningan. Mengalun dingin dan tajam memandang Samudera yang baru datang.

Samudera menarik kursi di hadapannya, duduk dengan gaya yang sedikit lebih santai. “Jalanan Jakarta nggak peduli siapa yang mau bahas pernikahan, Seraphine. Jalanan tetep macet.”

Seraphine menatapnya datar. Matanya yang tajam seolah sedang membedah isi kepala Samudera. Dia menghela napas dengan anggun, bermaksud membuka botol anggur merah di tengah meja. Namun, Seraphine sedikit tersentak saat tangan Samudera lebih dulu mengambilnya.

Samudera berdehem pelan, membuka botol tersebut dengan mudah. Dia menuangkannya ke gelas depan Seraphine terlebih dahulu. “Jadi… tempat ini punya lo?” tanyanya sambil mendongak menatap Seraphine.

Seraphine berdehem pelan. “Bukan. Punya temen gue.”

Samudera mengangguk, tersenyum tipis sambil menuangkan anggur merah ke gelasnya sendiri. “Terus lo sengaja milih tempat ini biar gak ada orang yang curiga?” tanyanya mengangkat alis.

Seraphine mendengus. “Gue males jadi headline berita,” jawabnya singkat sebelum meneguk anggur merahnya dengan elegan.

Seraphine mengusap pinggiran gelasnya menggunakan jari, menghapus sisa lipstick yang menempel dengan anggun. Dia lantas memandang Samudera. “Jadi, mari kita langsung ke intinya. Lo ke sini buat protes soal perjodohan ini,atau buat minta gue supaya nolak rencana bokap lo?"

Samudera terdiam sejenak, bertepatan dengan pelayan yang datang menyajikan hidangan pembuka.

“Gue baru tahu kalau bokap udah rencanain pernikahan gue dari lama dan ada di kontrak debut member,” Samudera membuka percakapan setelah pelayan pergi. “Bokap gue licik. Dia jadiin masa depan member gue sebagai sandera.”

Seraphine meletakkan gelas anggurnya dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tak terdengar bunyi benturan kaca dengan meja marmer itu. Ia tidak tampak terkejut. Matanya yang jernih namun dingin menatap Samudera, seolah informasi tentang kontrak debut itu adalah berita basi yang sudah ia ketahui sejak lama.

“Dunia bisnis emang kotor, Samudera. Lo baru sadar sekarang atau baru mau nerima kenyataan itu sekarang?” tanya Seraphine retoris. “Bokap lo, Ardhaka Wicaksana, nggak akan bangun agensi sebesar World Entertainment kalau dia cuma pakai perasaan. Dia juga gak mungkin ngeizinin anak tunggalnya debut tanpa jaminan. Dia butuh jaminan terbaik, yaitu lo—aset paling berharga yang dia punya.”

Samudera mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang dingin. "Aset? Jadi itu sebutan lo buat gue sekarang? Gue pikir kita setidaknya punya rasa kemanusiaan yang lebih tinggi daripada sekadar angka di saham perusahaan."

“Gue bicara realistis,” potong Seraphine cepat. “Gue juga aset di keluarga gue. Bokap ngeizinin gue bangun brand sendiri bukan tanpa jaminan, Samudera. Bedanya, gue milih buat jadi orang yang memegang kendali atas aset itu.”

Seraphine menghela napas. “Perjanjian antara bokap kita berdua bukan cuma soal menyatukan dua dinasti keluarga, tapi soal monopoli pasar. Motion13 punya massa besar dan gila-gilaian yaitu Nation—fans kalian, dan Seraphine Aesthetic Group punya kelas di dunia bisnis. Kita adalah kombinasi yang secara logika dan matematika mustahil buat gagal.”

Samudera mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan cahaya lampu sorot galeri menonjolkan garis rahangnya yang tegas. "Tapi ini bukan soal matematika, Sera. Ini soal hidup. Lo beneran mau menghabiskan sisa hidup lo sama orang yang dipantau sama ribuan fans dua puluh empat jam? Orang yang jadwal tidurnya diatur sama manajer? Orang yang bahkan nggak bisa janji bakal pulang tepat waktu karena harus latihan sampai subuh?"

Seraphine terdiam sejenak. Ia memperhatikan Samudera dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit kilatan di matanya yang biasanya sedingin es—sebuah pengakuan tersirat yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

"Gue udah sering liat lo di balik layar, Sam," suara Seraphine melunak, meski tetap terjaga. "Tahun lalu, pas kita kerja sama di Paris... gue nggak cuma liat seorang idol yang jago pose. Gue liat leader yang rela nahan laper demi mastiin member bungsu lo, Danendra kalau nggak salah, dapet porsi makan yang bener. Gue liat lo debat sama fotografer karena dia memperlakukan kru lokal dengan nggak sopan. Gue tahu lo bukan sekadar produk agensi."

Samudera tertegun. Ia tidak menyangka Seraphine memperhatikan hal-hal sekecil itu. Ingatannya kembali ke Paris, di mana ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari balik monitor direktur kreatif. Ia pikir itu hanya perasaannya yang terlalu sensitif karena diam-diam ia pun selalu mencuri pandang ke arah Seraphine.

"Jadi..." Samudera berdehem, mencoba mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Lo setuju karena lo pikir gue orang baik? Atau karena lo pikir gue partner bisnis yang kompeten?"

“Dua-duanya,” jawab Seraphine tanpa pikir panjang. “Gue butuh pasangan yang punya etos kerja seimbang sama gue, bukan cuma pasangan yang bisa diajak pamer di red carpet atau media. Dan dari semua nama yang pernah bokap gue kasih, cuma lo yang nggak bikin gue pengen muntah.”

Seraphine melanjutkan dengan tenang. “Gue nggak bakalan setuju sama perjanjian ini kalau lo cuma idol manja, pewaris tunggal pemilik agensi yang cuma tahu cara tebar pesona.”

Samudera tertawa hambar. "Pujian yang sangat tinggi, Seraphine. Thanks."

Hidangan utama tiba—wagyu steak dengan saus truffle yang aromanya memenuhi ruangan, memotong percakapan mereka sebelumnya. Namun, nafsu makan Samudera seolah hilang. Pikirannya masih tertuju pada fakta bahwa Seraphine, wanita yang selama ini ia kagumi dalam diam, ternyata menyetujui pernikahan ini dengan penuh kesadaran.

"Gue tanya sekali lagi," Samudera memotong steaknya dengan presisi. "Kalau gue minta lo buat batalin ini, apa lo bakal lakuin?"

Seraphine menghentikan gerakannya. Ia menatap Samudera dalam-dalam. "Kenapa? Lo punya cewek lain yang lo sayang? Lo takut dia terluka?"

"Nggak ada," jawab Samudera cepat. "Gue nggak punya siapa-siapa. Hidup gue cuma buat Motion13."

"Bagus," kata Seraphine pendek. "Karena gue juga nggak punya waktu buat drama perselingkuhan. Kalau kita mau lakuin ini, kita harus jadi tim yang solid. Gue nggak akan ganggu karier lo, dan lo nggak akan ganggu operasional perusahaan gue. Di depan publik, kita adalah Power Couple. Di rumah... kita bisa jadi apa pun yang kita sepakati."

"Termasuk jadi orang asing?" tanya Samudera getir.

Seraphine terdiam sejenak. Ia menatap Samudera. “Gue nggak gampang buka diri.”

Samudera tersenyum, kali ini bukan senyum idol di depan kamera. Lebih tajam. Lebih pribadi.

“Gue juga nggak gampang tertarik,” katanya pelan. “Tapi lo berhasil bikin gue penasaran.”

Untuk pertama kalinya, Seraphine tidak langsung membalas.

Samudera tertawa. “Tapi kita pernah ketemu tahun lalu, Seraphine. Setidaknya gue bukan orang seasing itu dalam hidup lo, isn’t right?”

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 6

    Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asrama dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela, memikirkan bagaimana sisa parfum sandalwood yang tertinggal di mobilnya akan segera menjadi aroma yang sah di hidupnya.Tepat pukul 10:00 pagi, sebuah pemberitahuan serentak muncul di seluruh platform media sosial resmi World Entertainment dan Kirana Group. Sebuah foto hitam putih dengan kualitas artistik tinggi diunggah: kelingking tangan Samudera dan Seraphine yang saling bertautan.[PENGUMUMAN RESMI WORLD ENTERTAINMENT]Halo, kami World Entertainment.Kami membawa berita bahagia mengenai artis kami, Samudera Adikara Wicaksana, Leader dari Motion13.Selama satu tahun terakhir, Samudera dan Seraphine Swarna Kirana (CEO Seraphine Aesthet

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 5

    Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa aroma sandalwood yang ditinggalkan Seraphine di dalam mobilnya terasa seperti masih menguar di udara. Ada getaran aneh di dadanya ketika merasakan tekstur tisu yang masih tersimpan dalam kantong jaketnya.Samudera melangkah masuk dengan tenang. Menekan tombol lift ke lantai teratas. Ia tidak akan membiarkan Papanya merasa menang telak hanya karena ia setuju untuk menikah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Ardhaka Wicaksana.Ardhaka sedang menyesap kopi hitamnya. Ia menaikkan alis begitu melihat Samudera datang dengan aura yang berbeda.“Sudah bertemu Seraphine semalam?” tanya Ardhaka tanpa basa-basi.Samudera menarik kursi di depan meja maoni itu, duduk dengan kaki menyilang, menunj

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 4

    Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita cuma orang asing yang pernah jadi rekan kerja.”Samudera menyeringai. “Gue tahu lo benci basa-basi, Seraphine, dan gue juga. Tapi kalau lo pikir pernikahan ini cuma soal mindahin koper ke rumah yang sama dan pura-pura romantis di depan kamera, lo berarti meremehkan apa yang bakal terjadi diluar sana. Fans gue, media, bahkan keluarga kita sendiri… gue yakin mereka bakal ngebedah hidup kita sampai ke akar-akarnya.”Seraphine menatap steak wagyunya yang mulai mendingin. "Makanya gue bilang, kita butuh kesepakatan. Gue udah nyiapin draf kontrak internal di luar apa yang bokap lo buat. Poin pertama: privasi mutlak. Kamar kita terpisah. Poin kedua: jadwal pertemuan publik bakal disesuaikan sama kal

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 3

    Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam. Tetapi, ia tidak ingin pertemuan itu diatur oleh asisten Ardhaka atau tim PR perusahaan. Ia ingin ini dimulai darinya.Samudera menghela napas sebelum mengambil handphonenya di meja nakas. Dia mengirimkan pesan kepada Seraphine.To: SeraphineSamudera: Seraphine.Samudera: Ini Samudera,Samudera: Gue rasa kita perlu ketemu soal rencana gila bokap kita.Samudera: Nanti malam jam 7 di VIP Lounge Hotel Luminary.Samudera: Gue udah pesen tempatnyaSingkat. Padat. Profesional.Begitu pikir Samudera. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada balasan dalam sepuluh menit pertama. Samudera bahkan berdecak saat melihat notifikasi grup chatnya dengan manajemen yang mengingatkan jadwa

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 2

    Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, Bang? Bokap lo ngasih bonus apa buat kemenangan tadi? Saham tambahan? Atau mobil sport baru?”Samudera tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya dan melemparnya dengan asal. Samudera mengambil posisi duduk di tengah, bersandar pada sofa.“Gue harus ngomong,” suara Samudera memecah keheningan. Wajahnya nampak lebih serius kali ini, bahkan serratus kali lebih serius daripada speech di panggung setelah mendapatkan daesang beberapa jam yang lalu.Jauzan, sang main vocal sekaligus salah satu member tertua dibawah Samudera, mengerutkan kening. “Kenapa, Sam? Muka lo kayak habis lihat hantu, pucet banget. Bokap lo bilang apa? Saham perusahaan turun? Atau ada masalah sama sponsor?”Jauzan bertanya banya

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 1

    Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status