Share

Bab 113 (21+)

Author: yourayas
last update publish date: 2026-06-30 12:29:57

"Sembilan belas kali lagi?! Samudera, kamu mau bunuh aku?!"

Seraphine membelalakkan matanya, menatap horor pada suaminya yang kini menyeringai lebar dengan wajah basah oleh keringat. Tangan wanita itu dengan lemah memukul dada bidang Samudera, mencoba mendorong tubuh berat yang masih menindihnya itu. Namun jangankan bergeser, otot-otot di lengan Samudera justru semakin mengencang, mengunci posisi mereka agar tak ada jarak sedikit pun.

Samudera tertawa rendah, sebuah tawa maskulin yang bergetar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 149

    Sekarang, hanya tersisa mereka berdua. Sepasang Alpha. Sepasang kepala batu yang hatinya sama-sama hancur lebur namun menolak untuk mengibarkan bendera putih terlebih dahulu.Seraphine tetap berdiri di tengah ruangan. Ia menghela napas pendek sebelum membelakangi Samudera, sengaja menatap deretan kemeja panggung yang tergantung di rak besi. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian membelai pinggiran rantai aksesoris panggung dengan gerakan yang sangat tenang.Di sudut ruangan, Samudera menggerakkan kakinya. Derap langkah sepatu boot panggungnya berdenting berat di atas lantai kayu. Pria itu melangkah perlahan, mendekati posisi istrinya. Aura dominan, berbahaya, dan sarat akan penderitaan fisik maupun mental terpancar sangat kuat dari tubuh tingginya.Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Tidak ada yang mau mengalah. Dua orang alpha. Dua manusia berdarah dingin dengan tingkat ego dan kekerasan kepala yang berada di puncaknya.Sampai akhirnya, suara Samudera memecah kesunyian tersebu

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 148

    Setelah konser berakhir, Seraphine memimpin melangkah melewati koridor utama menuju ruang tunggu VIP Motion13. Di depan pintu ruang ganti utama, tiga belas member Motion13 baru saja selesai mengelap keringat dan melepaskan aksesoris panggung yang berat. Begitu pintu koridor terbuka lebar dan memperlihatkan kedatangan Seraphine beserta rombongannya, suasana yang tadinya ramai mendadak senyap seketika.“Kak Sera!” Mahesa menjadi orang pertama yang bersuara. Pria jangkung itu melangkah maju mendekati Seraphine. “Makasih banget, Kak. Gue pikir lo beneran gak sudi dateng kesini.”Seraphine menghentikan langkahnya, menatap Mahesa dengan seulas senyum tipis yang amat dingin namun berwibawa. "Kan gue udah bilang di telepon, Hes. Jangan biarin leader lo mati di panggung. Dan lo berhasil jalanin tugas lo."Seraphine menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Tatapan matanya yang tajam dan berwibawa menyapu wajah adik-adik ipar dan sahabat-sahabat suaminya itu satu per satu. Senyum tipis y

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 147

    Udara malam di Nagoya terasa sangat menusuk. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangat penggemar Motion13 yang sudah memenuhi area Vantelin Dome Nagoya sejak sore tadi. Dan di dalam salah satu suite VIP Box privat yang terletak di lantai paling atas stadium, Seraphine duduk disana bersama kelima sahabatnya.Ia mengenakan trench coat cashmere berwarna beige-grey dan trousers hitam bermerek Celine. Makeup tegas dengan garis eyeliner tajam dan perona bibir nuansa deep rose membuat sosoknya memancarkan aura seorang pimpinan eksekutif Kirana Group yang tak tersentuh."Gue masih gak nyangka kita beneran mendarat di Nagoya jam tiga sore tadi tanpa ngasih tahu satu orang pun dari tim manajemen Motion13," gumam Valerie sambil memutar gelang emasnya. "Gue rasa Mahesa atau Jauzan bisa kena serangan jantung kalau tahu lo ada di VIP Box ini sekarang, Ra.""Gue di sini bukan buat bikin kejutan romantis," sahut Seraphine dingin, matanya menatap lurus ke arah screen raksasa di panggung yang menam

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 146

    Di suite mewah hotel bintang lima di Kawasan Paradeplatz, Zurich, udara sore hari terasa mulai semakin dingin. Seraphine sedang duduk di sofa velvet, dikelilingi oleh kelima sahabatnya. Keadaan di dalam kamar itu mulai membaik setelah perdebatan sengit kemarin mengenai analogis bisnis Gisela dan teguran keras dari Karin.Tiba-tiba, ponsel Seraphine—yang ia nyalakan tadi pagi sesuai saran dari Valerie—yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan internasional.Mahesa Motion13 calling...Seraphine menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak tipis. Sahabat-sahabatnya seketika menghentikan pembicaraan. Suasana kamar menjadi hening seketika."Mahesa?" bisik Valerie mengintip layar. "Kenapa adik kesayangan suami lo itu nelfon sore-sore gini?"Seraphine memejamkan mata sejenak, menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Suaranya terdengar sangat dingin, datar, dan berwibawa—topeng ketahanan khas seorang Seraphine

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 145

    Siang itu, reherseal untuk konser hari pertama di Osaka baru saja diselesaikan. Selama hampir tiga jam di atas panggung, Samudera Adikara berdiri tegak bagaikan karang di tengah badai. Otoritasnya sebagai leader Motion13 tidak bergeser satu milimeter pun. Suaranya yang berat dan bertenaga menggelegar melalui mikrofon, koreografinya presisi, dan instruksinya kepada tim teknis mengenai pencahayaan serta tata suara terdengar sangat tajam.Namun, begitu sesi latihan selesai dan lampu panggung dipadamkan, seluruh atmosfer seolah ikut berubah.“Lampu midsage kurang lambat setengah detik pas drop kedua, tolong catat—”Kalimat Samudera terputus. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga panggung belakang mendadak limbung. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin menggelap."Bang Sam!" Mahesa yang berjalan tepat di belakang Samudera refleks memburu maju. Tangan besarnya merengkuh dada sang leader sebelum tubuh tinggi itu roboh menghantam anak tangga besi."Sam! Samudera!" Jauzan berter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 144

    Sementara itu…Kota Osaka sedang diselimuti rintik hujan gerimis. Di dalam bus eksekutif yang membawa seluruh member Motion13 dari stasiun Shinkansen menuju hotel di Osaka, suasana terasa sangat sunyi dan tegang.Di baris kursi paling belakang, Samudera menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Wajahnya semakin tirus, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah kehitaman akibat dehidrasi serta kekeringan nutrisi yang parah.Meskipun di konser day 2 Tokyo Dome kemarin malam ia berhasil tampil sangat sangar dan ganas di atas panggung, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik profesionalisme leader yang legendaris, begitu lampu panggung padam, tubuhnya langsung ambruk total.Danendra, member termuda yang ditugaskan oleh Jauzan dan Zian untuk memantau pola makan Samudera selama di Osaka, duduk persis di sebelah sang leader. Di pangkuan Danendra, terdapat sebuah kotak bekal berisi hidangan nasi tim ayam yang dimasak khusus oleh koki pribadi agensi agar mudah dicerna.

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 36

    Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 35

    Pagi di Singapura disambut dengan aroma kopi premium dan udara tropis yang segar dari balkon suite hotel tempat mereka menginap. Seraphine sudah bangun sejak pukul tujuh pagi, kebiasaan sebagai CEO tidak membiarkannya tidur terlalu lama meskipun ia sedang berada di masa "liburan paksa". Ia baru saj

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 34

    Begitu bus berhenti di depan sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, Samudera tidak lantas bisa bersantai. Sebagai leader, tanggung jawabnya berlipat ganda. Saat member lain mulai berebut mengambil koper dan kunci kamar, Samudera langsung ditarik oleh Manajer Lee dan tim produksi lokal."Sam, ada pe

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 32

    Bab 32Samudera menutup pintu mobilnya dengan helaan napas berat. Ia berdiri sejenak di samping mobil, merapikan penampilannya sejenak dan menarik napas panjang udara pagi Jakarta yang lembap. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi paket-paket yang sudah disiapkan oleh Seraphine semala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status