MasukPukul 05.45, sebuah Toyota HiAce hitam berlogi agensi World Entertainment tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pintu geser otomatis terbuka, Samudera sebagai leader turun sebagai orang pertama.Penampilannya pagi itu tampak menawan meskipun ada hal yang tidak biasa. Sebuah beanie berwarna merah ditarik sangat rendah menutupi dahi. Masker kain berwarna hitam menutup bagian bawah wajahnya. Jaket chrome hearts—pemberian Seraphine 3 hari yang lalu menyelimuti tubuh tegapnya.Di belakangnya menyusul Jauzan Shaka Aradhana, sang wakil ketua sekaligus penengah grup, disusul oleh Yosua Caleb Pramudya. Jauzan, dengan rambutnya yang agak panjang dan tatapan matanya yang tajam namun lembut, langsung menyadari ada yang salah sejak Samudera melangkah keluar dari mobil agensi.“Sam,” panggil Jauzan lirih, menyejajarkan langkah kakinya di samping Samudera saat mereka berjalan membelah barisan wartawan. “Lo oke? Masker lo kenapa tinggi banget? Mata lo kenapa merah gitu?”Samudera t
Di tempat lain, Samudera berhasil masuk ke apartemen mewah milik Seraphine menggunakan kartu akses cadangan yang diberikah oleh Seraphine saat awal pernikahan mereka. Namun, kemewahan apartemen milik Seraphine terasa begitu sunyi, gelap, dan mencekam.Dalam perjalanan kesini, Samudera berdoa dan berharap setengah mati akan menemukan sosok sang istri yang sedang duduk menangis di sofa atau bersembunyi di dalam kamar utama. Sehingga Samudera bisa memeluknya dan menjelaskan tentang semuanya.Namun, kenyataan pahit harus dihadapi oleh Samudera saat melihat apartemen mewah itu kosong melompong. Tidak ada lampu yang dinyalakan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Membuktikan bahwa tempat ini sudah lama tidak dikunjungi.“Nggak… nggak mungkin! Kamu di mana, Sera?! Kamu di mana, Sayang?!” teriak Samudera histeris. Suaranya yang berat kini terdengar serak dan pecah, menggema pilu di ruangan yang sepi itu.Samudera berlari menuju kamar utama, membuka lemari pakaian dengan kasar, memeriksa kamar ma
Deru mesin flat-six dari Porsche 911 Carrera berwarna hitam itu meraung memecah jalanan Jakarta. Seraphine mencengkeram kemudi dengan tangan yang masih gemetar. Dadanya masih bergemuruh, air matanya terus mengalir deras, sedikit mengaburkan pandangannya terhadap aspal yang basah sisa hujan yang mula mereda.Di belakangnya, lampu depan sebuah mobil Range Rover menyala terang. Seraphine tahu betul siapa pemilik mobil tersebut. Samudera. Pria itu mengejarnya tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan kaos berwarna hitam berbalut celana panjang senada. Ia langsung melompat ke balik kemudi mobil SUV besarnya demi mengejar sang istri.Jantung Samudera berdegup kencang. Terasa ingin copot melihat bagaimana mobil Seraphine menyelinap di antara kendaraan-kendaraan lain dengan kecepatan yang sangat berbahaya.“Sialan! Bodoh! Bajingan lo, Samudera!” maki Samudera pada dirinya sendiri. Air matanya perlahan menetes membahasi pipi. “Kenapa lo harus jujur mala mini, hah?! Kenapa lo gak be
Seraphine mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak. “Sementara aku? Aku menjaga diri aku seumur hidup aku. Aku gak pernah biarin cowok mana pun nyentuh aku sejauh itu sebelum kita nikah. Aku ngasih semuanya buat kamu, tubuh aku, my virginity, my whole soul karena aku pikir… we were on the sampe page, Samudera!” Seraphine menatap Samudera dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak dan jijik yang teramat sangat. "Tapi ternyata? Kamu udah bekas orang lain! Kamu udah biasa berbagi ranjang dan kehidupan domestik sama wanita lain! Kamu... kamu menjijikkan, Samudera!" Kata "bekas" dan "menjijikkan" yang keluar dari bibir Seraphine seketika menghantam ego paling dalam dari seorang Samudera Adikara. Sebagai seorang pria alpha yang memiliki harga diri tinggi dan sangat disegani di industrinya, harga dirinya hancur berkeping-keping mendengar kata-kata kasar dari istrinya sendiri. Rahang Samudera mengeras sempurna. Urat-urat di leher dan lengan kekarnya menonjol tajam saat ia mengepalk
Samudera tidak menyadari perubahan atmosfer dari sang istri. Pria itu menundukkan wajahnya, berniat untuk menempelkan bibir tebalnya ke atas bibir Seraphine untuk memulai ciuman panas mereka. Namun, sebelum bibir mereka bertemu, Seraphine dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, membuat kecupan Samudera hanya mendarat di pipi kirinya. Samudera menghentikan gerakannya. Ia menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Seraphine dengan dahi berkerut bingung. "Sayang? Kenapa, hm? Kamu capek?" Seraphine tidak langsung menjawab. Ia menolehkan kembali wajahnya, menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan tatapan yang terasa dingin dan menyelidik. Samudera mengerjap menatap kedua manik istrinya. "Aku udah wangi, udah bersih. Sekarang... waktunya aku minta amunisi sebelum besok pagi-pagi banget harus ke bandara," bisik Samudera parau, menundukkan wajahnya hendak menyesap ceruk leher Seraphine yang selalu menjadi favoritnya. Namun, gerakan Samudera terhenti ketika kedua tangan Seraphine yang bi
Hari berlalu begitu cepat. Seminggu libur pasca tur Amerika Motion13 kini telah berada di penghujung hari. Besok pagi, tepat pukul 06.00 WIB, mobil jemputan dari agensi akan menjemput suaminya untuk langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Tur Asia yang merupakan rute selanjutnya dari world tour Motion13 sudah menanti di depan mata. Sore itu, koper-koper besar milik Samudera sudah kembali berjejer di walk in closet mereka. Sebagian pakaian hangat untuk musim gugur sudah disediakan oleh Seraphine. Seperti biasa, wanita itu tidak ingin melewatkan satu pun kebutuhan suaminya. Seraphine berdiri di dekat jendela besar kamar tidur mereka, menatap ke arah hakaman belakang sambil menyesap teh chamomile yang dibuatkan oleh suaminya. Ia sudah mandi dan mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hitam. Pintu kamar terbuka, Samudera masuk ke dalam kamar setelah membereskan sisa makan mereka di dapur tadi. Pria itu lantas mendekat tanpa suara, melingkarkan kedua lengannya dari belakang tubuh Seraphi
Malam itu, London tidak lagi terasa dingin bagi Samudera. O2 Arena bergetar. Ribuan lightstick berwarna biru safir—warna resmi Motion13—menciptakan samudra cahaya yang bergerak seirama dengan dentuman bass yang menghentak lantai stadion. Samudera berdiri di tengah panggung utama, peluh membasahi hel
Pagi di Singapura disambut dengan aroma kopi premium dan udara tropis yang segar dari balkon suite hotel tempat mereka menginap. Seraphine sudah bangun sejak pukul tujuh pagi, kebiasaan sebagai CEO tidak membiarkannya tidur terlalu lama meskipun ia sedang berada di masa "liburan paksa". Ia baru saj
Begitu bus berhenti di depan sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair, Samudera tidak lantas bisa bersantai. Sebagai leader, tanggung jawabnya berlipat ganda. Saat member lain mulai berebut mengambil koper dan kunci kamar, Samudera langsung ditarik oleh Manajer Lee dan tim produksi lokal."Sam, ada pe
Bab 32Samudera menutup pintu mobilnya dengan helaan napas berat. Ia berdiri sejenak di samping mobil, merapikan penampilannya sejenak dan menarik napas panjang udara pagi Jakarta yang lembap. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi paket-paket yang sudah disiapkan oleh Seraphine semala







