Mag-log inSamudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.
Pintu terbuka bahkan sebelum Samudera sempat mengetuk. Seraphine berdiri di sana, tidak lagi mengenakan gaun beludru hitam, melainkan setelan rumah berupa kemeja sutra longgar berwarna gading dan celana kain senada. Wajahnya polos tanpa riasan, namun justru itu yang membuat Samudera terpaku sesaat. Tanpa eyeliner tajamnya, Seraphine tampak sedikit lebih manusiawi, meski tatapannya tetap sedingin es. “Masuk, Sam,” ujar Seraphine mempersilahkan tanpa basa-basi. Samudera melangkah masuk, memandang interior apartemen Seraphine yang adalah cerminan sempurna dari pemiliknya: minimal, elegan, dan sangat berkelas. Di dominasi oleh earth tone yang kuat dengan sentuhan marmer abu-abu dan kayu gelap. “Apartemen lo… it’s so you,” gumam Samudera sambil meletakkan tas makananya di atas meja makan berbahan granit yang mengkilap. “Rapi, dingin, tapi entah kenapa kayaknya bikin gue betah disini. Seraphine menaikkan sebelah alisnya. “Pujian atau sindiran?” “Pujian,” jawab Samudera singkat sambil mengeluarkan kotak-kotak makanan. "Gue bawa makan malam. Gue tebak lo belum makan karena sibuk ngurusin saham yang lagi naik gara-gara berita tadi pagi." Samudera membuka kotak-kotak kayu tersebut yang berisi sashimi dan nigiri kualitas premium. “Gue beli sashimi dari Omakase langganan gue. Lo boleh minta kompensasi kalau rasanya gak enak.” Seraphine mendekat. “Oke,” jawabnya singkat seolah mengiyakan tantangan Samudera. Ia menarik kursi tinggi dan duduk, sementara Samudera dengan telaten menata peralatan makan di depannya. “Jadi,” Seraphine menopang dagunya, matanya yang tajam menatap Samudera yang masih sibuk. “Lo kesini mau bahas draft kontrak internal yang gue janjiin atau lo niatnya cuma makan disini?” Samudera terkekeh, ia mengambil tempat duduk di depan Seraphine. “Dua-duanya. Tapi gue cukup yakin kalau otak lo nggak akan bisa mikir jernih pas perut lo kosong.” Ia balas menatap Seraphine dengan senyuman yang biasanya bisa membuat Nation gempar satu stadion. “Lagipula, gue gak mau calon istri gue pingsan karena telat makan.” Seraphine mendengus. Memilih untuk tidak menjawab dan mulai mengambil beberapa potong sashimi menggunakan sumpit dengan anggun. Keheningan sempat menyelimuti, hanya terdengar suara denting sumpit dan gesekan kotak kayu. Tanpa sadar, setiap kali Samudera melihat potongan Otoro atau Uni yang paling segar di dalam kotak, ia secara otomatis menjepitnya dengan sumpit dan meletakkannya di piring Seraphine. "Makan yang ini, ini bagian perut ikan yang paling lembut," ujar Samudera pelan, melakukan gerakan itu untuk ketiga kalinya. Tak lama kemudian, saat ia menemukan potongan Hamachi yang segar, Samudera kembali melakukan hal yang sama. Ia memindahkan bagian paling premium ke piring Seraphine, lagi dan lagi. Kebiasaan sebagai seorang leader yang selalu mendahulukan kebutuhan anggotanya—seperti saat ia memastikan Danendra makan dengan benar di Paris—kini muncul secara otomatis saat ia berada di dekat Seraphine. Seraphine meletakkan sumpitnya, matanya menyipit menatap Samudera yang masih sibuk mengunyah dengan tenang. "Lo selalu gini ya, Sam?" "Gini gimana?" Samudera mendongak, ada sedikit butiran wasabi di sudut bibirnya yang membuatnya tampak kurang seperti bintang dunia dan lebih seperti pria biasa. "Ngasih bagian terbaik buat orang lain. Lo itu leader Motion13, orang yang harusnya paling dilayani, bukan yang melayani," suara Seraphine melunak, sebuah nada yang jarang sekali ia tunjukkan. Samudera terdiam sejenak. Ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. “Mungkin karena gue udah terbiasa ngeliat dua belas kepala tiap hari. Gue terbiasa memastikan member gue dapet yang terbaik,” jawabnya dengan tenang kemudian kembali mengunyah sashimi sambil terus menatap Seraphine. “Tapi kalau buat lo… anggap aja ini bagian dari gentleman behavior yang gue bilang waktu itu,” Samudera kembali tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang khas. “Dan gue rasa, lo harus mulai terbiasa dengan itu, calon istri.” Seraphine tidak membalas, namun sudut bibirnya berkedut tipis, sebuah ekspresi yang hampir menyerupai senyuman. Seraphine berdehem pelan. “Lo sadar gak sih,” ucapnya tiba-tiba dengan suara yang lebih datar dari sebelumnya, “kalau sikap lo ini bisa disalahartikan?” Samudera menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Seraphine santai. “Disalahartikan gimana?” “Kayak lo peduli,” jawab Seraphine singkat, matanya turun ke piringnya, menghindari tatapan Samudera. Ada jeda beberapa detik. Samudera tidak langsung menjawab. “Dan itu masalah?” tanyanya akhirnya, suaranya lebih rendah. Seraphine terkekeh pelan. “Lo gak takut baper?” tanya Seraphine. Pertanyaan itu cukup tajam untuk membuat Samudera berhenti bergerak. Ia mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata Seraphine. Kali ini senyumnya kembali muncul, tapi lebih tipis. Lebih berbahaya. “Lo berharap gue baper?” Seraphine menatap balik tanpa goyah. “Gue cuma gak mau ribet.” Samudera mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. “Tenang aja,” katanya ringan. “Gue tau posisi.” “Tapi satu hal yang harus lo tahu, Sera,” tambahnya, nada suaranya sedikit menurun. “Gue gak pernah setengah-setengah kalau lagi ngejalanin sesuatu. Bahkan kalau itu cuma… kontrak.” Tatapan Seraphine berubah sepersekian detik—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk disadari. Kemudian ia mengambil kembali sumpitnya, seolah menutup percakapan. “Berarti gue harus siap,” gumamnya pelan. Samudera tersenyum. "Oke, sekarang keluarin kontraknya," ujar Samudera setelah kotak makanan itu hampir kosong. "Gue siap liat seberapa 'kejam' peraturan yang lo bikin buat hidup gue di bawah satu atap sama lo." ***“Berita apa?” tanya Seraphine penasaran. Samudera memajukan wajahnya ke layar. "Yosua... dia bilang dia udah ada niatan serius mau nikah." Mata Seraphine melebar sedikit. "Serius? Yosua sama Jivana?" "Iya!" jawab Samudera semangat. "Si Yosua ngaku kalau dia udah gak tahan mau nyusul kita. Dia bilang hubungannya sama Jivana kan udah empat tahun, terus dia terinspirasi sama kita yang tetap bisa jalanin rumah tangga dengan tenang walaupun status pernikahannya di-publish. Rencananya akhir tahun ini Yosua mau resmi melamar Jivana ke orang tuanya di Jakarta." Seraphine mengangguk-angguk pelan. “Bagus dong. Jivana itu cantik dan baik banget. Aku beberapa kali ketemu dia di acara fashion brand internasional. Kita jadi lumayan deket dan sering contact-an setelah aku nikah sama kamu. Emang serasi banget sih mereka berdua. Jivana juga gak kelihatan nuntut macem-macem ke Yosua.” "Bener," setuju Samudera. "Terus kamu tahu gak berita dari si Jauzan?" "Jauzan?" ulang Seraphine. "Jangan bilang J
Setelah menempuh jam-jam latihan di KSPO Dome, mulai dari soundcheck, dry rehearsal, hingga penyesuaian tata letak panggung selesai, Samudera masuk ke dalam kamarnya di hotel Grand InterContinental Seoul.Begitu melepaskan topi dan hoodie-nya, Samudera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat yang menempel. Selama lima belas menit, ia menikmati pancuran air hangat yang membasahi kulitnya. Setelahnya, Samudera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana abu-abu longgar tanpa atasan.Ia meraih botol air mineral dari dalam kulkas mini, meminumnya hingga tersisa separuh, kemudian merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang king-size yang empuk. Matanya melirik jam digital di atas meja nakas. Pukul 23.45 KST—berarti di Jakarta masih pukul 21.45 WIB.Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil ponsel pribadinya yang tadi ia letakkan di atas nakas. Jemari besarnya membuka aplikasi WhatsApp lalu menekan ikon panggilan video pada kontak istrinya.
Jauzan berdehem pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sebuah gestur langka dari seorang Jauzan yang biasanya selalu tampil tenang dan percaya diri di depan siapa saja.“Kalian inget gak pas acara Jakarta High-End Fashion Week dua bulan lalu sebelum kita berangkat tur Asia?” tanya Jauzan pelan.“Inget,” jawab Samudera cepat. “Yang lo diundang jadi guest of honor itu kan?”"Nah," lanjut Jauzan, matanya menerawang membayangkan momen tersebut. "Pas di backstage VIP, gue gak sengaja tabrakan kecil sama salah satu owner brand lokal yang lagi naik daun. Namanya Sheila Maheswari."Yosua membelalakkan matanya sedikit. "Sheila Maheswari? Pemilik brand busana etnik modern Maheswari Couture yang terkenal itu?"“Iya, dia. Bini lo pasti juga kenal, Sam,” pangkas Jauzan melirik Samudera.“Oke, tapi momen pertemuan kalian kayak sinetron televisi yang biasa ditonton pembantu gue di rumah,” ujar Samudera sengaja menggoda Jauzan.Jauzan mendengus, kembali menendang kecil tumit Samudera. “Sialan l
Pagi-pagi sekali, private jet yang membawa rombongan Motion13 menuju korea sudah lepas landas. Keramaian member Motion13 memenuhi bagian tengah kabin. Beberapa ada yang mengobrol, merekam vlog harian menggunakan kamera, hingga yang tertidur pulas dengan noise-canceling headphone untuk meredam keberisikan tiga belas pria itu.Jauh di area paling belakang kabin utama, sebuah lounge area eksklusif yang dipisahkan oleh sekat kayu jati dan tirai beludru tebal, tiga anggota tertua Motion13 duduk melingkar di sofa kulit costum-made berwarna abu-abu gelap.Jauzan menyilangkan kakinya, menatap Samudera dengan seringai tipis yang amat khas dan penuh keusilan. “Muka lo kenapa gitu, Sam?” tanya Jauzan pelan sambil menyenggol ujung sepatunya ke kaki Samudera. “Dari pas masuk van di hotel tadi subuh sampai udah naik jet, senyum-senyum sendiri kayak orang kasmaran. Serem gue liatnya.”Yosua yang sedang menyesap teh hangatnya terkekeh rendah. “Biasa, Zan. Yang habis didatengin istri jauh-jauh dari Ja
Pukul tiga sore lebih sedikit, Samudera dan Seraphine telah sampai di kamar presidential suite mereka. Dua jam sebelum keberangkatan Seraphine menuju Bandara Internasional Haneda untuk terbang kembali ke Jakarta.Empat kantong belanja dari butik-butik paling bergengsi di Ginza sudah tertata rapi di dekat sofa utama. Namun, tak satu pun dari mereka yang melirik pada tumpukan barang bernilai miliaran rupiah tersebut.Samudera melepaskan jaket nya, melemparnya sembarangan ke atas sandaran sofa tanpa peduli. Pria itu langsung berbalik, matanya terkunci sepenuhnya pada Seraphine yang sedang berdiri di dekat meja, melepaskan trench coat warna camel-nya dengan gerakan yang amat anggun."Aku rapiin barang-barang aku dulu," ujar Seraphine tenang.Sebelum wanita itu sempat melangkah menuju kamar tidur utama, sebuah lengan kokoh melingkar sempurna di pinggang rampingnya dari belakang. Samudera menumpukan dagunya di ceruk leher Seraphine. Pria itu menghirup aroma sandalwood yang menguar hangat da
Pagi itu setelah mandi, Samudera bergerak dengan telaten. Pria itu memaksa istrinya untuk duduk tenang di kursi meja rias, sementara dirinya mengeringkan rambut panjang Seraphine menggunakan hairdryer, jemari besarnya menyusup lembut di antara helai-helai rambut hitam istrinya.“Jangan ditarik, Samudera,” tegur Seraphine memperingatkan saat merasa sapuan sisir suaminya sedikit tersangkuk.“Iya, Sayang, ini pelan-pelan banget kok,” sahut Samudera dengan suara rendahnya. Ia menunduk sebentar, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Seraphine yang harum. “Rambut kamu wangi banget. Aku beneran bis agila kalau tiap hari cium wangi ini.”"Kamu udah gila dari tadi," balas Seraphine datar, walau sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum tipis di depan cermin rias.Samudera turut terkekeh kecil, pria itu tidak mengelak. Ia justru menundukkan tubuhnya, lengan kokohnya melingkar di pinggang ramping sang istri, menumpukan dagunya di bahu Seraphine. Matanya menatap bayangan mereka di cer
Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, B
Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang
Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asram
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa arom







