Share

52. Berkirim Pesan

Author: Lystania
last update publish date: 2026-07-20 16:40:55
Niken semakin heran. Keningnya berkerut menatap Dante. Ia terdiam sejenak– berpikir. Tanggal berapa sekarang saja ia sudah tidak ingat.

“Memangnya ini hari ulang tahun saya, Pak?” tanya Niken dengan wajah polos.

Dante juga ikutan mengerutkan kening. Tangan kanannya meraih benda pipih berwarna hitam yang diletakkannya di samping gelas. Pria itu lalu menyebutkan tanggal hari ini.

“Kok Pak Dante bisa tahu tanggal lahir saya?” tanya Niken menyadari hari ini memang tanggal lahirnya.

“Tiup dulu,”
Lystania

Udah berani chat chat ya Pak Dok

| 7
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
alah alah alah... lelaki dewasa yg mendadak ABG ahahahaha. GAAS pak dokter. jangan kasi kendor. kita kawal sampe halal. yuhuuu
goodnovel comment avatar
carsun18106
sok sok nanya knp blm tidur tp nyuruh packing skrg, nyuruh begadang atuh itu namanya pak
goodnovel comment avatar
carsun18106
loh kok besok checkout? mo pindah hotel ya?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    99. Manja

    “Aduh,” gumam Niken dalam hati terbangun duluan– masih berada di hangat pelukan Dante. Netranya reflek tertutup saat suaminya sedikit bergerak bersamaan dengan suara ocehan Evan yang berada dalam box. Begitu hati-hati Dante menarik tangannya kemudian menyelimuti Niken. Pria itu beralih mengecek anaknya di dalam box. “Selamat pagi anak Papa,” sapa Dante menggendong Evan lantas menciuminya. “Mima … Mima….” Evan bergumam menatap Niken yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dante kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari memanyunkannya sedikit hingga menimbulkan bunyi. “Biarin Mima tidur dulu ya,” ucap Dante pada Evan. Meraih ponselnya di atas meja, Dante lantas menghubungi admin rumah sakit yang mengatur jadwal kunjungan pasien. Ia ingin memastikan keadaan pasien kemarin. “Pasien kemarin stabil, Dok. Sejauh ini tidak ada keluhan,” sahut orang di seberang sana. “Oke. Saya agak siang ke rumah sakit. Tapi kalau adanya yang urgent, saya stand by,” terang Dante berus

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    98. Malam Yang Panjang

    “Beneran kan?” tanya Dante lagi memastikan. Pria itu semakin mendekat, membuat Niken jadi malu. Wajahnya memerah– menunduk tak berani menatap suaminya. “Apa sih, Mas?” Niken merengut sembari membelakangi Dante. Pelan tapi pasti, tangan Dante terulur lalu melingkari pinggang istrinya. Hal biasa yang dilakukan pasangan suami istri, tapi bagi Niken hal itu membuatnya gugup bukan main. “Tidur aja, Mas. Besok pagi kamu kan harus ke rumah sakit,” kata Niken berusaha melepaskan tangan Dante. Namun apa yang dilakukannya itu tak berhasil, suaminya malah semakin erat memeluk. Pria itu membaui rambut hitam Niken yang membuat istrinya merinding. “Boleh kan?” bisiknya di telinga Niken. Bisikan yang disertai dengan hembusan nafas Dante. Refleks Niken mendorong Dante kemudian berbalik menatap suaminya itu. Apa yang diminta oleh Dante memang adalah haknya sebagai suami, tapi– Netra Niken semakin dalam menatap– mencari jawaban dari apa yang selama ini hatinya tanyakan. Tatapan pria itu terlihat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    97. Sedikit Lagi

    Baru saja selesai visit pasien di jam delapan malam, tiba-tiba saja ponselnya berdering– panggilan dari ruang IGD. Kalau sudah begini pasti pasien gawat darurat. Betul saja saat ia menerima panggilan itu, terdengar suara gaduh dari seberang telepon. “Saya kesana sekarang!” sahut Dante menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas meninggalkan ruangan pribadi menunjukkan IGD di lantai satu. Setibanya di sana ada, Dante langsung bergabung dengan tenaga medis lainnya. Rupanya lima menit tadi baru saja terjadi kecelakaan di depan rumah sakit. Ada beberapa korban luka dan satu korban yang harus ditindaklanjuti. “Dok, detak jantung korban tidak stabil,” ucap salah satu perawat memberitahu. Dante mendekat ke arah korban kemudian mengecek keadaannya. Perawat yang berdiri di samping Dante, secara cepat menjelaskan keadaan korban setelah dilakukan observasi tadi. “Siapkan ruang operasi!” perintah Dante cepat pada perawat. Dokter itu tahu kalau korban pasti mengalami pendarahan otak akibat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    96. Sampai Di Rumah

    Meski belum paham arti ulang tahun, Evan terlihat bahagia saat meniup lilin yang menyala di atas kue coklat yang cukup besar itu. Mereka bertiga saling bersorak dan bertepuk tangan menatap Evan. Niken yang berada di tengah dengan posisi memangku Evan, menggerakan tangannya lalu memotong kue coklat menggunakan pisau plastik. Dengan sigap, Riana mengambil piring kecil membantu Niken meletakkan kue coklat itu di dalamnya. “Evan suap Papa dulu ya,” kata Riana menyerahkan piring serta sendok ke tangan Niken. Menyendok ujung kue yang telah dipotong, Niken memegangi tangan Evan yang membawa sendok tadi ke arah Dante. “Semua yang terbaik buat Evan ya, Sayang,” kata Dante mengelus kepala anaknya itu. Dante melirik ke arah Niken dan minta disuapin lagi. Melihat itu Riana sigap menambahkan sepotong kue lagi ke dalam piring yang masih dipegang Niken. “Nih, Mbak … biar Mas Dante kenyang,” goda Riana mengambil alih Evan. Mereka berdua berpindah duduk– melantai, agar lebih santai menikmati kue.

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    95. Mendadak Kedatangan Tamu

    “Saya? Kenapa?” Niken menarik tangannya seraya mengambil jarak dari suaminya. Namun semakin ia menjauh, pria itu juga semakin mendekatinya. “Memangnya saya bau jadi kamu jauh-jauh dari saya?” Dante membaui badannya lalu melemparkan pandangan pada ibunya Evan itu. Menggelengkan kepala, hendak beranjak dari sofa tapi Dante meraih tangan Niken– menyentakkannya hingga wanita itu sukses mendarat di dalam pangkuan Dante. “Saya mau istirahat, Mas.” Niken berusaha melepaskan diri. Netranya menatap Dante dengan mata ngantuk. “Ya sudah ayo kita tidur,” ajak Dante tapi tak bergerak dari posisinya. Ia menatap Niken penuh arti. “Memangnya Mas Dante mau tidur sama kami bertiga? Tidur sendiri lah!” seru Niken memukul pelan tangan Dante berharap suaminya itu melepaskannya. Dante berdecak sembari menggelengkan kepala. Tangannya menyusup ke bawah paha Niken lantas mengangkatnya– masuk ke dalam kamar. “Saya mau sama Evan, Mas,” kata Niken saat Dante menurunkannya dengan lembut di atas kasur

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    94. Diam-diaman

    Setelah mengatur ulang jadwalnya di rumah sakit, pagi ini mereka pergi menuju puncak untuk merayakan ulang tahun Evan. Sebelumnya Riana sudah memesan satu villa untuk mereka menginap di sama sampai hari minggu. Memasukkan tas ke dalam bagasi, mereka pamit lantas pergi. Dante sengaja memilih pergi di hari jumat pagi untuk menghindari macet. Sebelum masuk tol, mobil yang Dante kemudikan melipir di salah satu minimarket untuk membeli makanan ringan untuk menemani perjalanan mereka. “Biar aku yang jaga Evan di mobil,” kata Riana yang duduk di kursi belakang, bersama Evan di carseat. Mau tak mau Niken turun menemani Dante masuk ke dalam minimarket. Membawa keranjang di tangannya, Niken mengikuti kemana kaki Dante melangkah. “Kamu gak mau apa-apa?” Dante berbalik menatap Niken yang sedari tadi tidak mengambil apa-apa. Terus-terusan dilihat oleh Dante, ia lalu mengambil beberapa snack dan minuman secara acak. Kembali berjalan menyusuri etalase, saat melihat minyak telon ia teringat

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status