Share

BAB 44

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-08-05 20:17:33

Akhirnya, setelah menyelesaikan semua kemelut dalam keluargaku. Hari ini aku sampai. Sudah tiga bulan pengelanaan dari Jakarta, Bali, Medan dan berakhir di sini. Kota kecil Tanjung Balai. Kampung halamanku sendiri. Secara tak sengaja, karena mantan mertua pindah tapi ternyata sudah meninggal. Akhirnya aku kembali ke ayah dan emak. Mengurus mana yang bisa ku-urus, termasuk pengobatan Manja, adik kesayangan.

Aku sampai ke rumah lama. Aku turun sebentar, Manja juga. Sopir sudah mau menurunkan kop
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 46

    MASA SEKARANG Dengan pelan mobil mengitari setiap gang sempit. Aku turun untuk memastikan alamat Macho. Sesampainya di alamat yang dituju. Mereka juga nggak tau dimana keberadaan Macho. “Maaf, Pak nggak kenal.”“Disini banyak sih yang ngekos tapi jarang tau siapa nama.”“Kayak kenal tapi lupa.”Berbagai macam jawaban mereka. Dan satu pun nggak ada yang kenal. Sampailah di suatu gang padat warga dan bedengan pinggir kali. Orang tua itu memastikan bahwa dia kenal tapi tak tahu nama. “Iya Pak saya tanda anak ini. Ganteng sih tapi jarang nyapa warga. Dulu dia kost di kamar nomor dua. Sekitar dua tahun lalu. Abis itu kabarnya pindah kemana gitu.”Aku frustasi. Karena sudah malam dan aku belum mandi, aku perintahkan ke Yanto kerumah lama. Di Tambun, Bekasi. "Ke Tambun, Pak?""Ke rumah dulu. Rumah yang di Tambun."Sepanjang tol aku diem. Jakarta lewat. Macet. Klakson. Sama kayak 22 tahun lalu. Bedanya dulu aku bawa koper 500 ribu hasil judi. Sekarang aku bawa sisa uang miliaran yang masi

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 45

    “Menurut ayah, apa sebaiknya kulakukan?. Apa aku harus diam tak mencari anakku atau kuanggap aja anakku tak ada dan nikah lagi?. Aku pernah gagal jadi suami. Tapi sekarang aku tak ingin gagal jadi ayah walau telat hampir 22 tahun.”Ayah termenung. Dia sulit untuk menjawab pertanyaanku. Karena baginya hidup ini sederhana. Sebagai ayah, dia sudah melakukan hal yang mampu dilakukan mencukupi kebutuhan keluarga. Walau dia menyadari dia bukan ayah yang baik dan berkecukupan. Sebagai suami, Zubaidah, istrinya tak pernah mengeluh walau hidup mereka serba berkekurangan. Karena dia yakin bahwa tidak sukses hidupnya mungkin sukses di anaknya. “Ayah cuma bisa bilang, jangan sampai kau gagal untuk menjadi ayah. Semua orang punya salah. Punya masa lalu yang kelam. Tapi yang tetap punya niat dan menebus kesalahan itu menunjukkan kamu sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Cari anakmu walau sampai ke ujung dunia sekalipun.”“Makasih ayah. Itulah yang ingin aku lakukan. Empat hari lalu, secara

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 44

    Akhirnya, setelah menyelesaikan semua kemelut dalam keluargaku. Hari ini aku sampai. Sudah tiga bulan pengelanaan dari Jakarta, Bali, Medan dan berakhir di sini. Kota kecil Tanjung Balai. Kampung halamanku sendiri. Secara tak sengaja, karena mantan mertua pindah tapi ternyata sudah meninggal. Akhirnya aku kembali ke ayah dan emak. Mengurus mana yang bisa ku-urus, termasuk pengobatan Manja, adik kesayangan. Aku sampai ke rumah lama. Aku turun sebentar, Manja juga. Sopir sudah mau menurunkan koper. “Tunggu dulu, Bang. Aku mau ngecek dulu.”Sopir tak jadi turun. Manja juga. Dia masih ingat bahwa ini memang rumah mereka, tapi kok abangnya malah melarang turun?. Keningnya berkerut, tapi tetap diam tak berani turun. “Assalamu'alaikum”“Waalaikum salam”Turun seorang lelaki yang agak muda dari usia ku. Aku melirik. Apa ini Hamzah?, adik iparku suami Aisyah?, tanyaku dalam hati. “Ya, Bang. Cari siapa?”“Apa Aisyah sudah atau Bu Zubaidah dah pindah?”“Oh, iya Bang. Kami baru beli dua mingg

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 43

    Bau Klinik Utama Bina Atma itu bukan bau rumah sakit. Ruangan tertata rapi dan keramahan petugas medis membuat nyaman dan betahnya pasien. Apalagi kebersihan setiap sudut harus diakui strip dari bau dan sampah yang mengganggu. Bau karbolnya samar. Ketutup wangi melati dari diffuser di pojok lobi. Lantainya marmer. Ada kolam kecil dengan ikan koi. Ada musik piano pelan yang diputer 24 jam. Ini klinik swasta. Khusus kejiwaan. Dan selama 30 hari, aku tidur di sofa kulit di ruang tunggu VIP lantai 2. Nyaman serasa hotel mini tanpa biaya. Ada juga ruang yang memungkin keluarga pasien untuk tiduran sambil jaga keluarga. Biayanya 32 juta. Lunas di awal. Dulu uang segitu aku hamburin buat 1 malam di club sama anak buah. Sekarang aku pakai buat duduk manis nemenin adikku ngelipat kertas origami.“Hari ke-28, Pak Arman,” kata suster Ayu pas nganterin teh. “Sebentar lagi pulang ya.”“Iya, Yu,” jawabku. Suaraku serak. “Doain.”---Pagi, keesokan harinya. “Pak Arman. Silakan masuk.”Aku berd

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 42

    Bau karbol menusuk hidung. Hilir mudik para pengunjung dan paramedis sebagai rutinitas sehari-hari di rumah sakit. Lampu neon putih menyilaukan di atas lorong RSUD H. ABDUL MANAN. Suara roda brankar berderit pelan di lantai keramik. Aku bolak balik di ruangan menunggu adikku di dalam yang baru selesai dimandikan dipakaikan pakaian pasien. Begitu keluar dari ruangan, aku ingin langsung bertanya, tapi belum sempat ngomong. Perawat langsung berkata. “Pak, tahan ya. Kami harus observasi dulu,” kata perawat sambil mendorong Manja yang masih terbius.Aku mengangguk. Tenggorokanku kering. Tangan kiriku masih basah bekas memegang tangan Manja yang bau dan dingin. Tangan kanan mengepal di sisi tubuh. Aku masih sangat terpukul melihat keadaan adikku. Adik yang paling kumanja. Cantik dan manis wajahnya, seperti wajah emak, meneduhkan. Dan aku membiarkan yang terjadi selama ini. Ruangan UGD penuh. Ada anak kecil nangis, ada ibu-ibu gendong bayi, ada bapak-bapak duduk dengan infus. Tapi di kepa

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 41

    Semalaman aku tak tidur. Adzan subuh berkumandang di musholla tak jauh dari rumah ayah. Ayah sudah pakai sarung dan peci. Dia menatapku. Kakinya menyenggol di bokong. Aku berpaling dan menatap ayah. “Bangun, Man. Ayo sholat. Kau dah tua, jangan jadi setan. Setan dah kelebihan anggota.”Aku nyengir. Sifat dan sikap ayah tak pernah berubah. Tetap keras dan jeplak tedeng aling-aling. Aku bangkit lalu ke kamar mandi. Kubasuh wajah dan anggota tubuh lainnya. Hal yang lama aku tinggalkan. Mungkin sudah lupa caranya. Ayah nunggu di bawah tangga. “Man, apalagi?, mau nunggu di sholati?”_jeder_Pelan tapi sangat tajam. Untung aja aku tak di sepak atau dijewer kayak dulu. Hal yang sangat kubenci saat ayah menunjukkan arogansinya. Tapi sekarang aku sadar. Ayah tak pernah salah. Cuma caranya berbeda tidak seperti yang kuinginkan. Buru-buru aku turun. Adzan sudah berakhir. Ayah menatapku tajam. Aku sejajarkan langkah dengan langkah ayah yang mulai goyang jalannya. Bagai anak kecil, aku manut d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status