Compartilhar

9. Perdebatan

last update Data de publicação: 2026-08-26 20:34:03

Keesokan paginya, kabar tentang aksi Zen yang mendobrak gubuk dan memukuli Arkan di tengah malam akhirnya sampai ke telinga Guru Jian. Raut wajah sang guru mendadak memerah berhias amarah. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar-lebar menuju tempat Arkan berada.

"Arkan!" seru Guru Jian mendobrak pintu gubuk yang sudah rusak parah.

Namun, langkah sang guru terhenti seketika saat melihat pemandangan di hadapannya. Ia mengucek matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Arkan sedang d
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    35 Hutan Hitam

    Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    34 Ujian Tahunan

    Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    33 Terus Diawasi

    "Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    32 Perlakuan Bebeda

    "Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    31 Murid Resmi Akademi

    Sementara itu, di dalam aula megah Kediaman Tan Hau, suasana terasa begitu mencekat. Tan Hau berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gusar, menghempaskan langkah kakinya ke lantai batu pualam yang dingin."Masih tidak ada laporan yang berarti?!" geram Tan Hau, suaranya membentak rendah hingga membuat para pengawal di sekelilingnya tertunduk gemetar.Salah seorang mata-mata yang bertugas mengintai Lembah Dalam membungkuk makin dalam. "Ampun, Tetua Tan... Gubuk itu terus-menerus diselimuti asap obat yang amat pekat. Kami hanya melihat Guru Jian keluar sesekali untuk mengambil air, sedangkan Arkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pendar mana ataupun lonjakan energi yang terdeteksi."Tan Hau mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panik perlahan mulai menggerogoti pikirannya."Jian sialan itu..." umpat Tan Hau seraya mengepalkan tinju ke meja kayu di sampingnya hingga retak. "Dia sengaja memasang benteng informasi! Dia melindungi bocah

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    30. mengelabuhi Musuh

    Arkan mengepalkan jemarinya di balik selimut tebal, merasakan sensasi mana yang mengalir makin tenang dan solid di dalam meridian tubuhnya. Suara langkah kaki kedua pengawal yang makin menjauh dari Lembah Dalam menjadi pertanda bahwa giliran Tan Hau yang kini terjebak dalam permainannya sendiri.Guru Jian menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu gubuk. "Tan Hau berpikir dia memegang kendali penuh atas akademi ini. Namun, racun terbesar bagi seorang pemimpin yang otoriter adalah kecurigaan berlebih. Makin dia berspekulasi tentang kekuatanmu, makin banyak langkah ceroboh yang akan dia ambil.""Lalu bagaimana dengan persidangan Dewan Tetua, Guru?" tanya Arkan seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersila secara perlahan—sama sekali tak terlihat seperti orang yang kemarin nyaris tewas tertebas. "Apakah Tan Hau akan membiarkan Lie lolos begitu saja dari tuduhan melepaskan binatang Tingkat Raja di arena?""Tentu saja tidak seratus persen aman," sahut Gur

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status