Share

BAB 14

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-07-09 20:12:46

#Pesta Para Investor

Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika Arga selesai memeriksa berkas terakhir di ruang kerjanya. Ia baru saja hendak menutup laptop ketika pintu ruangan terbuka perlahan. Rosela van deu Wijaya masuk dengan langkah tenang, mengenakan setelan blazer hitam yang dipadukan dengan gaun satin berwarna gading. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa seorang pemimpin perusahaan besar.

"Ada acara malam ini," ucap Rosela sambil meletakkan sebuah undangan berwarna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 35

    Ruang bawah tanah itu kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa begitu berat. Hanya suara tetesan air dari sela-sela langit-langit batu yang sesekali memecah sunyi, memantulkan gema pelan ke seluruh ruangan yang telah terkubur oleh waktu selama ratusan tahun. Erevan masih berjongkok di depan lempengan logam yang terpasang pada bingkai lukisan, sementara Elena berdiri beberapa langkah di belakangnya tanpa mampu mengalihkan pandangan dari sosok pria yang terpampang di atas kanvas tua tersebut. Semakin lama ia menatap wajah itu, semakin sulit baginya menerima kenyataan bahwa kemiripan tersebut mungkin bukan sekadar kebetulan.Dengan hati-hati Erevan mengusap sisa debu yang masih menempel pada lempengan logam menggunakan sapu tangan. Perlahan, huruf-huruf kuno yang selama ini tersembunyi mulai tampak di bawah cahaya senter. Sebagian ukiran memang telah aus dimakan usia, tetapi masih cukup jelas untuk dibaca. Yang lebih mengejutkan, tepat di bawah tulisan asli terdapat terjemahan yang

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 34

    wadah yang sama! Malam turun perlahan di atas kota, membungkus setiap sudut bangunan tua dengan keheningan yang terasa semakin pekat. Di pinggiran Jakarta, berdiri sebuah rumah kolonial yang nyaris dilupakan zaman. Cat dindingnya telah mengelupas di banyak sisi, jendela-jendelanya dipenuhi debu, sementara tanaman liar merambat hingga menutupi sebagian besar beranda. Rumah itu sudah puluhan tahun tidak pernah dihuni, tetapi Elena tetap mengingat setiap sudutnya dengan sangat jelas.Ia menghentikan langkah di depan pintu utama yang telah lapuk dimakan usia. Erevan berdiri beberapa meter di belakangnya sambil mengamati bangunan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak Elena memutuskan kembali ke tempat tersebut, ia sudah menduga bahwa malam itu akan membuka kembali luka yang selama ini berusaha dikuburnya rapat-rapat."Aku tidak menyangka Ibu masih menyimpan kuncinya," ujar Erevan pelan.Elena menatap anak kunci kuno yang berada di telapak tangannya. Besi itu telah dipenuhi karat,

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 33

    Angin malam yang berembus melintasi lorong sempit di belakang gedung apartemen itu membawa aroma tanah basah dan besi berkarat, menyapu permukaan kulit yang terpapar udara tanpa ampun. Di sudut yang nyaris tak tersentuh cahaya lampu jalan, suasana terasa begitu pengap dan mengancam, seolah-olah bayangan yang menempel di dinding-dinding beton memiliki nyawa sendiri dan sedang mengamati setiap inci pergerakan. Arga berdiri kaku di tempat dengan mantel tebal yang menutupi tubuhnya rapat. Ia merasakan botol parfum kaca yang tersimpan di balik saku dalam mantelnya mendadak berubah hangat dan semakin berat, seakan benda terkutuk itu baru saja menghela napas lega setelah menelan pasokan energi vital terbaru yang berhasil ia peras dari korbannya. Di tengah gelombang rasa percaya diri yang membumbung tinggi dan gairah hidup yang kembali mengalir deras memenuhi setiap pembuluh darahnya, irama langkah kaki yang sangat tenang tiba-tiba memecah kesunyian malam. Bunyi tumit sepatu yang menginjak g

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 32

    Malam itu, di dalam kamar Arga yang pengap dan dingin meski kipas angin berputar tanpa henti, berdiri sebuah botol kaca berukir rumit di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas. Botol parfum itu kembali hampir kosong, dengan cairan berwarna keemasan di dalamnya yang kini hanya menyisakan beberapa tetes tipis di dasar kaca. Setiap kali cairan itu menyusut, tubuh Arga merespons dengan rasa sakit yang tak tertahankan, membuat sendi-sendinya terasa ngilu, kulitnya tampak kusam, dan bayangannya di cermin seolah memudar hingga menjadi asing dan tak berkarakter. Ia tahu persis bahwa wadah kaca itu butuh makan, dan dirinya harus bertahan hidup dengan cara apa pun.Maka, Arga mulai berburu wanita yang sedang berada di titik terendah dalam hidup mereka, seperti mereka yang baru saja ditinggalkan, dihancurkan oleh rasa dikhianati, atau tenggelam dalam keputusasaan yang begitu dalam. Wanita dengan jiwa yang retak jauh lebih mudah ditaklukkan karena keretakan emosional itu adalah pintu masuk p

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 31

    Arga berdiri terpaku di depan wastafel, sementara suara air yang masih mengalir deras seakan menegaskan bahwa apa yang baru saja dilihatnya bukanlah halusinasi. Selama ini ia selalu berusaha mencari penjelasan yang masuk akal atas setiap keanehan yang mengiringi keberadaan parfum hitam itu. Ia menganggap buku harian yang menulis sendiri hanyalah ilusi, bayangan pria tua di dalam cermin sekadar permainan pikirannya yang lelah, bahkan suara-suara aneh yang kerap muncul di apartemen selalu ia paksa untuk diabaikan. Namun malam ini, semua pembelaan itu runtuh dalam sekejap ketika ia menyaksikan sendiri tangan yang keluar dari balik cermin mampu memutar keran wastafel tanpa menyentuhnya secara nyata.Perlahan Arga melangkah mundur dengan napas yang tidak lagi teratur. Tatapannya tidak pernah lepas dari cermin, sementara tubuhnya terus bergerak menjauh hingga punggungnya membentur kusen pintu kamar mandi. Begitu berhasil keluar, ia segera menutup pintu dengan keras lalu menguncinya, meskipu

  • PEWARIS PARFUM PENGGODA   BAB 30

    Bayangan yang KeluarMalam itu hujan turun tanpa henti, membasahi jendela apartemen Arga dengan rintik yang terdengar semakin jelas di tengah kesunyian. Denting jam dinding berpadu dengan suara hujan, menciptakan suasana yang membuat pikirannya sama sekali tidak mampu beristirahat. Sejak membaca aturan-aturan kontrak di dalam buku harian tua, ia tidak lagi merasakan ketenangan yang pernah dimilikinya. Kalimat terakhir yang muncul di halaman itu terus menghantui benaknya, seolah sengaja melekat dan menolak untuk dilupakan."Kontrak tidak dapat dibatalkan."Arga sudah berusaha mengusir bayangan kalimat tersebut dengan berbagai cara. Ia memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam, menyalakan televisi agar apartemennya tidak terasa terlalu sunyi, bahkan mencoba tidur lebih cepat dari biasanya. Semua usaha itu berakhir sia-sia. Setiap kali matanya terpejam, wajah pria tua berjubah hitam yang selama ini hanya muncul di balik cermin kembali hadir dengan senyum yang membuat b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status