Share

PRIAKU IDAMAN WANITA
PRIAKU IDAMAN WANITA
Penulis: Amelia

Petualangan Zydan

Aku Rindy seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 2 orang putri kembar bernama Sabira dan Nabira. Mereka baru saja merayakan ulang tahun yang ke 5 beberapa hari yang lalu. Dan di moment ulang tahun itu juga aku baru mengetahui pekerjaan suamiku yang selama ini dia tutupi.

Suamiku bernama Zydan Al Farizi,aku biasa memanggil nya Zydan. Bukan bermaksud tidak sopan menyebut namanya mungkin karena usia kami yang tidak terpaut jauh. Zydan yang tahun ini genap berusia 25 tahun dan aku 24 tahun.

"Sayang ?" Aku pergi dulu ya mendadak bosku menyuruhku menemuinya di cafe Kemang." ucap Zydan suami dari Rindy.

"Lho masa kamu mau ninggalin acara ulang tahun anak anak yang bahkan belum di mulai? Nanti mereka pasti sedih kalau kamu nggak nemenin mereka Zy"

"Kamu bilang aja ke mereka nanti sepulang menemui bosku,aku akan membawakan mereka hadiah yang istimewa. Sudah yaa aku harus berangkat sekarang ! Seru Zydan berpamitan.

"Sebenarnya pekerjaan apa yang sedang kamu tekuni Zy? Tiap kali aku tanya kamu selalu menghindar"batin Rindy.

"Selamat ulang tahun ya anak cantik? Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang membanggakan orang tua dan sehat selalu yaa?" Ucap Salsa sahabat Rindy kepada kedua putri Rindy.

"Makasih tante?"jawab dua bocah tersebut serentak.

"Oiya, mama kalian dimana ?"tanya Salsa sembari meletakkan kado di meja yang sudah disediakan tidak jauh dari tempat Sabira dan Nabira duduk.

"Ada kok tante,tadi ngobrol sama papa di teras rumah." jawab si sulung Sabira.

"Ouh, tante nemui mama kalian dulu ya?"tukas Salsa berpamitan.

"Iya tante." sahut mereka berdua kompak

"Hey Ndy?"sapa Salsa ketika menemui Rindy yang sedang menatap kepergian Zydan.

"Eh Salsa,maaf aku nggak tau kamu udah datang"sahut Rindy.

"Kok anak anak ditinggal berdua aja didalam.? Zydan kemana dari tadi aku nggak lihat dia.?"tanya Salsa menatap Rindy.

"Tuh?baru aja pergi,katanya sih mau nemuin bosnya di cafe Kemang"jawab Rindy sembari duduk di kursi teras.

"Kok kamu ijinin sih Ndy.? Ini kan ulang tahun anak kalian, masa dia nggak bisa nolak permintaan bosnya.? tanya Salsa geram.

"Udah aku bilangin gitu juga tapi kamu tau sendiri kan Zydan itu orangnya gimana, semakin dilarang semakin dia nekad."

"Aku heran juga sama kamu Ndy, masa sampai sekarang kamu nggak tau pekerjaan pastinya Zydan? Secara kalian udah nikah 6 tahun.!tukasSalsa mengernyitkan dahinya.

"Nah itu dia Sa,tiap aku tanya pasti Zydan cuma jawab (yang penting kamu dan anak anak tidak kekurangan kan.?) Kalau udah ngomong gitu akunya yah bisa apa lagi ketimbang ntar ribut.?jawab Rindy seraya menarik nafas panjang.

"Ehm iya juga sih"imbuh Salsa.

"Ya udah masuk yuk , tuh anak anak udah ngelihatin kesini?"ucap Rindy mengajak Salsa masuk ke dalam rumah.

Nyanyian lagu selamat ulang tahun pun terdengar dari kediaman Rindy yang hanya di temani keluarga inti saja tanpa kehadiran Zydan sang ayah yang berulang tahun.

"Pergi kemana suamimu.? Bisa-bisanya dia pergi di perayaan ulang tahun anak kalian.!"ketus Pak Bagas ayah Rindy yang turut serta merayakan ulang tahun cucu kembarnya.

"Atasan Zydan tadi menelfon Pa,mendadak ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga." jawab Rindy menundukkan kepala.

"Papa heran dengan suamimu itu, setau papa tidak ada perusahaan mana pun yang mempekerjakan karyawan-nya hanya 3 sampai 4 kali saja dalam 1 minggu.?" Sebenarnya apa pekerjaan suami mu Rindy.?" tanya Pak Bagas dengan mimik wajah menahan marah.

"Yang Rindy tau perusahaan tempat Zydan bekerja bergerak di bidang desain interior Pa tapi Rindy nggak tau pasti alamat kantornya dimana." jawab Rindy.

"6 tahun kalian berumah tangga tapi kamu sebagai istrinya tidak mengetahui pekerjaan suamimu dengan pasti.?" Rumah tangga seperti apa yang kamu jalani dengan Zydan.!"bentak pak Bagas.

Rindy bergeming sebab apa yang dikatakan pak Bagas itu benar.

"Papa akan suruh orang untuk mencari tau siapa suamimu itu sebenarnya.! Dari awal papa sudah tidak setuju kamu menikah dengan dia tapi kamu memaksa dengan alasan cinta.! Cinta apa yang kamu pertahankan kalau kamu saja tidak tau siapa pria yang kamu nikahi itu.!"

"Sudah lah papa dan mama pulang dulu, jaga diri kalian baik baik." ucap pak Bagas sembari melangkah keluar.

"Sudah pa? jangan memarahi Rindy.? Nanti di dengar para tamu tidak enak." ujar bu Rina.

"Mama dan Papa pulang dulu ya Rindy.?" ucap sang Mama berpamitan.

"Iya ma, sahut Rindy seraya mengecup pipi mamanya."

Para tamu undangan sudah beranjak pulang satu per satu, suasana yang riuh pun berubah hening.

"Kamu kok belum pulang juga Zy ,ini sudah jam 11 malam." batin Rindy.

"clak"

Terdengar suara pintu terbuka. Rindy melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang membuka pintu dari arah luar.

"Kamu baru pulang jam segini Zy.?" tanya Rindy saat melihat Zydan sudah masuk kedalam rumah dengan kaki berjingkat.

"Maaf Ndy, aku pulang telat. Tadi setelah pertemuan dengan bosku di Kemang aku ketemu teman lama yang kebetulan juga ada di cafe itu. Keenakan ngobrol sampai lupa waktu"jawab Zydan sembari meletakkan hadiah untuk putri kembarnya di atas sebuah nakas kecil.

"Gimana acaranya tadi lancar aja kan.?" tanya Zydan mengalihkan pembicaraan.

"Ehm lancar, cuma tadi papaku sempet nanyain tentang kamu.!"sahut Rindy.

"Tanya tentang aku.?" tanya Zydan tampak gugup.

Yaa, Zydan memang sangat takut jika pak Bagas sudah menanyakan tentang dirinya sebab dari awal pak Bagas sudah tidak menyukai Rindy menikah dengan Zydan.

"Tanya soal pekerjaanmu" balas Rindy datar.

"Trus kamu jawab apa.?"tanya Zydan dengan mimik wajah cemas.

"Aku jawab sesuai yang aku tau dong. Kamu kan bilang kerja di bidang desain interior.?"tukas Rindy seraya melangkah menuju dapur.

"Ouh, bagus lah kalau kamu jawab seperti itu." ujar Zydan sembari menghembuskan nafas lega.

Zydan berjalan menuju kamar menyusul Rindy yang sudah lebih dulu masuk.

"Besok aku mau ke luar kota Ndy selama 3 hari. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal.? Kan ada bi Darsih juga yang bantuin kamu dirumah ngurusin anak-anak."

"Keluar kota mana.?" Mendadak banget.?" tanya Rindy.

"Nggak jauh kok, cuma ke puncak aja. Tadi bosku minta didampingi untuk mendesain gedung baru yang akan dibuka bulan depan." jawab Zydan menjelaskan.

"Sudah dulu ya aku capek banget,besok jam 9 pagi aku harus sudah berangkat.?" ucap Zydan merebahkan tubuhnya.

Hubungan Rindy dan Zydan memang sudah jauh dari kehangatan, bahkan Zydan sangat jarang menyentuh Rindy meski Rindy sudah berusaha mendekatinya saat di tempat tidur.

****

"Papa berangkat dulu ya nak,cuma 3 hari kok.?" ucap Zydan berpamitan kepada Sabira dan Nabira.

"Iya pa." sahut si kembar sembari bermain boneka Frozen hadiah yang diberikan Zydan.

Rindy memperhatikan penampilan Zydan yang necis dengan aroma parfume khusus pria Bvlgari Pour Homme yang aromanya sangat maskulin.

Di usia Zydan yang masih relatif muda tentu banyak wanita tidak menyangka dirinya sudah memiliki anak dan istri.

Zydan berwajah tampan dengan kulit yang tidak terlalu putih dan tubuhnya yang terawat berkat rajin berolahraga menambah pesona seorang Zydan.

"Nanti aku kabari setelah sampai di puncak.!" ucap Zydan sebelum masuk kedalam mobil Rush miliknya.

Rindy hanya mengangguk tanpa ada salam atau kecupan dari Zydan yang akan meninggalkannya 3 hari kedepan.

"Kenapa hatiku tidak tenang gini ya.?" batin Rindy sembari melangkah masuk kedalam rumah.

Rindy berencana mengajak Salsa untuk menginap dirumah nya selama Zydan tidak pulang.

"Sa? Ntar malam tidur di rumahku yaa.? Zydan lagi keluar kota selama 3 hari." isi pesan singkat Rindy untuk Salsa sahabatnya yang masih betah melajang.

"Oke nyonya Zydan ! ntar pulang ngantor aku langsung on the way kerumah kamu" balas Salsa beberapa menit kemudian.

Setelah membaca jawaban pesan dari Salsa, Rindy pun menemui putri kembarnya untuk mengajak mereka sarapan pagi yang sudah disediakan bi Darsih di meja makan.

"Ma? ntar kita jalan ke mal yuk, Sabira pingin main ice skating." ucap Sabira seraya menikmati sarapan oatmeal favoritenya.

"Iya ntar kita ke mal"jawab Rindy tersenyum.

Selang beberapa jam setelah sarapan, Rindy dan kedua putrinya sudah bersiap untuk berangkat ke mal. Rindy yang tidak berani menyetir mobil sendiri memilih untuk menggunakan taksi online.

Beberapa kali Zydan menawarkan mobil baru kepada Rindy namun ditolak dengan alasan tidak berani menyetir sendiri di keramaian.

Saat ini Rindy dan si kembar sudah berada di dalam mobil menuju ke Aeon Mal Garden City daerah Jakarta Timur.

Mereka bertiga tampak bercengkrama mengenai banyak hal selama di perjalanan dan tanpa sengaja mata Rindy melihat seorang pria yang mirip dengan Zydan suaminya di depan sebuah hotel.

Namun karena terhalang mobil yang melintas, Rindy tidak bisa memastikan kalau itu benar Zydan atau bukan.

"Itu sepertinya Zydan , bajunya sama persis yang di pakai Zydan pagi tadi. Tapi bukannya Zydan sudah sampai di puncak? Apa aku salah lihat ya.?" dewi batin Rindy berbisik.

"Maa.!"seru Sabira membuyarkan lamunan Rindy.

"Iya, ada apa sayang.?"sahut Rindy gelagapan.

"Itu mal nya ma ! Kita udah sampai"pekik Sabira.

"Ouh iya , ntar jalannya jangan jauh-jauh dari mama ya.?"

Mereka bertiga pun melangkah memasuki pintu utama mal sembari tertawa riang meski Rindy masih memikirkan orang yang baru saja di lihatnya mirip dengan Zydan.

"Mama tunggu disini aja ya nak,kalian hati-hati main nya.?" tukas Rindy sebelum putri kembarnya memasuki arena Ice Skating.

"Siap mama yang cantik.! seruNabira tersenyum bahagia.

Rindy memilih tempat duduk yang tidak jauh dari arena agar bisa memantau kedua putrinya yang sedang bermain ice skating.

Rindy pun bermaksud untuk menghubungi Zydan untuk menjawab rasa penasarannya.

Tut

tut

Beberapa kali terdengar nada panggilan tersambung sebelum Zydan menerima panggilan seluler dari Rindy.

"Kamu udah sampai puncak belum Zy.?"

"Udah dari 2 jam yang lalu dong, tadi kan aku udah mengabari kamu? Memangnya ada apa.?"

"Nggak apa-apa kok Zy, aku cuma mau memastikan aja."

"Ini aku lagi di Aeon Mal bareng anak-anak, mereka minta main ice skating."

"Aeon Mal.?" gumam Zydan yang masih dapat di dengar oleh Rindy.

"Iya ? Kok kaget gitu sih.? Bukannya anak'anak senangnya main ke mal ini.?"

"Nggak apa-apa.! Ya udah kamu awasi anak-anak aja dulu ntar aku hubungi lagi, nggak enak sama bosku kalau lama-lama terima telfon."

Tanpa menunggu jawaban dari Rindy, Zydan sudah memutus sepihak panggilan telepon.

"Kenapa Zydan kaget aku dan anak-anak berada di mal ini? Bukannya ini mal favorite kita.?" batin Rindy.

"Udahan ya mainnya !"seru Rindy kepada Sabira dan Nabira.

"Iya maa."sahut si sulung Sabira.

"Kita pulang sekarang ya,udah jam 4 sore.? Ntar tante Salsa mau datang dan nginap di rumah"ucap Rindy menambahkan.

"Hore." teriak dua gadis kecil itu kegirangan.

30 menit di perjalanan akhirnya mereka sudah sampai dirumah. Salsa sudah duduk manis di kursi teras menunggu kedatangan Rindy dan anak-anaknya.

"Itu tante Salsa ma.!" seru Nabira.

"Iya nak."sahut Rindy tersenyum.

"Kok nggak nunggu di dalam Sa? Memangnya bi Darsih nggak ada ya.?"tanya Rindy setelah sampai di teras rumahnya.

"Ada kok,nih aku udah dibuatin es jeruk sama bi Darsih."jawab Salsa seraya berdiri menyambut dua gadis cantik itu dan memeluknya.

"Kalian darimana gadis cantik? Kok nggak ajak tante sih.?"sapa Salsa dengan gaya khas miliknya.

"Kita dari mal main Ice Skating tante.?"jawab Nabira.

"Wow! Pantes aja happy banget pulangnya.!"seru Salsa tersenyum.

"Nabira dan Sabira masuk duluan ya, kalian berdua pasti udah capek.?"titah Rindy kepada kedua putrinya.

"Iya ma.!"sahut si kembar kompak.

Dua gadis kecil itu pun melangkah masuk kedalam rumah sembari berlari kecil.

"Kamu ibu yang hebat Ndy, mereka kamu didik menjadi anak penurut." puji Salsa membuka pembicaraan setelah mereka kembali duduk.

"Biasa aja kok Sa, nggak selalu nurut juga kok apalagi kalau di suruh tidur siang pasti deh drama dulu"balas Rindy seraya tertawa pelan.

"By the way, Zydan ke puncak bareng siapa.?"tanya Salsa.

"Katanya sih bareng bosnya.!"jawab Rindy datar.

"Tapi tadi sewaktu perjalanan menuju Aeon, aku lihat ada cowok mirip banget sama Zydan bahkan baju yang di pakai juga sama dengan yang Zydan pakai tadi pagi waktu berangkat dari rumah.!"tukas Rindy antusias.

"Dimana Ndy.?"tanya Salsa penasaran.

"Di parkiran hotel E'L Royal. Tapi sayangnya waktu aku mau mastiin beneran Zydan atau bukan ketutup sama mobil yang melintas."

"Hotel.?" Pekik Salsa membolakan matanya.

"Masa sih itu Zydan.?"

"Aku nggak berani mastiin Sa. Takut salah orang."imbuh Rindy.

"Kamu udah hubungi Zydan.?"tanya Salsa yang masih penasaran.

"Udah, dan anehnya dia kaget waktu aku ngomong lagi di Aeon nemenin anak-anak main ice skating.! Nggak biasa-biasanya dia sekaget itu kalau tau aku lagi diluar bareng si kembar."

"Jangan-jangan yang kamu lihat beneran Zydan.?"ucap Salsa menebak.

"Duh Sa , jangan bikin aku cemas dong.?"tukas Rindy mulai khawatir.

"Ngapain juga Zydan di hotel.?" ujar Rindy untuk mengurangi perasaan cemasnya.

"Iya sih.? Udah nggak perlu kamu pikirin banget Ndy, bisa aja kan itu orang lain."ucap Salsa menenangkan sahabatnya itu.

"Udah ah, aku nggak mau negative thinking sama Zydan.! Sejauh ini hubungan aku dengan Zydan baik-baik aja kok yah walaupun udah nggak seromantis waktu pacaran dulu"ucap Rindy seraya tersenyum simpul.

"Kita masuk ke dalam rumah aja yuk.?"tawar Rindy kepada Salsa.

Dua wanita dewasa itu pun beranjak dari kursi teras dengan pertanyaan di benak mereka masing-masing tentang hal yang baru saja mereka bicarakan.

- Rasa Penasaran Rindy Terjawab-

"Kamu lagi sibuk nggak Zy.?"tanya Rindy saat menelfon Zydan di hari kedua Zydan tidak di rumah.

"Nggak sibuk banget sih, ada apa Ndy? Apa kamu kehabisan uang belanja? Kalau iya nanti aku transfer ke rekening kamu."jawab Zydan tanpa jeda.

"Nggak kok, uang yang kemarin kamu transfer aja belum berkurang."

"Aku cuma kangen aja sama kamu.?"tukas Rindy seraya menatap Salsa yang ikut mendengarkan obrolan suami istri tersebut.

Rindy dan Salsa memang merencanakan sesuatu untuk mencari tau keberadaan Zydan yang sebenarnya.

"Ehm, kirain uang belanja kamu habis sampai malam-malam gini kamu nelfon aku.?"

"Iya Ndy,aku juga kangen sama kamu dan anak-anak. Tapi pekerjaanku di puncak belum selesai. Nggak mungkin kan aku tinggal pak Burhan ngehandle sendiri secara dia bosku. Lusa aku udah pasti pulang kok. sabar yaa Ndy.?"tutur Zydan dengan suara khasnya.

"Oiya Zy , kemarin waktu aku bareng anak-anak ke Aeon itu sepertinya aku lihat kamu deh di depan e'L hotel ? Baju yang di pakai orang yang mirip kamu itu juga sama persis dengan baju yang kamu pakai waktu berangkat dari rumah.? Masa sih itu kamu Zy.?"

"A-ku.?" ujar Zydan panik.

"Nggak mungkin lah Ndy, aku kan lagi di puncak.?"jawab Zydan sembari tertawa kecil menutupi kepanikannya.

"Aku mau video call sama kamu Zy.? Boleh nggak.?"bujuk Rindy merayu Zydan.

"Video call.? Duh jangan sekarang ya Ndy,ini aku lagi ngopi bareng bosku. Nggak enak lah di lihatin.!"jawab Zydan ber-alasan.

"Besok siang aja ya Ndy aku hubungi kamu lagi.? Sekarang aku tutup dulu telfonnya, nggak enak di lihatin pak Burhan mulu nih."

"Iya deh Zy! Bye"

[Panggilan telepon berakhir]

"Ngopi dimana tu orang kok senyap banget.?"tanya Salsa yang ikut mendengar pembicaraan Rindy dan Zydan melalui loudspeaker yang sengaja Rindy aktifkan.

"Ngopi di kuburan kali.?"jawab Rindy asal.

"Kuburan juga nggak sepi-sepi amat kali Ndy.! Pasti ada suara kendaraan yang lewat."

"Itu suaranya seperti di dalam ruangan kok Ndy.!" seru Salsa antusias.

Rindy tidak berkata apa-apa untuk menanggapi ucapan Salsa.

Apa yang di katakan Salsa sempat terpikirkan juga oleh Rindy.

"Gimana kalau besok kita pastiin ke e'L hotel aja.?"ucap Salsa memberi ide.

Rindy yang masih menatap langit-langit kamarnya spontan memicingkan matanya.

"Maksud kamu kita jadi detektif swasta.?"tanya Rindy menahan tawanya.

"Yah mau gimana lagi, Zydan aja nggak mau kamu ajakin video call sih.! Mencurigakan banget kan.!"seru Salsa tanpa bermaksud menakuti Rindy.

"Boleh juga sih ide kamu Sa, tapi kamu yang atur ya cara nya? Aku nggak ahli soal gituan." tukas Rindy tertawa kecil.

"Beres ! Demi sahabat apa sih yang nggak.?"sahut Salsa sembari menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang kedinginan akibat suhu AC di kamar Rindy dan disusul Rindy yang akhirnya terlelap dalam buaian malam.

****

"Selamat Sore Bu? Apa sudah reservasi sebelumnya.?"tanya resepsionis dengan sopan saat Rindy dan Salsa sudah berada di e'L hotel keesokan harinya.

"Nggak mas, saya bukan mau menginap disini. Saya cuma mau tanya apakah di hotel ini ada tamu bernama Zydan Al Farizi.?" tanya Salsa memberi senyuman termanis miliknya.

"Mohon maaf bu, untuk data tamu hotel ini kita tidak bisa memberitahukannya karena itu melanggar privasi tamu." jawab resepsionis dengan sopan.

"Please dong mas , karena istri dari orang yang bernama Zydan itu saat ini sedang berada di rumah sakit untuk melahirkan.!" Ucap Salsa memohon.

"What ! melahirkan ? masa aku di bilang mau melahirkan.?" batin Rindy menahan tawanya.

"Duh gimana ya bu, saya nggak berani melanggar peraturan hotel bu" sahut sang resepsionis itu menolak dengan halus.

"Saya janji mas nggak bakal bilang siapa-siapa." ucap Salsa sembari memasukan uang pecahan seratus ribu 3 lembar ke dalam saku jas yang dipakai resepsionis tersebut.

"Ehm,tapi kali ini saja ya bu." ujar resepsionis itu lalu mencari daftar tamu melalui layar komputernya.

Beberapa menit resepsionis itu mengecek data di komputernya dan mengatakan kepada Salsa bahwa orang yang bernama Zydan memang pernah menginap di hotel tersebut selama dua hari dan check out siang tadi pada jam sebelas lebih tiga puluh menit.

Rindy dan Salsa saling menatap dengan pertanyaan menari-nari di kepala mereka.

"Ouh sudah check out ya mas.?" tanya Salsa memastikan.

"Iya bu." jawab resepsionis itu.

****

Rindy dan Salsa beranjak meninggalkan hotel e'L tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Jadi yang kemarin aku lihat itu benar-benar kamu Zy.!" "Apa yang kamu lakukan di hotel ini.!"

"Kenapa kamu membohongiku Zy.!" pekik Rindy dalam hati.

Salsa tau apa yang saat ini ada dalam pikiran Rindy. Tampak Salsa memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

"Besok kamu tanya baik-baik sama Zydan mengenai hal ini Ndy, biar kamu merasa lega setelah mengetahui yang sebenarnya."

Mata Rindy berkaca-kaca menahan air mata yang mencari landasan.

-Zydan Pulang-

"Bik? Rindy dan anak-anak pada kemana? kok rumah sepi.?" tanya Zydan pada bik Darsih yang baru saja kembali ke kediamannya.

"Mbak Rindy dan si kembar sedang pergi mas Zydan."jawab asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga oleh keluarga besar Rindy sebab sebelum bekerja untuk Rindy dan Zydan, bi Darsih adalah asisten rumah tangga mamanya Rindy selama lima belas tahun.

"Pergi kemana bik.?

"Rindy ada ngomong nggak mau kemana.?"tanya Zydan.

"Sepertinya ke rumah pak Bagas mas" sahut bi Darsih sembari melangkah menuju dapur.

"Tumben banget Rindy kerumah papa siang-siang gini. nggak ngomong sama aku lagi.!"monolog Zydan.

-Kediaman Pak Bagas-

"Papa sudah bilang sama kamu, suamimu itu tidak beres.!" bentak pak Bagas setelah Rindy mengatakan kalau Zydan membohonginya.

"Terbukti kan sekarang ? Dia pamit ke puncak ternyata dia nginap di hotel.!"

"Coba kamu pikir buat apa dia menginap di hotel yang jaraknya tidak jauh dari rumah kalian.?"

"Dia membelikan kalian rumah yang bagus dan mahal hanya dengan bekerja sebagai desain interior yang papa juga tau berapa penghasilannya.!" ucap pak Bagas seraya menatap Rindy yang tertunduk.

"Papa sudah menyuruh orang untuk mencari tau tentang suamimu itu.!"

"Kita tunggu saja informasi apa yang dia dapat."ucap pak Bagas datar.

"Jangan-jangan suamimu itu simpanan bosnya yang selalu memanggilnya di saat-saat tertentu.?"

"Suamimu masih muda dan tampan pula,wanita mana yang tidak tertarik dengan dia.?" imbuh pak Bagas menebak.

"Bosnya Zydan laki-laki pa, Zydan juga laki-laki normal kok." bantah Rindy.

"Kamu terlalu naif dan polos nak. Kamu tidak tau bagaimana kehidupan di luar sana sangat liar dan berbahaya.!" ujar pak Bagas menjelaskan kepada putri tunggalnya itu.

"Hari ini kalian menginap disini saja, nanti hubungi bi Darsih untuk menyusul kesini."titah pak Bagas.

"Pa, jangan seperti itu, Rindy sudah berkeluarga dan punya suami, dia tidak bisa seenaknya meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan suaminya."ucap bu Rina bersikap bijaksana.

"Suami seperti Zydan itu tidak pantas lagi disebut suami. Suami mana yang merahasiakan pekerjaannya dari anak dan istrinya.!"bentak pak Bagas.

"Kamu harus mulai berpikir untuk bercerai dari Zydan.!"seru papa Rindy.

"Astagfirullah."gumam bu Rina.

"Rindy berhak mendapat pria yang jujur bukan penipu seperti Zydan.!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status