Share

Bab 2

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-05-24 05:35:25

Mutia, anak tetangga sebelah dengan kuncir dua yang selalu mengekori Alan kemana-mana. Di kelas, di kantin, di depan kamar mandi sekolah, di rumah, dan dimanapun Alan berada. Memaksa mengerjakan PR dan tugasnya. Di setiap kesempatan selalu memberinya dengan berbagai hadiah tanpa diminta. Kehilangan orang terkasih di usia yang masih belia, nasib mereka yang hampir sama itulah yang membuat Alan membiarkan Mutia selama ini melakukan apapun sesuka hati kepadanya.

Mulanya Alan sangat risih dan jengkel dengan kelakuan Mutia. Ingin sekali Alan melenyapkan gadis itu dari pandangan matanya. Berlalunya waktu, saat Mutia tidak terlihat. Alan sadar dia membutuhkan kehadiran gadis itu di hidupnya. Entah sejak kapan Mutia berhasil menyelinap dan menempati sebagian ruang di hati Alan. Itulah alasan utama yang membuat Alan memutuskan bergabung dengan Starblue Management, agensi managemen artis tempat Mutia bekerja. Meski demikian, hanya satu hal yang Alan sayangkan, hingga saat ini Mutia belum pernah bisa membuat jantungnya berdebar kencang. Tidak seperti Karen yang bahkan mampu merubah pusat atensinya hanya dalam sekali tatap.

Mutia menyodorkan secangkir teh untuk membuyarkan lamunan Alan. Tiada hal lain yang bisa dilakukan Alan selain kini harus menatap wajah tirus yang selanjutnya memilih duduk selonjoran disampingnya.

"Masih lama?" seloroh Mutia, dan tanpa butuh jawaban kembali berujar, "Aku mau tidur disini, tungguin sampai aku bangun ya." Mutia pakai kacamata hitam yang dibawanya dan dengan santai memejamkan mata.

Pikiran Alan kembali berkelana pada kenangan enam bulan yang lalu. Kala itu lampu lalu lintas masih hijau. Ia terpekur menatap baliho sebuah produk parfum ternama. AXE. Tergiang dalam benaknya ketika Karen memberinya parfum merk itu dalam sekali lempar saat berbelanja bersama. Dengan sekali tangkapan, canda tawa bersama diantara mereka menciptakan romansa kekanakan di mata siapapun memandang. Jika saja saat itu dompet Alan tidak tertinggal di kasir, dan Karen tidak berjalan mendahuluinya untuk menyebrang jalan. Bisa dipastikan, nama Karen lah yang tertulis di buku nikah miliknya. Dan tentu saat ini Alan bisa bebas menggandeng tangan Karen di hadapan seluruh fansnya dimanapun ia berada.

Angan itu membuat hembusan nafas Alan terasa makin berat. Walau lampu telah merah, kakinya masih enggan untuk melangkah. Di balik riuhnya jalan ibu kota saat itu, Alan bertekad berbalik arah untuk kembali ke gedung Starblue Management.

"Ada apa lagi?" seloroh Mutia. Raut wajahnya terlihat sangat kesal saat mendapati Alan berdiri di depan pintu ruang kerjanya.

"Menikahlah denganku, Mutia. Aku membutuhkanmu."

Mantra ajakan menikah yang dilontarkan Alan secara asal pada malam itu sukses membuat Mutia tidak dapat tertidur. Bergoleran kesana kemari di atas kasur dengan gelisah, takutnya salah dengar. Sesekali ia meloncat kegirangan, meyakinkan diri bahwa lamaran Alan beberapa jam lalu memang nyata. Cincin dengan inisial MK yang tersemat di jari manisnya dipandangnya berulang kali sebagai bukti.

Alan sendiri tak mau ambil pusing. Pulang ke rumah, ia menonton siaran langsung pertandingan sepak bola ditemani Yoga dan Dika. Tak ada pembahasan apapun diantara mereka, selain sorak sorai mendukung jagoannya masing - masing. Yang Alan sesalkan, beberapa jam setelah ayam berkokok menyambut fajar. Mutia langsung datang ke rumahnya, membombandirnya dengan berbagai kesiapan pernikahan agar segera di gelar.

Antusias Mutia memang membuahkan hasil. Pernikahannya terlaksana dengan penuh kasih dan dukungan. Bak sebuah anugerah kata orang bila ia dapat bersanding dengan Alan. Namun bagi Alan, Mutia hanya teman hidup dan teman memoles citra publik. Dimana ia dapat bersembunyi dari sisi lain dirinya yang tidak boleh terekspos oleh media.

Mutia sendiri tidak menuntut terlalu banyak meski akhirnya mengetahui bahwa Alan masih sangat mencintai Karen, kekasih rahasianya yang telah meninggal dunia. Dengan mudah Mutia dapat memonopoli kepemilikannya, pokoknya dirinyalah istri sah Alan dan masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menemani Alan untuk hidup di bumi.

Ketika Mutia terbangun dari tidur siangnya yang ia rasa hanya sebentar lalu membuka kacamatanya, bibirnya pun reflek menyunggingkan senyum melihat Alan ternyata masih setia duduk disampingnya meski langit sudah memerah. "Masih menungguku ternyata."

Alan hanya diam, pura - pura sibuk dengan laptopnya. Tangan Mutia perlahan bergerilya, mengusap-usap punggung Alan. Kegiatan itu terhenti ketika seorang wanita tua dengan syal bulu berwarna abu berjalan menghampiri mereka.

Kehadiran wanita itu membuat Alan langsung cemberut. Apalagi saat wanita itu mengucapkan kalimat yang tidak ingin Alan dengar, "Papamu ada agenda keluar kota. Aku tidak mau kesepian. Jadi bolehkan aku menginap disini semalam? Hanya semalam saja, sampai Papamu menjemputku besok."

Wanita tua itu adalah Tary. Mama tiri Alan. Wanita yang membuat ibu kandung Alan terkena serangan jantung dan meninggal di tempat saat memergoki keliaran suaminya dengan sang sahabat di atas ranjang. Tidak terhitung sudah berapa kali Tary mencoba menginap di rumah Alan. Apalagi anak tiri semata wayangnya itu kini telah memiliki seorang istri. Tentunya Tary berusaha mendekatkan diri untuk mengeratkan kembali hubungan mereka yang terputus. Namun sampai kini belum juga ada balasan positif yang diterimanya. Mungkin butuh waktu atau mungkin sudah tidak ada waktu untuknya di hidup Alan, tapi setidaknya ia akan terus mencoba.

Klise dan ironis. Tary lah yang membuat Alan mengalami sakit hati tak berujung hingga berjanji tidak akan seperti Papanya. Alan pun benar-benar tumbuh dengan menepati janjinya. Ia memang tidak brengsek seperti Papanya. Tapi Alan lebih parah dari itu, dengan tega ia menikahi Mutia hanya untuk bisa bertahan hidup karena tidak mampu melupakan Karen, cinta pertamanya yang telah tiada dan saat masih hidup malah ia sembunyikan demi merintis karier sebagai artis tanpa bantuan sponsor dari Papanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 88

    "Aku mohon, berhentilah mencintaiku." Itulah yang Kevin ucapkan setelah berhasil mengintimidasi Yu Fie dengan membentuk posisi intim seperti itu. Belum sempat ia membuka mulutnya, Kevin kembali melanjutkan ucapannya. "Aku minta maaf telah membuatmu jatuh cinta. Aku sudah mencintai wanita lain dan sampai kapanpun aku hanya akan menganggapmu teman dekat, seorang teman yang sangat pintar yang dapat aku andalkan." Jantung Yu Fie yang tadi berdetak cukup kencang kini seakan diremas dan disayat disaat yang bersamaan. "Mantan istrimu tadi sudah menikah lagi, bukan?! Mengapa kamu belum bisa move on dan berusaha memasukan diriku dalam hatimu?! Aku masih muda, aku cantik, aku sangat pintar dan keluargaku orang yang sangat berkecukupan. Tidak bisakah salah satu dari kelebihanku itu membuatmu berpaling?!" Mendengar balasan Yu Fie yang seakan tetap memaksakan perasaannya tuk terbalas, salah satu tangan Kevin meraih gagang pintu untuk membukanya makin lebar. Ia segera mendorong paksa tubuh Yu F

  • PUDAR   Bab 87

    Suasana masih canggung, tapi Kevin yang telah kembali mengenakan celana selutut meski masih bertelanjang dada beralih mempersilahkan Yu Fie untuk duduk di kursi ruang tamu apartemennya. Tak menghiraukan Yu Fie memilih duduk disebelah mana, Kevin berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol orange jus yang kemudian ia taruh tepat diatas meja didepan Yu Fie. Setelah itu saat Kevin hendak kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang diberikan Tika yang tadi ditaruh diatas meja, Yu Fie memberanikan diri menahan tangan Kevin agar lelaki itu tak pergi. "Hans, kamu duduk dulu, kita perlu bicara!" Meski agak terbata dalam mengucapkan bahasa Indonesia, Yu Fie kembali berkata, "Tolong jelaskan! Dia bukan kakakmu, kenapa kamu membohongi kami, Hans. Apa karena kami mencintaimu?" "Bukan seperti itu. Baiklah, yang pertama yang perlu ku jelaskan. Seperti yang kamu tau jika nama lengkapku Micheal Kevin, namun panggilanku Kevin bukan Hans. Usiaku 30 tahun, bukan 21 tahun. Wanita bernama Tik

  • PUDAR   Bab 86

    Padahal Tika sudah berkeliaran kesana kemari, namun jam di ponselnya masih menunjuk pukul 1 siang. Mau tak mau Tika harus pulang sebab ia tak tau meski kemana lagi untuk menghindari Kevin. Sampai di unit apartemennya, suasana sepi menyambut. Ia taruh kantung belanjaan di dapur terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Asta. Saat kemudian menengok ke dalam kamar, terlihat Kevin tengah tiduran untuk menemani Asta tidur. Kehadirannya yang tepat berada diambang pintu pun menyadarkan Kevin untuk segara bangkit. "Asta sudah makan sebelum aku menimangnya untuk tidur." ucap Kevin kemudian melangkah pergi untuk kembali ke unit apartemennya sendiri. "Kalau begitu aku pamit." Tika menuju ke meja makan untuk memeriksa porsi makanan yang telah ia siapkan tadi, ternyata Kevin tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya terambil sedikit untuk digunakan menyuapi Asta. Tak enak hati. Ia bungkuskan capjay beserta nasi dan laku pauknya ke dalam sterofoam. Wadah ini bisa langsung Kevin buang dan tidak aka

  • PUDAR   Bab 85

    6 JAM SEBELUMNYA Hari ini Kevin sebenarnya ada jadwal tiga kelas yang harus dihadiri, tapi melihat Mario berangkat lebih awal, ia putuskan untuk bolos demi bisa menghabiskan waktu bersama Asta sang putri kecilnya. "Hai Asta, Om Hans bawakan boneka." Kevin ulurkan boneka beruang dengan kantung kecil diperut bagai Doraemon. Asta menerimanya dengan penuh senyuman. Pelukan pun ia layangkan pada Kevin berikutnya. Tak ingin melepas pelukan itu, Kevin gendong tubuh Asta dan mengajaknya bermain bersama boneka beruang yang kini dipegangnya. Tika yang sedang masak berjalan kearah ruang tamu sebentar untuk memastikan bahwa Kevin lah yang saat ini tetap bermain bersama Asta. "Kamu masih disini memang nggak ada kelas?" "Tidak ada." bohong Kevin agar pertanyaan tak semakin panjang. Karena Asta tidak rewel dengan ayahnya sendiri, Tika kembali ke

  • PUDAR   Bab 84

    Kevin menikmati perannya sebagai Hans. Seorang mahasiswa jalur mandiri di NTU asal Jakarta yang menyewa unit apartemen di sebelah unit milik Mario. Kacamata minus dua yang Kevin pakai agak membuatnya pusing. Namun terlihat rapi dan menawan yang ia dapatkan ketika mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Awalnya Kevin takut bila Mario mengenalinya saat mereka tak sengaja berpapasan. Namun sepertinya make over yang dilakukan Tika sangat efektif. Tidak hanya Mario, seluruh teman angkatannya mengira bahwa Kevin masih berumur dua puluhan awal. Walau begitu, Kevin tetap berusaha untuk tidak berpapasan maupun berinteraksi dengan Mario. Di waktu senggang, Kevin selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Asta. Putri kecilnya itu bahkan sudah pandai berbicara kata dasar seperti memanggil nama orang, mengucapkan kata tidur, makan dan berbagai kata random lain yang selalu membuat Kevin tertawa saat mendengarnya. Meski demikian, sayangnya Kevin hanya bisa dipa

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status