Share

PUDAR
PUDAR
Author: bucinyarukher

Bab 1

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-05-24 05:34:42

Berdiri dibawah tiang lampu merkuri diujung jalan sembari memainkan ponsel. Itulah yang Alan lakukan selama tiga jam ini. Padahal jalan di malam itu sangat sepi dan dingin. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bersahutan.

"Maaf, anda mencari siapa ya?" tegur seorang wanita mungil dengan rambut dicepol asal. Perutnya yang membesar hanya ditutupi kaos oblong dan rok pendek selutut.

Dibalik wajahnya yang tertutup masker, mata Alan tidak lepas mengamati wanita itu dari atas sampai bawah. Di tangan wanita itu ada plastik besar berwarna hitam yang ia tebak merupakan kantong plastik berisi penuh sampah.

Raut ketakutan mulai tercetak di wajah wanita itu. Segera diletakan kantong sampah itu ke dalam bak dan bergegas kembali masuk kedalam rumah. Meninggalkan Alan yang tetap dalam kebisuan.

Tidak lama berselang, muncul sebuah mobil SUV yang tiba saja berhenti didepan Alan. Meski sang pengemudi tidak menurunkan kaca mobilnya, Alan tau bahwa ia harus menaiki mobil ini.

Mutia berusaha menahan bibirnya untuk tidak berkata apapun saat Alan berusaha mengajaknya bicara dan memandangi dirinya yang fokus menyetir. Ketika sudah berada dalam kamar dan Alan masih bersikeras berusaha menjelaskan semua, Mutia lebih memilih mengabaikannya untuk segera tidur.

Sakit hati, tentu. Wanita mana yang tidak sakit hati membututi suaminya yang pergi entah kemana ternyata berdiri di bawah tiang lampu merkuri yang ada di depan rumah Kevin, kembaran mantan kekasihnya. Apalagi mantan kekasihnya itu adalah Karen, wanita yang telah tiada.

Jika barusan malah Kevin yang keluar untuk membuang sampah dan kembali bertemu dengan Alan, Mutia yang masih berada dalam mobil mengawasi dari jauh sudah tidak tau harus berbuat apa. Sudah setahun mereka menikah, dengan segala perhatian serta pengorbanan yang dirinya lakukan, Mutia berharap Alan akan melupakan Karen dan menoleh padanya. Nyatanya sampai sekarang usahanya sia-sia, ia sudah tidak ingin tau apa yang tengah suaminya itu harapkan sampai kembali mendatangi rumah Kevin padahal Karen telah tiada.

Sudah hampir tiga bulan ini Alan tidak melakukan itu dan biasanya Alan tidak menguntit sedekat ini. Alan ternyata lebih introvert dari yang Mutia duga. Hasil stalkernya selama bertahun-tahun tidak berguna. Seperempat abad umur yang ia habiskan untuk mengenal Alan, ketika sudah menjadi istrinya Mutia baru tau serapuh dan sebobrok apa pria idamannya ini.

Awal mula terungkap, Mutia harus menahan pahit mengetahui inisial MK yang terukir pada cincin di jari manisnya bukanlah inisial dari namanya, Mutia Karina. Melainkan kepanjangan dari Michela Karen, nama seorang gadis yatim piatu miskin yang bekerja sebagai barista di Cafe Oliver dan enam bulan lalu meninggal dunia akibat kecelakaan. Ia memiliki satu saudara lelaki bernama Michael Kevin yang juga bekerja disana. Mereka kembar fraternal, wajah mereka mirip namun jenis kelamin mereka berbeda.

Kematian Karen yang mendadak, tentu membuat Alan dan Kevin sama-sama terpukul. Itu pula yang membuat Kevin sudah enggan untuk melihat Alan yang ia anggap menjadi penyebab kematian Karen, sedangkan Alan masih saja terus mencari Kevin hanya agar bisa terus merasakan kehadiran Karen. Tentu fakta ini sangat membuat Mutia terpukul, ia jadi paham mengapa dulu Alan sangat sering mengajaknya untuk mengunjungi Cafe yang terletak di persimpangan jalan dekat rumahnya itu.

"Maaf, anda jadi pesan apa?" tegur lelaki berambut ikal dengan tag-name Aryo.

Kegetiran seketika menyergap Mutia yang tengah mengamati Kevin yang sedang melayani pelanggan lain. Dirinya sampai dibuat tergagap hanya untuk menjawab, "Moccacino satu."

Rahang tegas dengan tatapan meneduhkan. Kelincahannya berinteraksi, dilengkapi lesung pipit ketika lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum. Pesona maskulin yang dipancarkan Kevin entah mengapa dapat mengilas dan mengaduk-aduk harga diri Mutia sebagai seorang wanita. Sudah bisa dibayangkan betapa cantiknya Karen yang menawan di mata Alan hanya dengan memandangi Kevin seperti ini.

Fakta berbagai foto mesra Alan bersama Karen yang tersimpan rapi dalam dompet Alan membuat Mutia saat itu sampai banting piring upaya menuntut penjelasan dari pria yang disebutnya suami. Sedang Alan sudah tidak bisa mengelak ketika foto itu ada di tangan Mutia. Ada rasa bersalah, namun apa boleh buat semua sudah terjadi.

"Jadi kamu nikahin aku, karena... " Hanya isak tangis yang terdengar setelahnya, Mutia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

Alan. Pria yang tampan, cerdas dan mapan. Pria sempurna yang telah bertahun-tahun Mutia kenal. Pria yang selalu ia puja dan ia dambakan. Sanjungan saat Alan menikahinya bikin iri hati seluruh wanita. Dari awal mengenal Alan, Mutia tidak pernah luput untuk menstalkernya dari siang hingga malam dan selama ini pria itu tidak pernah menunjukan celah apapun.

Alan yang selalu menjadi pusat perhatian seluruh siswa di sekolah terlihat tegas dan berwibawa. Saat sudah menjadi artis di bawah naungan agensi Starblue manajemen, perusahaan tempatnya bekerja pun, pria dengan nama lengkap Alan Ryan itu selalu terlihat dingin dan mempesona. Alan sangat terjaga, santun dan tidak pernah terlihat menyentuh wanita lain karena Mutia kira itu bentuk penghormatan. Tapi ternyata...

"Dia sudah tiada, dan aku juga sudah nikahin kamu demi bisa melanjutkan hidupku." Mendengar pengakuan Alan sontak membuat gelas di genggaman tangan Mutia yang tadi hendak ia banting, luruh dengan sendirinya bersama tubuhnya yang kini terduduk di lantai.

Rasanya Mutia ingin lari. Pergi sejauh-jauhnya. Tapi ia tidak tau harus kemana. Alan satu-satunya yang dia miliki. Alan adalah dunianya. Rumah dan tujuan hidupnya selama ini. Hal itu diawali hanya dari tindakan kenangan kecil yang Alan lakukan untuk Mutia.

"Nih buat kamu!" Alan yang saat itu masih berumur 5 tahun menyodorkan susu coklat kepada Mutia yang sedang menangis sambil berjongkok di pekarangan samping. Rumah mereka bersebelahan, maka dari itu dengan mudah Alan menemukan dirinya ada disana.

Usapan tangan Alan pada rambut Mutia untuk menghentikan tangisnya, kala itu membuat jantung Mutia berdebar kencang. Meski selanjutnya Alan ikut berjongkok disampingnya, Mutia masih terus menangis sesenggukan sebab kedua orangtuanya akan dimakamkan. Alan yang melayat bersama kakeknya pun jadi enggan untuk pulang saat kakeknya kembali mengajaknya pulang. Walau proses pemakaman kedua orangtua Mutia telah usai, Alan yang tidak tega melihat Mutia lebih memilih terus menemaninya berjongkok di pekarangan samping rumah mereka.

Sesimpel itu bagaimana bisa seorang anak lelaki tetangga sebelah bernama Alan Ryan yang hidup bersama kakek dan neneknya berhasil menempati seluruh ruang di hati Mutia. Semenjak saat itu, Mutia yang masih berkuncir dua mengekori Alan kemana-mana hingga mereka dewasa. Setelah menikah, Mutia mencoba berjuta cara agar Alan tetap disisinya dan melupakan Karen. Walau terlambat untuk dipersalahkan, mungkin ini yang dinamakan terlanjur cinta. Jadi siapapun yang Alan cinta selain dirinya, Mutia akan tetap cinta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

  • PUDAR   Bab 82

    Ibu Puni Astutik menjentikan jemarinya. Seketika makanan lezat yang menggugah indera perasa berdatangan. Tapi Farel malah mengajak Alan bergosip ditengah semua kenikmatan ini dengan berbisik, "Kamu tau nggak, Lan? Kata anak - anak. Bu Prista sama Pak Yuda itu dulu pernah pacaran. Setelah putus dan menikah dengan pasangan masing - masing, mereka malah jadi saingan bisnis sampai hari ini."Alan memotong steak di hadapannya dengan penuh penekanan. Hal ini memperingati Farel untuk menghentikan ocehannya sebab ia rasa Alan tidak dalam mood yang baik setelah kesepakatan besaran saham Swana Ghama yang ingin Alan beli dipertimbangkan kembali oleh Ibu Puni Astutik.Disamping Alan, Renata senyam senyum tak karuan. Ia masih belum terbiasa menyembunyikan rasa senangnya. Menjadi fashion stylist Alan di acara seperti Paris Fashion Show memang bukan impiannya. Tapi visual Alan yang menarik hatinya membuat dirinya kegirangan entah mengapa. Renata akui sempat patah hati k

  • PUDAR   Bab 81

    Saat Alan dan Farel baru sampai di gedung Starblue Management, Pak Yuda dengan sumringah menyambut mereka didepan pintu. Tampaknya kehadiran Alan sudah ia nanti sedari tadi. Rolls Royce Limosin berwarna black metal tiba saja mendarat mulus tepat dibelakang mobil Farel, dengan segera ia pindahkan mobilnya menuju parkiran dalam gedung Starblue Managerment. Pak Yuda ajak Alan terlebih dahulu masuk kedalam limosin yang entah milik siapa itu. Farel menyusul masuk juga kemudian dengan tergopoh. Rolls Royce Limosin warna black metal itu membawa mereka ke sebuah private studio bertulis Swana Ghama. Alan seperti tidak asing dengan tempat ini. Ketika Pak Yuda berpelukan dengan seorang wanita yang dikenal sebagai mantan menteri perikanan dan kelautan dari kabinet sebelumnya yakni Ibu Puni Astutik. Alan dan Farel saling pandang menerka apa yang telah di rencanakan oleh Pak Yuda dibelakang mereka. "Ini Alan Ryan, bintang utama kami.

  • PUDAR   Bab 80

    Dito meremas tangannya sendiri saat Rano Karno tetap tak mengindahkan permintaannya untuk mendepak Adiyana dari proyek pembangunan baru gedung walikota. Tentunya proyek yang sudah berjalan dan draft pengesahan menjadi alasan Adiyana untuk dipertahankan. Seperti sebuah teka - teki bagaimana perusahaan Adiyana yang sering mengalami inflasi malah menghasilkan benefit dan makin berkembang. Dito tidak habis pikir bagaimana anak buahnya tidak mampu menemukan bukti apapun perihal kejanggalan ini. Dito yakin Kevin pasti tau jawabannya dibalik pertanyaan bagaimana seorang Adiyana bisa mencapai itu. Tapi Dito enggan menanyai Kevin yang pasti bungkam. Kevin sendiri telah menyatakan masih akan berpihak pada Adiyana walau ia telah mengadopsinya sebagai anak. Sebelum jamuan di istana Presiden berakhir, Dito biarkan Tary mengendap-endap untuk masuk ke dalam mobil Adiyana. Ada rasa menggelitik di dada Dito menebak jika Tary mungkin tidak tau ia masih mengamatinya. Tary m

  • PUDAR   Bab 79

    Tiada pilihan lain bagi Farel selain mengajak Alan minum beberapa gelas coktail di Sunrise Bar. Sebenarnya Farel enggan, tapi melihat tatapan kosong yang Alan lemparkan padanya membuat Farel mengajaknya untuk duduk manis di salah satu kursi di bar ini. "Kamu nggak mau cerita tapi begong begini. Astaga Lan." Farel bergidik sembari menatap ke sekeliling. Alan tertunduk dengan jemari mengetuk - ngetuk meja. Didetik berikutnya Alan menegak sebotol whisky hingga isinya tinggal separuh dan lanjut mengikuti dentuman musik yang dimainkan DJ. Ia akhirnya memilih bergabung dengan yang artis lainnya —yang sedang menikmati akhir malam disana —untuk menari di tengah bar. Farel ikut bangkit. Bukan untuk ikut menari seperti Alan, tapi untuk mengeret Alan keluar dari bar. Dengan sekali tamparan yang cukup keras, Farel ingin Alan sadar. "Kalau kamu tetep begini, aku tinggal." Farel lirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Sorry, Lan. Ini

  • PUDAR   Bab 78

    Walau mereka hidup bersama, Mutia sadar jika Alan hidup di dunia yang berbeda. Bahkan setelah mengetahui rahasia dibalik keputusan Karen memilih bunuh diri pun, Alan enggak membahas apapun padanya. Suaminya itu hanya terlihat lebih murung dan makin menutup diri. Untung saja kehadiran Micheal memberi semangat lain bagi Mutia untuk tetap bertahan. "Anak pintar, ayo sama Mama." Mutia raih Micheal dari kedua tangan Alan. Tangan lentiknya dengan telaten menyuapi bayi mungilnya ini. Saat para pembantu yang disewa hanya untuk membersihkan rumah Alan berpamitan pulang. Mutia dan Alan yang tengah duduk di depan kolam renang tersenyum ramah dengan anggukan untuk mempersilahkan mereka pulang. Alan yang sudah menggunakan setelan jas warna navy menggoyangkan jemari - jemarinya untuk sedikit bermain air sembari menatap Micheal yang lahap menelan bubur yang Mutia suapkan. Walau i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status