Share

Bab 3

Author: bucinyarukher
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-24 05:36:00

Tary tidak bermaksud membuat anak sekecil itu tumbuh besar dengan kenangan buruk yang ia ciptakan. Hari itu Tary terlalu sembrono. Dia nekat menghampiri Dito yang sedang sendirian di rumah. Dia kira Widya dan anak lelakinya yang masih berumur lima tahun yakni Alan, akan tiba dua hari lagi untuk menikmati trip mereka di Bali.

Setelah bergoyang seirama di ruang tamu hingga lutut Dito terbentur sofa. Tanpa melepas persatuan mereka, Dito membalik tubuh Tary, mengendongnya melewati tangga sembari bibir mereka masih saling melumat. Tanpa mengunci pintu kamar. Dito mengajak Tary lanjut bermain di atas ranjang yang biasa digunakannya bersama Widya.

Tary beralih di atas menunjukan kebolehannya. Memutar perlahan hingga terasa memenuhi pusara nafsunya. Dito yang belum puas mendorong kedua kaki Tary hingga memutari tubuhnya. Kembali memegang kendali, ia telungkupkan badan Tary dan memasukinya dari belakang. Tangannya tidak tinggal diam, bertengger untuk terus meremas dada Tary yang ujungnya makin mengeras.

Hari itu teriakan disertai isak tangis anak kecil yang terdengar menghentikan irama Dito di tubuh Tary. Menyadarkan mereka jika pintu kamar di belakang mereka telah terbuka lebar. Disana terlihat Alan menguncang tubuh Widya yang telah tergeletak di depan pintu. Dito buru - buru memakai celana dan meraih ponselnya untuk menghubungi nomer darurat 911, sedang Tary berusaha menutupi tubuh polosnya dengan selimut sembari matanya tidak lepas mengamati tubuh Widya yang tergolek tak berdaya. Ketika Tary beralih ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya kembali. Matanya tidak sengaja bertemu dengan mata kecil Alan. Saat itu tiba saja air mata Tary meluruh dengan sendirinya. Apapun alasannya, apa yang telah diperbuat mereka pasti tidak akan termaafkan.

****

Mutia mengamati punggung Dito dan Tary yang perlahan menghilang masuk mobil. Dari awal menikah hanya dia sendiri yang menjamu hingga mengantar kepulangan kedua mertuanya itu. Alan pasti beraktivitas seperti biasa. Kehadiran mereka seperti tidak pernah ada baginya.

Setelah kepergian kedua mertuanya, Mutia segera menyusul Alan ke lokasi syuting. Disana ia meng-take down beberapa baju dan menatanya ke dalam koper sembari menunggu Alan yang belum selesai di-makeup. Menjadi asisten pribadi Alan seperti ini merupakan pekerjaan sambilan Mutia setelah menjadi istri Alan. Hal ini sering ia lakukan ketika Farel—manager Alan— sedang berhalangan.

"Kalau Alan sudah siap, suruh cepetan kesini," teriak Doni Damara yang menjadi sutradara dalam project iklan terbaru Alan dengan Myeon Green Food kali ini.

Penata rias yang mendengar teriakan tersebut buru-buru melapisi sedikit blush on di wajah Alan. Setelah memakai syal tipis berwarna cokelat, dengan gontai Alan berjalan menuju lokasi take.

"Udah lima belas menit aku nunggu. Gak hanya kamu aja yang sibuk disini, lain kali datang tepat waktu." tegur Kirana Larasati yang didapuk sebagai pemeran utama wanita.

Alan dengan ekspresi datarnya hanya mengatakan, "hmb." sebagai balasan.

Kirana Larasati nyengir dibuatnya. Dia sudah menduga tidak akan pernah ada ucapan maaf yang keluar dari mulut Alan.

"Yah.." bentak Kirana Larasati yang membuat Alan menatapnya, "Apa?"

Mata Kirana Larasati menelusuri hidung mancung dengan kulit seputih porselin milik Alan. Rambut Alan yang disugar keatas membuat Kirana Larasati ingin menjatuhkan jemarinya disana. Pesona ketampanan Alan seketika berhasil membungkamnya.

Seluruh rekan selebriti yang pernah beradu akting dengan Alan, sudah banyak bergosip tentang tidak sopannya sikap Alan. Jika saja wajah Alan tidak setampan Cha Eun Woo, mungkin Kirana Larasati dan para selebriti lain yang pernah cekcok dengan Alan tidak akan memaafkannya dan mencari cara untuk mendepaknya dari dunia entertainment.

"Kamera, rolling action!" teriak Doni Damara.

Kamera bergerak fokus pada Alan yang duduk termenung di dekat jendela mengamati hujan yang enggan reda. Secangkir White Coffee rasa gula aren disajikan untuk menemani dinginnya udara sore itu. Alan menyesapnya perlahan, aromanya mengepul hingga terhirup hidungnya.

"Cut, Oke." Doni Damara tersenyum puas pada Alan. Kemudian para kru bergegas mengeser semua peralatan ke depan kafe. Salah satu kru segera naik ke rooftop kafe untuk mengatur volume aliran air dari selang agar memastikan air hujan gerimis buatan telah siap.

"Siap," ujar kru tadi kemudian.

"lanjut adengan berikutnya," seru Doni Damara. "Kamera, rolling action!"

Alan yang tidak membawa payung menanti dengan gelisah di depan pintu kafe. Padahal hujan yang deras sudah berganti dengan gerimis.

Kirana Larasati yang baru saja keluar dari kafe membuka payungnya di sisi Alan. Gadis itu perlahan menerobos hujan dengan payung yang ada dalam genggaman tangan kirinya sembari memegang White Coffee rasa original dalam kemasan cup.

Kamera meng-shoot ekspresi Alan yang terpaku pada kemasan baru White Coffee dalam cup yang dibawa Kirana Larasati sembari menerobos hujan dengan payung berwarna coklat. Alan bergegas menyamai langkah gadis itu. Satu tangan Alan meraih gagang payung dan satunya lagi terpaut untuk menggenggam kemasan baru White Coffee dalam cup yang dibawa Kirana Larasati. Keduanya pun saling bertatapan di bawah naungan payung coklat. Tawa ceria pun mengembang menyusul kemudian.

"Oke, Cut."

Kirana Larasati menghela nafas, buru-buru pergi digandeng manager dan asisten pribadinya. Sedangkan Alan yang tengah memegang payung coklat dan secup White Coffee masih berdiri di tempat, mengamati guyuran hujan gerimis buatan yang terus meluruh dihadapannya.

Hari itu masih Alan ingat jelas. Bagaimana ia duduk santai dengan novel Laskar Pelangi dan secangkir Americano di Cafe Oliver. Ketika pulang, rintik hujan tiba saja turun. Menghentikan langkah Alan begitu lama di depan pintu Cafe Oliver.

Seorang wanita mungil berkulit eksotis dengan seragam pegawai Cafe Oliver tiba saja muncul dan berdiri disamping Alan untuk membuka payung berwarna coklat yang tengah dibawahnya. Aroma sitrus pada tubuh wanita itu berpadu aroma kopi yang dibawahnya entah mengapa membuat jantung Alan berdetak kencang. Alan tidak tau ada apa dengan dirinya. Namun yang dilakukan Alan kemudian malah menerobos hujan untuk menyusul langkah wanita itu. Genggaman tangan Alan dilengannya membuat wanita itu terkejut dan otomatis menoleh kearahnya. Mata Alan langsung turun pada name-tag di dada pria itu. Disana tertulis dengan huruf abjad, KAREN. Nama yang unik, pikir Alan.

"Ada yang bisa dibantu, tuan?" tanya wanita dengan name-tag Karen itu.

Sebelum Alan menjawab, rintik hujan makin menderas. Reflek Karen menarik tubuh Alan untuk berteduh di bawah payung yang sama dengannya. Debaran jantung Alan kian berpacu, apalagi saat mata Karen lekat menatapnya. Mereka lanjut berjalan beriringan dan langkah demi langkah seirama melewati jalan basah menuju halte bus terdekat.

Sore itu, di bangku halte bus yang sepi. Alan dan Karen yang menunggu bus datang memilih duduk berbincang ditemani suara gemuruh hujan yang terus membising. Pertemuan itu membawa Alan kedalam dunia baru yang belum pernah ia arungi. Waktu seperti tidak berjalan. Disana Alan rasa hanya ada dirinya dan Karen. Dan seumur hidupnya, Alan tidak pernah berbuat lancang. Namun senyum Karen sore itu membuat Alan memberanikan diri. Tidak ada penolakan saat Alan menyesapnya. Awalnya Karen hanya terdiam, tapi kemudian dengan pelan ia ikut mengimbangi bibir Alan. Kupu-kupu tiba saja melesak memenuhi dada Alan menerima sambutan itu.

"Sayang, kamu gak apa - apa?" tanya Mutia sembari mengoncang bahu Alan.

Para kru terpaku di tempat mengamati Alan yang malah melamun. Setelah tersadar, Alan buru - buru pergi dengan menyodorkan payung dan secup White Coffee yang ada dalam genggamannya pada Mutia.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • PUDAR   Bab 88

    "Aku mohon, berhentilah mencintaiku." Itulah yang Kevin ucapkan setelah berhasil mengintimidasi Yu Fie dengan membentuk posisi intim seperti itu. Belum sempat ia membuka mulutnya, Kevin kembali melanjutkan ucapannya. "Aku minta maaf telah membuatmu jatuh cinta. Aku sudah mencintai wanita lain dan sampai kapanpun aku hanya akan menganggapmu teman dekat, seorang teman yang sangat pintar yang dapat aku andalkan." Jantung Yu Fie yang tadi berdetak cukup kencang kini seakan diremas dan disayat disaat yang bersamaan. "Mantan istrimu tadi sudah menikah lagi, bukan?! Mengapa kamu belum bisa move on dan berusaha memasukan diriku dalam hatimu?! Aku masih muda, aku cantik, aku sangat pintar dan keluargaku orang yang sangat berkecukupan. Tidak bisakah salah satu dari kelebihanku itu membuatmu berpaling?!" Mendengar balasan Yu Fie yang seakan tetap memaksakan perasaannya tuk terbalas, salah satu tangan Kevin meraih gagang pintu untuk membukanya makin lebar. Ia segera mendorong paksa tubuh Yu F

  • PUDAR   Bab 87

    Suasana masih canggung, tapi Kevin yang telah kembali mengenakan celana selutut meski masih bertelanjang dada beralih mempersilahkan Yu Fie untuk duduk di kursi ruang tamu apartemennya. Tak menghiraukan Yu Fie memilih duduk disebelah mana, Kevin berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol orange jus yang kemudian ia taruh tepat diatas meja didepan Yu Fie. Setelah itu saat Kevin hendak kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang diberikan Tika yang tadi ditaruh diatas meja, Yu Fie memberanikan diri menahan tangan Kevin agar lelaki itu tak pergi. "Hans, kamu duduk dulu, kita perlu bicara!" Meski agak terbata dalam mengucapkan bahasa Indonesia, Yu Fie kembali berkata, "Tolong jelaskan! Dia bukan kakakmu, kenapa kamu membohongi kami, Hans. Apa karena kami mencintaimu?" "Bukan seperti itu. Baiklah, yang pertama yang perlu ku jelaskan. Seperti yang kamu tau jika nama lengkapku Micheal Kevin, namun panggilanku Kevin bukan Hans. Usiaku 30 tahun, bukan 21 tahun. Wanita bernama Tik

  • PUDAR   Bab 86

    Padahal Tika sudah berkeliaran kesana kemari, namun jam di ponselnya masih menunjuk pukul 1 siang. Mau tak mau Tika harus pulang sebab ia tak tau meski kemana lagi untuk menghindari Kevin. Sampai di unit apartemennya, suasana sepi menyambut. Ia taruh kantung belanjaan di dapur terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Asta. Saat kemudian menengok ke dalam kamar, terlihat Kevin tengah tiduran untuk menemani Asta tidur. Kehadirannya yang tepat berada diambang pintu pun menyadarkan Kevin untuk segara bangkit. "Asta sudah makan sebelum aku menimangnya untuk tidur." ucap Kevin kemudian melangkah pergi untuk kembali ke unit apartemennya sendiri. "Kalau begitu aku pamit." Tika menuju ke meja makan untuk memeriksa porsi makanan yang telah ia siapkan tadi, ternyata Kevin tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya terambil sedikit untuk digunakan menyuapi Asta. Tak enak hati. Ia bungkuskan capjay beserta nasi dan laku pauknya ke dalam sterofoam. Wadah ini bisa langsung Kevin buang dan tidak aka

  • PUDAR   Bab 85

    6 JAM SEBELUMNYA Hari ini Kevin sebenarnya ada jadwal tiga kelas yang harus dihadiri, tapi melihat Mario berangkat lebih awal, ia putuskan untuk bolos demi bisa menghabiskan waktu bersama Asta sang putri kecilnya. "Hai Asta, Om Hans bawakan boneka." Kevin ulurkan boneka beruang dengan kantung kecil diperut bagai Doraemon. Asta menerimanya dengan penuh senyuman. Pelukan pun ia layangkan pada Kevin berikutnya. Tak ingin melepas pelukan itu, Kevin gendong tubuh Asta dan mengajaknya bermain bersama boneka beruang yang kini dipegangnya. Tika yang sedang masak berjalan kearah ruang tamu sebentar untuk memastikan bahwa Kevin lah yang saat ini tetap bermain bersama Asta. "Kamu masih disini memang nggak ada kelas?" "Tidak ada." bohong Kevin agar pertanyaan tak semakin panjang. Karena Asta tidak rewel dengan ayahnya sendiri, Tika kembali ke

  • PUDAR   Bab 84

    Kevin menikmati perannya sebagai Hans. Seorang mahasiswa jalur mandiri di NTU asal Jakarta yang menyewa unit apartemen di sebelah unit milik Mario. Kacamata minus dua yang Kevin pakai agak membuatnya pusing. Namun terlihat rapi dan menawan yang ia dapatkan ketika mengamati dirinya sendiri di depan cermin. Awalnya Kevin takut bila Mario mengenalinya saat mereka tak sengaja berpapasan. Namun sepertinya make over yang dilakukan Tika sangat efektif. Tidak hanya Mario, seluruh teman angkatannya mengira bahwa Kevin masih berumur dua puluhan awal. Walau begitu, Kevin tetap berusaha untuk tidak berpapasan maupun berinteraksi dengan Mario. Di waktu senggang, Kevin selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Asta. Putri kecilnya itu bahkan sudah pandai berbicara kata dasar seperti memanggil nama orang, mengucapkan kata tidur, makan dan berbagai kata random lain yang selalu membuat Kevin tertawa saat mendengarnya. Meski demikian, sayangnya Kevin hanya bisa dipa

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status