LOGINKomandan Dragoria menggiring Evander dan Inez menuju tahanan sementara. Begitu tiba, keduanya tak diberi waktu untuk bernapas. Mereka langsung diseret dan dibawa ke ruang interogasi. Sang komandan memimpin sendiri proses itu, namun Evander dan Inez dipisahkan, masing-masing digiring ke ruangan yang berbeda.Evander didudukkan di kursi besi. Rantai membelit pergelangan tangan dan kakinya, ditautkan pada cincin besi yang tertanam di lantai batu. Ia tidak melawan. Namun, sialnya, sikap itu yang membuat mereka kesal.Pintu berderit terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan jubah beremblem Dragoria masuk. Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani bersuara. Karena ruangan yang hening itu, langkah sepatu boot-nya terdengar menggema di atas lantai. Tatapannya langsung tertuju pada Evander yang berada di sana. Sebelumnya, Pangeran Draven memang sengaja menyebar gambar sketsa pangeran Ravensel. Ia sudah lebih dulu mendengar bahwa armada yang membawa Pangeran Evander hancur karena di
Evander dan Inez masih duduk di bangku batu yang bersebelahan dengan bengkel kulit. Mereka tengah menikmati roti kasar tanpa benar-benar lapar. Mereka hanya ingin memperlambat waktu, menikmati kebersamaan yang jarang bisa mereka curi seperti ini.“Mau lagi?” Evander bertanya. Tatapannya tertumbuk pada bibir Inez—yang meskipun tidak berdandan dan masih sakit tetapi masih terlihat merah muda. Roti di tangannya sudah habis lebih dulu. Inez menoleh lalu menjawab singkat. “Tidak. Aku sudah kenyang.” Ia menepuk-nepuk tangannya, membuang remahan roti yang menempel di telapak tangannya. Evander menghela panjang. Ia memuaskan matanya dengan pemandangan hiruk pikuk kota. Untuk sesaat beban di pundaknya meredup. Namun melihat para pria bergerombol berjalan di depannya, melewatinya, ia menjadi teringat pasukan Ravensel. Sebuah pertanyaan terbesit di kepalanya. Apakah para awak kapal Ravensel selamat? Ia yakin mereka selamat. Hanya saja, mungkin mereka juga terdampar di kepulauan asing. Keyaki
“Maksudku, ini ayahku. Ya, ayahku,” Clara meralat ucapannya. Ia menarik napas dalam. Ucapan tadi hanya spontanitas saja. Pria pemilik kedai diam sesaat. Suara panggilan mengusiknya. “Sayang, apa Robert masih libur? Kita sangat sibuk. Kita tidak bisa menangani kedai berdua. Apalagi pembeli sedang ramai. Bagaimana ini?”Wanita gendut menghampirinya—istri dari si pemilik kedai. Tatapan pria itu beralih dari istrinya lalu beralih pada Hector. Lalu beralih pada istrinya. “Honey, sepertinya ada yang bisa gantikan Robert beberapa hari ke depan,” tukasnya dengan tersenyum samar. Bukankah ia bisa memperkerjakan ke dua pria dan wanita berbeda usia itu di depannya.Wanita itu menaruh satu keranjang berisi buah-buahan kering di atas meja. Lalu ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penasaran. “Kau sudah menemukan orang yang akan menggantikan Robert sementara?”Pria itu manggut-manggut. “Sudah, Honey. Tenang saja kau tidak usah khawatir. Kau juga tidak akan cape.”Wanita itu tersenyum menden
“Yang Mulia, Putra Mahkota ingin bertemu,” lapor seorang pengawal sembari membungkuk hormat di depan Edric. Edric menoleh ketika mendengar laporan tersebut. Ia mengangkat tangan, mengisyaratkan pada anggota dewan bahwa rapat berakhir. Ia memang sedang melakukan rapat tertutup dengan para anggota dewan elit.Ke lima anggota dewan undur diri dari ruang rapat setelah membungkuk hormat pada sang raja. Tak lama kemudian, Leonhart datang dengan langkah yang mantap. Wajahnya terlihat bersemangat ketika bertemu dengan sang ayah. “Ayahanda,” seru Leon saat pintu itu terbuka dan langsung disambut oleh sang ayah. Edric menoleh dengan tatapan yang rumit. Kedatangan Leonhart pasti akan membawa kabar tentang putra bungsunya. Hanya saja, ia tidak tahu kalau kabar yang dibawa itu apakah kabar baik atau buruk.Mereka duduk berhadapan dengan tenang. Edric menaruh ke dua tangannya pada pinggiran kursi kebesarannya. Sementara itu Leon duduk dengan tegak dan tatapan yang serius. Leon menarik napas da
Saat mereka tiba di halamannya yang sempit, Evander tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Inez terdiam. “Ada apa?” tanyanya gelisah. “Tunggu di sini,” katanya pelan pada Inez. “Aku harus mengecek ke dalam dulu.”Inez mengangguk tanpa protes. Tenaganya hampir habis, dan satu-satunya keinginannya saat ini hanyalah merebahkan tubuh di mana saja yang beratap.Evander mendorong pintu kayu itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam pondok. Ruangannya sempit, hanya satu kamar kecil dan sebuah dapur sederhana di sudut. Tak ada sekat mewah, tak ada perabot berlebih. Sebuah dipan kayu, meja kasar, dan tungku sederhana menjadi saksi bahwa pondok itu pernah ditinggali, meski sudah lama ditinggalkan.Namun setidaknya tempat itu bersih dan aman dari binatang luar. Dan yang terpenting, cukup untuk berlindung malam ini.Inez melangkah masuk. Pandangannya langsung terpaku pada ranjang kayu di hadapannya. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di tepinya, tubuhnya masih tegang. Dari sudut matanya, ia m
Evander dan Inez diantar menuju lumbung untuk dibersihkan. Lumbung itu tampak kosong, tua dan berdebu. Evander sampai beberapa kali bersin. Ia meringis melihat pemandangan tersebut. Dulu, Evander tidak pernah menyentuh hal-hal semacam itu. Ia tidak mengenal beres-beres. Dan, Evander hanya ongkang-ongkang kaki, menikmati segalanya dengan mudah. Inez menoleh ke arah Evander sesaat. Senyum yang nyaris tak sampai ke mata terulas di wajahnya tatkala melihat sosok pangeran tampan Ravensel akan melakukan pekerjaan seorang pelayan. Jujur, ia merasa meragukan kemampuannya.“Tuan,” imbuh Inez mendekat. Jalannya masih tertatih, tapi dia selalu berusaha kuat di hadapan orang. Evander menggulung lengan bajunya hingga ke siku tanpa mengatakan apapun. Namun dia menoleh ke arah Inez dan berkata padanya. “Kau duduk saja,”Ines mengerjap dua kali. Ia mengangkat wajahnya dengan tatapan serius. “Aku bisa membantu, Tuan,”Evander menoleh cepat. Wajahnya seketika berubah serius hanya dalam hitungan deti







