Share

Bab 274

Author: Piemar
last update Last Updated: 2025-11-18 12:05:53
Suasana pagi mendadak hening dan mencekam. Betapa tidak, Ana mengalami pendarahan. Sesuatu yang berada di luar dugaan Leon. Pria itu melotot melihat darah merah yang merembes menodai sprei putih berbahan linen.

“Ana, darah itu?” seketika kepalanya kosong. Ia begitu takut jika Ana mengalami keguguran. Mereka akan kehilangan bayi mereka.

Tidak! Jangan sampai itu terjadi!

Leon langsung berjalan keluar pintu kamar. Ia berkata dengan suara gemetar pada pengawal yang berjaga di depan kamar mereka. “Pengawal, panggilkan tabib!”

Pengawal langsung menegakan tubuhnya dan menemui tabib istana, tabib Silas.

Leon berjalan menghampiri istrinya. Ia mencipratkan air ke wajahnya. Ana pun bangun meski terlihat lemah. Ia menangis lirih.

Leon memeluknya dengan penuh kelembutan. “Tenang, Sayang! Kau pasti baik-baik saja,” imbuhnya berusaha menenangkan hatinya. Padahal perasaannya seperti gemuruh angin puting beliung. Tak kalah panik dan khawatir.

Ana menangis di dada bidang suaminya. Suaranya lirih, pe
Piemar

Hai, makasih udah stay sampai sini. Lanjut gak nih? Tapi nanti ya, sengaja aku update lebih awal, aku mau kerja dulu. See ya.

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rachma Nur
up date nya kurang banyak...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 481

    Juliana terhuyung, langkah kecilnya tersandung batu. Tubuh mungil itu nyaris jatuh ke tanah sebelum Ana menangkapnya dengan satu tangan, memeluknya erat ke dada. Sedari tadi ia mengawasi ke dua anaknya dari kejauhan.“Jangan sentuh anakku,” kata Ana dingin, nyaris bergetar karena menahan amarah yang membakar dadanya.Juliana meringkuk di pelukannya, terisak tanpa suara. Gadis kecil itu masih menangis, matanya membulat ketakutan melihat nenek yang seharusnya melindungi mereka, tetapi malah melakukan sesuatu yang buruk padanya.Elia berdiri kaku. Telapak tangannya masih terangkat, seolah baru menyadari apa yang barusan ia lakukan. “Anak itu kurang ajar. Seperti ibunya,” katanya dengan suara dingin alih-alih merasa bersalah.Ana melangkah maju satu langkah. Tatapannya setajam bilah pisau. “Kalau kau ingin membenciku, lakukan. Tapi sentuh mereka lagi…” Suaranya merendah, berbahaya. “Aku bersumpah kau akan menyesalinya seumur hidup.”Para pelayan terpaku. Maggie dan Sophie bergerak mendeka

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 480

    Ravensel Palace, Rosette Garden.Ratu Elia berjalan melewati si kembar Juna yang sedang bermain di taman. Tatapannya hanya melirik sekejap ke arah mereka. Seolah mereka hanyalah benda yang tak kasat mata. Ia memilih duduk di kursi taman. Emma di belakangnya menyusul sembari membawa hidangan manis dan anggur putih untuknya. Lalu mereka duduk berdua. Sementara itu dua orang pelayan wanita berdiri tak jauh dari mereka. Mereka selalu siap dalam kondisi apapun menunggu perintah dari sang ratu. “Yang Mulia, hamba bersyukur mendengar kabar tentang Pangeran Evander. Hamba yakin beliau pasti selamat,” imbuh Emma membuka percakapan. Ia lalu menuangkan botol anggur ke dalam cawan kecil milik sang ratu. Setelah mendapat kabar tentang kemungkin Evander selamat, akhirnya ia memiliki harapan hidup. Ia mau keluar kamar sekedar menikmati udara pagi yang masih segar. Kendati tak bisa dipungkiri, hatinya masih gelisahlah memikirkan kepulangan putranya. Namun jelas saja, kegelisahannya mulai berkurang

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 479

    Bibir Clara bergerak hendak bersuara. Namun Thorian sudah lebih dulu menyelanya seolah tahu isi kepalanya. Ia tersenyum tipis. “Kalau kau gagal, kau tidak akan keluar dari ruangan ini.”Ancaman itu diucapkan tanpa emosi. Justru itu yang membuatnya nyata. Dan, jantung Clara berpacu dengan cepat. Clara mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan perasaan gelisahnya. “Lepaskan sarung tanganmu.”Thorian mengangkat alis, tapi menuruti. Saat kulitnya terbuka, Clara melihat perubahan warna di buku-buku jari. Itu adalah tanda pembuluh yang sering menegang berlebihan. Ia mendekat untuk melihat denyut di lehernya.“Jangan sentuh aku tanpa izin,” kata Thorian pelan. Namun tatapannya sempat tertuju pada bagian dada milik gadis itu yang menyembul. Namun segera ia mengalihkan pandangannya ketika gadis itu bersuara. “Kalau begitu, Yang Mulia tidak ingin sembuh. Aku harus menyentuhnya. Itu bagian dari prosedur pemeriksaan,” lanjut Clara berterus terang. Ruangan itu mendadak hening. Ketegangan seakan

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 478

    Clara berjalan perlahan mengikuti langkah besar sang pangeran. Dadanya terasa sesak seketika ketika pertama kali menginjakan kakinya di sana, istana Dragoria.Pemandangan dengan aura gelap langsung menyambutnya. Para prajurit berpakaian hitam bertubuh tinggi besar berdiri di sisi kanan dan kiri jalan menuju balairung utama Dragoria.Langkah kaki Thorian berhenti tatkala melihat kedatangan sang kakak, Draven. Pria itu berjalan dengan begitu gagah dan tampan. Matanya langsung terpacak pada adiknya lalu beralih pada sosok wanita yang menundukan kepalanya ke lantai. Rambut madunya jatuh menutupi wajahnya.Ia berbicara dengan nada rendah bariton—yang berhasil membuat Clara meneguk salivanya. “Siapa dia? Kenapa kau lancang sekali membawa tahanan ke istana?” kata Draven dengan suara yang nyaris membuat semua orang yang melihatnya menahan napas.Clara terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Bahkan dia tidak berani mengangkat pandangannya. Jemarinya bertautan di belakang punggungnya. Kepalanya

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 477

    Clang! Suara baja dengan baja beradu dengan sengitnya. Benturannya memekakkan telinga. Clara berusaha menahan dorongan pedang dari sang pangeran kejam dengan sekuat tenaga. Dengan kemampuannya sebagai seorang tabib sekaligus alkemis, ia bisa melihat beberapa kelemahan pada pria itu. Kendati tubuhnya tinggi besar lengkap dengan bongkahan otot di sana sini, di matanya, ia memiliki kelemahan yang tak bisa diabaikan dan hanya bisa dilihat oleh para tabib yang teliti.Dengan kemampuannya itu, Clara setidaknya bisa menghindar lalu melakukan pembalasan dengan menyerangnya pada titik tertentu pada tubuhnya yang dianggap lemah. “Kau lumayan kuat dan punya nyali, tabib palsu,” suara Thorian menggema di jeruji besi nan sempit itu. Clara hanya mendecak pelan, mendapat tatapan yang tajam itu dan suara yang menjelma seperti lonceng kematian. Seiring berjalannya waktu, ketegangan semakin meningkat tatkala Clara tak kuasa menghindar lagi.Hampir setengah jam mereka terlibat dalam adu pedang yang

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 476

    Ruang peta pelabuhan Ravensel dipenuhi bau garam dan aroma laut yang menyengat. Di luar suara burung camar berkriang meramaikan dermaga.Gulungan perkamen terbentang di meja panjang, ditahan batu pemberat agar tak menggulung kembali.Leon berdiri di ujung meja. Jubah kebangsaannya terlepas, hanya mantel gelap di bahu. Tatapannya tajam, menyapu wajah-wajah di hadapannya. Mereka adalah para laksamana, kartografer, dan dewan pelabuhan.Pencarian Evander dan awak kapal Ravensel terus dilakukan. Bahkan kini, mereka sudah bergerak menyusuri daratan hingga pantai-pantai di daerah yang tak jauh dari tenggelamnya Kapal Utama Ravensel.Leon melangkah maju lalu bersuara dengan penuh kharismatik. “Mulai,” katanya singkat.Beberapa detik semua orang menahan napas setelah mendengar suara Leonhart yang terkesan dingin dan penuh kharisma seorang putra mahkota. Di hadapannya, seorang pria tua bersurai keperak-perakan, seorang master Kartograf Haiden melangkah maju. Tangannya gemetar halus saat membuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status