Share

Pacar Rahasia Bos Muda
Pacar Rahasia Bos Muda
Auteur: Thresia Alfina

Berkas dan bebannya

last update Dernière mise à jour: 2026-02-03 10:53:28

"Kamu nggak lihat? mata kamu buta?"

Kata itu terucap tanpa amarah, datar, seolah, tidak akan menyakiti siapapun ketika dikeluarkan.

Jena berdiri dengan bahu yang tegak, "nggak ada, Pak!" ralatnya cepat. Takut bila dia salah bicara lagi, Jonathan--bosnya yang masih muda, kontras sekali dengan sikapnya yang suka marah-marah--kembali mengeluarkan kata ajaib lainnya yang tidak siap Jena dengar.

"Nah, gitu dong! kalau nggak ada, ya, bilang nggak ada," ucapnya ringan, lalu kembali merapikan berkas di atas mejanya yang berantakan karena ulahnya sendiri.

"Silahkan keluar."

"Baik, Pak..." Jena keluar dari ruang itu.

Seketika hawa panas kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah karena ruang kantor Jonathan yang dingin, atau amarah pria itu di jam sepagi ini yang membuat Jena merasa membeku.

"Gimana, Je? ketemu berkas yang dicari Pak Jo? " Rani--gadis manis berambut bob sebahu, menghampiri Jena dengan raut khawatir, seakan Jena baru saja keluar dari ruang penghakiman.

"Nggak ketemu, Ran."

"Aduh, gawat! bisa habis kita ngadepin mood-nya yang jelek itu sepanjang hari," keluh Rani terdengar putus asa.

Jena tertawa kecil.

Sudah jadi aturan tidak tertulis di toko buku ini, bahwa menjaga mood Jonathan Max Endrew merupakan tanggung jawab bagi semua karyawan. Kalau salah-salah sedikit saja, mereka harus menyusun ulang rak berkali-kali, sepanjang hari.

Padahl ini baru pukul delapan lewat lima belas pagi. Toko buku Lentera-- tempat mereka berkerja saja baru dibuka lima belas menit yang lalu. Tapi Jena yang hari ini dapat giliran merapikan ruang Jonathan, harus kena semprot hanya karena dua kata 'tidak lihat' yang dia ucapkan saat Jo menanyakan sebuah berkas di atas mejanya.

Dua gadis itu tengah merapikan rak di dekat meja kasir kala suara sepatu ber-hak tinggi beradu dengan lantai terdengar.

Berjalan anggun memasuki toko buku Lentera, seorang wanita cantik berkulit pucat. Matanya bulat besar, bening seperti berlian. Gaun biru mengatung manis hingga ke tulut, rambut kecoklatan yang terurai cantik mengayun mengiringi lenggokan tubuhnya.

Setiap mata yang melewatinya, menoleh. Wanita itu tersengum tipis menyapa karyawan-karyawan yang ada di sana.

"Jo, sudah datang?" tanyanya pada seorang bersetelan serba hitam, di pintu.

"Sudah, Bu. Ada di kantornya..."

Carissa tersenyum, kemudian mengucapkan terimakasih. Ia kembali melanajutkan langkah ke arah kantor Jonathan, yang berada di antara kasir dan ruang berisikan rak buku-buku novel.

Baru saja beberapa langkah mendekat, pintu kantor Jonathan terbuka. Lelaki bersetelan jas berwarna coffe, yang tersetrika rapi, dengan kaca mata membingkai matanya yang tegas itu tampak terkejut mendapati keberadaan tunangannya di toko sepagi ini.

"Kamu ngapai di sini?"

"Jo, kok kamu kelihatan nggak seneng aku di sini?" wajah Clarissa yang semula tersenyum, berubah.

"Aku bukan nggak senang. Tapi sepagi ini?"

Clarissa berdecak kesal, dia mengangkat sebuah map cokelat kemudian mendorongnya ke dada Jonathan.

"Aku cuma mau menyerahkan ini. Aku takut ini penting. Tapi begini cara kamu bilang makasih?"

Map itu. Map cokelat yang tidak sengaja Jonathan tinggalkan di mobil Clarissa semalam, berisikan berkas yang membuatnya mengomeli Jena pagi ini.

Tawa Rani hampir meledak, mendapati raut muka Jonathan sekarang.

Tapi dia menahannya kuat-kuat, bahkan Jena harus menyikut gadis itu agar menyadari jika kini Jo siap mengeluarkan laser dari kedua matanya, hanya karena Jena dan Rani kedapatan tanpa sengaja memdengar percakapan Jo dengan Clarissa barusan.

Kedua bola mata, dengan bulu mata yang lentik dan tebal Clarissa menatap Jo dengan berkaca-kaca.

Jonathan memghela napasnya, memijat pangkal hidungnya pelan, kemudian mempersilahkan Clarissa. masuk, sebelum dia mulai menangis di depan pintu kantor Jo.

"Maaf, aku nggak bermaksud begitu..." ucap Jo berusaha menenangkan tunangannya.

Clarissa yang sudah duduk di sofa, menyeka ujung matanya dengan sapu tangan.

"Kamu berubah, Jo! kamu sudah nggak mencintai aku lagi..."

Jonathan menempaskan bokongnya di sebelah Clarissa.

"Aku mencintaimu. Tentu saja."

"Tapi kamu akhir-akhir ini berubah, Jo. Kamu kelihatan nggak senang ketemu aku."

"Aku cuma lelah, Clar. Aku akhir-akhir ini sibuk."

"Kamu selalu aja sibuk!"

"Sebentar lagi akan ada Audit dari kantor pusat..."

Clarisa terdengar menghela napas, sebelum menenteng kembali tasnya dan berdiri. "Baiklah... tapi setidaknya luangkan sedikit waktu untuk makan denganku malam ini, oke!"

"Baiklah, akan aku usahakan."

Kalimat itu terdengar seperti janji, tapi bagi Jo, itu lebih mirip seperti kewajiban.

Pintu kantornya tertutup pelan. Dia melihat berkas-berkas di atas meja, dan bayangan punggung Clarissa yang baru saja menghilang.

"Kamu harus pastikan cabang ini menjadi yang terbaik tahun ini."

Kata-kata dari meja makan pagi ini menggema di telinga Jo.

Tentu saja dia tahu itu.

Sejak lulus kuliah, ia tidak pernah benar-benar bisa memilih. Jo tidak pernah mengejar hal yang ia sukai, baginya hidup sudah ditentukan dari awal dan Jonathan hanya perlu menjalaninya.

Ia terbiasa memikul ekspektasi.

***

Langkah sepatu formal terdengar dari belakang, ketika Jena baru saja selesai meapikan rak Literatur. Langkah itu terdengar tegas, stabil, dan idak terburu-buru.

"Rak Bisnis berantakan," ucap suara berat itu datar.

Jena menoleh cepat. "Sudah saya rapikan tadi malam, Pak."

"Berarti pelanggan merapikannya lebih baik dari kamu."

Seperti biasa, nadanya tidak tinggi, tidak keras. Tapi cukup untuk membuat beku suasana.

"Baik, Pak. Akan saya cek lagi."

Satu-satunya hal paling bijak yang bisa dilakukan jika masih ingin terus berkerja ialah; tidak membantah.

Jonathan tidak pernah mengulang perintah dua kali.

Tatapannya tajam, dan kelam. Tidak pernah terlihat santai. Tidak pernah terlihat lepas.

Semua pegawai tahu persis jika cabang ini berdiri kokoh karena kedisiplinannya. Karismanya membuat semua orang segan. Cara kerjanya yang sistematis, membuat pelanggan seslalu kembali.

Jena langsung pindah ke arah rak Bisnis. Dia menyusun kembali rak itu dengan cekatan. Sesekali keluar senandung kecil dari bibirnya.

Ia bukan yang paling ceria di antara pegawai lain. Tapi ia ramah pada siapapun, sopan, dan teratur.

Rani yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Jena, berbisik. "Kena lagi kamu, Je?"

"Seperti biasa," jawab Jena pelan.

"Aneh, ya, Bosmu itu..."

Jena tersenyum tipis. "Kita nggak tahu apa yang dipikulnya, Ran."

Rani bedecak sembari menggelengkan kepala. "Ternyata kamu juga sama anehnya, Je. Padahal sering dengar ucapan jahatnya yang nyakitin orang itu."

"Cuma karena dia begitu, bukan berarti dia jahat..."

"Tapi orang baik juga nggak akan bersikap kaya gitu."

Mungkin saja.

Tapi Jena tahu dari apa yang dia lihat. Jena melihat bagaimana Jonathan hampir tidak pernah duduk santai.

Bagaimana ia selalu menjadi orang terakhir yang pulang latur malam, dan bagaimana semua keputusan berat berakhir di mejanya.

Jonathan memang terlihat keras.

Tentu saja dia harus begitu. Bangunan kokoh, tidak berasal dari pondasi yang lemah.

***

Sore hari itu, Jonathan mengumpulkan seluruh pegawai. Dia berdiri tegap di depan mereka semua.

"Penjualan bulan ini naik," ia memulai langsung ke intinya. "tapi belum cukup memenuhi target."

Nada suaranya stabil.

"Pokoknya, diskon tidak boleh diberikan sembarangan. Semua data pelanggan harus lebih rapi, dan saya tidak ingin ada kesalahan laporan lagi kali ini."

Matanya yang tajam dan dalam berhenti sebentar pada Jena.

"Terutama dalam pencatatan stok impor," lanjutnya.

Jena yakin, sebelumnua dia tidak pernah membuat kesalahan. Tapi dia hanya mengangguk hormat, dan memjawab. "Baik, Pak."

Tidak ada pembelaan.

Jonathan mengangguk sekali lalu membubarkan mereka semua, untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing. Begitu semua bubar, Jonathan kembali ke kantor.

Ia berdiri lama di depan jendela.

Dari luar, mungkin ia terlihat kuat. Tapi jauh di dalam hatinya, ada sebuah suara kecil yang terus bertanya;

"Kalau bukan karena tanggung jawab, apakah aku akan tetap memilih jalan ini?"

Pertanyaan itu, tidak pernah menemukan jawaban. Yang Jonathan tahu hanya satu. Pria yang diandalkan, tidak boleh ragu.

Menjelang waktu tutup toko, hujan turun perlahan, menetuk kaca-kaca transparan yang mengelilingi toko.

Jena masih menghitung laporan harian ketika Jonathan keluar dari kantornya. Langkah kaki Jo berhenti mendapati jadis itu masih berkutat dengan kertas-kertas di meja kecil samping kasir.

"Kamu belum pulang?"

Jena mendongak, malingkan wajahnya sebentar. "Sedikit lagi selesai, Pak," jawabnya.

"Baik. Jangan pulang terlalu malam. Lanjutkan besok saja."

"Baik, Pak."

Jonathan mengakhiri percakapan itu, tapi matanya menahan Jena sedikit lebih lama.

Gadis itu masih sangat muda. Tapi dia bekerja tanpa keluhan. Sangat disiplin, dan tidak pernah berusaha menonjol agar diperhatikan.

Jonathan tidak sengaja mendengar percakapan Jena dengan Rani tadi siang, dari balik rak Bisnis.

"Kita sama sekali nggak tahu apa yang dipikulnya."

Untuk pertma kalinya, Jonathan merasa ada yang bisa memahami, bahkan ketika dia tidak mengatakan apa-apa sekalipun.

Ia berbalik.

"Pastikan lampu belakang dimatikan sebelum pulang."

"Baik, Pak."

Suara hujan semakin deras.

Malam itu tidak ada percakapan panjang, tak ada kedekatan.

Hanya dua orang yang sama-sama tidak memilih jalan hidup sepenuhnya.

Dan tanpa mereka sadari-

Takdir mulai menyusun sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Transaksi

    Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Melewati batas

    Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Batas yang Mengabur

    Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sesuatu yang mengawali

    Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hal remeh yang mengganggu

    Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Rasa tidak nyaman

    Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status