"Kamu nggak lihat? mata kamu buta?" Kata itu terucap tanpa amarah, datar, seolah, tidak akan menyakiti siapapun ketika dikeluarkan. Jena berdiri dengan bahu yang tegak, "nggak ada, Pak!" ralatnya cepat. Takut bila dia salah bicara lagi, Jonathan--bosnya yang masih muda, kontras sekali dengan sikapnya yang suka marah-marah--kembali mengeluarkan kata ajaib lainnya yang tidak siap Jena dengar. "Nah, gitu dong! kalau nggak ada, ya, bilang nggak ada," ucapnya ringan, lalu kembali merapikan berkas di atas mejanya yang berantakan karena ulahnya sendiri. "Silahkan keluar." "Baik, Pak..." Jena keluar dari ruang itu. Seketika hawa panas kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah karena ruang kantor Jonathan yang dingin, atau amarah pria itu di jam sepagi ini yang membuat Jena merasa membeku. "Gimana, Je? ketemu berkas yang dicari Pak Jo? " Rani--gadis manis berambut bob sebahu, menghampiri Jena dengan raut khawatir, seakan Jena baru saja keluar dari ruang penghakiman. "Nggak ketem
Last Updated : 2026-02-03 Read more