Share

Sebuah bantuan

last update publish date: 2026-02-16 01:50:28

Akhir-akhir ini, kota Velmora sering kali dilanda hujan.

Waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi, tapi hujan sudah membasahi jalan, dan mengetuk pelan dinding kaca kafe ini, membuat pagi itu terasa lebih dingin dari pagi-pagi sebelumnya.

Jonathan sedang duduk di dalam kafe yang terletak tepat di depan toko buku Lentera, menyesap secangkir cairan hitam yang asap tipsnya masih melayang ringan di udara, sambil menyantap roti panggang dengan isi daging dan dua telur.

Ia menatap tablet di tangannya yang menampilkan grafik dan angka-angka. Layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menyala, menampilkan panggilan masuk dari mamanya. Jo hanya meliriknya sebentar, kemudian mengabaikannya hingga layar itu mati sendiri.

Jonathan sengaja berangkat lebih awal pagi ini, hanya untuk menghindari sarapan dengan keluarganya. Untuk hari ini saja, Jo ingin menghindar dari segala pembahasan tentang pernikahannya, perkerjaan, dan harapan-harapan Papanya yang membebani Jo.

Dia merasa sesak.

Kemudian pandangan Jonathan jatuh pada seorang gadis yang berada di sebrang jalan. Seorang gadis yang berjalan pelan di antara hujan, dengan payung di tangannya. Gadis itu hanya mengenakan jaket rajut tipis untuk melindungi dirinya dari udara dingin yang mencekik di luar sana.

Jonatan melirik arloji bermerek di pergelangan tangannya. Masih kurang 30 menit lagi sebelum toko Buka. Kemudian, Jo kembali melempar pandangannya ke seberang jalan.

Kini Jena sudah duduk di pinggiran toko, tepat di dekat pintu. Dia menurunkan tas lusuh dari pundaknya, dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Jonathan bahkan harus merapatkan kaca mata saat mencoba melihat apa itu.

Ternyata benda itu merupakan sebungkus roti, yang sekarang sudah dinikmati Jena dengan lahap seolah itu satu-satunya hal yang bisa mengisi perutnya untuk sepanjang hari.

Jonathan tidak pernah memperhatikan karyawannya satu persatu, terlebih Jena yang secara penampilan tidak terlalu mencolok. Namun Jo selalu tahu jika gadis itu bisa diandalkan. Perjerkaannya bagus, dan terkadang Jo melihatnya menjadi orang yang terakhir pulang.

Rasanya baru kali ini Jo melihatnya seperti itu.

Gadis itu terlihat... sedih.

Tapi melihatnya dari balik kaca kafe ini, Jo tanpa sadar tersenyum tipis. Sangat tipis. Entah kenapa dia jadi tidak begitu merasa kesepian, sebab di dunia yang keras ini, setidaknya Jonathan bukan satu-satunya orang yang merasa menderita.

***

Audit tinggal dua minggu lagi.

Semua orang tahu itu, tapi tidak semua orang mengerti betapa pentingnya audit itu untuk Jonathan.

Jika cabang pusat sampai gagal-- Semua investor akan mundur. Ekspansi akan diitunda. Dan satu hal; pernikahan sudah dipastikan tidak akan terjadi dalam waktu dekat seperti apa yang sudah direncanakan.

Bukan dia ingin acara itu terjadi lebih cepat. Tapi karena tugasnyalah menjaga citra keluarga tetap baik.

Ponsel Jo kembali berdering. Kali ini dari Daniel--kakak sulung Jonatan yang memegang proyek di luar negri. Jo mengangkat telpon itu.

"Halo, Jo! Kamu di toko?" suara dari ujung telpon terdengar ringan. Riang. dan tanpa beban.

Itu juga yang membuat Jo semakin membencinya.

"Tentu saja, di mana lagi?"

"Santailah sedikit, dude!" kini suara Daniel terdengar terkekeh. "Aku cuma mau mengingatkan, audit kali ini sangat penting."

"Aku tahu," balas Jo. Nada suaranya tidak berubah.

"Kami semua mengandalkanmu, Jo. Cuma kamu yang bisa memegang cabang pusat."

Jonathan diam.

Kalimat barusan terdengar seperti pujian, tapi juga seperti pengingat bahwa Dainiel tidak akan mengambil alih jika Jonathan gagal.

Kedua kakaknya-- Daniel dan Marcus punya urusannya masing-masing. Mereka sibuk dengan hal-hal yang mereka berdua ingin lakukan, sedangkan Jonatan, terjebak di tempat ini hanya karena dia yang paling bisa diandalkan.

Dia bungsu, tapi yang paling terlihat dewasa.

"Aku ke sana minggu depan," lanjut Daniel. "Pingin lihat-lihat."

Sama sekali bukan berita yang menyenangkan, sebab Jo tahu, Daniel tidak pernah benar-benar membantu. Dia hanya sedang berusaha memastikan bahwa semua berjalan seperti seharusnya.

Jo baru kembali duduk nyaman di kursinya. Kembali menenggelamkan diri pada laporan-laporan yang ada di meja, saat pintunya dikeutuk dua kali, lalu terbuka.

Clarissa masuk dengan dua gelas kopi di tangannya. Berjalan dengan anggun, sembari tersenyum manis, dan meletakkan kopi itu ke atas meja Jonatan.

"Kamu pasti belum makan siang, kan? ayo kita keluar," ajak gadis itu manja.

"Aku sedang tidak lapar," jawab Jo. Dia melirik ke arah Clarissa. "kamu makan sendiri saja."

"Jonatan..." panggil Clarissa pelan. "Kamu begini terus akhir-akhir ini."

Mendengar nada bicaranya, Jo tahu apa yang setelah ini akan Clarissa ucapkan. Mungkin tuntutan seperti sebelumnya, atau tangisan seperti yang sudah-sudah.

Berulang.

Hampir setiap hari.

"Aku kangen Jo yang dulu."

Clarisa menggigit bibir bawahnya.

Jonatan yang dulu tidak menghabiskan malam dengan laporan, Jo yang tidak menjawab pesan dua jam kemudian, dan Jo yang tidak seperti membawa beban di pundaknya setiap waktu.

"Aku nggak berubah, Clar. Tanggung jawabku yang berubah. Mengertilah... " ucap Jo tanpa menoleh.

Clarissa tersenyum kecil. Senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya.

Di luar kantor, Jena melihat Clarissa keluar beberapa menit kemudian.

Langkahnya tetap anggun.

Tapi jemarinya menggenggam tas dengan sangat erat.

***

Audit yang semakin dekat tidak hanya membuat Jonatan sibuk, tapi seisi toko, termasuk Jena. Hanya beberapa menit sebelum jam tutup toko, dan gadis itu masih duduk di meja kasir dengan laporan di hadapannya.

Jonathan keluar dari kantornya.

"Kamu belum pulang?" tanya Jo menghentikan langkahnya sebentar.

"Sebentar lagi, Pak."

Ia hendak kembali ke dalam kantornya, tapi langkahnya berhenti lagi.

"Kamu yang pegang stok impor bulan lalu?"

"Iya, Pak," jawab Jena sambil mengangguk.

"Pastikan nggak ada selisih waktu audit berlangsung."

"Baik, Pak."

Jonathan mengangguk. Kemudian, tanpa sadar--

"Kalau ada yang kurang jelas, bisa langsung tanya ke saya..."

Jena sedikit terkejut mendengarnya. Tapi lagi-lagi Jena hanya menganggukan kepala.

"Baik, Pak."

Jena sudah lebih dari setahun berkerja, dan sudah setahun ini pula dia memperhatikan bos mudanya itu. Jonatan tidak pernah menawarkan bantuan dalam jenis apapun sebelumnya.

Jena menggeleng kecil, mengusir pertanyaan tak penting yang hinggap di kepala. Semua orang berubah seiring waktu. Harusnya dia bersyukur sebab Jo sedikit jadi lebih murah hati sekarang.

Sedang tanpa Jena sadari, Jonathan sempat kembali berhenti. Memandang Jena cukup lama, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu.

Hujan mulai turun kembali.

Jena merapikan laporan terakhir sebelum memasukkannya ke sebuah map, mengemasi barangnya dan bersiap pulang. Namun sebelum Jena meninggalkan toko, dia melihat lampu di ruangan Jonathan masih menyala.

Jena berniat mengetuknya untuk berpamitan, tapi dia urungkan niatnya tersebut. Dari dalam kantor, Jonathan berdiri di depan jendela. Kepalanya tidak pernah kosong. Selalu dipenuhi hal-hal yang bukan tentang dirinya sendiri.

Lalu satu kalimat kembali melayang ringan di kepala Jonathan.

"Kita nggak tahu apa yang dipikulnya."

Rasanya, tidak pernah ada yang sepeduli itu sebelumnya.

Clarissa yang terus saja bilang kalau dia rindu Jo yang dulu, tanpa pernah mengerti jika keadaannya kini sudah berubah.

Dan Papa yang melimpahkan semua tanggung jawab pada pundaknya, hanya karena dia menilai Jo sanggup melakukannya.

Tidak ada yang bener-benar memikirkan apa mungkin yang Jo pikul di pundaknya.

***

"Je, kamu sudah pulang?"

"Aku baru saja sampai di kosku."

Jena menjepit ponselnya di antara pundak dan telinga. Tangannya sibuk mengeringkan rambut yang basah dengan selembar handuk.

"Bosmu bikin kamu lebur lagi, ya?" nada pria diujung telpon naik satu oktaf.

Jena hanya terkekeh mendengarnya. "Enggak. Kerjaan semua orang emang lagi banyak. Kamu tahu 'kan? menjelang audit semua orang akan sibuk."

"Pokoknya, kalau bosmu yang nyebelin itu bikin kamu susah, bilang aja. Aku akan datang ke tokomu buat ketemu dia..."

"Untuk bikin aku dipecat?" tanya Jena, meski nada bicaranya datar, tapi bibirnya sedang melengkung ke atas sekarang.

"Yah, kalau kamu dipecat, aku siap kok menghidupimu! kamu tahu kan usaha papaku sedang naik. Aku bisa kasih kamu semuanya."

Kali ini senyum di wajah Jena perlahan memudar.

"Aku agak capek, nih. Aku mau istirahat duluan, ya. Besok aku harus bangun pagi."

"Baiklah."

Tut!

Jena menghempaskan tubuhnya di kasur singgel tipis itu. Matanya menatap langit-langit kos, yang dinding bagian pojoknya mulai menghitam karena lembab.

Jena bertanya-tanya pada diri sendiri, jika dia terlahir sebagai anak orang kaya, apa dia akan dengan mudahnya menggampangkan usaha orang lain?

Hidup memang ironi.

Di satu sisi, ada orang yang bisa melakukan apapun yang dia mau dalam hidupnya. Tinggal bilang saja, dan semua bisa dia dapatkan. Di sisi lain, ada orang yang bahkan harus bangun pagi-pagi sekali, menempuh jarak berkilo meter hanya untuk sekedar menyambung hidup.

Tidup tidak adil bukan?

Yang membuatnya adil ialah; semua orang berpikir begitu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Sebuah Pertanyaan

    "Masa cewek secantik kamu Jomblo, Je?" Wajah Jena memanas seketika. Namun dia memaksakan sebuah tertawa yang hambar, "emang siapa sih yang mau sama orang kaya aku," katanya. "Kalau kamu mau, aku mau," kata cowok itu membuat Jena hampir sersedak ludahnya sendiri. Poppy dengan cepat menyodorkan air pada Jena yang sedang terbatuk-batuk. "Jangan nervous gitu, kali, Je. Biasa aja," ledek Poppy kemudian tiba-tiba ia mengode pria di hadapannya dengan kedipan mata, agar mereka meninggalkan Jena dan cowok itu berduaan saja. Pria yang ada di hadapan Poppy itu mengerti, dia segera berdiri sambil berkata, "eh, Je. Aku boleh pinjem Poppy sebentar, ya... Aku ada yang pengen dibeli, nih. Kayanya selera Poppy bagus dan bisa bantuin gue milih." Jena melempar pandangan ke arah Poppy dengan tampangnya yang polos, lalu pandamgannya beralih pada cowok di hadapannya. "Gimana kalau kita ikut sekalian?" tanya Jena pada cowok itu--namanya Rayan. Cowok itu melirik ke arah temannya, untuk ber

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Kencan?

    Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Istilah yang tidak Jena sukai

    Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Dunia Baru Jena

    "Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Gadis yang mulai berani

    "Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan

  • Pacar Rahasia Bos Muda   Hubungan yang sudah terlalu lama

    "Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status