Se connecterAkhir-akhir ini, kota Velmora sering kali dilanda hujan.
Waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi, tapi hujan sudah membasahi jalan, dan mengetuk pelan dinding kaca kafe ini. Membuat pagi itu terasa lebih dingin dari pagi-pagi sebelumnya. Jonathan sedang duduk di dalam kafe yang terletak tepat di depan toko buku Lentera, menyesap secangkir cairan hitam yang asap tipsnya masih melayang ringan di udara, sambil menyantap roti panggang dengan isi daging dan dua telur. Ia menatap tablet di tangannya yang menampilkan grafik dan angka-angka. Layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menyala, menampilkan panggilan masuk dari mamanya. Jo hanya meliriknya sebentar, kemudian mengabaikannya hingga layar itu mati sendiri. Jonathan sengaja berangkat lebih awal pagi ini, hanya untuk menghindari sarapan dengan keluarganya. Untuk hari ini saja, Jo ingin menghindar dari segala pembahasan tentang pernikahannya, perkerjaan, dan harapan-harapan Papanya yang membebani Jo. Dia merasa sesak. Kemudian pandangan Jonathan jatuh pada seorang gadis yang berada di sebrang jalan. Seorang gadis yang berjalan pelan di antara hujan, dengan payung di tangannya. Gadis itu hanya mengenakan jaket rajut tipis untuk melindungi dirinya dari udara dingin yang mencekik di luar sana. Jonatan melirik arloji bermerek di pergelangan tangannya. Masih kurang 30 menit lagi sebelum toko Buka. Kemudian, Jo kembali melempar pandangannya ke seberang jalan. Kini Jena sudah duduk di pinggiran toko, tepat di dekat pintu. Dia menurunkan tas lusuh dari pundaknya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Jonathan bahkan harus merapatkan kaca mata, saat mencoba melihat apa itu. Ternyata benda itu merupakan sebungkus roti, yang sekarang sudah dinikmati Jena dengan seolah itu satu-satunya hal yang bisa mengisi perutnya untuk sepanjang hari. Jonathan tidak pernah memperhatikan karyawannya satu persatu, terlebih Jena yang secara penampilan tidak terlalu mencolok. Namun Jo selalu tahu jika gadis itu bisa diandalkan. Perjerkaannya bagus, dan terkadang Jo melihatnya menjadi orang yang terakhir pulang. Rasanya baru kali ini Jo melihatnya seperti itu. Gadis itu terlihat... sedih. Tapi melihatnya dari balik kaca kafe ini, Jo tanpa sadar tersenyum tipis. Sangat tipis. Entah kenapa dia jadi tidak begitu merasa kesepian, sebab di dunia yang keras ini, setidaknya Jonathan bukan satu-satunya orang yang merasa menderita. *** Audit tinggal dua minggu lagi. Semua orang tahu itu, tapi tidak semua orang mengerti betapa pentingnya audit itu untuk Jonathan. Jika cabang pusat sampai gagal-- Semua investor akan mundur. Ekspansi akan diitunda. Dan satu hal; pernikahan sudah dipastikan tidak akan terjadi dalam waktu dekat seperti apa yang sudah direncanakan. Bukan dia ingin acara itu terjadi lebih cepat. Tapi karena tugasnyalah menjaga citra keluarga tetap baik. Ponsel Jo kembali berdering. Kali ini dari Daniel--kakak sulung Jonatan yang memegang proyek di luar negri. Jo mengangkat telpon itu. "Halo, Jo! Kamu di toko?" suara dari ujung telpon terdengar ringan. Riang. dan tanpa beban. Itu juga yang membuat Jo semakin membencinya. "Tentu saja, di mana lagi?" "Santailah sedikit, dude!" kini suara Daniel terdengar terkekeh. "Aku cuma mau mengingatkan, audit kali ini sangat penting." "Aku tahu," balas Jo. Nada suaranya tidak berubah. "Kami semua mengandalkanmu, Jo. Cuma kamu yang bisa memegang cabang pusat." Jonathan diam. Kalimat barusan terdengar seperti pujian, tapi juga seperti pengingat bahwa Dainiel tidak akan mengambil alih jika Jonathan gagal. Kedua kakaknya-- Daniel dan Michele punya urusannya masing-masing. Mereka sibuk dengan hal-hal yang mereka berdua ingin lakukan, sedangkan Jonatan, terjebak di tempat ini hanya karena dia yang paling bisa diandalkan. Dia bungsu, tapi yang paling terlihat dewasa. "Aku ke sana minggu depan," lanjut Daniel. "Pingin lihat-lihat." Sama sekali bukan berita yang menyenangkan, sebab Jo tahu, Daniel tidak pernah benar-benar membantu. Dia hanya sedang berusaha memastikan bahwa semua berjalan seperti seharusnya. Jo baru kembali duduk nyaman dikursinya. Kembali menenggelamkan diri pada laporan-laporan yang ada di meja, saat pintunya dikeutuk dua kali, lantas terbuka. Clarissa masuk dengan dua gelas kopi di tangannya. Berjalan dengan anggun, sembari tersenyum manis, dan meletakkan kopi itu ke atas meja Jonatan. "Kamu pasti belum makan siang, kan? ayo kita keluar," ajak gadis itu manja. "Aku sedang tidak lapar," jawab Jo. Dia melirik ke arah Clarissa. "kamu makan sendiri saja." "Jonatan..." panggil Clarissa pelan. "Kamu begini terus akhir-akhir ini." Mendengar nada bicaranya, Jo tahu apa yang setelah ini akan Clarissa ucapkan. Mungkin tuntutan seperti sebelumnya, atau tangisan seperti yang sudah-sudah. Berulang. Hampir setiap hari. "Aku kangen Jo yang dulu." Clarisa menggigit bibir bawahnya. Jonatan yang dulu tidak menghabiskan malam dengan laporan, Jo yang tidak menjawab pesan dua jam kemudian, dan Jo yang tidak seperti membawa beban di pundaknya setiap waktu. "Aku nggak berubah, Clar. Tanggung jawabku yang berubah. Mengertilah... " ucap Jo tanpa menoleh. Clarissa tersenyum kecil. Senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya. Di luar kantor, Jena melihat Clarissa keluar beberapa menit kemudian. Langkahnya tetap anggun. Tapi jemarinya menggenggam tas dengan sangat erat. *** Audit yang semakin dekat tidak hanya membuat Jonatan sibuk, tapi seisi toko, termasuk Jena. Hanya beberapa menit sebelum jam tutup toko, dan gadis itu masih duduk di meja kasir dengan laporan di hadapannya. Jonathan keluar dari kantornya. "Kamu belum pulang?" tanya Jo menghentikan langkahnya sebentar. "Sebentar lagi, Pak." Ia hendak kembali ke dalam kantornya, tapi langkahnya berhenti lagi. "Kamu yang pegang stok impor bulan lalu?" "Iya, Pak," jawab Jena sambil mengangguk. "Pastikan nggak ada selisih waktu audit berlangsung." "Baik, Pak." Jonathan mengangguk. Krmudian, tanpa sadar-- "Kalau ada yang kurang jelas, bisa langsung tanya ke saya..." Jena sedikit terkejut mendengarnya. Tapi lagi-lagi Jena hanya menganggukan kepala. "Baik, Pak." Jena sudah lebih dari setahun berkerja, dan sudah setahun ini pula dia memperhatikan bos mudanya itu. Jonatan tidak pernah menawarkan bantuan dalam jenis apapun sebelumnya. Jena menggeleng kecil, mengusir pertanyaan tak penting yang hinggap di kepala. Semua orang berubah seiring waktu. Harusnya dia bersyukur sebab Jo sedikit jadi murah hari sekarang. Sedang tanpa Jena sadari, Jonathan sempat kembali berhenti. Memandang Jena cukup lama, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu. Hujan mulai turun kembali. Jena merapikan laporan terakhir sebelum memasukkannya ke sebuah map, mengemasi barangnya, dan bersiap pulang. Namun sebelum Jena meninggalkan toko, dia melihat lampu di ruangan Jonathan masih menyala. Jena berniat mengetuknya, untuk berpamitan, tapi dia urungkan niatnya tersebut. Dari dalam kantor, Jonathan berdiri di depan jendela. Kepalanya tidak pernah kosong. Selalu dipenuhi hal-hal yang bukan tentang dirinya sendiri. Lalu satu kalimat kembali melayang ringan di kepala Jonathan. "Kita nggak tahu apa yang dipikulnya." Rasanya, tidak pernah ada yang sepeduli itu sebelumnya. Clarissa yang terus saja bilang kalau dia rindu Jo yang dulu, tanpa pernah mengerti jika keadaannya kini sudah berubah. Dan Papa yang melimpahkan semua tanggung jawab pada pundaknya, hanya karena dia menilai Jo sanggup melakukannya. Tidak ada yang bener-benar memikirkan apa mungkin yang Jo pikul di pundaknya. *** "Je, kamu sudah pulang?" "Aku baru saja sampai di kosku." Jena menjepit ponselnya di antara pundak dan telinga. Tangannya sibuk mengeringkan rambut yang basah dengan selembar handuk. "Bosmu bikin kamu lebur lagi, ya?" nada pria diujung telpon naik satu oktaf. Jena hanya terkekeh mendengarnya. "Enggak. Kerjaan semua orang emang lagi banyak. Kamu tahu 'kan? menjelang audit semua orang akan sibuk." "Pokoknya, kalau bosmu yang nyebelin itu bikin kamu susah, bilang aja. Aku akan datang ke tokomu buat ketemu dia..." "Untuk bikin aku dipecat?" tanya Jena, meski nada bicaranya datar, tapi bibirnya sedang melengkung ke atas sekarang. "Yah, kalau kamu dipecat, aku siap kok menghidupimu! kamu tahu kan usaha papaku sedang naik. Aku bisa kasih kamu semuanya." Kali ini senyum di wajah Jena perlahan memudar. "Aku agak capek, nih. Aku mau istirahat duluan, ya. Besok aku harus bangun pagi." "Baiklah." Tut! Jena menghempaskan tubuhnya di kasur singgel tipis itu. Matanya menatap langit-langit kos, yang dinding bagian pojoknya mulai menghitam karena lembab. Jena bertanya-tanya pada diri sendiri, jika dia terlahir sebagai anak orang kaya, apa dia akan dengan mudahnya menggampangkan usaha orang lain? Hidup memang ironi. Di satu sisi, ada orang yang bisa melakukan apapun yang dia mau dalam hidupnya. Tinggal bilang saja, dan semua bisa dia dapatkan. Di sisi lain, ada orang yang bahkan harus bangun pagi-pagi sekali, menempuh jarak berkilo meter hanya untuk sekedar menyambung hidup. Tidup tidak adil bukan? Yang membuatnya adil ialah; semua orang berpikir begitu.Jena terbangun esokan harinya. Cahaya mentari menyusup lembut dari balik tirai apartemen, memberi sedikit sinar pada ruang yang lampunya sudah dimatikan itu. Jena mengintip ke dalam selimut. Tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun. Ia membalik badan, tak ada Jo di sana. Jena beranjak perlahan, membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran shower. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri, yang terbangun pagi ini di ranjang bosnya. Jena yakin dia pasti sudah gila. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Jena ingin tetap berlama-lama di dalam sini, sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana dia harus berhadapan dengan Jo setelah ini. Namun setelah marenung cukup lama, akhirnya Jena keluar dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Jena sama sekali tidak menyangka jika saat dia membuka pintu kamar mandi, hal yang pertama kali dia dapati adalah Jonathan. Duduk di atas kasur tepat menghadao kamar mandi seolah sedang menungg
Jantung Jena berdegup kencang merasakan hapas Jonathan menyentuh kutnya hangat. Sesuatu di dalam dirinya berteriak, menyuruhnya bangkit dan pergi. Menyadarkan jika Jo sudah bertunangan. Laki-laki itu akan segera menikah. Tapi tubuh Jena justru mengatakan lain. Dia tidak bergerak, Jonathan tahu ini tidak benar. Namun wajahnya terus saja mendekat pada gadis itu. Terlalu dekat. Jena tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula menahan dada Jonathan perlahan melemah. Ia tahu pintu itu masih ada di belakangnya. Jena harusnya berdiri, membukanya, kemudian pergi, lalu pulang dengan kereta terakhir. Besok dia bisa berkerja, dan kembali memanggil Jonathan Pak seperti sebelumnya. Tapi tubuhnya masih tak bergerak. Tatapan mereka terkunci pada satu titik, dengan jarak yang perlahan makin menipis. Jonathan tidak menyentuh lagi, seolah menunggu. Solah memberi waktu dan kesempatan pada Jena untuk menolak. Beberapa detik berlalu, lampu dapur memantul di mata Jena, tapi dia tetap tidak bang
Kini mereka berdua sudah ada di dalam mobil Jonathan, yang membelah pelan jalan kota Alvendere. Pijar lampu-lampu jalan sesekali menyusup dari balik kaca mobil yang gelap. Udara dingin AC mobil itu menusuk bahkan sampai ke balik jaket rajut Jena yang tipis. Dari sudut matanya, Jonathan melirik ke arah gadis itu. Dari pada dingin AC, Jena lebih tersiksa dengan kecanggungan yang menyelimuti setiap sudut ruang di mobil ini. Barang kali hanya Jena saja yang menganggapnya begitu, karena seperti biasanya--Jo selalu diam tanpa ekspresi. Datar dan selalu terlihat tidak berperasaan. Mendapatkan tawaran tumpangan dari pria itu malam ini saja sudah cukup mengejutka. "Sepertinya kamu cukup tertarik dengan menejemen." Suara berat Jonathan membelah keheningan. "Saya selalu ingin mengambil jurusan manejemen bisnis saat kuliah." "Kenapa tidak kamu lakukan?" Kepala Jena menoleh ke arah samping. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi yang Jo tampikan. Tentu saja bagi Jo yang lahir dengan sen
Velmora terlihat lebih terang malam itu. Lampu butik di Arvendale memantul di kaca mobil Jonathan ketika ia berhenti di depan gedung perancang busana langganan keluarga Adipati. Ia hampir lupa, bahwa hari ini dia sudah janji pada Clarissa akan meluangkan waktu untuk fitting baju pernikahan. Clarissa sudah berdiri di depan pintu. Hari ini dia mengenakan gaun putih sederhana, buatan perancang busana kenamaan. Rambutnya diikat setengah. Ia tersenyum begitu melihat Jonathan keluar dari mobil. “Akhirnya kamu datang Jo. Aku pikir kamu akan lupa." Nada suaranya terdengar lega. Seolah ia sempat ragu bahwa Jo akan datang. “Maaf, tadi di toko-" “Tidak apa-apa.” Clarissa memotong cepat, sebelum Jo sempat menyelesaikan kalimatnya. Bahkan terlalu cepat. Clarissa menggenggam lengan Jonathan. "Ayo, masuk!" Ruangan itu hangat. Lampu kuning berpijar lembut menyinari seisi ruangan. Dindingnya penuh kain mahal yang digantung rapi. Seorang asisten datang membawa setelan
Jena sedang terduduk di dalam kamar kosnya yang sempit. Setelah kejadian tadi, tak banyak percakapan yang terjadi antara dirinya dan Dimas di sepanjang sisa perjalanan. Jena masih menghitung beberapa lembar uang yang tergeletak di atas meja kecil, sambil mencoret-coret buku keuangannya beberapa kali. Uang itu adalah tabungan yang berhasil dia kumpulnya selama lebih dari setahun dia berkerja di toko Lentera. Jumlahnya masih jauh dari kata cukup, untuk Jena bisa mendaftar di universitas impiannya. Uang itu kini bahkan harus Jena kurangi untuk membayar biaya kosnya yang tiba-tiba saja naik. *** Langit masih kelabu ketika Jena menaiki tangga keluar stasiun kereta Alvendere. Udara dingin menusuk kulit, padahal cahaya mentari mulai tampak bersinar malu-malu dari balik awan-awan tebal. Jena berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati deretan café yang belum buka dan butik dengan etalase bersih, yang terpajang gaun-gaun cantik di dalamnya. Toko Buku Lentera berdiri di sudut jalan ut
Audit membuat semua orang pulang lebih lambat dari biasanya. Rak-rak yang seharusnya sudah rapi kembali diperiksa. Laporan yang seharusnya sudah selesai sejak sore tadi, harus dicetak ulang sebab formatnya tidak sesuai dengan standar pusat. Rani sudah pamit lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga, begitu pun karyawan lain. Satu per satu bergerak meninggalkan toko, karena kini jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh malam. Lampu utama dimatikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya di dekat kasir dan lorong tengah. Jena masih duduk di meja kasir, menatap layar komputer dengan mata yang mulai perih dan berair. Angka-angka pelanggan tetap itu harus benar sebelum audit datang. Kalau ada satu saja yang salah mereka harus menyusun ulang data dari awal. Ia menarik napas pelan, berdiri mengambil map laporan yang baru saja selesai dicetak. Jena melirik sebentar ke arah kantor Jonatan yang lampunya masih meyala, pintu tidak tertutup rapat. Jena kemudian memutus






