Se connecterAdrian menarik handphone Jessica dan kembali meletakkannya asal di atas meja.
Bola mata wanita itu melebar karena tak terima. Namun mulut Adrian kembali sibuk dengan bibir Jessica yang terbuka karena mau marah.Begitu bibir Adrian menciumnya Jessica menutup mata dan membalas ciuman pria itu lagi.Jessica sungguh tergila-gila dengan ciuman pria itu. Ketagihan, ya Jessica seakan ketagihan dan tak mau ciuman itu berakhir.Ciuman Adrian sungguh memabukkan seRuangan konferensi pers kali ini lebih mewah dari sebelumnya, dan juga wartawan yang ikut lebih banyak dari yang kemarin karena gosip yang baru muncul. Pangeran kesayangan negeri diselingkuhi, sang dokter beralih hati. Adrian menatap kecut berita di layar tab-nya. Pantas semua bersikeras untuk melakukan konferensi pers. Ternyata beritanya semakin tak terkendali. Namun, yang membuat perut Adrian semakin melilit adalah karena ada foto Jessica yang jelas bersama pria itu. Dari awal Adrian tahu kalau hubungan Jessica dan Joe bukan hubungan sembarangan. Mereka sahabat lama, sehingga pria itu pasti memiliki satu bagian di hati Jessica. Walau wanita itu mengatakan kalau mereka hanya sahabat, tapi foto yang ada menyatakan lain. Walaupun sudah menghabiskan bersama dengan Adrian, Joe jelas tetap ada bersama dengan Jessica. Selalu ada, sedangkan Adrian malah menghilang. Walau sebenarnya Adrian lebih tepat dikatakan didorong agar menjauh, tapi ya, Adrian jelas tak ada di sisi Jessica sekar
Dengan gusar Adrian segera mematikan telepon. Walaupun yang diberitahukan Edo bukan informasi yang baru lagi, tetapi tetap saja hati Adrian tidak siap untuk mendengarnya. Pria itu tahu jika tanpa ada kontrak itu, kemungkinan untuk dia bisa bertemu dengan Jessica lebih sulit. Karena itu, dia harus menemukannya benda kecil itu. Seharusnya Jessica akan simpan itu di sini kalau memang dia tidak mau berhubungan lagi dengannya Adrian. Walau Sebenarnya dia mencari tapi sebenarnya ada yang tidak mau menemukan benda kecil itu. Hatinya lega ketika tak menemukan cincin yang dia berikan. Jika Jessica tidak ada di rumahnya, berarti wanita itu pasti di rumah sakit dan masih mengenakan cincin itu. Yah walaupun itu hanyalah hipotesa dari Adrian tapi berbekal dengan itu Adrian dengan gembira keluar dari apartemen Jessica. Sekarang ya sudah pasti ke rumah sakit dan harus berbicara dengan Jessica. Tapi sayangnya, begitu dia turun dari lobi, Adrian segera tertangkap tangan oleh Edo dan diseret pu
Seakan masalahnya belum cukup, Jessica kini malah terperangkap di antara dua pria yang tidak tahu diri. “Nggak tau… dan nggak ikutan!” jawab Jessica sambil berdiri. Wanita itu berdiri lalu segera meninggalkan kantin dengan kesal. Jessica baru saja mau menekan lift, tapi handphonenya berbunyi. “Kamu akan ikut dalam operasi Dokter Mosley,” baca Jessica dalam hati dan wanita itu mendengus. Seharusnya tak boleh begini, tapi biasanya kalau Jessica sudah mendapatkan pesan seperti ini, maka sudah pasti akan terjadi walau Jessica mencoba mengelak. Tanpa sadar jarinya menyentuh cincin bermata biru di jari manisnya. ... Pria itu menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha untuk tetap tidur walau Edo sudah membuka jendelanya besar-besar. “Gue heran ma lo Adrian, umur dah pala 3 loh, tapi kelakuannya kayak bocah!” omek Edo dengan kesal. “Semalam nggak bisa tidur, seka
Kalau sedang bingung rasanya waktu berjalan lama sekali. Walau baru seminggu setelah kejadian itu, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Anehnya, Adrian tak pernah menghubunginya. Sama sekali tak pernah. Jessica memandangi inkubator bayi dan melihat bayi- bayi yang baru lahir tertidur dengan pulasnya. Tidak, tentu saja dia tidak hamil. Setelah beberapa hari pertengkarannya dengan Adrian, bulannya datang. Jessica sungguh lega. Bukannya dia tak suka bayi. Dia sangat menyukai anak kecil karena itu dia dengan jelas memilih bangsal anak-anak dibanding bangsal dewasa untuk dijaga. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk menikah apalagi punya bayi. Jessica masih banyak yang dikejar. Adrian juga sedang di puncak karirnya. Bayi akan merusak semuanya. “Ya kan?” tanya Jessica sambil menatap seorang bayi yang gendut di hadapannya. Bayi itu mengenakan topi rajutan berwarna biru muda dengan bola di ujungnya
Bola mata biru itu dipenuhi air mata. Wanita itu menahannya dengan susah payah air matanya agar tidak tumpah. “Sialan!” maki Jessica sambil menatap dengan dengan penuh amarah dan dengan tangan yang bercincin biru itu, Jessica melempar garpunya ke badan Adrian.Pria itu segera berdiri dan mencoba melindungi dirinya.“Jessie!” panggilnya panik.Dia pikir tadi adalah lamaran yang sangat romantis. Adrian pikir Jessica akan segera menerimanya. Tatapan matanya tertuju pada Jessica dan juga cincin bermata biru yang ada di jemari Jessica. Adrian pikir mereka memiliki perasaan yang sama, apalagi setelah menghabiskan malam bersama, menikah adalah hal yang paling tepat dilakukan.“Sayang…”“Aku punya nama, bukan SAYANG!” jerit Jessica lagi yang membuat Adrian sampai berhenti bernapas. Jessica biasanya selalu tenang dia tak pernah berteriak seperti orang gila seperti ini. Kenapa tiba- tiba dia jadi marah? “Jessica… tenang dulu,” ucap Adrian sambil berusaha menyentuh tangan Jessica. Tapi wani
“Jadwalku begitu emang. Nggak ngerti juga, mungkin aku lupa kalau ada acara kencan, soalnya katanya mao ada iklan jam tangan, jadi mukaku harus bersinar,” ucap Adrian tak begitu peduli, karena dia sedang disibukkan dengan daging di hadapannya.“Dagingnya enak banget loh, lembut, kayak meleleh di mulut!” ucap pria itu dengan mulut penuh.Jessica mendengus dengan kesal dan mulai makan.Seperti biasa mereka makan dan saling melengkapi makanan mereka masing- masing tanpa sadar dan hal itu membuat Edo semakin kesal.“Tak ada orang yang mau putus, saling tukar makanan!” omelnya keras- keras, karena kali ini tak ada rekaman audio seperti waktu lalu. Jessica mena







