LOGINAya pikir, ia akan sulit beradaptasi di tempat baru ini. Awalnya iya. Malam pertama di rumahnya, ia tidak bisa tidur. Karena suara binatang-binatang malam yang Aya takutkan akan masuk melalui celah-celah dinding, kasur Ari yang dingin, dan tempat baru yang membuatnya jadi menoleh ke kiri dan kanan karena asing. Malam itu Tris menemaninya di rumah Abah. Lelaki itu bersedia tidur di ruang tamu. Sampai subuh. Lelaki itu masih ada saat Aya keluar kamar setelah hanya bisa menutup mata sebentar. Alarm tubuhnya yang biasa bangun jam empat memaksanya membuka mata. Dingin menusuk meski tanpa AC central seperti di kamarnya dulu, nyatanya selimut tipis milik Ari tidak bisa menghalau dingin itu. Aya pilek. “Aku sungkan mau buka lemari Ari,” katanya jujur. “Tapi Ari udah ngasih kamu izin, kan?” tanya Tris begitu mereka duduk di kursi yang sama. Setelah Tris membuatkan teh hangat untuk Aya. Aya mengangguk. “Mungkin siang ini aku akan coba beresin.” “Mau saya bantu?” Kepala Aya men
Suara jangkrik dan binatang-binatang malam yang tidak terlihat bentuknya terdengar oleh Aya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Menatap kebun di kiri kanan rumah abahnya. Mencari sumber suara yang memuatnya waspada. Bukan tidak pernah, tapi di tempat yang asing dan dengan suara-suara yang tidak bisa ia kenali bentuk dan jenisnya. Itu sedikit menyeramkan, bukan? Tangannya mendorong pintu mobil kembali menutup. “Jadi kamu yang namanya Aya?”Aya menoleh mendengar suara berat itu. Berbeda dengan suara ramah Papa, suara Abah membuat Aya menoleh kaget. Pelan, ia menarik napas dan berusaha menguasai diri. Ini bukan perjalanan dinas yang membuatnya bisa jauh-jauh ke London. Ini perjalanan yang menguras emosinya. Sepagi tadi ia harus menahan perasaan saat berpisah dengan semua keluarganya, lalu berkendara dengan perasaan hampa dan kehilangan. Setelah itu dihadapkan lagi pada kenyataan kalau ia harus menghadap orang tuanya sendiri. Abahnya, ayahnya yang Ari bilang tidak pernah membuat Ama bahagia
Rumah itu apakah layak disebut rumah?Aya menahan napasnya. Bahkan sepertinya mobil ini lebih mahal dari bangunan di depannya. Dari semua yang bisa Aya hitung, itu bahkan tidak setengahnya. Bagaimana tembok setengah dengan anyaman bambu di sisa tembok sampai ke atap. Atap ringan yang bisa saja terbang saat tertiup angin. Lalu lantai yang masih tanah.Bangunannya memang tidak sekecil itu. Tapi, dengan keadaan seperti ini, pantas kalau Ari bilang Ama tidak pernah bahagia.Ari juga sepertinya tidak.Mesin mobil dimatikan Tris. Lelaki itu kemudian menoleh pada Aya yang terlihat ragu-ragu. Meski ia sudah menjawab dua kali kalau ini benar rumah abahnya Aya. Sungguh, Tris tidak mau menjudge Aya begitu saja. Kalau saja ia tidak tahu di mana Aya tinggal selama ini.Di dalam sebuah rumah yang lebih layak disebut istana. Yang kamarnya saja lebih besar dari ruang tamu di rumahnya. Yang bahkan kamarnya saja punya dua ruangan lain selain ruang untuk menyimpan kasur. Yang lemarinya saja bisa jadi ka
Hamparan hijau kebun teh menyapa Aya yang hampir saja mabuk darat. Benar kata papanya, Maserati-nya tidak akan cocok meski mama bilang kalau mobil itu akan tetap jadi mobil Aya. Sebagai gantinya, Jimny berwarna kuning itu menjadi mobil hadiah dari mama dan papa. Sekarang Aya mengerti, jalan yang berbatu dan kecil, memang tidak cocok untuk kesayangannya. “Sayang banget kalau mobil kamu dipaksa kesini, Aya,” ucap Tris sambil memutar roda kemudi. Kepala Aya mengangguk-angguk. Sejak tadi mereka tidak berhenti menanjak. Jalanan berbatu, kadang berlumpur dan becek, lalu menanjak jauh, dengan belokan-belokan yang membuat perut Aya teraduk-aduk. Ia yang biasa melintasi jalanan Jakarta yang datar dan lurus merasa kalau ini akan membuatnya mabuk. Bedanya juga, di Jakarta kiri kanan adalah beton. Di sini, sepanjang jalan yang ia lewati adalah pepohonan hijau. Sejuk, membuat matanya mengerjap karena belum pernah melihat hutan serapat itu, atau kebunan bambu yang menyeramkan seperti itu. Ia han
Mei memeluk Aya sekali lagi. Putri kecilnya yang tumbuh dewasa bersamanya kini harus ia relakan. Saat semua teman seusianya melepaskan putri mereka dipinang jodohnya, ia malah harus melepaskan Aya untuk kembali pada orang tua kandungnya. Saat semua temannya menyambut menantu, ia harus kehilangannya juga. Zayn juga sudah tidak datang sejak dua minggu yang lalu.Tidak apa-apa untuk Mei. Ari bisa mencari pelan-pelan. Zayn memang bermasalah sejak dengan Aya. Jadi ia akan membiarkan Ari mencari lelaki yang cocok untuknya.Dan untuk Aya, Mei akan selalu menganggapnya sebagai anaknya juga. Tidak ada yang lebih baik dari Cahaya Anindiya. Entah kapan, tapi Mei mengetahui dari asprinya kalau Aya sudah melepaskan nama Sudira dari namanya. Sella yang mengurus semuanya. Sambil menangis dan mengatakan kalau ia tidak akan tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini.Untuk Sella, Aya juga sudah membuat surat rekomendasi yang akan membuatnya diterima di mana saja gadis itu akan memulai kembali. Menjad
Tok! Tok! Tok! Chandra mengangkat wajah sekilas dari dokumen yang ada di depannya saat mendengar pintu ruangannya diketuk. “Masuk,” katanya memberi izin. Lalu kembali menekuri kertas-kertas di depannya. Ia menyangka kalau yang mengetuk adalah Jinni, sekretarisnya. Sudah kali keberapa siang ini pintunya diketuk. “Pak Chandra, saya izin masuk.” Suara itu bukan suara Jinni. Chandra menoleh, mendapati Aya yang masuk dan menutup pintu sambil tersenyum padanya. Kaki dengan louboutin sepuluh centi itu mengetuk lantai marmer saat Aya berjalan. Ruangan Chandra berada sepuluh lantai di atas ruangannya. Ruangan yang tentu saja lebih besar dari ruangannya sendiri. Kakaknya sekaligus CEO Surya Corp berada di sana, duduk di kursi hitam dengan roda aerodinamis di balik meja yang MacBooknya terbuka dan lembaran kertas di depannya. Ia sengaja datang sebelum rapatnya besok. Ia juga sengaja ingin bicara dengan Chandra. Setelah kemarin seharian merasa canggung, setibanya mereka dari Jepang. Sungguh
Melihat apa yang dilakukan Tris, Ari membelalak. Apa-apaan lelaki itu? batinnya sambil mengerutkan alis. Namun ia menghela napas, Ari ingat kalau Tris memang seperti itu. Jadi Ari hanya berdiri di tangga batu paling atas sambil melihat drama yang tersaji di depan matanya.“Kang, janji gak akan apa-
“Aku tunggu jam makan siang di kantor, ya, Ari,” Aya melirik cermin di atas mejadi di foyer rumah, memastikan riasannya sempurna, menutup bekas menangisnya. Ia menarik napas. Lalu mengangguk. Hari terakhir kerja. Besok ia akan punya acara lain.Aya melangkah dalam heelsnya, membuka pintu dan berja
"Cantik banget anak Mama," komentar Mei saat Aya turun dari kamarnya. Aya menatap pantulan dirinya di depan cermin. Setelan trousers putih, kemeja navy, dan crop blazer biru langit, dengan kalung berliontin matahari yang selalu berada di lehernya. Kalung yang dipakaikan oleh Mei sejak ia kecil.
“Gimana, Mah?” Senyum Mei mengembang. Duduk di samping dan meraih tangan Ari, menggenggamnya. “Aya gak marah kok sama kamu,” jawabnya. “Beneran?" Ari sangsi. Mei mengangguk, menenangkan. Tangan Ari dsling meremat dalam genggaman Mei. "Aku merasa bersalah banget sama Aya, Mah. Aku gak mikir dulu







