مشاركة

Bab 5

مؤلف: L.S
Anak ini datang secara tiba-tiba dan pergi pun begitu tiba-tiba.

Ketika Sinta didorong keluar dari ruang gawat darurat, Fajar berdiri di lorong rumah sakit. Jas snelinya masih ternoda darah Sinta.

Dia berjalan kemari dan menggenggam tangan Sinta.

"Sinta, kita masih bisa punya anak lagi. Kamu jangan sedih."

Sinta masih sangat lemas, tapi dia tetap menarik kembali tangannya dari genggaman Fajar.

Dia berkata sambil melihat dinding atas rumah sakit dengan tatapan kosong.

"Kita tidak akan punya anak lagi."

Fajar mengerutkan alis sambil berkata,

"Apa maksudmu?"

Sinta berusaha melepaskan cincin pernikahan dari jari manisnya, lalu melemparkannya ke wajah Fajar dengan kuat.

"Fajar, aku ingin bercerai denganmu!"

"Kenapa? Karena anak itu atau Ratna?"

Fajar menarik napas dalam-dalam. Suaranya dipenuhi kelelahan dan ketidaksabaran.

"Berapa kali harus kukatakan kepadamu? Ratna hanya pasienku."

"Aku tidak pernah berpikir meninggalkanmu. Selama kamu patuh, kamu akan selamanya menjadi istriku."

Siapa yang mau menjadi istrimu yang hanya berstatus secara hukum?!

Setelah memaksa diri untuk duduk, Sinta menatap mata Fajar dan mengucapkan setiap kata dengan jelas.

"Fajar, aku ulangi sekali lagi. Aku mau …."

Sayangnya, sebelum menyelesaikan perkataannya, seorang perawat berlari kemari dengan panik.

"Dr. Fajar! Nona Ratna menyayat pergelangan tangannya di dalam bangsal! Dia sudah tidak sadarkan diri! Anda segera melihat kondisinya!"

Fajar langsung berbalik dan berjalan pergi.

Istrinya yang baru saja mengalami keguguran malah ditinggalkan begitu saja.

Menatap punggung Fajar yang tergesa-gesa, Sinta hanya merasa semuanya begitu konyol.

Dalam pikirannya, Fajar hanyalah duri yang tertancap di dalam hatinya.

Kalau ditinggalkan begitu saja, hatinya akan terus terasa sakit.

Kalau langsung dicabut, darah akan mengalir deras.

Namun sekarang, mau tidak mau sudah harus dicabut.

Sekalipun tubuhnya bersimbah darah, sekalipun rasa sakitnya begitu kuat hingga membuatnya ingin mati ….

Keesokan paginya, Sinta mengganti pakaian pasiennya.

Dengan tubuh yang masih lemah, dia menemukan Fajar di bangsal Ratna.

Dia masih belum sempat membuka mulutnya, selembar kertas sudah dilemparkan ke wajahnya.

"Sinta, kapan kamu menjadi sekejam ini?!" ujar Fajar sambil melihatnya dengan tatapan dipenuhi kekecewaan.

Setelah membuka kertas A4 itu dengan bingung, barulah Sinta menyadari bahwa itu adalah surat yang ditulis Ratna sebelum menyayat pergelangan tangannya.

[Kak Sinta, maaf! Aku tidak tahu kalau kamu sudah hamil. Perkataanmu sangat benar, aku sangat kotor dan tidak tahu malu. Aku adalah pelakor yang menghancurkan keluarga orang lain. Ini semua salahku, aku akan membayar kesalahanku dengan nyawaku.]

Sekilas terlihat seperti permintaan maaf. Akan tetapi, setiap katanya justru menuduh Sinta yang memaksanya sampai ingin mengakhiri hidup.

Fajar menatap Ratna yang tak sadarkan diri di ranjang dengan tatapan kasihan.

Begitu melihat Sinta lagi, kedua matanya sudah dipenuhi tatapan dingin.

"Dia menderita depresi dan kondisi jantungnya juga buruk. Untuk apa kamu memprovokasinya?!"

"Kamu hanya kehilangan sebuah embrio, tapi dia akan kehilangan harapan untuk hidup!"

Bagi Fajar, anak mereka hanyalah sebuah embrio.

Perkataan itu menusuk hati Sinta dengan kejam.

Saat itu adalah musim semi, pepohonan mulai menghijau dan bunga-bunga bermekaran. Angin terasa lembut dan sinar matahari terasa hangat.

Namun, sekarang Sinta justru merasa bahwa dirinya berada di tengah hamparan salju, bahkan jari-jarinya sudah membeku.

Dalam waktu sekejap, dia sudah lupa untuk membela dirinya sendiri bahwa tindakan bunuh diri Ratna sama sekali tidak ada hubungan dengannya.

Sinta bertanya pada Fajar dengan suara serak,

"Fajar, sekarang kamu merasa anak kita yang belum sempat lahir itu tidak sepenting Ratna, ya?”

Fajar mendadak terdiam.

"Fajar ...."

Terdengar suara panggilan yang lemah dari sebelah.

Ratna sudah sadar kembali.

Begitu mendengar suara itu, Fajar seolah-olah tersengat listrik. Dia langsung berbalik dan menggenggam tangan Ratna.

"Aku di sini. Ratna, aku di sini."

Mereka menggenggam tangan satu sama lain dengan erat, bahkan juga saling menatap penuh kasih sayang.

Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang terpisah selama bertahun-tahun karena kesalahpahaman, kemudian akhirnya kembali bersama.

Sinta berdiri sendirian di samping, dia merasa dirinya sangat konyol.

Cinta yang diam-diam selama sepuluh tahun dan juga pernikahan yang berjalan selama lima tahun, ternyata semua itu hanyalah sebuah lelucon.

Sinta tersenyum getir dan menyerahkan setumpuk dokumen kepada Fajar.

"Fajar, aku sudah ingin keluar dari rumah sakit. Ini beberapa dokumen administrasinya. Sebagai anggota keluarga pasien, tolong tanda tangani."

Saat ini, Ratna malah mendengus. "Fajar ... aku kesakitan ...."

Fajar segera menundukkan kepala dan menggenggam tangannya dengan erat. Suaranya pun menjadi sangat lembut.

"Patuhlah. Nanti aku minta obat pereda nyeri untukmu, biar kamu tidak begitu sakit lagi."

Fajar mengeluarkan pena dari saku jas snelinya. Tanpa melihat isi dokumen itu, dia membubuhkan tanda tangannya dengan cepat di halaman terakhir setiap dokumen.

"Sudah."

Dia menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Sinta. Lalu, dia menatap wajah Sinta dengan tatapan acuh tak acuh sambil mengerutkan alis.

"Cepat pulang dan berbaring saja. Istirahat yang cukup selama beberapa hari ini."

Sinta tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia mengambil dokumen-dokumen itu, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Andai saja Fajar memberikan sedikit saja perhatian kepada Sinta, dia pasti akan menyadari ....

Di antara tumpukan dokumen yang membutuhkan tanda tangan anggota keluarga pasien itu, Sinta menyelipkan satu dokumen lain, yaitu surat perjanjian perceraian.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 20

    Wajah Sinta semakin merah.Saat ini, dokter berjalan keluar dari ruangan dan melepaskan maskernya."Lukanya sudah ditangani, tidak ada masalah besar.""Pasiennya sudah sadar dan meminta untuk bertemu dengan Sinta.""Siapa di antara kalian yang bernama Sinta?"Sinta menghela napas lega dan segera masuk ke bangsal.Melihat Gilbert yang menatapnya tanpa mengedipkan mata, dia langsung memasang wajah dingin sambil bertanya, "Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tersenyum polos. "Sengaja apa?""Sesuai kemampuanmu, kamu pasti bisa menahan Ratna dengan satu tangan. Kenapa kamu malah menggunakan tubuhmu sendiri untuk melindungiku?"Mata Sinta langsung memerah."Kamu ingin membuatku khawatir. Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tergagap. Dalam waktu lama, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Sinta menepuk dahinya. "Aku tidak sesulit itu untuk dikejar. Lain kali, jangan mempertaruhkan nyawamu seperti ini."Gilbert menggenggam tangannya. "Jadi maksudmu … aku sudah berhasil mengejarmu?"Sinta tidak menja

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 19

    Mata Sinta langsung memerah. Dia langsung memeluk Gilbert dengan panik."Jangan bicara sembarangan! Kamu tidak akan mati! Kamu pasti tidak akan mati!"Tim medis segera berlari kemari."Anggota keluarga pasien, mohon minggir dulu."Sinta terpaksa melepaskan pelukannya dan mundur ke belakang.Sinta melihat mereka segera menangani lukanya dan mengangkatnya ke atas tandu.Sinta kembali teringat adegan malam itu, ketika Gilbert diangkat keluar dari reruntuhan dalam kondisi kritis, nyawanya berada di ujung tanduk.Hatinya kembali menegang. Dia pun mengikuti mereka, sampai ke rumah sakit.Gilbert sudah tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke ruang gawat darurat.Sinta menunggu di luar.Tak lama kemudian, terdengar suara sepatu hak tinggi dari ujung lorong.Sinta pun mengangkat kepalanya.Terlihat seorang wanita berjalan menghampirinya. Wanita itu berambut pendek, sementara bentuk alis sedikit menyerupai Gilbert.Begitu melihat Sinta, pupil mata wanita itu langsung menyusut."Ternyata kamu.

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 18

    Sinta tidak menjawab dan terus naik ke pesawat.Dia tahu dengan sangat jelas bahwa dirinya tidak akan pernah memaafkan Fajar.Pria itu telah membuatnya terluka, menyesal dan terus kehilangan sesuatu yang berharga.Kalau sampai memaafkannya, itu berarti mengkhianati dirinya sendiri.Mungkin suatu hari nanti, dia akan melupakan semuanya dan juga melepaskannyal. Akan tetapi, dia tidak akan pernah memaafkan Fajar.Tidak membalas dendam kepadanya sudah merupakan bentuk belas kasih terbesar yang bisa dia berikan.Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.Di balik jendela pesawat, landasan Negara X, ruang tunggu yang kelabu dan bayangan pohon-pohon palem melesat cepat ke belakang.Sinta tetap tidak menoleh ke belakang.Dalam penerbangan selama lebih dari sepuluh jam, Sinta pun tertidur sejenak.Namun, begitu turun dari pesawat, dia langsung tertegun.Di area penjemputan ternyata ada sekelompok orang yang memegang papan bertuliskan 'Sinta'.Papan-papan itu dibuat dengan sangat teliti. Tepi

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 17

    Paru-paru kiri Gilbert mengalami cedera dan memerlukan perawatan rehabilitasi dalam jangka panjang. Karena itu, pihak militer pun menyuruh pulang untuk memulihkan diri.Surat penugasan baru untuk Sinta juga datang tepat di hari yang sama ketika pemberitahuan pemulangan Gilbert disampaikan.Serangkaian laporan Sinta dari Negara X telah dikutip ulang oleh berbagai media besar di dalam negeri lebih dari dua puluh juta kali.Terlebih lagi, liputan langsung yang dia kawal selama tiga hari tiga malam itu dinilai oleh kalangan profesional sebagai 'liputan perang paling menghidupkan suasana tahun ini'.Setelah melakukan rapat, stasiun tempat Sinta bekerja memutuskan untuk memanggilnya pulang dan mengangkatnya sebagai wakil kepala Departemen Komentar Berita.Dia menjadi wakil kepala departemen termuda dengan karier yang nyaris tak terbatas.Pada akhirnya, Sinta dan Gilbert pulang ke tanah air dengan penerbangan yang sama.Sesaat sebelum naik pesawat, Sinta melihat keberadaan Fajar.Pria itu sen

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 16

    Operasi berlangsung selama lebih dari sepuluh jam.Pada pukul empat dini hari, tirai tenda dibuka dari dalam. Fajar pun berjalan keluar.Langkahnya tampak agak sempoyongan. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas.Begitu melihat Sinta, dia memaksa diri untuk mengeluarkan sebuah senyuman."Semua serpihan peluru sudah dikeluarkan. Dia kehilangan banyak darah, tapi banyak orang yang datang mendonorkan darah, jadi transfusinya bisa dilakukan tepat waktu. Untuk saat ini, tanda-tanda vitalnya sudah stabil.""Terima kasih," ujar Sinta dengan tulus.Terlepas dari semua persoalan di antara mereka, dia selalu mengagumi kemampuan profesional Fajar sebagai seorang dokter."Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah seorang dokter. Ini memang sudah menjadi tugasku."Fajar tahu bahwa dia seharusnya berbalik dan berjalan pergi.Namun, begitu melihat wajah Sinta yang dipenuhi kecemasan, dia tanpa sadar tidak bisa melangkahkan kakinya.Dia berdeham sebelum bertanya, "Apa hubunganmu dengan Kap

  • Pada Akhirnya, Kau Menyia-nyiakan Kami   Bab 15

    Kapten yang dinyatakan hilang adalah Gilbert.Sinta berdiri di sebelah mobil siaran, kemudian menggenggam mikrofon sambil melaporkan perkembangan terbaru di depan kamera.Selama ini, dia sudah berkali-kali terjun meliput berbagai bencana.Banjir, gempa bumi, konflik, hingga serangan udara.Setiap kali, dia selalu menggenggam mikrofon dengan stabil dan menjaga suaranya tetap tenang.Berita tidak membutuhkan air mata seorang wartawan.Namun, kali ini adalah pertama kalinya ada sahabatnya sendiri yang berada di tengah bencana.Dia menyampaikan jumlah korban tewas dan luka-luka, perkembangan pencarian dan penyelamatan, serta tanggapan dari masyarakat internasional.Suaranya tetap stabil, setiap kata terucap dengan jelas, tidak ada bedanya dengan setiap laporan yang pernah dia laporkan.Namun, sekarang hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa jantungnya sedang berdebar sangat kencang.Setiap kali dia mengucapkan kata 'orang yang hilang', hatinya terasa sangat sakit.Begitu kamera berhenti mere

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status