تسجيل الدخولWajah Sinta semakin merah.Saat ini, dokter berjalan keluar dari ruangan dan melepaskan maskernya."Lukanya sudah ditangani, tidak ada masalah besar.""Pasiennya sudah sadar dan meminta untuk bertemu dengan Sinta.""Siapa di antara kalian yang bernama Sinta?"Sinta menghela napas lega dan segera masuk ke bangsal.Melihat Gilbert yang menatapnya tanpa mengedipkan mata, dia langsung memasang wajah dingin sambil bertanya, "Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tersenyum polos. "Sengaja apa?""Sesuai kemampuanmu, kamu pasti bisa menahan Ratna dengan satu tangan. Kenapa kamu malah menggunakan tubuhmu sendiri untuk melindungiku?"Mata Sinta langsung memerah."Kamu ingin membuatku khawatir. Kamu sengaja, 'kan?"Gilbert tergagap. Dalam waktu lama, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Sinta menepuk dahinya. "Aku tidak sesulit itu untuk dikejar. Lain kali, jangan mempertaruhkan nyawamu seperti ini."Gilbert menggenggam tangannya. "Jadi maksudmu … aku sudah berhasil mengejarmu?"Sinta tidak menja
Mata Sinta langsung memerah. Dia langsung memeluk Gilbert dengan panik."Jangan bicara sembarangan! Kamu tidak akan mati! Kamu pasti tidak akan mati!"Tim medis segera berlari kemari."Anggota keluarga pasien, mohon minggir dulu."Sinta terpaksa melepaskan pelukannya dan mundur ke belakang.Sinta melihat mereka segera menangani lukanya dan mengangkatnya ke atas tandu.Sinta kembali teringat adegan malam itu, ketika Gilbert diangkat keluar dari reruntuhan dalam kondisi kritis, nyawanya berada di ujung tanduk.Hatinya kembali menegang. Dia pun mengikuti mereka, sampai ke rumah sakit.Gilbert sudah tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke ruang gawat darurat.Sinta menunggu di luar.Tak lama kemudian, terdengar suara sepatu hak tinggi dari ujung lorong.Sinta pun mengangkat kepalanya.Terlihat seorang wanita berjalan menghampirinya. Wanita itu berambut pendek, sementara bentuk alis sedikit menyerupai Gilbert.Begitu melihat Sinta, pupil mata wanita itu langsung menyusut."Ternyata kamu.
Sinta tidak menjawab dan terus naik ke pesawat.Dia tahu dengan sangat jelas bahwa dirinya tidak akan pernah memaafkan Fajar.Pria itu telah membuatnya terluka, menyesal dan terus kehilangan sesuatu yang berharga.Kalau sampai memaafkannya, itu berarti mengkhianati dirinya sendiri.Mungkin suatu hari nanti, dia akan melupakan semuanya dan juga melepaskannyal. Akan tetapi, dia tidak akan pernah memaafkan Fajar.Tidak membalas dendam kepadanya sudah merupakan bentuk belas kasih terbesar yang bisa dia berikan.Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.Di balik jendela pesawat, landasan Negara X, ruang tunggu yang kelabu dan bayangan pohon-pohon palem melesat cepat ke belakang.Sinta tetap tidak menoleh ke belakang.Dalam penerbangan selama lebih dari sepuluh jam, Sinta pun tertidur sejenak.Namun, begitu turun dari pesawat, dia langsung tertegun.Di area penjemputan ternyata ada sekelompok orang yang memegang papan bertuliskan 'Sinta'.Papan-papan itu dibuat dengan sangat teliti. Tepi
Paru-paru kiri Gilbert mengalami cedera dan memerlukan perawatan rehabilitasi dalam jangka panjang. Karena itu, pihak militer pun menyuruh pulang untuk memulihkan diri.Surat penugasan baru untuk Sinta juga datang tepat di hari yang sama ketika pemberitahuan pemulangan Gilbert disampaikan.Serangkaian laporan Sinta dari Negara X telah dikutip ulang oleh berbagai media besar di dalam negeri lebih dari dua puluh juta kali.Terlebih lagi, liputan langsung yang dia kawal selama tiga hari tiga malam itu dinilai oleh kalangan profesional sebagai 'liputan perang paling menghidupkan suasana tahun ini'.Setelah melakukan rapat, stasiun tempat Sinta bekerja memutuskan untuk memanggilnya pulang dan mengangkatnya sebagai wakil kepala Departemen Komentar Berita.Dia menjadi wakil kepala departemen termuda dengan karier yang nyaris tak terbatas.Pada akhirnya, Sinta dan Gilbert pulang ke tanah air dengan penerbangan yang sama.Sesaat sebelum naik pesawat, Sinta melihat keberadaan Fajar.Pria itu sen
Operasi berlangsung selama lebih dari sepuluh jam.Pada pukul empat dini hari, tirai tenda dibuka dari dalam. Fajar pun berjalan keluar.Langkahnya tampak agak sempoyongan. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas.Begitu melihat Sinta, dia memaksa diri untuk mengeluarkan sebuah senyuman."Semua serpihan peluru sudah dikeluarkan. Dia kehilangan banyak darah, tapi banyak orang yang datang mendonorkan darah, jadi transfusinya bisa dilakukan tepat waktu. Untuk saat ini, tanda-tanda vitalnya sudah stabil.""Terima kasih," ujar Sinta dengan tulus.Terlepas dari semua persoalan di antara mereka, dia selalu mengagumi kemampuan profesional Fajar sebagai seorang dokter."Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah seorang dokter. Ini memang sudah menjadi tugasku."Fajar tahu bahwa dia seharusnya berbalik dan berjalan pergi.Namun, begitu melihat wajah Sinta yang dipenuhi kecemasan, dia tanpa sadar tidak bisa melangkahkan kakinya.Dia berdeham sebelum bertanya, "Apa hubunganmu dengan Kap
Kapten yang dinyatakan hilang adalah Gilbert.Sinta berdiri di sebelah mobil siaran, kemudian menggenggam mikrofon sambil melaporkan perkembangan terbaru di depan kamera.Selama ini, dia sudah berkali-kali terjun meliput berbagai bencana.Banjir, gempa bumi, konflik, hingga serangan udara.Setiap kali, dia selalu menggenggam mikrofon dengan stabil dan menjaga suaranya tetap tenang.Berita tidak membutuhkan air mata seorang wartawan.Namun, kali ini adalah pertama kalinya ada sahabatnya sendiri yang berada di tengah bencana.Dia menyampaikan jumlah korban tewas dan luka-luka, perkembangan pencarian dan penyelamatan, serta tanggapan dari masyarakat internasional.Suaranya tetap stabil, setiap kata terucap dengan jelas, tidak ada bedanya dengan setiap laporan yang pernah dia laporkan.Namun, sekarang hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa jantungnya sedang berdebar sangat kencang.Setiap kali dia mengucapkan kata 'orang yang hilang', hatinya terasa sangat sakit.Begitu kamera berhenti mere







