Short
Bulan yang Tak Lagi Menyinari Kepulanganmu

Bulan yang Tak Lagi Menyinari Kepulanganmu

Par:  FrydaComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Chapitres
12Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Di musim panas tahun 1985. Setelah banjir mulai surut, Laras Wening mengurus pemakaman putrinya, Maya yang baru genap berusia satu tahun. Dia melakukannya sendirian dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Sejak hari itu, seluruh orang di kompleks perumahan keluarga kepolisian menyadari bahwa Laras telah berubah. Pagi hari, dia tidak lagi mencuci seragam Bram Wijaya hingga bersih lalu menggantungnya di bawah teras rumah. Siang hari, dia tidak lagi menghabiskan waktu dua jam untuk memasak sup bergizi, kemudian membawanya ke kantor polisi agar Bram bisa memulihkan dan menjaga kondisi tubuh. Malam hari, dia tidak lagi duduk di bawah lampu jalan untuk menjahit pakaian Bram sambil menunggu kepulangannya dengan cemas.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

Pria itu mengenakan seragam polisi berwarna cokelat muda yang rapi dan tegap, membuat wajahnya yang memang sudah tampan terlihat semakin gagah dan berwibawa. Namun, kalau diperhatikan lebih saksama, terlihat jelas janggut tipis yang mulai tumbuh di dagunya, mata yang dipenuhi urat-urat merah, serta kelelahan yang terpancar nyata.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu mengalami kecelakaan mobil?"

Raut wajahnya tampak khawatir, tetapi nada suaranya mengandung teguran. Setelah berjalan menghampiri Laras, dia langsung berjongkok di hadapannya dan hendak membantunya memakaikan sepatu.

Namun, kaki Laras justru sedikit meringkuk dan menghindari sentuhannya.

Begitu tangannya menggapai ruang kosong, Bram pun mengangkat kelopak matanya sambil mengerutkan alis. Tatapan matanya bertemu dengan mata Laras yang setenang genangan air tanpa riak.

"Ini juga bukan masalah besar. Lagian, pekerjaanmu lebih penting," ucap Laras dengan nada suara yang sangat datar. Setelah mengenakan sepatu, dia pun berdiri dan berjalan keluar sambil mengambil surat keterangan pulang dari rumah sakit.

Melihat punggungnya yang terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya, hati Bram tiba-tiba diliputi kegelisahan.

Kini, dia hanya merasa bahwa Laras ... sepertinya sudah berubah.

Bram mengikutinya dari belakang. Dia melihat Laras sendirian mengurus prosedur kepulangan dari rumah sakit, mengambil obat di loket, lalu berjalan ke halte bus di depan rumah sakit untuk menunggu bus.

Padahal dia berdiri tepat di belakangnya. Namun, Laras tidak menoleh untuk bermanja kepadanya. Dia tidak lagi mengeluh karena Bram datang terlambat. Bahkan, dia juga tidak lagi bersandar di dalam pelukannya sambil menyentuh bulu-bulu halus di dagunya, kemudian mengingatkannya untuk menjaga kesehatan dan jangan sampai terlalu memaksakan diri demi pekerjaan.

Tiba-tiba, rasa gelisah dan kesal memenuhi hati Bram. Dia melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Laras, kemudian mengatup kan bibir sambil berkata dengan suara rendah, "Kamu lagi marah karena kecelakaan mobil atau masalah Maya ...."

"Bukan." Laras langsung memotong perkataannya. Dia perlahan-lahan menarik tangannya dari genggaman Bram. Setelah itu, dia berkata dengan nada acuh tak acuh, "Bram, aku tidak ingin membicarakan lagi hal-hal yang sudah berlalu."

Telapak tangannya kembali menggapai ruang kosong. Bram dengan gelisah mengulurkan tangan dan hendak meraih tangan Laras lagi. "Kalau begitu, kenapa kamu …."

Bus tiba di halte.

Tanpa meliriknya sedikit pun, Laras berbalik dan naik ke dalam bus tanpa ragu-ragu, kemudian berjalan mengikuti arus penumpang hingga berdiri di bagian tengah.

Bram mengerucutkan bibir dan kemudian menyusulnya. Dia menyelinap ke belakangnya sambil menggunakan tubuh yang tinggi untuk

menghalangi orang-orang di sekitar agar tidak berdesakan dengannya.

Melihat pemandangan di luar jendela yang terus berlalu dan merasakan kehangatan tubuh Bram di belakang punggungnya, Laras tanpa sadar teringat momen lima tahun lalu di mana dirinya sendiri pertama kalinya ketemu dengan Bram.

Hari itu, sanggar kesenian tempatnya bekerja sedang libur. Laras membawa kupon kain yang telah dikumpulkannya selama ini ke toko koperasi untuk membeli rok model terbaru.

Sesampainya di depan toko, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang di jalan 'tangkap pencuri'. Di tengah kerumunan yang kacau, seorang pria berseragam polisi melompat dan menendang seorang pria yang sedang melarikan diri hingga terjatuh, kemudian segera meringkusnya.

Ketika pria itu mengangkat kelopak matanya, tatapannya yang tegas membuat Laras terpaku di tempat semula.

Saat itu, Laras merasa bahwa polisi ini sangat galak dan menyeramkan. Akan tetapi, dia justru mengingat wajah dan sorot matanya dengan sangat jelas.

Pertemuan kedua mereka terjadi ketika Bram memanjat ke atap rumah untuk menyelamatkan seorang anak perempuan yang terjebak di sebuah bangunan. Saat hendak turun, dia malah terpeleset dan jatuh. Menghadapi situasi seperti itu, dia justru tidak melepaskan anak perempuan itu dari pelukannya.

Hari itu, lengan Bram berlumuran darah, tetapi dia tetap tersenyum lembut sambil mengusap rambut anak perempuan itu. Dengan sorot mata yang berbinar, Laras menyaksikan kejadian itu di sebelah. Tanpa disadari, jantungnya tiba-tiba terasa seperti berhenti berdetak sesaat.

Pertemuan ketiga mereka terjadi ketika rombongan kesenian datang ke kantor kepolisian untuk mengadakan pertunjukan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan.

Laras menari di atas panggung. Sementara itu, Bram duduk di antara para penonton dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ketika pandangan mereka saling bertatapan, jantung Laras berdebar semakin kencang dan telinganya memerah.

Sejak hari itu, Laras pun mendapat kabar bahwa Bram sedang melakukan kencan buta. Jadi, dia meminta bantuan bibinya yang juga bekerja di lembaga penegak hukum untuk menjadi mak comblang dan menjodohkan mereka.

Pada hari kencan buta itu, Bram duduk di hadapannya dan berkata dengan serius, "Mbak Laras, pekerjaanku agak sensitif dan juga sangat sibuk. Dalam urusan keluarga, mungkin aku akan kesulitan memberikan perhatian. Apa kamu keberatan?"

"Aku tidak keberatan!" jawab Laras tanpa ragu. Telinganya pun memerah.

Mendengar jawaban itu, Bram langsung mengangguk. "Aku akan memperlakukanmu dengan baik."

Setelah menikah, Bram memang memperlakukannya dengan baik. Akan tetapi, dia juga sangat sibuk.

Laras mengurus rumah sendirian. Ketika arang habis, bola lampu rusak atau atap rumah bocor, Bram selalu tidak sempat pulang tepat waktu untuk menanganinya. Sebab itu, Laras pun menggulung lengan bajunya dan belajar menangani semuanya.

Bram adalah orang yang suka menolong. Setiap kali mendapat tunjangan dari tempat kerjanya, dia selalu memberikannya kepada tetangga yang lebih membutuhkan. Laras pun selalu mendukungnya tanpa sedikit pun mengeluh.

Di bulan kelahiran putri mereka, Bram ditugaskan ke luar kota untuk membantu menangani kasus besar. Dia baru sempat pulang setelah masa nifas Laras berakhir.

Melihat mata Bram yang dipenuhi urat merah serta rasa bersalah yang tidak bisa disembunyikan, Laras hanya menekan semua perasaan di dalam hati dan tidak menyalahkannya sedikit pun.

Hari itu, Bram memeluknya dengan erat dan berjanji akan meluangkan lebih banyak waktu untuk keluarga.

Namun, dia mengingkari janjinya.

Kesibukannya semakin bertambah setelah tempat kerjanya menugaskan seorang anak didik untuk dibimbing olehnya.

Polisi wanita yang bernama Salsa Kirana itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'Pak Guru' dengan nada suara yang manis. Akan tetapi, dia selalu melakukan kesalahan dan membuat masalah dalam pekerjaan, sehingga Bram harus membantunya menangani semuanya.

Seiring berjalannya waktu, Bram yang awalnya enggan membicarakannya pun perlahan-lahan menatapnya dengan senyum dan kasih sayang yang bahkan tidak disadarinya.

Menghadapi masalah itu, Laras pernah menangis dan bertengkar dengan Bram. Akan tetapi, Laras justru ditegur karena dianggap tidak memahami keadaan.

"Laras, Salsa adalah rekan seperjuanganku, rekan kerjaku dan juga saudaraku. Tidak pernah ada hubungan yang tidak pantas di antara kami. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Jadi, jangan membuat keributan lagi."

Hingga setengah bulan yang lalu, ketika banjir melanda, Bram sibuk mengevakuasi warga, sementara Laras dan putri mereka yang baru genap berusia satu tahun justru menjadi orang terakhir yang dievakuasi olehnya.

Laras berdiri di atap rumah sambil menggendong Maya. Mereka dengan cemas menunggu bala bantuan.

Namun, ketika Bram bergegas menuju mereka, seorang anak laki-laki yang sudah berhasil diselamatkan tiba-tiba jatuh ke dalam air. Salsa berusaha menyelamatkannya, tetapi kakinya justru mengalami kram di tengah arus.

Di saat-saat genting, Bram langsung berbalik dan menyelamatkan Salsa tanpa ragu-ragu.

Tepat pada saat itu, gelombang besar menerjang, kemudian menyeret Laras dan putrinya hingga hanyut terbawa arus. Ketika Laras sadar kembali, putrinya yang baru genap berusia satu tahun sudah tidak bernapas lagi.

Sementara di luar ruangan, Bram sedang menghibur Salsa yang terus menyalahkan dirinya sendiri. "Jangan menangis lagi, kamu tidak salah. Kamu sama sekali tidak perlu bertanggung jawab atas kejadian ini dan tidak perlu merasa bersalah."

Mendengar perkataan itu, Laras tersenyum hingga seluruh tubuhnya gemetar. Air matanya pun mengalir deras tanpa henti.

Dia duduk termenung sepanjang malam, lalu menyelipkan surat perjanjian perceraian ke dalam dokumen kremasi Maya dan meminta Bram untuk menandatanganinya.

Pada hari pemakaman putri mereka, Bram hanya datang sebentar, lalu buru-buru pergi karena dipanggil oleh Salsa.

Setelah Bram pergi, Laras sudah melakukan dua hal.

Hal pertama yang dia lakukan adalah pergi ke kantor kelurahan untuk menyerahkan surat perjanjian perceraian dan mengajukan permohonan cerai.

Hal kedua yang dia lakukan adalah mengajukan diri kepada rombongan kesenian untuk mengikuti program pertukaran dan belajar di Moskow selama tiga tahun.

Begitu kedua hal itu selesai ditangani, Laras akan segera meninggalkan Bram dan meninggalkan rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama lima tahun.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
17
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status