Share

Bab 4

Author: Jubei
Keesokan harinya, setelah mengetahui rumah kami dijual, Owen segera pulang.

Begitu masuk, dia langsung menarikku dari tumpukan koper, “Nora, apa maksudmu menjual rumah kita? Kamu sudah gila?”

Emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.

Aku mencibir dingin, lalu mengangkat tangan dan menamparnya.

Rumah? Dia masih punya muka untuk menyebut tempat ini sebagai rumah?

“Owen, mempermainkanku seperti orang bodoh memang menyenangkan, ya?” Bekas lima jariku segera tercetak di pipinya.

Namun, dia tidak marah.

Seperti setiap kali kami bertengkar, dia justru melunakkan nada suaranya lebih dulu, “Sudah selesai memukulku? Sudah puas? Kuakui, aku memang salah karena telah membohongimu. Tetapi kita sudah bersama selama 7 tahun. Mana mungkin hubungan ini bisa berakhir begitu saja?”

“Nyawaku ini adalah milikmu. Bagaimana mungkin aku benar-benar tega mengkhianatimu?”

Aku sudah muak mendengar kata-kata munafik itu dan berbalik hendak pergi.

Namun Owen menghalangi jalanku, lalu tiba-tiba kehilangan kendali dan memelukku erat.

“Eva adalah putri wakil direktur perusahaan. Sebelum ayahnya meninggal, beliau memintaku untuk menjaganya.”

“Kuakui ... aku memang hina karena akhirnya menjalin hubungan dengannya.”

“Aku juga pernah berpikir untuk mengakhirinya. Tetapi Eva mengidap gangguan kecemasan akibat perpisahan yang sangat parah. Setiap kali mengajaknya putus, dia selalu menyakiti dirinya sendiri. Aku benar-benar tidak sanggup melihat sesuatu terjadi padanya.”

Dia membenamkan wajahnya ke rambutku, “Nora, aku tidak pernah berniat berpisah denganmu. Kamu dan Eva sama-sama wanita yang baik.”

“Kalian berdua adalah orang yang paling berarti bagiku. Aku tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian.”

“Anggap saja kamu tidak pernah mengetahui semua ini dan kita tetap hidup seperti dulu. Aku akan menjalankan tanggung jawabku, dan apa yang menjadi hakmu tidak akan berkurang sedikit pun. Boleh?”

Aku sampai muak mendengar ucapannya.

Namun, Owen mengira hatiku mulai luluh. Dia bangkit dan berjalan menuju dapur.

“Kamu pasti belum makan seharian. Aku akan membuat makanan kesukaanmu.”

Ketika Owen baru melangkah masuk ke dapur ....

Brak!

Pintu rumah ditendang hingga terbuka oleh Liam.

Sebelum sempat bereaksi, Mia sudah menerjangku dan menamparku dengan keras.

“Nora! Di mana kamu menyembunyikan bayinya?!”

Eva menyusul dari belakang. Begitu melihatku, dia langsung berlutut di hadapanku.

“Dokter Reed, kumohon ... kembalikan bayinya kepadaku! Aku rela mengembalikan Owen padamu. Kumohon, jangan sakiti anakku ....”

Kehangatan di wajah Owen pun menghilang tanpa jejak, “Apa katamu? Anaknya hilang?”

“Eva tadi membawa bayinya untuk imunisasi. Setelah selesai membayar dan kembali, anak itu sudah tidak ada!”

Mata Mia memerah karena marah, “Kalau bukan dia, siapa lagi yang tega menculik bayi yang baru berusia 1 bulan?”

Mendengar itu, urat-urat di dahi Owen langsung menonjol. Dia menerjang ke arahku dan mencekik leherku sekuat tenaga.

“Kamu yang menyuruh orang menculik bayiku? Nora, kamu sudah gila?!”

Leherku terasa seperti akan dipatahkan. Aku berusaha mati-matian melepaskan jarinya sambil berkata dengan suara serak, “Bukan aku ... aku ini seorang dokter. Mana mungkin menculik seorang bayi?”

Eva terduduk lemas di lantai sambil menangis histeris “Dokter Reed, kumohon ... jika terjadi sesuatu pada anakku, aku juga tidak sanggup hidup lagi ....”

Owen melemparkanku ke samping.

Matanya dipenuhi urat merah, “Cepat katakan!”

“Sudah kubilang bukan aku! Kenapa kalian tidak pernah mau percaya padaku?”

“Kalau bukan kamu, siapa lagi?!”

Liam berdiri di samping. Wajah yang dulu selalu membelaku kini hanya menyisakan sikap dingin.

“Kak. Jika Kakak masih tidak mau berkata jujur, aku hanya bisa menempuh jalur hukum.”

Melihatku terus menggeleng, amarah Mia meledak.

Dia menjambak rambutku lalu menyeretku ke gudang. Dengan cekatan, dia membuka lemari dan mengambil sebuah defibrilator, lalu menempelkan bantalan elektrodanya ke tubuhku.

“Nora, aku benar-benar salah menilaimu! Bayinya baru berusia 1 bulan! Kenapa kamu tega melakukan ini?”

“Kamu benar-benar tidak mau bicara dan memaksaku menggunakan cara ini?”

Mia tahu aku paling takut terhadap listrik, juga tahu itulah cara tercepat memaksaku mengaku.

Namun ... bagaimana mungkin aku mengakui sesuatu yang memang tidak pernah kulakukan?

“Nora, kamulah yang memaksa kami!”

Kesabarannya habis. Tanpa ragu, Mia langsung menekan tombol pelepas kejut.

Arus listrik segera menghantam seluruh tubuhku. Tubuhku terangkat seperti boneka yang talinya diputus. Lalu terhempas keras ke lantai.

Bagian belakang kepalaku membentur lantai hingga pandanganku pun memutih.

Sesaat kemudian ... cairan hangat perlahan mengalir di sepanjang paha bagian dalamku.

Semua orang langsung terpaku.

“Nora ... kamu ....”

Namun saat itu juga, suara polisi terdengar dari ruang tamu.

“Apakah Anda Nona Frank? Anaknya sudah ditemukan! Mohon pihak keluarga segera kembali ke rumah sakit.”

Bruk!

Defibrilator di tangan Mia jatuh ke lantai.

Wajah semua orang langsung dipenuhi kegembiraan karena akhirnya anak itu ditemukan. Mereka saling berdesakan keluar ruangan dan bergegas meninggalkan rumah.

Tidak seorang pun menoleh kepadaku.

Aku hanya bisa menatap kosong noda merah di gaunku yang semakin lama semakin melebar. Air mataku akhirnya jatuh.

Beberapa jam kemudian ... mereka pulang sambil menggendong bayi.

Begitu memasuki ruang tamu ... mereka melihat genangan darah yang memenuhi lantai. Serta laporan hasil pemeriksaan dan sebuah USB yang tergeletak di atas meja.

Kue stroberi yang mereka bawa sebagai permintaan maaf ... terlepas dan jatuh menghantam lantai.

Owen membeku sesaat saat mengambil laporan pemeriksaan itu. Wajahnya segera memucat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 8

    “Maaf ... akulah yang telah membunuh anak pertama kita dengan tanganku sendiri.”Sambil berkata demikian, Owen mengangkat tangannya dan menampar wajahnya sendiri berkali-kali.“Maaf ... maaf, Nora. Aku bajingan ... aku benar-benar bukan manusia ....”“Maukah kamu memberiku satu kesempatan lagi? Aku ... aku ingin menebus semua kesalahanku.”Sinar matahari senja menembus jendela, menyinari sosok Owen yang tampak begitu mengenaskan.Tanpa sadar, aku teringat saat pertama kali bertemu dengannya.Saat itu juga di rumah sakit, di sebuah ruang rawat.Di matanya terpancar keputusasaan yang masih menyisakan secercah harapan. Sambil menggenggam tanganku, dia pun berkata, “Dokter Reed, tidak apa-apa. Jika Anda tidak bisa menyembuhkan saya pun tidak apa-apa.”Waktu itu aku baru kembali setelah ditugaskan di rumah sakit medan perang.Aku yang masih muda, penuh keyakinan dan semangat, tersenyum lalu berkata kepadanya, “Tidak. Aku yakin 100 persen bisa menyembuhkan penyakitmu.”Namun siapa sangka, pe

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 7

    Saat rasa sakit yang menusuk menjalar dari punggungnya, Mia akhirnya mengerti makna ucapan Nora tempo hari.[Liam sedikit banyak mewarisi sifat ayahku yang dingin dan tidak setia. Mia, jangan pernah terlalu dikuasai perasaan ….]Dia juga baru memahami niat baik Nora yang dulu mati-matian menentangnya terburu-buru menikah dengan Keluarga Reed.[Mia, aku tidak akan menghalangimu mengejar cinta dan kebahagiaanmu. Tetapi ada yang ingin kukatakan. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berdiri di pihakmu, meski orang itu adalah adik kandungku sendiri ….]Namun saat itu, betapa bodohnya dia mengira Nora memandang rendah dirinya sebagai sahabat sekaligus adik ipar.Mia mengira Nora meremehkannya karena dia hanyalah anak yatim yang ditelantarkan orang tuanya, dan tidak pantas menjadi bagian dari Keluarga Reed.Sejak saat itulah benih iblis dalam hatinya mulai tumbuh dan semakin tenggelam, hingga membawa semuanya pada keadaan yang tidak lagi bisa diperbaiki.Mia terduduk lemas di lantai. Luka di

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 6

    [Apa bayi ini benar-benar anak Owen? Eva, katakan yang sebenarnya padaku!][Memangnya kenapa? Kita sudah putus, Liam! Jangan kira hanya karena kejadian malam itu, kamu bisa memisahkanku dan Owen!][Tetapi aku sudah melakukan tes DNA dan dia memang anakku! Eva, demimu aku sudah mengkhianati kakakku sendiri. Sekarang, apa kamu juga ingin merampas anak kandungku?!][Kita bersama selama 6 tahun penuh! Eva, kamu tidak boleh sekejam ini kepadaku ....]Hanya dengan beberapa kalimat singkat, seluruh kisah cinta, kebencian, dan pengkhianatan di antara mereka berdua pun tersingkap.Adegan terakhir dalam rekaman itu memperlihatkan Liam yang menyeret paksa Eva ke ruang penyimpanan di ujung lorong.Akibatnya, mereka bahkan tidak mendengar tangisan bayi dari ruang rawat.Mereka juga tidak tahu … bayi itu menangis hingga hampir kehabisan napas.Jika saja seorang perawat yang kebetulan lewat tidak segera menemukan dan membawanya ke IGD untuk mendapat pertolongan, nyawanya mungkin sudah tidak tertolong

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 5

    [Nora, kehamilan intrauterin berusia 2 minggu, mengalami keguguran akibat kecelakaan ....]Tatapan Owen terpaku pada kalimat itu.Kepalanya terasa berputar, tubuhnya limbung hingga hampir tidak mampu berdiri.“Kakakku ... hamil? Kalau begitu darah di lantai tadi ....”Liam yang ikut melihat laporan itu langsung memucat.Mendengar perkataannya, Mia pun membeku. Dia menatap genangan darah di lantai yang belum mengering. Tangannya mulai gemetar tanpa kendali.Barusan ... dia telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa?Dan wanita itu ... bukan hanya sahabatnya. Melainkan juga kakak kandung suaminya sendiri.“Aku tadi hanya terlalu panik. Siapa yang tidak panik jika bayinya hilang?”“Kalau memang hamil, kenapa dia tidak memberi tahu kita? Tidak mungkin. Dia itu seorang dokter. Mana mungkin terjadi sesuatu semudah itu. Laporan pemeriksaan ini pasti dipalsukan untuk menipu kita!”Saat pembicaraan beralih pada anak, tatapan Eva refleks melirik ke arah Liam. Ada sedikit rasa bersalah yang t

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 4

    Keesokan harinya, setelah mengetahui rumah kami dijual, Owen segera pulang.Begitu masuk, dia langsung menarikku dari tumpukan koper, “Nora, apa maksudmu menjual rumah kita? Kamu sudah gila?”Emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.Aku mencibir dingin, lalu mengangkat tangan dan menamparnya.Rumah? Dia masih punya muka untuk menyebut tempat ini sebagai rumah?“Owen, mempermainkanku seperti orang bodoh memang menyenangkan, ya?” Bekas lima jariku segera tercetak di pipinya.Namun, dia tidak marah.Seperti setiap kali kami bertengkar, dia justru melunakkan nada suaranya lebih dulu, “Sudah selesai memukulku? Sudah puas? Kuakui, aku memang salah karena telah membohongimu. Tetapi kita sudah bersama selama 7 tahun. Mana mungkin hubungan ini bisa berakhir begitu saja?”“Nyawaku ini adalah milikmu. Bagaimana mungkin aku benar-benar tega mengkhianatimu?”Aku sudah muak mendengar kata-kata munafik itu dan berbalik hendak pergi.Namun Owen menghalangi jalanku, lalu tiba-tiba kehilangan ken

  • Pada Akhirnya, Kita Berpisah Arah   Bab 3

    Di tengah tangisan pilu Eva, Mia mencengkeram lenganku dengan penuh amarah dan menyeretku ke ruang istirahat di lantai atas.Dulu tempat ini adalah markas rahasia milikku dan Owen.Karena letaknya dekat dengan rumah sakit, setiap kali aku kelelahan setelah operasi, dia selalu membawaku ke sana untuk beristirahat sejenak.Owen tahu aku sering lupa makan saat sibuk, jadi dia memasak sendiri dan menyiapkan makanan ringan ke dalam tasku.Dia juga tahu leherku sering pegal karena pekerjaanku, sehingga sengaja membelikan kursi pijat dan meletakkannya di ruang tamu.Perhatian-perhatian kecil itu ... pernah membuatku percaya bahwa itulah cinta.Namun sekarang ... tempat itu telah berubah menjadi kamar bayi. Terdapat boks bayi, meja ganti popok, dan mainan anak-anak dimana-mana.Semua jejak keberadaan kami telah lenyap tanpa sisa.“Yang benar-benar dicintainya adalah Eva. Sedangkan kepadamu, yang dia anggap sebagai cinta hanyalah rasa terima kasih karena kamu telah menyembuhkan penyakit jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status