Share

Bab 3 Orang Baik

Penulis: Tokek Gantung
last update Tanggal publikasi: 2026-08-14 23:53:18

Pada saat Frank menunduk seperti orang yang berputus asa sangat dalam, tiba-tiba sebuah payung muncul dan melindungi dirinya dari terpaan hujan.

Frank tersentak. Dia melebarkan kedua matanya, dan perlahan mendongak. Dia akhirnya dapat melihat dengan jelas, seorang wanita yang hampir paruh baya memegang payung dengan tangan gemetar. Senyuman hangat muncul di wajahnya.

Di samping wanita itu, ada seorang gadis kecil berumur sekitar sembilan tahun yang tak lain adalah gadis kecil sebelumnya yang membuat Frank teringat pada Lisa.

Gadis kecil itu tersenyum lembut sambil menyodorkan sebuah roti berwarna coklat keemasan. "Kakak... makanlah ini. Kakak pasti kelaparan."

Mata Frank seketika bergetar hebat. Tatapannya tertuju pada roti yang di sodorkan gadis kecil itu. Hal yang paling tidak ia sangka... ternyata masih ada orang baik di dunia kejam ini.

Tangan Frank perlahan terangkat ke atas, bahkan gemetar. Dia perlahan mengambil roti itu, kemudian tersenyum. "Te-terima... kasih."

Gadis kecil itu hanya tersenyum manis, lali mengangguk pelan.

Di sisi lain, wanita yang hampir paruh baya sebelumnya segera berkata cemas. "Anak muda... Datang lah ke rumah kami. Hujan sangat deras. Setidaknya ada tempat untuk menghangatkan dirimu."

Frank tertegun. Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi hingga matanya dan mata wanita itu bertemu. Wajah cantik namun kusam serta mengenakan kain yang terbuat dari karung goni.

Hati Frank terasa tersentuh merasakan kebaikan dari wanita itu.

Beberapa menit kemudian, ketiganya akhirnya tiba di rumah sang Wanita dan anak gadisnya.

Begitu menginjakkan kakinya ke dalam rumah sederhana itu, jantung Frank berdetak sangat kuat. Rumah yang terbuat dari kayu, atap yang terbuat dari jerami, dan lampu minyak yang menggantung di salah satu tiang penyangga tengah rumah menjadi penerang rumah kecil itu.

Tampak sangat sederhana.

Melihat rumah ini, Frank kembali mengingat adik kecilnya, Lisa. Walaupun mereka tinggal di kota besar, dan tinggal di Kos, hati Frank terasa sangat sakit.

Bagaimana kalau masa kontrakan kos nya habis, dan adiknya tidak punya uang?

Memikirkan hal itu, hati Frank terasa seperti di iris. Frank benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.

Melihat Frank berdiri di ambang pintu dalam ekspresi mematung, gadis kecil segera mendekat dan memiringkan kepalanya. "Kakak... Ada apa? Mengapa kau hanya melamun?"

Frank langsung tersentak mendengar pernyataan gadis kecil itu. Dia segera menunduk, dan berjongkok di hadapan gadis itu.

"Tidak, Kakak hanya merasa dingin." Ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

"Ah, Maafkan aku. Kau tidak nyaman dengan rumah jelek ku ini?" Sang wanita, ibu dari gadis kecil itu menghela nafas kasar.

Frank segera berdiri dan menggelengkan kepalanya dengan panik. "Tidak! Aku tidak beranggapan seperti itu. A-aku..."

"Tidak apa-apa. Kenyataannya memang seperti itu. Silahkan masuk." Wanita itu tampak sudah biasa dengan reaksi Frank, dan kembali mempersilahkan pemuda itu untuk masuk.

Frank menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Lawan bicaranya berbuat baik, namun dia di kira tidak menyukai rumah ini.

Dia hanya bisa berjalan masuk, kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang di siapkan gadis kecil sebelumnya. Frank hanya bisa tersenyum melihat perlakuan gadis kecil itu.

Dengan tangan yang gemetar karena kedinginan, dia mulai memakan roti yang di berikan gadis kecil sebelumnya walaupun setengah basah karena air hujan.

setelah memakan habis roti, wanita kembali menghampiri Frank sambil menyodorkan pakaian. "Maaf kalau pakaian ini jelek. Tapi setidaknya kau tidak kedinginan."

Frank menatap pakaian yang berwarna coklat tua itu dengan senyuman tipis. "Aku sangat berterimakasih atas segala perhatian anda," Katanya pelan.

Meskipun kerajaan Astra telah memperlakukan nya bak sampah tak berguna, namun ternyata ia menemukan rakyat kerajaan yang tidak memandang dia sebagai pahlawan ataupun orang asing, melainkan sosok yang butuh pertolongan.

Tepat saat Frank menerima pakaian yang di berikan wanita itu, wanita itu kembali berbicara. "Namaku Fatimah, sedangkan putri kecilku Salsa,"

Frank mengangguk. "Baiklah, Fatimah. Eum... Dimana tempat aku bisa berganti pakaian?" Tanyanya canggung.

"Kau bisa mengganti pakaian mu di dalam kamar ku." Kata Fatimah. "Jangan salah paham, di sana ada suamiku." Lanjutnya dengan cepat.

Frank mengerutkan keningnya bingung. "Suami?"

Fatimah mengangguk. "Suamiku mengalami pelumpuhan total karena pernah menjadi prajurit perang Kerajaan. Setelah ia lumpuh dan di nyatakan gugur sebagai prajurit, situasi keluarga kami menjadi sulit." Katanya, suaranya mengandung penyesalan mendalam.

Frank tertegun. Lumpuh karena perang? Dunia ini benar-benar sangat kejam!

Frank lalu melangkah memasuki kamar Fatimah. Ketika masuk, dia melihat seorang pria muda, mungkin sekitar dua puluh hingga tiga puluhan tahun berbaring di atas tempat tidur dengan kondisi sangat lemah.

Jangankan bangun, bahkan membuka kedua matanya pun tampak sulit. Frank hanya bisa menatap pria itu dengan gigi gemertak.

betapa kejamnya kerajaan Astra. Begitu adanya prajurit yang lumpuh akibat perang, bukannya di berikan kompensasi setimpal malah membuang keluarga ini seperti sampah yang lepas pakai.

"Pilihan bagus memang aku di usir dari sana." Batin Frank, sedikit lega karena terlepas dari ikatan kerajaan yang kejam itu.

Jangankan mantan prajurit suami Fatimah, dirinya saja yang tidak memiliki bakat malah di campakkan.

Frank menggeleng pelan dengan ekspresi sinis, mendekat ke arah suami Fatimah. begitu merasa bahwa pria itu tertidur, Frank kembali ke depan pintu dan berganti pakaian di sana.

Tidak mungkin ia berganti pakaian di depan suami Fatimah. Walaupun dia tengah tertidur dan tampak bahkan tidak akan membuka matanya sedikitpun, Frank tetaplah pria normal dan waras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 35 Kematian Fatimah

    Pada malam itu, rumah sederhana Fatimah terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Salsa telah tertidur di atas tempat tidurnya setelah menangis cukup lama dalam pelukan sang ibu. Namun Fatimah sendiri tidak mampu memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang, menatap cincin yang melingkar di jarinya dengan tatapan kosong.Bayangan suaminya kembali melintas dalam pikirannya. Pria itu telah bekerja keras sepanjang hidupnya demi memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecil mereka. Bahkan ketika terluka parah, ia tetap berusaha bertahan karena tidak ingin meninggalkan istri dan putrinya sendirian.Namun pada akhirnya, nyawanya direnggut oleh infeksi yang tidak mampu mereka obati.Fatimah masih mengingat dengan jelas bagaimana suaminya mengembuskan napas terakhir di hadapannya. Ia juga mengingat betapa tidak berdayanya dirinya ketika berusaha mencari pertolongan, sementara uang yang mereka miliki bahkan tidak cukup untuk membayar pengobatan yang diperlukan.Sekarang setelah melihat apa

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 34 Kegemparan Ibukota Kerajaan Astra

    Swish!Jenderal Rafli mengayunkan tangan, menyingkirkan debu dan asap yang mengepul akibat serangan dari Frank.Begitu tersapu bersih, gerakan pria kekar tersebut seketika berhenti di udara. Dia segera mendarat di tanah, dengan indra yang di lepas agar merasakan tanda-tanda keberadaan Frank.Namun seberapa keras ia berusaha untuk mencari keberadaan pemuda itu, tetap saja ia tidak menemukan setitik pun jejak, membuat wajah pria itu memucat laksana mayat hidup."Di mana dia?!" Pekik Jenderal Rafli, suaranya menggelegar di seluruh gerbang barat ibukota.Dia melangkah cepat, menyusuri hutan di depannya, mencoba mencari jejak keberadaan Frank. Namun nihil! Jejak Frank tidak ada setitik pun, seolah pemuda itu telah menghilang bak di telan ruang!"Bagaimana mungkin! Dia hanyalah Expert Mage level satu... Bagaimana mungkin dia menghilang tanpa jejak seperti tak pernah ada?" Bisik Jenderal Rafli, wajahnya memucat oleh rasa keterkejutan dan ketidakpercayaan yang teramat kental.Seumur hidup...

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 33 Melarikan Diri!

    "Hehaha..." Frank tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suaranya melengking tinggi, membuat semua orang mengerutkan kening."Inikah kekuatan seorang pahlawan kerajaan Astra? Kenapa lemah sekali? Rasanya lebih baik aku melawan kera penjaga Pohon Apel Sihir Formula daripada melawan mu!" Kata Frank dengan suara meledek, menatap Witrono seperti seekor semut yang tak memiliki kemampuan seharusnya.Mata Witrono menyipit, menatap Frank dengan dada yang bergemuruh liar. "Kau... Menyamai diriku dengan seekor kera?" Bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar, namun mengandung amarah yang memuncak.Frank menatap Witrono dengan dingin, kemudian mengangkat sabit di tangannya. "Sekarang giliran ku untuk menyambut mu." Kata pemuda itu dengan pelan. Dia segera mengalirkan energi mana pada kedua tangannya.Secara tak terduga, mana tersebut memasuki senjata sabit di tangan nya, seolah senjata tersebut membutuhkan energi!Mata Frank sedikit menyipit melihat itu. Dia kemudian mengalirkan lebih banyak ener

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 32 Malawan Witrono

    Jauh di atas langit, di balik awan yang tebal, sesosok jiwa tua melayang dengan kening bertaut rapat. Dia adalah Rasya!Melalui indra miliknya, ia dapat menangkap pesan yang di terima jenderal Rafli di dalam menara pengawas yang di kirimkan langsung oleh penyihir tua melalui jimat."Situasi semakin berbahaya. Jika manusia itu turun tangan, anak itu memiliki kesempatan kecil untuk melarikan diri." Gumam jiwa tua itu.Tatapannya segera tertuju pada tongkat sihir milik penyihir tua yang melayang rendah sekitar seratus meter darinya. "Giok trasmisi... Aku ingin lihat, sampai sejauh mana kalian menonton pembantaian massal ini." Batinnya dengan senyuman dingin.Sementara itu di atas permukaan tanah, amarah dan kebencian semakin menyelimuti tubuh Witono.Ia mengepalkan tangannya, menatap Frank dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan banyak bicara! Jelas-jelas kau telah menggunakan kekuatan iblis! Dengan nama kerajaan Astra, hari ini aku sendiri yang akan mencabut kepala mu!" Teriak Witroni d

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 31 Rahasia Terbongkar!

    "Mu-mustahil!" Teriak Jenny dengan mata terbelalak, menatap sosok pemuda yang telah memperlihatkan identitas nya dengan tatapan horor."Ka-kau... Masih hidup...?" Bisik Gani dengan lirih, suaranya hampir tak terdengar dengan badan yang gemetar hebat seperti tersambar petir."Bagaimana mungkin! Kau... Bukan kah kau tidak memiliki bakat? Mengapa... Mengapa kau bisa membantai semua prajurit?!" Gumam Johan, mulutnya menganga lebar akibat keterkejutan yang teramat kental di wajahnya."Bukan kah kau sudah mati di terkam binatang buas? Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin kau masih hidup!" Jerit Warda dengan wajah pucat, matanya melotot menatap Frank, seolah telah melihat mayat hidup!Witrono menatap Frank dengan keterkejutan dan kebencian yang teramat kental, wajahnya memerah menatap pemuda itu. "Kau... Iblis!" Katanya dengan suara tertahan, matanya menyipit dengan pupil menyusut. "Dia sudah bukan lagi manusia! Bagaimana mungkin tanpa bakat ia memiliki kekuatan sihir? Sudah jelas, dia di

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 30 Keterkejutan Witrono

    "Percepat langkah kalian! Gerbang barat ibukota tampaknya telah menjadi arena perang!" Ujar Witrono sambil terus berlari, wajahnya tampak serius melihat jamur ledakan raksasa yang muncul di balik gerbang barat.Jarak mereka kini tersisa beberapa meter saja, dan sedikit lagi... Mereka akan tiba di gerbang barat ibukota.Begitu tiba di gerbang barat, Witono segera melompat tinggi, memanjat tiang penopang pintu gerbang untuk naik ke atas. Bagaimana pun, gerbang saat ini telah di kunci rapat oleh para prajurit akibat pertarungan.Begitu kakinya menyentuh puncak gerbang, pupil mata Witrono segera mengecil seperti ujung jarum.Di belakangnya, delapan pahlawan lain telah menyusulnya. Wajah mereka seketika berubah pucat melihat area meda pertempuran.Di sana, tanah di penuhi oleh genangan darah, bahkan potongan tubuh yang berceceran tak beraturan. Tubuh-tubuh tanpa nyawa prajurit beserta zirah-zirah baja terhampar dengan kondisi mengenaskan.Total ada dua ratus dua puluh prajurit penjaga gerb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status