Share

Bab 4 Di Rendahkan!

Author: Tokek Gantung
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-15 21:03:36

Waktu terus berlalu, hingga tak terasa Frank telah tinggal di rumah Fatimah selama 3 hari. Karena hujan, Frank demam dan mau tak mau ia harus menginap sementara di rumah Fatimah.

Walaupun mereka baru bertemu, Fatimah begitu perhatian padanya, seperti seorang kakak atau ibu yang merawatnya, meskipun Frank sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya memiliki kakak dan ibu itu seperti apa.

Dan tepat pada pagi hari ketiga ia di rumah Fatimah, Frank mengajukan diri agar dia segera pergi dari rumah itu. Dia tidak ingin menjadi beban untuk wanita yang bahkan ia kenal belum cukup seminggu.

Namun, sebelum Frank melangkah keluar, Salsa menarik tangannya dengan mimik wajah sedih. "Kakak... Kau ingin pergi?"

Frank berbalik, berjongkok di depan gadis kecil itu dan tersenyum lebar. "Ya, kakak harus pergi. Kakak tidak mungkin menjadi beban pada ibumu. Mungkin nanti, kita akan bertemu lagi."

Salsa menatap mata Frank. Melihat keteguhan pemuda itu, Salsa menghela nafas. "Berjanjilah untuk kembali nanti."

Dia merogoh saku pakaian yang ia kenakan dan mengeluarkan dua buah cincin. satu berwarna abu-abu dan satunya hitam pekat.

"Cincin ini aku dapat dari tempat sampah... Tapi masih bagus kok. Ingat, simpan baik-baik!" Kata gadis kecil itu sambil memberikan cincin yang berwarna hitam pekat.

Fatimah yang ada di kejauhan hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah gadis kecilnya itu.

Frank menatap cincin itu lama, lalu senyuman lebar kembali terpancar di wajahnya. "Tentu saja!" Dia lalu mengambil dan memasang cincin itu di jarinya.

Frank dapat merasakan sekilas, bahwa cincin hitam ini seperti ada ukiran di atas permukaan nya yang tidak bisa di lihat dari matanya.

"Mau ku pasangkan?" Tawar Frank.

Salsa tersenyum lebar, lalu memberikan cincin abu-abu miliknya kepada Frank dan menyodorkan tangan kirinya.

Frank segera mengambil dan meraba cincin abu-abu itu. Anehnya, cincin itu halus tanpa adanya ukiran di atas permukaannya. cincin ini juga tampak polos seperti cincin hitam miliknya.

"Aku mungkin terlalu banyak berpikir!" Batin Frank, tersenyum geli. Dia lalu memasangkan cincin abu-abu itu kepada Salsa.

Setelah memasangkan cincin abu-abu, Frank segera bangkit berdiri dan melangkah pergi.

Fatimah hanya menatapnya dari kejauhan sampai ia menghilang dari balik pintu.

Di sisi lain, Frank mulai berjalan pelan membelah kerumunan di pemukiman kumuh ini. Suasana saat ini sangat berbanding terbalik seperti pertama kali ia datang ke tempat ini.

Suasana saat ini sangat ramai, bahkan berdesak-desakan layaknya pasar.

Frank melirik ke sekitarannya dengan perasaan aneh. Tempat asing dan padat seperti ini membuatnya benar-benar tidak nyaman.

Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pemukiman kumuh ini menuju pusat ibukota kerajaan. Meskipun ia tidak tahu ingin berbuat apa di sana, itu setidaknya lebih baik di bandingkan berdesak-desakan tidak jelas di pemukiman kumuh ini.

Setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam, hingga matahari tepat berada di atas kepala, Frank akhirnya dapat keluar dari wilayah pemukiman kumuh ibukota kerajaan di sisi selatan pinggiran.

melihat situasi pusat selatan ibukota kerajaan, dekat dengan istana kerajaan, membuat Frank menghela nafas. Ingatannya kembali pada tiga hari yang lalu, tepat ia di usir dari aula istana kerajaan hanya karena ia tidak memiliki bakat, padahal ia juga seorang pahlawan.

Dia sebenarnya tidak mengerti, jika ia tidak memiliki bakat, mengapa ia harus di panggil sebagai pahlawan?

Tiba-tiba, mata Frank berkilat penuh tekad. Bagaimanapun caranya, ia harus kembali ke bumi dan menemui adiknya, Lisa!

Frank mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah istana kerajaan Astra di kejauhan. Dia yakin, para penyihir dari kerajaan yang sebelumnya membawa ia datang ke dunia ini pasti memiliki cara agar ia kembali ke bumi!

Dengan mata yang memerah dan penuh tekad, dia berjalan menuju Istana kerajaan.

Setelah berjalan lebih dari dua jam, Frank akhirnya tiba di depan gerbang istana kerajaan. Ketika ingin melangkah masuk, dua orang penjaga menghalangi jalan Frank dengan tombak besi di tangan mereka.

"Silahkan kembali, tamu tidak di izinkan masuk ke dalam istana selama waktu yang di tentukan raja!" Kata keduanya serentak.

Mata keduanya yang dingin bahkan tidak melirik Frank sedikitpun.

Frank menatap kedua penjaga itu dengan tajam. "Aku adalah salah satu Pahlawan yang di panggil dari dunia lain ke dunia sihir. Aku harus masuk!" Kata Frank.

Kedua penjaga itu akhirnya menatap Frank. Namun, kilatan dingin tetap terpancar dari kedua mata mereka. "Pahlawan berjumlah dua puluh sembilan orang. Semua di jamu layaknya dewa di Kerajaan. Lelucon mu tak ubahnya cacing tanah." Kata penjaga sebelah kiri.

Dia menilai bahwa Frank adalah salah satu penduduk ibukota di area pinggiran, terutama pemukiman kumuh wilayah selatan. Dengan pakaian kumuh dan jelek yang di pakai oleh Frank, membuat ia sangat yakin dengan tebakan nya itu.

Kening Frank berkerut. Dia menatap tajam ke arah kedua penjaga itu. "Dua puluh sembilan!? Pahlawan sebenarnya ada 30! satunya tidak memiliki bakat!"

"Cukup," Penjaga sebelah kanan kehilangan kesabaran. Dia segera mengacungkan tombak besi nya ke arah Frank. "Jika kau tidak segera pergi, kami terpaksa akan menyeret mu di jalan hingga menuju pemukiman mu." Ancamnya.

Gigi Frank gemertak hebat. Matanya memerah penuh amarah dan kebencian mendalam. "Jika bukan karena Raja kalian, aku tidak mungkin berada di sini! Aku ingin bertemu Raja Astra dan meminta pertanggungjawaban! Aku ingin kembali ke Bumi!" Teriaknya dengan gila dan frustasi.

Sebenarnya Frank tahu, berbicara lebih banyak pada penjaga ini hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Namun, di sisi lain Frank berharap ada salah seorang penyihir atau anggota Istana dapat mempersilahkan ia masuk.

"Kau benar-benar bosan hidup!" Teriak Penjaga Kiri. Ketika ia bersiap melayangkan tinjunya ke arah Frank, pintu gerbang tiba-tiba terbuka lebar, membuat aksinya langsung terhenti di udara.

Sementara itu, mata Frank langsung berbinar melihat itu. Dia berpikir bahwa strategi nya berhasil.

Namun, di balik gerbang yang terbuka, tiga ekor Kuda beserta kereta muncul. Kereta kuda itu tidak memili atap dan dinding, hanya terdapat bangku berlapis kulit binatang.

Di atas kereta, ada empat orang duduk sejajar. Pakaian yang mereka kenakan sangat mewah, berlapisi sutra emas.

Melihat empat orang itu, mulut Frank langsung ternganga lebar. Dia mengenal dengan baik, tiga orang di antaranya!

Mereka adalah Angela, Razak dan Riung. Ketiganya adalah teman sekelasnya!

"Ada apa ini?! Mengapa ada aura membunuh?" Desis Riung, wanita bergaun biru tua bermotif Garuda di bahunya.

Di sisinya, Razak, pria kurus yang mengenakan jubah abu-abu bersulam emas murni di pinggangnya, mengernyitkan dahi. "Kenapa ada keributan di depan gerbang istana?"

Angela, Wanita bergaun Hitam dengan pola aneh di seluruh gaunnya, mengernyit heran melihat sosok pemuda yang mengenakan pakaian kumuh, jelek dari karung goni.

"Frank?!" Gumamnya, membuat Razak dan Riung terbelalak.

"Frank!?" keduanya tersentak, dan menatap sosok Frank dengan sangat tajam.

Senyuman dingin dan mencibir terpancar dari wajah Razak. "Frank? apa yang terjadi padamu? Kenapa kau terlihat seperti seorang pengemis?"

"Oh, ada apa dengan ketua OSIS kita? Kenapa kau layaknya gelandangan yang bahkan kesusahan untuk makan?" Cibir Riung.

Frank semakin bersemangat, tanpa menyadari bahwa ia kini telah di rendahkan. "Razak, Riung, Angela... Baguslah! Bantu aku untuk menemui Raja!"

"Kenapa kami harus membantu mu?" Angela mengerutkan keningnya.

Frank menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf kalau merepotkan kalian. Tapi tolong, bantu aku! Aku harus kembali ke Bumi! Aku...!"

"Tunggu! apa! Kembali ke Bumi?!" Riung menatap Frank tidak percaya. Dia segera berdiri dari duduknya dan menunjuk Frank. "Dasar anjing tidak tahu di untung! Di sini bagus ada kekuatan, bakat, dan menjadi pahlawan untuk seluruh manusia di dunia, tapi kau ingin kembali ke dunia hina itu?"

Wajah Frank langsung berubah ketika perkataan kasar itu lolos dari mulut Riung.

"Kau pikir, kau bisa seenaknya di sini?" Razak memasang wajah jijik. "Di bumi, kau adalah ketua OSIS dan pelajar nomor satu di sekolah. Namun di dunia ini, kau tak ubahnya seperti sampah yang bahkan tidak memiliki guna. Untuk apa kami harus membantumu? Jangankan menemui raja, memberikan makanan anjing untukmu saja tidak Sudi." Katanya, langsung seperti paku yang menusuk jantung Frank.

"Jadi... Ini adalah Pahlawan gagal tanpa bakat?" orang lain yang tak di kenal Frank, seorang pria yang duduk di samping Riung, menatap Frank dengan tatapan mencibir. Dia adalah salah satu pangeran Kerajaan Astra, Wild Astra, Pangeran ketujuh kerajaan.

Senyuman mencibir sangat jelas di wajah tampannya. "Benar-benar memalukan! Bagaimana bisa Kerajaan Astra dapat memanggil seorang pahlawan sampah tak berguna dan tak memiliki bakat seperti mu? Kau benar-benar membuang-buang nyawa penyihir tingkat Master Mage."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 35 Kematian Fatimah

    Pada malam itu, rumah sederhana Fatimah terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Salsa telah tertidur di atas tempat tidurnya setelah menangis cukup lama dalam pelukan sang ibu. Namun Fatimah sendiri tidak mampu memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang, menatap cincin yang melingkar di jarinya dengan tatapan kosong.Bayangan suaminya kembali melintas dalam pikirannya. Pria itu telah bekerja keras sepanjang hidupnya demi memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecil mereka. Bahkan ketika terluka parah, ia tetap berusaha bertahan karena tidak ingin meninggalkan istri dan putrinya sendirian.Namun pada akhirnya, nyawanya direnggut oleh infeksi yang tidak mampu mereka obati.Fatimah masih mengingat dengan jelas bagaimana suaminya mengembuskan napas terakhir di hadapannya. Ia juga mengingat betapa tidak berdayanya dirinya ketika berusaha mencari pertolongan, sementara uang yang mereka miliki bahkan tidak cukup untuk membayar pengobatan yang diperlukan.Sekarang setelah melihat apa

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 34 Kegemparan Ibukota Kerajaan Astra

    Swish!Jenderal Rafli mengayunkan tangan, menyingkirkan debu dan asap yang mengepul akibat serangan dari Frank.Begitu tersapu bersih, gerakan pria kekar tersebut seketika berhenti di udara. Dia segera mendarat di tanah, dengan indra yang di lepas agar merasakan tanda-tanda keberadaan Frank.Namun seberapa keras ia berusaha untuk mencari keberadaan pemuda itu, tetap saja ia tidak menemukan setitik pun jejak, membuat wajah pria itu memucat laksana mayat hidup."Di mana dia?!" Pekik Jenderal Rafli, suaranya menggelegar di seluruh gerbang barat ibukota.Dia melangkah cepat, menyusuri hutan di depannya, mencoba mencari jejak keberadaan Frank. Namun nihil! Jejak Frank tidak ada setitik pun, seolah pemuda itu telah menghilang bak di telan ruang!"Bagaimana mungkin! Dia hanyalah Expert Mage level satu... Bagaimana mungkin dia menghilang tanpa jejak seperti tak pernah ada?" Bisik Jenderal Rafli, wajahnya memucat oleh rasa keterkejutan dan ketidakpercayaan yang teramat kental.Seumur hidup...

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 33 Melarikan Diri!

    "Hehaha..." Frank tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suaranya melengking tinggi, membuat semua orang mengerutkan kening."Inikah kekuatan seorang pahlawan kerajaan Astra? Kenapa lemah sekali? Rasanya lebih baik aku melawan kera penjaga Pohon Apel Sihir Formula daripada melawan mu!" Kata Frank dengan suara meledek, menatap Witrono seperti seekor semut yang tak memiliki kemampuan seharusnya.Mata Witrono menyipit, menatap Frank dengan dada yang bergemuruh liar. "Kau... Menyamai diriku dengan seekor kera?" Bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar, namun mengandung amarah yang memuncak.Frank menatap Witrono dengan dingin, kemudian mengangkat sabit di tangannya. "Sekarang giliran ku untuk menyambut mu." Kata pemuda itu dengan pelan. Dia segera mengalirkan energi mana pada kedua tangannya.Secara tak terduga, mana tersebut memasuki senjata sabit di tangan nya, seolah senjata tersebut membutuhkan energi!Mata Frank sedikit menyipit melihat itu. Dia kemudian mengalirkan lebih banyak ener

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 32 Malawan Witrono

    Jauh di atas langit, di balik awan yang tebal, sesosok jiwa tua melayang dengan kening bertaut rapat. Dia adalah Rasya!Melalui indra miliknya, ia dapat menangkap pesan yang di terima jenderal Rafli di dalam menara pengawas yang di kirimkan langsung oleh penyihir tua melalui jimat."Situasi semakin berbahaya. Jika manusia itu turun tangan, anak itu memiliki kesempatan kecil untuk melarikan diri." Gumam jiwa tua itu.Tatapannya segera tertuju pada tongkat sihir milik penyihir tua yang melayang rendah sekitar seratus meter darinya. "Giok trasmisi... Aku ingin lihat, sampai sejauh mana kalian menonton pembantaian massal ini." Batinnya dengan senyuman dingin.Sementara itu di atas permukaan tanah, amarah dan kebencian semakin menyelimuti tubuh Witono.Ia mengepalkan tangannya, menatap Frank dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan banyak bicara! Jelas-jelas kau telah menggunakan kekuatan iblis! Dengan nama kerajaan Astra, hari ini aku sendiri yang akan mencabut kepala mu!" Teriak Witroni d

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 31 Rahasia Terbongkar!

    "Mu-mustahil!" Teriak Jenny dengan mata terbelalak, menatap sosok pemuda yang telah memperlihatkan identitas nya dengan tatapan horor."Ka-kau... Masih hidup...?" Bisik Gani dengan lirih, suaranya hampir tak terdengar dengan badan yang gemetar hebat seperti tersambar petir."Bagaimana mungkin! Kau... Bukan kah kau tidak memiliki bakat? Mengapa... Mengapa kau bisa membantai semua prajurit?!" Gumam Johan, mulutnya menganga lebar akibat keterkejutan yang teramat kental di wajahnya."Bukan kah kau sudah mati di terkam binatang buas? Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin kau masih hidup!" Jerit Warda dengan wajah pucat, matanya melotot menatap Frank, seolah telah melihat mayat hidup!Witrono menatap Frank dengan keterkejutan dan kebencian yang teramat kental, wajahnya memerah menatap pemuda itu. "Kau... Iblis!" Katanya dengan suara tertahan, matanya menyipit dengan pupil menyusut. "Dia sudah bukan lagi manusia! Bagaimana mungkin tanpa bakat ia memiliki kekuatan sihir? Sudah jelas, dia di

  • Pahlawan Gagal yang BERKUASA   Bab 30 Keterkejutan Witrono

    "Percepat langkah kalian! Gerbang barat ibukota tampaknya telah menjadi arena perang!" Ujar Witrono sambil terus berlari, wajahnya tampak serius melihat jamur ledakan raksasa yang muncul di balik gerbang barat.Jarak mereka kini tersisa beberapa meter saja, dan sedikit lagi... Mereka akan tiba di gerbang barat ibukota.Begitu tiba di gerbang barat, Witono segera melompat tinggi, memanjat tiang penopang pintu gerbang untuk naik ke atas. Bagaimana pun, gerbang saat ini telah di kunci rapat oleh para prajurit akibat pertarungan.Begitu kakinya menyentuh puncak gerbang, pupil mata Witrono segera mengecil seperti ujung jarum.Di belakangnya, delapan pahlawan lain telah menyusulnya. Wajah mereka seketika berubah pucat melihat area meda pertempuran.Di sana, tanah di penuhi oleh genangan darah, bahkan potongan tubuh yang berceceran tak beraturan. Tubuh-tubuh tanpa nyawa prajurit beserta zirah-zirah baja terhampar dengan kondisi mengenaskan.Total ada dua ratus dua puluh prajurit penjaga gerb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status