LOGINWaktu terus berlalu, hingga tak terasa Frank telah tinggal di rumah Fatimah selama 3 hari. Karena hujan, Frank demam dan mau tak mau ia harus menginap sementara di rumah Fatimah.
Walaupun mereka baru bertemu, Fatimah begitu perhatian padanya, seperti seorang kakak atau ibu yang merawatnya, meskipun Frank sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya memiliki kakak dan ibu itu seperti apa. Dan tepat pada pagi hari ketiga ia di rumah Fatimah, Frank mengajukan diri agar dia segera pergi dari rumah itu. Dia tidak ingin menjadi beban untuk wanita yang bahkan ia kenal belum cukup seminggu. Namun, sebelum Frank melangkah keluar, Salsa menarik tangannya dengan mimik wajah sedih. "Kakak... Kau ingin pergi?" Frank berbalik, berjongkok di depan gadis kecil itu dan tersenyum lebar. "Ya, kakak harus pergi. Kakak tidak mungkin menjadi beban pada ibumu. Mungkin nanti, kita akan bertemu lagi." Salsa menatap mata Frank. Melihat keteguhan pemuda itu, Salsa menghela nafas. "Berjanjilah untuk kembali nanti." Dia merogoh saku pakaian yang ia kenakan dan mengeluarkan dua buah cincin. satu berwarna abu-abu dan satunya hitam pekat. "Cincin ini aku dapat dari tempat sampah... Tapi masih bagus kok. Ingat, simpan baik-baik!" Kata gadis kecil itu sambil memberikan cincin yang berwarna hitam pekat. Fatimah yang ada di kejauhan hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah gadis kecilnya itu. Frank menatap cincin itu lama, lalu senyuman lebar kembali terpancar di wajahnya. "Tentu saja!" Dia lalu mengambil dan memasang cincin itu di jarinya. Frank dapat merasakan sekilas, bahwa cincin hitam ini seperti ada ukiran di atas permukaan nya yang tidak bisa di lihat dari matanya. "Mau ku pasangkan?" Tawar Frank. Salsa tersenyum lebar, lalu memberikan cincin abu-abu miliknya kepada Frank dan menyodorkan tangan kirinya. Frank segera mengambil dan meraba cincin abu-abu itu. Anehnya, cincin itu halus tanpa adanya ukiran di atas permukaannya. cincin ini juga tampak polos seperti cincin hitam miliknya. "Aku mungkin terlalu banyak berpikir!" Batin Frank, tersenyum geli. Dia lalu memasangkan cincin abu-abu itu kepada Salsa. Setelah memasangkan cincin abu-abu, Frank segera bangkit berdiri dan melangkah pergi. Fatimah hanya menatapnya dari kejauhan sampai ia menghilang dari balik pintu. Di sisi lain, Frank mulai berjalan pelan membelah kerumunan di pemukiman kumuh ini. Suasana saat ini sangat berbanding terbalik seperti pertama kali ia datang ke tempat ini. Suasana saat ini sangat ramai, bahkan berdesak-desakan layaknya pasar. Frank melirik ke sekitarannya dengan perasaan aneh. Tempat asing dan padat seperti ini membuatnya benar-benar tidak nyaman. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pemukiman kumuh ini menuju pusat ibukota kerajaan. Meskipun ia tidak tahu ingin berbuat apa di sana, itu setidaknya lebih baik di bandingkan berdesak-desakan tidak jelas di pemukiman kumuh ini. Setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam, hingga matahari tepat berada di atas kepala, Frank akhirnya dapat keluar dari wilayah pemukiman kumuh ibukota kerajaan di sisi selatan pinggiran. melihat situasi pusat selatan ibukota kerajaan, dekat dengan istana kerajaan, membuat Frank menghela nafas. Ingatannya kembali pada tiga hari yang lalu, tepat ia di usir dari aula istana kerajaan hanya karena ia tidak memiliki bakat, padahal ia juga seorang pahlawan. Dia sebenarnya tidak mengerti, jika ia tidak memiliki bakat, mengapa ia harus di panggil sebagai pahlawan? Tiba-tiba, mata Frank berkilat penuh tekad. Bagaimanapun caranya, ia harus kembali ke bumi dan menemui adiknya, Lisa! Frank mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah istana kerajaan Astra di kejauhan. Dia yakin, para penyihir dari kerajaan yang sebelumnya membawa ia datang ke dunia ini pasti memiliki cara agar ia kembali ke bumi! Dengan mata yang memerah dan penuh tekad, dia berjalan menuju Istana kerajaan. Setelah berjalan lebih dari dua jam, Frank akhirnya tiba di depan gerbang istana kerajaan. Ketika ingin melangkah masuk, dua orang penjaga menghalangi jalan Frank dengan tombak besi di tangan mereka. "Silahkan kembali, tamu tidak di izinkan masuk ke dalam istana selama waktu yang di tentukan raja!" Kata keduanya serentak. Mata keduanya yang dingin bahkan tidak melirik Frank sedikitpun. Frank menatap kedua penjaga itu dengan tajam. "Aku adalah salah satu Pahlawan yang di panggil dari dunia lain ke dunia sihir. Aku harus masuk!" Kata Frank. Kedua penjaga itu akhirnya menatap Frank. Namun, kilatan dingin tetap terpancar dari kedua mata mereka. "Pahlawan berjumlah dua puluh sembilan orang. Semua di jamu layaknya dewa di Kerajaan. Lelucon mu tak ubahnya cacing tanah." Kata penjaga sebelah kiri. Dia menilai bahwa Frank adalah salah satu penduduk ibukota di area pinggiran, terutama pemukiman kumuh wilayah selatan. Dengan pakaian kumuh dan jelek yang di pakai oleh Frank, membuat ia sangat yakin dengan tebakan nya itu. Kening Frank berkerut. Dia menatap tajam ke arah kedua penjaga itu. "Dua puluh sembilan!? Pahlawan sebenarnya ada 30! satunya tidak memiliki bakat!" "Cukup," Penjaga sebelah kanan kehilangan kesabaran. Dia segera mengacungkan tombak besi nya ke arah Frank. "Jika kau tidak segera pergi, kami terpaksa akan menyeret mu di jalan hingga menuju pemukiman mu." Ancamnya. Gigi Frank gemertak hebat. Matanya memerah penuh amarah dan kebencian mendalam. "Jika bukan karena Raja kalian, aku tidak mungkin berada di sini! Aku ingin bertemu Raja Astra dan meminta pertanggungjawaban! Aku ingin kembali ke Bumi!" Teriaknya dengan gila dan frustasi. Sebenarnya Frank tahu, berbicara lebih banyak pada penjaga ini hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Namun, di sisi lain Frank berharap ada salah seorang penyihir atau anggota Istana dapat mempersilahkan ia masuk. "Kau benar-benar bosan hidup!" Teriak Penjaga Kiri. Ketika ia bersiap melayangkan tinjunya ke arah Frank, pintu gerbang tiba-tiba terbuka lebar, membuat aksinya langsung terhenti di udara. Sementara itu, mata Frank langsung berbinar melihat itu. Dia berpikir bahwa strategi nya berhasil. Namun, di balik gerbang yang terbuka, tiga ekor Kuda beserta kereta muncul. Kereta kuda itu tidak memili atap dan dinding, hanya terdapat bangku berlapis kulit binatang. Di atas kereta, ada empat orang duduk sejajar. Pakaian yang mereka kenakan sangat mewah, berlapisi sutra emas. Melihat empat orang itu, mulut Frank langsung ternganga lebar. Dia mengenal dengan baik, tiga orang di antaranya! Mereka adalah Angela, Razak dan Riung. Ketiganya adalah teman sekelasnya! "Ada apa ini?! Mengapa ada aura membunuh?" Desis Riung, wanita bergaun biru tua bermotif Garuda di bahunya. Di sisinya, Razak, pria kurus yang mengenakan jubah abu-abu bersulam emas murni di pinggangnya, mengernyitkan dahi. "Kenapa ada keributan di depan gerbang istana?" Angela, Wanita bergaun Hitam dengan pola aneh di seluruh gaunnya, mengernyit heran melihat sosok pemuda yang mengenakan pakaian kumuh, jelek dari karung goni. "Frank?!" Gumamnya, membuat Razak dan Riung terbelalak. "Frank!?" keduanya tersentak, dan menatap sosok Frank dengan sangat tajam. Senyuman dingin dan mencibir terpancar dari wajah Razak. "Frank? apa yang terjadi padamu? Kenapa kau terlihat seperti seorang pengemis?" "Oh, ada apa dengan ketua OSIS kita? Kenapa kau layaknya gelandangan yang bahkan kesusahan untuk makan?" Cibir Riung. Frank semakin bersemangat, tanpa menyadari bahwa ia kini telah di rendahkan. "Razak, Riung, Angela... Baguslah! Bantu aku untuk menemui Raja!" "Kenapa kami harus membantu mu?" Angela mengerutkan keningnya. Frank menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf kalau merepotkan kalian. Tapi tolong, bantu aku! Aku harus kembali ke Bumi! Aku...!" "Tunggu! apa! Kembali ke Bumi?!" Riung menatap Frank tidak percaya. Dia segera berdiri dari duduknya dan menunjuk Frank. "Dasar anjing tidak tahu di untung! Di sini bagus ada kekuatan, bakat, dan menjadi pahlawan untuk seluruh manusia di dunia, tapi kau ingin kembali ke dunia hina itu?" Wajah Frank langsung berubah ketika perkataan kasar itu lolos dari mulut Riung. "Kau pikir, kau bisa seenaknya di sini?" Razak memasang wajah jijik. "Di bumi, kau adalah ketua OSIS dan pelajar nomor satu di sekolah. Namun di dunia ini, kau tak ubahnya seperti sampah yang bahkan tidak memiliki guna. Untuk apa kami harus membantumu? Jangankan menemui raja, memberikan makanan anjing untukmu saja tidak Sudi." Katanya, langsung seperti paku yang menusuk jantung Frank. "Jadi... Ini adalah Pahlawan gagal tanpa bakat?" orang lain yang tak di kenal Frank, seorang pria yang duduk di samping Riung, menatap Frank dengan tatapan mencibir. Dia adalah salah satu pangeran Kerajaan Astra, Wild Astra, Pangeran ketujuh kerajaan. Senyuman mencibir sangat jelas di wajah tampannya. "Benar-benar memalukan! Bagaimana bisa Kerajaan Astra dapat memanggil seorang pahlawan sampah tak berguna dan tak memiliki bakat seperti mu? Kau benar-benar membuang-buang nyawa penyihir tingkat Master Mage.""Umurku?" Jiwa tua itu mengernyit, menoleh dan menatap Lin Fang dengan sedikit kebingungan. "Aku tidak tahu berapa umurku, yang jelas, aku hidup lebih dari seratus ribu tahun," Jawabnya santai. Mata Frank terbelalak lebar, hampir keluar dari rongga nya akibat pernyataan dari jiwa tua itu."S-seratus ribu tahun?!" Ulang Frank, mulutnya terbuka lebar akibat ketidak percayaan yang teramat pekat di kedua matanya. Seratus ribu tahun...? Dia benar-benar tidak dapat membayangkan berapa lama itu.Setelah terdiam cukup lama, Frank menatap Jiwa tua itu dengan intens. "Jika umurmu sudah sangat tua... Kenapa wajahnya tampak masih sangat muda...?" "Kau pikun?" Potong jiwa tua itu, alisnya mengernyit karena sedikit kesal. Frank menyengir lebar. "Ma-maaf. Aku lupa, hehe." Dia kemudian menatap jiwa tua itu dengan tatapan serius. "Kau adalah penyihir tingkat tinggi dan pernah hidup lebih dari seratus ribu tahun... Pengalaman sebagai seorang penyihir pasti sudah sangat dalam!"Jiwa tua itu menyipit
Frank menghela nafas. "Sumber sihir sering di sebut inti mana, yang berada di bawah perut. Inti mana adalah sumber energi mana." Gumam Frank, setelah beberapa menit mengingat kenangannya. "Tunggu! Apakah sihir yang sering aku baca mirip dengan sihir di dunia ini?" Gumam Frank dengan ragu. Dia mulai menyadari sesuatu, bahwa apakah sihir yang ia maksud, sama seperti sihir di dunia ini? Akan tetapi, ketika mengingat kembali pernyataan penyihir tua di aula Kerajaan Astra pasca pemanggilan pahlawan, dia menjelaskan bahwa sumber sihir berasal inti mana, di dalam tubuh penyihir.Mengaitkan hal tersebut, Frank yakin bahwa dugaannya sepenuhnya benar."Ekhm! Sumber sihir itu adalah inti mana di dalam tubuh penyihir," kata Frank, sambil menatap jiwa tua tak jauh darinya dengan tatapan tenang. "Hmm?" Jiwa tua itu akhirnya membuka matanya, dan menatap Frank dengan aneh. "Sumber sihir berasal dari inti mana? Ajaran bodoh darimana itu?" Katanya dengan cibiran dan cemohan, seolah perkataan Frank i
Matahari mulai terbenam di ufuk barat sepenuhnya, meninggalkan dunia dalam kegelapan pekat.Di hutan selatan Ibukota kerajaan Astra, sosok Frank berdiri dia di atas pohon sebelumnya sambil menatap langit yang gelap namun bertabur jutaan bintang-bintang. Dia memilih untuk kembali ke atas pohon agar terhindar dari binatang buas ada di tanah, setelah di tinggalkan oleh sosok jiwa tua sebelumnya.Namun meskipun demikian, Frank tetap kepikiran tengang perkataan jiwa tua sebelumnya. Bakat hanya penopang, bukan penentu. Frank benar-benar bingung dengan kalimat itu. Bukankah bakat yang akan menentukan segalanya? Tanpa bakat, dia bahkan di usir langsung oleh raja dari istana tanpa berpikir dua kali!Memikirkan hal tersebut, dia merasa jiwa tua sebelumnya hanya asal bicara. Akan tetapi, Frank merasa tidak sesederhana apa yang dia pikirkan!"Bakat hanyalah penopang, bukan penentu!" Ulang Frank, bahkan ia sendiri tidak tahu sudah berapa kali mengulang kalimat yang sama terus menerus."Tunggu!"
"Hantu? Apa itu?" Tanya Jiwa tua itu dengan alis mengernyit, menatap Frank dengan kebingungan. Wajah Frank berkedut mendengar pernyataan jiwa tua itu. Dia menatap jiwa tua itu dengan tatapan serius. "Hantu adalah sosok hantu yang bergentayangan!" "Bergentayangan?" Jiwa tua itu mengeryit. "Aku tidak sedang bergentayangan!" Katanya dengan nada santai. Frank tertegun mendengar pernyataan santai dari jiwa tua di dekatnya itu. Dia kemudian menelan ludah kasar. "Jika bukan bergentayangan, lantas mengapa kau berada di sini?" "Untuk apa aku berada di sini?" Jiwa tua itu dan menoleh ke arah Frank, senyuman sinis terpancar di wajahnya. "Terserahku lah. Memangnya aku harus memberitahukannya kepadamu?" Wajah Frank berubah. Bukan karena pernyataan dari jiwa tua itu, melainkan rupa wajahnya. Wajah yang masih tampak sangat muda, tampan, dan berkharismatik membuat Frank mematung. "Kau...?" Frank membuka mulutnya, tampak tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Namun, raut kebingungan juga
Waktu terus berlalu. Tak terasa, matahari akan segera terbenam di ufuk barat. Jauh dari Gerbang Selatan Ibukota Kerajaan Astra, lebih tepatnya hampir 600 meter, sosok seorang pemuda tengah telungkup di tanah dengan mengenaskan. Semenjak di buang oleh dua penjaga istana kerajaan, Frank sama sekali tidak beranjak seinci pun. Posisi nya tetap di pertahankan. Bukan karena ingin, melainkan karena karena kekecewaan yang sangat mendalam. Dari pernyataan dari Wild, membuat ia merasa benar-benar tidak memiliki harapan. Keinginannya untuk kembali ke bumi dan menemui kembali adiknya benar-benar pupus. "Kau sudah terlalu lama bersikap seperti itu, apakah kau tidak lelah?" Tiba-tiba, suara asing, tua dan aneh terdengar di telinga Frank. Namun pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan suara itu. Dia masih mempertahankan posisinya."JIka kau tidak beranjak, kau akan menjadi santapan para binatang buas." Lanjut suara itu membuat Frank mengernyit. Dia akhirnya mengangkat kepalanya. Namun, eksp
Tingkatan Penyihir! 1. Magang 2. Mage 3. High Mage 4. Expert Mage 5. Master Mage 6. Grand Master 7. Archmage 8. Saint Setiap tingkatan terbagi menjadi 10 Level. **** "Master Mage?" Frank tertegun mendengar pernyataan dari Wild. Dia yang masih awam dengan penyihir tentu tidak tahu apa itu Master Mage. "Apa?!" Di sisi lain, Angela, Riung dan Razak terkejut setengah mati begitu mendengar pernyataan dari Wild. "Yang mulia pangeran Wild, jadi... kedatangan kami harus ada pengorbanan?" Tanya Riung, jantungnya berdegup begitu kencang. Senyuman mencibir tetap terpancar di wajah Wild. Dia kemudian terus terang. "Kerajaan tidak berniat menutupi hal ini, karena sebenarnya fakta ini seharusnya kalian ketahui sejak awal." "Setiap seribu tahun sekali, ada peristiwa yang bernama pemanggilan alam. Peristiwa ini terjadi pada saat alam sedikit rapuh dan hukumnya tidak beraturan. Dengan menggunakan pengorbanan seratus ahli Master Mage, Kerajaan dapat berkesempatan me







