LOGINEmpat bulan sudah berlalu sejak babak drama ini dimulai, menyisakan satu bulan terakhir sebelum masa kontrak lima bulan antara Davina dan Biru resmi berakhir. Namun, di balik berjalannya waktu yang makin menipis, sebuah benang kusut yang sangat krusial belum juga terurai—bahkan masih membeku tanpa kejelasan. Hingga detik ini, Biru dan Davina sama sekali belum pernah melakukan hubungan badan. Padahal, dalam aturan hukum syariat yang berlaku untuk talak tiga, syarat mutlak agar Davina bisa sah bercerai dari Biru lalu kembali rujuk dengan Trian bukanlah sekadar dokumen di atas kertas atau hitungan bulan. Keduanya harus benar-benar menyatu sebagai pasangan suami istri yang utuh secara fisik. Tanpa adanya syarat bersetubuh itu, pernikahan mereka tetap dianggap belum memenuhi rukun untuk perceraian sah yang membolehkan Davina kembali ke pelukan Trian. Pagi itu, atmosfer di dalam rumah
Malam merambat semakin larut, melingkupi rumah dua lantai itu dalam keheningan yang kian pekat. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam. Usai menyelesaikan beberapa dokumen pekerjaan kantor, Biru melangkah perlahan memasuki kamar tidur utama di lantai atas. Di dalam kamar yang hanya diterangi temaram lampu tidur di atas nakas, tampak Davina sudah berbaring di atas ranjang king size. Posisinya menyamping membelakangi sisi ranjang milik Biru. Namun, dari irama napasnya yang belum teratur, Biru tahu betul bahwa wanita itu sebenarnya belum tertidur lelap. Biru melepaskan kacamatanya, meletakkannya di atas nakas, lalu perlahan menaiki tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan, mengambil posisi telentang seraya menyelimuti separuh tubuhnya. Jarak di antara mereka di atas tempat tidur yang luas itu dipisahkan oleh celah kosong setebal bantal guling—sebuah benteng tak kasat mata yang
Setibanya di rumah, suasana sunyi kembali menyambut mereka. Tanpa diminta, Biru langsung melangkah ke dapur, melepaskan jas kemejanya dan menggulung lengan kemeja soft blue-nya hingga ke siku. Dengan cekatan, ia menyiapkan mangkuk sup ayam hangat yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang tadi. Davina yang duduk di sofa ruang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Biru. Ada rasa hangat yang pelan-pelan merayap di dadanya. Perhatian Biru yang begitu teratur, tenang, dan tanpa pamrih perlahan memicu desir aneh yang tak pernah ia duga sebelumnya. "Dav, supnya sudah siap. Makan dulu mumpung masih panas," panggil Biru seraya membawa mangkuk asap mengepul itu ke meja makan. Davina bangkit dan melangkah mendekat. "Kamu tidak makan, Biru?" "Saya sudah makan tadi di luar. Ini khusus buat kamu," jawab Biru ramah. Ia menarikkan kursi untuk Davina dengan penuh kesopanan, persis sepe
"Minum airnya dulu, Dav," ujar Biru memecah keheningan seraya menyodorkan sebuah botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya. Davina tersentak kecil dari lamunannya, lalu menerima botol itu. "Terima kasih, Biru." Keheningan kembali menyergap kabin mobil dalam perjalanan pulang dari bandara. Davina menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap jalanan bebas hambatan yang membentang luas. Bayangan lambaian tangan kecil Kamari dan raut penuh beban di wajah Trian terus berputar di kepalanya, memicu rasa sesak yang tak kunjung reda. Biru yang sedang mengemudi melirik sesekali lewat kaca spion tengah. Ia bisa merasakan gelombang kesedihan yang begitu pekat dari wanita di sampingnya. "Kamu tidak perlu menahannya kalau mau menangis," lanjut Biru lembut, suaranya terdengar seperti seorang sahabat yang siap menampung beban.
Keesokan harinya, suasana di Bandara terasa begitu riuh, namun di sebuah sudut ruang tunggu keberangkatan internasional. Davina, Trian, dan Biru berdiri melingkar mengelilingi Nyonya Sandra dan Kamari yang membawa koper-koper besar mereka. Hari ini adalah hari keberangkatan Kamari dan Nyonya Sandra ke luar negeri. "Mama... Mayi beneran harus naik pesawat terbang yang besar itu tanpa Mama?" tanya Kamari polos, jemari mungilnya menggenggam erat gaun yang dikenakan Davina. Davina berlutut, mengusap lembut pipi putrinya seraya menahan air mata yang sudah membasahi pelupuk matanya. "Iya, Sayang. Kamari jalan-jalan dulu sama Oma ya? Nanti kalau tugas Mama dan Papa di sini sudah selesai, Mama langsung susul Kamari." Trian ikut berlutut di samping Davina. Tangan Trian terulur mengusap puncak kepala Kamari, lalu secara tidak sengaja jemarinya bersentuhan dengan jemari Davina. Kontak fis
Tawa kecil Davina bergaung tipis di ruang tengah, memecah kecanggungan yang sejak pagi menghimpit mereka. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari berada di bawah atap yang sama, senyum yang terukir di wajah Davina tampak lepas tanpa beban sandiwara. "Terima kasih, Biru. Tapi serius, aku sudah merasa jauh lebih sehat," ujar Davina seraya menyandarkan punggungnya pada sofa. "Mendengar suara Mas Trian tadi cukup membuat perasaanku jauh lebih tenang." Biru yang sudah berdiri melangkah ke arah dapur menoleh sejenak, mengukir senyum tipis di balik kacamatanya. "Bagus kalau begitu. Rasa tenang itu obat paling ampuh buat penyakit Gerd-mu, Dav." Biru berlalu ke dapur untuk menyeduh teh. Di balik meja bar, jemarinya cekatan menuang air panas ke dalam dua cangkir porselen. Aroma chamomile yang menenangkan perlahan menyeruak, memenuhi sudut-sudut ruangan yang hening. Namun di ba







