Home / Romansa / Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak / bab 4 - angkut semua

Share

bab 4 - angkut semua

Author: SingoRanu
last update publish date: 2026-05-16 12:32:47

“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...”

Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan.

Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya.

Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bisa mengatasi ini...”

Mobil berbelok masuk ke gang kecil menuju rumah Pani. “Turun. Urus anak-anakmu.”

Pani makin gelisah. “Pak saya mohon. Saya sangat butuh pekerjaan ini... Saya harus menghidupi mereka... Jika...”

“Turun.”

Mobil berhenti tepat di depan rumah Pani. Ranu turun tanpa banyak bicara. Pani masih mencoba mengejar langkahnya.

“Pak, saya bisa cari orang, sumpah. Saya telepon lagi nanti, pasti ada yang bisa...”

Ranu tetap berjalan. Tidak menjawab. Langkahnya tegas masuk ke halaman rumah. Pani makin bingung.

“Pak... tolong dengar saya dulu...”

Pintu rumah sudah terbuka. Suara tawa anak-anak langsung terdengar. Desi, Sasa, dan Aji sedang bermain di ruang tengah. Mereka terlihat santai, tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Mama!” seru Sasa riang.

Aji langsung berlari. “Mama!”

Pani memeluk mereka cepat. Tangannya gemetar.

“Nenek mana?”

"Nenek udah pergi, Ma.. katanya nanti mama akan kirim orang buat jagain kita..tadi Nenek buru-buru sekali."

Pani memejamkan matanya, hatinya terus bergolat.

Ranu berdiri beberapa langkah di belakang. Tatapannya menyapu ruangan.

Pani menoleh lagi. “Pak, saya bisa atur ini. Saya tidak akan ganggu pekerjaan. Saya janji.”

Ranu tetap diam. Lalu dia bicara singkat.

“Anak-anak.”

Tiga pasang mata menoleh.

“Masuk mobil.”

Pani membeku.

“Pak...?”

“Sekarang.”

Pani semakin panik. “Maksudnya... bawa mereka?”

Ranu menoleh sekilas. Tatapannya tajam.

“Tidak ada waktu. Cepat masuk! Mereka juga ikut!”

Pani terdiam. Jantungnya berdegup kencang.

“Pak, mereka ikut...?”

“Ya.”

Pani tidak langsung bergerak. Otaknya seperti butuh waktu untuk mencerna. Ranu menatap jam tangannya.

“Waktu habis.” Nada suaranya datar, tidak bisa ditawar.

Pani langsung sadar. “Iya... iya, Pak!”

Dia berbalik cepat.

“Desi, Sasa, Aji! Ayo, cepat! Ambil sandal!”

“Ke mana, Ma?” tanya Desi bingung.

“Masuk mobil!”

Beberapa menit kemudian, pintu rumah terkunci. Anak-anak sudah duduk di dalam mobil.

Mobil mulai berjalan.

Aji duduk kegirangan. "Kita mau kemana, Ma?"

Pani menunduk dan hanya tersenyum saja pada anak lelaki di pangkuannya.

“Jalan-jalan ya, Ma?!”

"Piknik, Ma?" tebak Sasa.

"Enggaklah, masa piknik sih. Kita naik mobil loh. Pasti agak jauh." Desi ikut menimpali.

Sasa mencebik, "Ya piknik tuh jauh, Kak Desi."

"Piknik kan, jalan-jalan ya Ma?" tanya Aji seraya mendongak ke arah mamanya.

Pani menghela napas. “Enggak sayang. Mama kan mau kerja.”

“Kerja?” Sasa mengerutkan dahi.

Desi lebih tenang. “Berarti kita ikut kerja ya?”

Pani mengangguk cepat. “Iya. Tidak boleh ribut. Tidak boleh nakal. Harus dengar kata Mama.”

Aji mengerucutkan bibir. “Yah enggak seru!”

“Duduk yang benar,” kata Pani pelan. "Tidak boleh begitu! Di rumah kalian enggak ada yang jaga."

Ranu yang duduk di depan hanya diam. Namun sesekali, matanya melihat ke kaca spion.

****

Perjalanan cukup panjang.

Sesampainya di lokasi, Pani masih seperti tidak percaya. Dia menatap sekitar, lalu menatap Ranu.

“Pak... benarkah kita bawa mereka sampai sini?”

Ranu langsung berjalan. “Kamu kerja. Selesaikan bagian yang aku tak paham. Itu yang penting.”

Pani terdiam sejenak. “Baik, Pak...”

Sementara itu, anak-anak dititipkan ke supir. Mereka dibawa ke area bermain kecil dekat lokasi.

Aji langsung berlari. “Wah, seru!”

Sasa tertawa. Desi tetap menjaga adiknya.

Pani sempat menoleh beberapa kali sebelum mulai bekerja.

“Kerjamu di sini. Jangan banyak tingkah,” kata Ranu singkat.

“Iya, Pak.”

Mereka mulai meninjau lokasi. Mengukur, mencatat, berdiskusi dengan orang lapangan.

“Bagian ini tidak sesuai data,” kata Pani sambil menunjuk.

Ranu melihat sekilas. “Kenapa bisa sampai tidak sesuai?”

"Maaf, Pak. Kami akan perbaiki."

"Selesaikan dalam 3 jam. Setelah makan siang, kita cek lagi, harus sesuai data. Aku tidak mau ada ketidakcocokan setelah ini berjalan."

“Baik.”

“Dan yang ini?” Ranu menunjuk satu bagian.

“Ada selisih ukuran.”

“Astaga! Apa yang kalian kerjakan. Tidak boleh ada selisih walau hanya satu inci!”

Kerja berjalan cepat. Pani berusaha maksimal. Dia tahu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan.

Hari mulai merangkak naik. Tak terasa sudah menjelang siang. Waktunya makan siang. Mereka menunda pekerjaan dan mendatangi anak-anak.

Aji langsung berlari. “Mama! Aku main ayunan!”

Sasa ikut cerita. “Aku tadi jatuh sedikit!”

Desi hanya tersenyum. “Semua aman terkendali, Ma.”

Pani tersenyum lega.

“Mau makan?” tanya Ranu.

Tiga anak itu langsung kompak. “Mau!”

Mereka makan bersama. Aji makan dengan semangat. “Enak banget!”

"Aji! Pelan-pelan dong! Jangan apapun dimasukan ke mulut."

Sasa tertawa melihat adiknya makan sampai mulut penuh. "Iya tuh, Ma. Kayaknya sendok pun mau dia telan. Hahahha."

Desi makan lebih tenang. Tapi, dia menggeleng melihat adik-adiknya yang lahap.

Pani hanya sesekali memperhatikan Ranu."Maaf ya, Pak. Anak-anak agak berisik."

"Heemm."

Pria itu tetap datar. Namun dia tidak terlihat terganggu.

Setelah makan, Ranu berbicara pada supir.

“Antar mereka ke hotel. Biar mereka istirahat di sana dulu.”

"Baik, Pak."

"Selama kami di proyek, aku titipkan mereka padamu."

"Baik, Pak." supir itu mengangguk.

***

Pekerjaan kembali dilanjutkan. Beberapa data harus diperbaiki. Ada yang tidak sesuai. mereka juga meninjau lokasi proyek. Memantau alat, bahan, dan pekerja.

"Ini layout nya, Pak?"

"Benar, Bu Pani. Desainnya nanti seperti ini. Dan lokasi ini sangat cocok. Untuk bahan sudah kita anggarkan dan kita cek bahan bakunya."

Mereka bekerja dengan sangat teliti. Semua hal mereka diskusikan, bahkan contoh produk dan bahan baku sudah mereka periksa. Saat selesai, hari sudah mulai gelap.

Ranu menghentikan langkah di depan sebuah toko pakaian. Pani mengernyit.

“Pak?”

“Ayo masuk.”

Mereka masuk. Pani masih bingung, mau apa mereka masuk toko baju? Apa Pak Ranu tak bawa baju? Tapi jelas tadi ada koper yang cukup. Lalu kenapa masuk ke toko baju? Begitu kira-kira yang Pani pikirkan.

“Pilihlah baju buat anak-anak.”

“Eh?” Mata Pani mengerjab, "Maksud Pak Ranu?"

“Anak-anakmu. Tadi mereka tidak bawa apapun kan? Pasti gatal kalau tidak ganti baju.”

Pani terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia sangat terharu. Sebaik ini bosnya sekarang. Pani menelan ludah. Tangannya mulai memilih baju satu per satu.

“Yang ini ukuran Aji... ini Sasa... ini Desi...”

Dia tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak. Pak Ranu baik sekali. Selain ganteng, ternyata baik juga."

Ranu hanya melirik, “Itu... dipotong dari bonusmu.”

Pani langsung menoleh. Mata nya membulat melebar. “Perhitungan sekali...”

Pani cemberut pelan. Menyusul langkah Ranu yang keluar dari toko usai membayar.

****

Malam hari di hotel.

Anak-anak sudah mandi. Mereka memakai baju baru dengan wajah bahagia.

“Aku suka ini, Ma!” kata Sasa. "Makasih, Mama."

Aji berputar. “Aku ganteng nggak Ma?!”

Desi tersenyum. “Terima kasih, Ma.”

Pani mengelus kepala mereka satu per satu.

“Iya... Berterima kasihlah sama Pak bos. Dia yang bayar.”

"Siap, Ma!"

Beberapa saat kemudian, anak-anak tertidur. Pani keluar ke balkon. Ranu sudah berdiri di sana. Diam. Pani mendekat pelan.

“Pak...”

Ranu tidak menoleh.

“Pekerjaan hari ini sudah sesuai. Yah, walau agak melelahkan, tapi cukup memuskan kan, Pak?”

“Iya.”

Pani menarik napas.

“Terima kasih...”

"terima kasih apa?"

"Karena sudah membawa anak-anak ikut juga."

Ranu langsung memotong. “Aku tidak bilang gratis.”

Pani mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Ranu menoleh sedikit.

“Tadi kamu janji tambah bayaran ke orang yang jaga anakmu.”

Pani terdiam.

“Mana?”

Pani bengong beberapa detik.

“Pak... itu... Maksud pak Ranu bagaimana?”

“Bayar.” Ranu mengulurkan tangannya menengadah.

Pani menatapnya tidak percaya.

“Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 37

    Pani masih menggenggam tangan Ranu ketika mereka berjalan menuju kamar.Langkahnya terasa sedikit kaku.Bukan karena takut.Hanya saja, semuanya terasa begitu baru.Rumah baru.Status baru.Dan sekarang, ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu masih ia panggil atasannya.Begitu pintu kamar terbuka, Pani berhenti di ambang pintu.Kamar itu luas dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Di sampingnya terdapat dua nakas, sofa kecil, lemari pakaian besar, serta jendela lebar yang menghadap ke taman belakang.Pani menelan ludah."Pak..."Ranu yang sedang meletakkan koper langsung berhenti.Ia menoleh perlahan."Pak?"Pani berkedip."Iya."Ranu berjalan mendekat."Siapa yang kamu panggil?"Pani menunjuk Ranu."Pak Ranu."Ranu menghela napas, lalu tersenyum geli."Sepertinya kamu lupa sesuatu.""Apa?""Kita sudah menikah."Wajah Pani langsung memerah."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa masih panggil Pak?"Pani menunduk."Sudah t

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 36

    Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Desi yang duduk di samping jendela langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Waaah..." Matanya membulat melihat deretan rumah-rumah besar yang berdiri megah di kanan dan kiri jalan. "Bibi... rumahnya bagus-bagus." Pani tersenyum kecil, meski dadanya sendiri dipenuhi rasa gugup. "Iya." Aji ikut menjulurkan leher. "Pohonnya banyak." "Jalannya juga bersih." Sasa yang sejak tadi diam hanya memandangi pemandangan di luar. Sesekali ia melirik Ranu yang sedang menyetir. Sampai sekarang pun ia masih sulit percaya. Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai atasan kakaknya... Sekarang sudah menjadi suami kakaknya. Sekaligus kepala keluarga mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 35

    Beberapa minggu kemudian... Ruang sidang itu dipenuhi suasana tegang. Pani duduk berdampingan dengan Ranu. Jemarinya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski berusaha terlihat tenang, napasnya masih terasa berat. Ranu menoleh pelan. "Gugup?" Pani tersenyum tipis. "Sedikit." "Percaya sama prosesnya." Pani mengangguk. "Aku percaya." Di seberang mereka, keluarga Farhan duduk dengan wajah tegang. Ayah dan ibu mendiang suami kakak Pani beberapa kali berbisik dengan kuasa hukumnya. Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. "Sidang dibuka." Semua orang berdiri sebelum akhirnya kembali duduk. Hakim ketua membuka berkas yang cukup tebal. "Setelah memeriksa seluruh alat bukti, mendengar keterangan para saksi, serta mempertimbangkan kepentin

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 34

    Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda. Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai. Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang. Ranu menatap jam tangannya. "Hampir jam sebelas." Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung mengangkat kepala. "Kita berangkat sekarang?" "Iya." Anggun yang sedang membereskan kotak hantaran langsung menoleh. "Baru juga selesai akad, Ran." "Justru karena sudah selesai." Ranu mengambil map hitam yang sejak tadi dibawanya. "Sekarang status kami sudah jelas." Deni mengangguk pelan. "Papa ikut." "Aku juga," sahut Anggun cepat. Ran

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 33

    Ruang tamu itu masih dipenuhi suasana yang sesak. Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa bernapas lega setelah ucapan Ranu barusan. Pani masih menatap laki-laki itu tanpa berkedip, seolah takut semua yang baru saja didengarnya hanyalah khayalan. Sementara di seberang telepon, suara Mama Anggun terdengar semakin meninggi. "Hah? Apa? Menikah? Besok?" serunya tidak percaya. "Iya, Ma," jawab Ranu tenang. "Ranu, kamu sadar nggak sih sama yang kamu omongin? Besok itu besok! Bukan bulan depan, bukan minggu depan!" "Aku sadar." "Kamu lagi bercanda?" "Nggak." "Terus... calon istrinya siapa?" Ranu menoleh sebentar ke arah Pani yang masih duduk mematung. "Pani." Hening. Beberapa saat tidak ada suara sama sekali dari ujung telepon. Ranu sampai melihat layar ponselnya.

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 32

    Bab 32 Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru saja pulang dari tempat kerja dan mendengar keributan—langsung berlari ke dapur. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, tangannya gemetar hebat hingga sebagian air tumpah membasahi meja. "Ibu... minum dulu, Bu..." Sasa menyodorkan gelas itu ke tangan ibunya yang masih tersedu-sedu hebat. Tubuh wanita tua itu berguncang tiada henti, air matanya mengalir deras membasahi pipi keriputnya. "Mereka... mereka bawa paksa... padahal Desi berteriak manggil aku..." isak ibunya, m

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 5 - serasa liburan keluarga

    Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 3 - Dinas yang mendebarkan

    Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 2 - anaknya tiga?

    Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 1 - Sekertaris Pani

    "Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status