MasukPani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
“Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu kesepakatanmu sendiri.” Pani mendesah panjang. Ia memijat pelipisnya. “Ya Allah… saya lagi tidak punya uang lebih, Pak.” “Bukan urusanku.” Jawaban itu cepat. Dingin. Tegas. Pani menatapnya tajam beberapa detik, lalu tiba-tiba tersenyum kecil. “Kalau saya bayar pakai doa?” Ranu tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju kamar. “Besok jam tujuh. Jangan telat.” Pani mendecak pelan. “Iya, Pak Bos galak…” Di dalam kamar, suasana jauh lebih tenang. Lampu kuning hangat menyelimuti ruangan. Sasa dan Aji sudah tertidur lelap dengan posisi yang berantakan. Kaki Aji bahkan hampir menendang bantal Desi. Pani duduk di tepi kasur. Ia memperhatikan anak-anaknya satu per satu. Wajahnya perlahan melembut. Hari ini terasa panjang. Melelahkan. Membingungkan. Ia mengingat kembali kejadian pagi tadi. Suara Ranu yang tegas. Perintah yang tidak bisa ditawar. “Masuk mobil. Mereka juga ikut.” Tanpa sadar, sudut bibir Pani terangkat. Ia menutup mulutnya sendiri, seperti ketahuan sedang melakukan sesuatu yang memalukan. “Pak Ranu itu…” gumamnya pelan. Ia menggeleng kecil, tapi senyumnya tidak hilang. Desi yang belum tidur memperhatikan dari samping. Matanya tidak lepas dari wajah ibunya. “Ma…” Pani tersentak ringan. “Eh? Belum tidur kamu, Des?” Desi menggeleng pelan. “Mama senyum-senyum sendiri.” Pani langsung mengalihkan pandangan. “Enggak kok.” “Iya. Tadi aku lihat ” “Enggak.” Desi bergeser mendekat. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya. “Mama kenapa?” Pani terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab. “Enggak ada apa-apa Desi. Mama cuma merasa... Hari ini aneh saja.” “Aneh gimana?” Pani menatap langit-langit kamar. “Mama pikir bakal dimarahin besar. Bisa kehilangan kerja. Mama sempat panik banget tadi waktu tau kalian enggak ada yang jagain.” "Maaf ya, Ma. Kita ngrepotin Mama." Pani menggeleng, mengusap kepala Desi. "Enggak. Mama enggak pernah terpikir kalian repot. Mama sayang sama kalian. Mama akan usahakan apapun buat kalian." Desi mengangguk kecil. “Terima kasih, Ma. Udah ajak kita kemari juga.” “Bukan Mama yang ajak. Tapi Pak Ranu. Berterima kasihlah pada nya.” Ada jeda sebentar. Suasana jadi sedikit hening. Desi menunduk, memainkan ujung selimut. “Ma…” “Iya?” “Orang itu… baik ya?” Pertanyaan itu membuat Pani berpikir lebih lama. Ia tidak langsung menjawab. “Baik… tapi galak,” akhirnya ia berkata pelan. Desi mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat ragu. “Aku agak takut sama dia.” Pani langsung menoleh. “Takut?” Desi mengangguk kecil. “Tatapannya.” Pani tersenyum tipis, lalu mengelus kepala anaknya dengan lembut. “Dia memang begitu. Tapi tidak jahat.” Desi diam lagi. “Kamu tau? Baju yang kamu pakai ini .. Dia yang belikan. Dia yang ajak mama mampir ke toko baju,” lanjut Pani pelan. "Hal yang mama bahkan enggak terpikir tadi." "Itu artinya dia baik ya?" “Iya.” Pani mengangguk. Desi menggigit bibirnya sebentar. “Aku tetap takut.” Pani tidak memaksa. Ia hanya menarik Desi mendekat dan memeluknya. “Tidak apa-apa. Hanya hari ini dan besok. Lagipula, kalian enggak perlu terlalu banyak berinteraksi sama Pak Ranu. Yang penting kalian sopan dan nurut. Ya?” Desi akhirnya berbaring, meski matanya masih terbuka beberapa saat. Pani meraih ponselnya. Layar menyala. Satu pesan masuk dari Ranu. “Besok jam 7 siap. Jangan telat.” Pani tersenyum. Ia mengetik balasan cepat. “Siap, Pak. Tidak akan telat.” Balasan datang tidak lama. “Tidur.” Pani menatap layar beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Iya, bos galak…” Ia meletakkan ponsel, lalu berbaring di antara anak-anaknya. Tangannya merangkul Sasa dan Aji. Matanya perlahan terpejam. Senyum itu masih ada. Pagi datang dengan tergesa. “Cepat mandi! Semua cepat!” kata Pani sambil turun dari kasur. Suasana pagi jadi ramai. Meski saat sarapan semua tenang karna ada Ranu. Hari itu berjalan lebih teratur. Pani dan Ranu berpindah dari satu titik ke titik lain. Mengecek ulang hasil kerja kemarin, memastikan tidak ada kesalahan. “Bagian ini sudah sesuai,” kata Pani sambil menunjuk. Ranu memperhatikan sebentar. “Pastikan sekali lagi.” “Iya, Pak.” Sementara itu, anak-anak dititipkan pada supir di hotel. Kolam renang jadi tempat favorit mereka. “Aku lompat ya!” teriak Aji. “Jangan aneh-aneh!” sahut Desi. Sasa tertawa melihat Aji nyemplung dengan suara keras. “Airnya masuk hidung!” keluh Aji. Supir hanya tersenyum dari kursi. Siang hari, pekerjaan selesai lebih cepat. Pani terlihat lega. “Akhirnya selesai juga…” Ranu menutup map. “Kembali ke hotel.” Di hotel, anak-anak masih sibuk bermain air. Pani berdiri di tepi kolam. "sejak kapan mereka masuk air, pak?" "sejam yang lalu, Bu," jawab si sopir. "Sejam itu enggak keluar sama sekali?" "Enggak bu. Tadi sempat keluar minum sama nyemil." Pani mengangguk. Ia melirik Ranu yang berdiri mengawasi. "Kita langsung pulanh ya, Pak?" Ranu tak menjawab. Pani bergumam pelan. “Sayang ya…” Supir melirik. “Kenapa, Bu?” “Sudah sampai sini… tapi tidak lihat-lihat kota. Yah, setidaknya, kalau sudah sampai sini kan, ada waktu juga... Kemana gitu...” Supir mengangguk setuju. “Iya juga.” Keduanya saling melirik. Lalu… pelan-pelan menoleh ke arah Ranu. Ranu diam beberapa detik. Ia menarik napas pendek. “Aku dengar.” Pani langsung tersenyum lebar. “Hehe…” “Suruh anak-anak keluar dan pakai baju,” kata Ranu. “Mau ke mana, Pak?” tanya supir. “Keliling.” Anak-anak langsung heboh saat tau. “Kita jalan-jalan!” seru Pani. “Serius?!” teriak Sasa. Aji melompat kegirangan. Desi tersenyum, tapi matanya sempat melirik ke arah Ranu. Mereka berkeliling kota. Aji tidak berhenti bertanya. “Itu apa?” “Gedung.” "Wah, tinggi sekali." “Itu?” “Taman Dino.” Sasa tertawa. “Aji cerewet banget!” Desi lebih banyak diam. Ia menikmati pemandangan, tapi sesekali matanya tertuju ke depan. Ke arah Ranu. Ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak terlihat sekeras kemarin.Pani masih menggenggam tangan Ranu ketika mereka berjalan menuju kamar.Langkahnya terasa sedikit kaku.Bukan karena takut.Hanya saja, semuanya terasa begitu baru.Rumah baru.Status baru.Dan sekarang, ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu masih ia panggil atasannya.Begitu pintu kamar terbuka, Pani berhenti di ambang pintu.Kamar itu luas dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Di sampingnya terdapat dua nakas, sofa kecil, lemari pakaian besar, serta jendela lebar yang menghadap ke taman belakang.Pani menelan ludah."Pak..."Ranu yang sedang meletakkan koper langsung berhenti.Ia menoleh perlahan."Pak?"Pani berkedip."Iya."Ranu berjalan mendekat."Siapa yang kamu panggil?"Pani menunjuk Ranu."Pak Ranu."Ranu menghela napas, lalu tersenyum geli."Sepertinya kamu lupa sesuatu.""Apa?""Kita sudah menikah."Wajah Pani langsung memerah."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa masih panggil Pak?"Pani menunduk."Sudah t
Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Desi yang duduk di samping jendela langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Waaah..." Matanya membulat melihat deretan rumah-rumah besar yang berdiri megah di kanan dan kiri jalan. "Bibi... rumahnya bagus-bagus." Pani tersenyum kecil, meski dadanya sendiri dipenuhi rasa gugup. "Iya." Aji ikut menjulurkan leher. "Pohonnya banyak." "Jalannya juga bersih." Sasa yang sejak tadi diam hanya memandangi pemandangan di luar. Sesekali ia melirik Ranu yang sedang menyetir. Sampai sekarang pun ia masih sulit percaya. Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai atasan kakaknya... Sekarang sudah menjadi suami kakaknya. Sekaligus kepala keluarga mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah
Beberapa minggu kemudian... Ruang sidang itu dipenuhi suasana tegang. Pani duduk berdampingan dengan Ranu. Jemarinya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski berusaha terlihat tenang, napasnya masih terasa berat. Ranu menoleh pelan. "Gugup?" Pani tersenyum tipis. "Sedikit." "Percaya sama prosesnya." Pani mengangguk. "Aku percaya." Di seberang mereka, keluarga Farhan duduk dengan wajah tegang. Ayah dan ibu mendiang suami kakak Pani beberapa kali berbisik dengan kuasa hukumnya. Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. "Sidang dibuka." Semua orang berdiri sebelum akhirnya kembali duduk. Hakim ketua membuka berkas yang cukup tebal. "Setelah memeriksa seluruh alat bukti, mendengar keterangan para saksi, serta mempertimbangkan kepentin
Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda. Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai. Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang. Ranu menatap jam tangannya. "Hampir jam sebelas." Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung mengangkat kepala. "Kita berangkat sekarang?" "Iya." Anggun yang sedang membereskan kotak hantaran langsung menoleh. "Baru juga selesai akad, Ran." "Justru karena sudah selesai." Ranu mengambil map hitam yang sejak tadi dibawanya. "Sekarang status kami sudah jelas." Deni mengangguk pelan. "Papa ikut." "Aku juga," sahut Anggun cepat. Ran
Ruang tamu itu masih dipenuhi suasana yang sesak. Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa bernapas lega setelah ucapan Ranu barusan. Pani masih menatap laki-laki itu tanpa berkedip, seolah takut semua yang baru saja didengarnya hanyalah khayalan. Sementara di seberang telepon, suara Mama Anggun terdengar semakin meninggi. "Hah? Apa? Menikah? Besok?" serunya tidak percaya. "Iya, Ma," jawab Ranu tenang. "Ranu, kamu sadar nggak sih sama yang kamu omongin? Besok itu besok! Bukan bulan depan, bukan minggu depan!" "Aku sadar." "Kamu lagi bercanda?" "Nggak." "Terus... calon istrinya siapa?" Ranu menoleh sebentar ke arah Pani yang masih duduk mematung. "Pani." Hening. Beberapa saat tidak ada suara sama sekali dari ujung telepon. Ranu sampai melihat layar ponselnya.
Bab 32 Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru saja pulang dari tempat kerja dan mendengar keributan—langsung berlari ke dapur. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, tangannya gemetar hebat hingga sebagian air tumpah membasahi meja. "Ibu... minum dulu, Bu..." Sasa menyodorkan gelas itu ke tangan ibunya yang masih tersedu-sedu hebat. Tubuh wanita tua itu berguncang tiada henti, air matanya mengalir deras membasahi pipi keriputnya. "Mereka... mereka bawa paksa... padahal Desi berteriak manggil aku..." isak ibunya, m
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah
"Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an







