Share

bab 34

Author: SingoRanu
last update publish date: 2026-08-16 12:00:38

Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda.

Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai.

Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang.

Ranu menatap jam tangannya.

"Hampir jam sebelas."

Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 37

    Pani masih menggenggam tangan Ranu ketika mereka berjalan menuju kamar.Langkahnya terasa sedikit kaku.Bukan karena takut.Hanya saja, semuanya terasa begitu baru.Rumah baru.Status baru.Dan sekarang, ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu masih ia panggil atasannya.Begitu pintu kamar terbuka, Pani berhenti di ambang pintu.Kamar itu luas dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Di sampingnya terdapat dua nakas, sofa kecil, lemari pakaian besar, serta jendela lebar yang menghadap ke taman belakang.Pani menelan ludah."Pak..."Ranu yang sedang meletakkan koper langsung berhenti.Ia menoleh perlahan."Pak?"Pani berkedip."Iya."Ranu berjalan mendekat."Siapa yang kamu panggil?"Pani menunjuk Ranu."Pak Ranu."Ranu menghela napas, lalu tersenyum geli."Sepertinya kamu lupa sesuatu.""Apa?""Kita sudah menikah."Wajah Pani langsung memerah."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa masih panggil Pak?"Pani menunduk."Sudah t

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 36

    Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Desi yang duduk di samping jendela langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Waaah..." Matanya membulat melihat deretan rumah-rumah besar yang berdiri megah di kanan dan kiri jalan. "Bibi... rumahnya bagus-bagus." Pani tersenyum kecil, meski dadanya sendiri dipenuhi rasa gugup. "Iya." Aji ikut menjulurkan leher. "Pohonnya banyak." "Jalannya juga bersih." Sasa yang sejak tadi diam hanya memandangi pemandangan di luar. Sesekali ia melirik Ranu yang sedang menyetir. Sampai sekarang pun ia masih sulit percaya. Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai atasan kakaknya... Sekarang sudah menjadi suami kakaknya. Sekaligus kepala keluarga mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 35

    Beberapa minggu kemudian... Ruang sidang itu dipenuhi suasana tegang. Pani duduk berdampingan dengan Ranu. Jemarinya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski berusaha terlihat tenang, napasnya masih terasa berat. Ranu menoleh pelan. "Gugup?" Pani tersenyum tipis. "Sedikit." "Percaya sama prosesnya." Pani mengangguk. "Aku percaya." Di seberang mereka, keluarga Farhan duduk dengan wajah tegang. Ayah dan ibu mendiang suami kakak Pani beberapa kali berbisik dengan kuasa hukumnya. Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. "Sidang dibuka." Semua orang berdiri sebelum akhirnya kembali duduk. Hakim ketua membuka berkas yang cukup tebal. "Setelah memeriksa seluruh alat bukti, mendengar keterangan para saksi, serta mempertimbangkan kepentin

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 34

    Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda. Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai. Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang. Ranu menatap jam tangannya. "Hampir jam sebelas." Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung mengangkat kepala. "Kita berangkat sekarang?" "Iya." Anggun yang sedang membereskan kotak hantaran langsung menoleh. "Baru juga selesai akad, Ran." "Justru karena sudah selesai." Ranu mengambil map hitam yang sejak tadi dibawanya. "Sekarang status kami sudah jelas." Deni mengangguk pelan. "Papa ikut." "Aku juga," sahut Anggun cepat. Ran

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 33

    Ruang tamu itu masih dipenuhi suasana yang sesak. Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa bernapas lega setelah ucapan Ranu barusan. Pani masih menatap laki-laki itu tanpa berkedip, seolah takut semua yang baru saja didengarnya hanyalah khayalan. Sementara di seberang telepon, suara Mama Anggun terdengar semakin meninggi. "Hah? Apa? Menikah? Besok?" serunya tidak percaya. "Iya, Ma," jawab Ranu tenang. "Ranu, kamu sadar nggak sih sama yang kamu omongin? Besok itu besok! Bukan bulan depan, bukan minggu depan!" "Aku sadar." "Kamu lagi bercanda?" "Nggak." "Terus... calon istrinya siapa?" Ranu menoleh sebentar ke arah Pani yang masih duduk mematung. "Pani." Hening. Beberapa saat tidak ada suara sama sekali dari ujung telepon. Ranu sampai melihat layar ponselnya.

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 32

    Bab 32 Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru saja pulang dari tempat kerja dan mendengar keributan—langsung berlari ke dapur. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, tangannya gemetar hebat hingga sebagian air tumpah membasahi meja. "Ibu... minum dulu, Bu..." Sasa menyodorkan gelas itu ke tangan ibunya yang masih tersedu-sedu hebat. Tubuh wanita tua itu berguncang tiada henti, air matanya mengalir deras membasahi pipi keriputnya. "Mereka... mereka bawa paksa... padahal Desi berteriak manggil aku..." isak ibunya, m

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 5 - serasa liburan keluarga

    Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 3 - Dinas yang mendebarkan

    Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 2 - anaknya tiga?

    Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 1 - Sekertaris Pani

    "Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status