LOGINBab 32
Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru sajaBab 32 Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru saja pulang dari tempat kerja dan mendengar keributan—langsung berlari ke dapur. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, tangannya gemetar hebat hingga sebagian air tumpah membasahi meja. "Ibu... minum dulu, Bu..." Sasa menyodorkan gelas itu ke tangan ibunya yang masih tersedu-sedu hebat. Tubuh wanita tua itu berguncang tiada henti, air matanya mengalir deras membasahi pipi keriputnya. "Mereka... mereka bawa paksa... padahal Desi berteriak manggil aku..." isak ibunya, m
Bab 31 Waktu seolah berhenti berputar. Hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan di ruangan yang hangat itu. Pani berdiri mematung di ambang pintu, sementara Ranu terpaku di dekat jendela. Tatapan mereka bertaut, tak ada satu pun yang berniat melepaskan. Jantung Pani berdegup begitu kencang hingga rasanya terdengar sampai ke telinga. Keberanian yang sempat hilang saat masuk kamar mandi kini kembali muncul, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Dengan langkah pelan namun pasti, ia berjalan mendekat. Kakinya terasa berat, namun hatinya mendesak untuk terus maju. Saat jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal, Pani mengangkat tangan, perlahan menyentuh dada bidang Ranu yang tertutup kemeja rapi. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang sama berlaranya dengan miliknya. "Ranu..." bisiknya parau. Matanya menatap dalam ke bola mata hitam lelaki itu. "Terima kasih." Ra
Malam mulai turun saat mobil Ranu melaju membelah jalanan kota yang ramai lampu kendaraan. Pani duduk diam di kursi penumpang sambil memandangi map berisi dokumen yang tadi diberikan pengacara Ranu. Sejak keluar dari kantor, pikirannya belum berhenti bekerja. Terlalu banyak hal yang dilakukan pria itu. Dan semuanya untuk dirinya. Ranu menyetir santai sambil sesekali melirik jalan di depan. Kemeja kerjanya masih rapi walau wajahnya tampak sedikit lelah setelah seharian mengurus kantor dan masalah Desi sekaligus. "Aku sudah bicara sama pengacara," ucapnya akhirnya. Pani langsung menoleh. "Soal Desi?" Ranu mengangguk kecil. "Status pengasuhan sementara bisa diajukan atas nama kamu dan neneknya Desi. Jadi Faisal enggak akan gampang ambil anak itu lagi." Mata Pani membesar pelan. "Secepat itu?" "Aku enggak suka
Desi masih memegang tangan Pani erat saat mereka duduk di ruang tamu rumah perlindungan anak. Mata kecilnya sembab sejak tadi menangis. Namun kali ini tatapannya tidak lagi seseram tadi pagi. Ia diam-diam melirik Ranu yang sedang berdiri dekat pintu sambil berbicara dengan Bu Ratih mengenai administrasi dan pendampingan hukum. Pria itu terlihat sibuk sejak tadi. Mengurus semuanya. Tidak mengeluh. Tidak marah. Dan anehnya, Desi mulai merasa aman. Padahal sebelumnya ia selalu takut setiap melihat Ranu dekat dengan Pani. Dalam pikirannya, pria itu pasti akan merebut Pani darinya. Sama seperti Faisal yang dulu merebut semuanya dari hidup Desi. Namun hari ini berbeda. Ranu datang membawa polisi. Membela Pani. Membawanya keluar dari rumah itu. Desi menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya. "M
Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d
Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah







