LOGINSabtu pagi, Amara menjalani weekend layaknya tahanan rumah. Pukul sepuluh pagi, Bi Ana sudah pamit untuk berbelanja. Tak lama setelahnya, bel penthouse berbunyi.
Marco yang membukanya. Dr. Anton dan seorang perawat masuk. "Selamat pagi, Nona Amara," sapa Dr. Anton. "Kami datang untuk pemeriksaan hari H minus dua. Bagaimana perasaanmu?" "Sedikit kembung, Dokter, tapi baik-baik saja," jawab Amara, terkejut dengan kunjungan tak terduga ini. Kekuatan dan koneksi Darian memang tidak terbatas. "Itu normal. Kita akan memeriksa kondisi akhir rahim dan folikelmu. Mari kita ke kamarmu," ujar Dr. Anton. Amara memimpin mereka menaiki tangga. Di lantai atas, mereka melewati tangga spiral dan menuju koridor panjang, di mana kamar Amara berada di dekat tangga, sementara kamar utama Darian berada diujung, bersebelahan dengan ruang kerjanya. Di kamar Amara, perawat segera menyiapkan peralatan. Dr. AAmara melepaskan cengkeramannya pada dagu Inara dengan kasar, membuat kepala wanita itu terhenyak. Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, sementara Inara hanya bisa meringkuk di lantai, menangis tanpa suara dengan lingerie yang membuatnya tampak begitu hina. "Kau ingin tahu bagaimana aku tahu semuanya?" tanya Amara dengan suara yang kini lebih tenang namun jauh lebih mematikan. *** Malam itu, saat penthouse diselimuti keheningan, Amara merasa haus dan hendak menuju dapur. Langkah kakinya yang tanpa suara terhenti tepat di depan kamar tamu saat ia mendengar suara samar dari dalam. Meskipun Inara mencoba berbisik, keheningan malam dan konstruksi pintu yang tidak sepenuhnya kedap suara membuat setiap kata Inara terdengar jelas di telinga Amara. "Semuanya berjalan sesuai rencana di sini," suara Inara terdengar angkuh, sangat berbeda dari nada memelas yang biasa ia gunakan. "Tapi ada gangguan kecil. Amara... dia menyelamatkan seseorang di parkiran sore tadi.
Suasana di dalam kamar tamu penthouse Lancaster terasa begitu pekat dengan aroma obat yang menyengat dan ambisi busuk yang menyesakkan. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, seolah ikut menertawakan kehancuran martabat yang sedang dipertaruhkan. Di atas ranjang besar itu, Darian Lancaster, pria yang biasanya begitu tangguh dan tak tersentuh, kini tampak begitu rapuh. "Amara... sayang... di mana kau?" racau Darian dengan suara parau yang menyayat hati. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat kemeja putihnya yang mahal melekat transparan di kulitnya yang panas. "Panas... aku butuh kau, Sayang... cepatlah kemari..." Inara, kini didalamnya mengenakan lingerie hitam dibalut gaun tidur tipis, yang mengekspos lekuk tubuhnya, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan bagi seseorang yang seharusnya "pincang". Ia merangkak naik ke atas ranjang, menatap Darian dengan tatapan lapar dan penuh kemenangan. "Aku di sini, Rian," bisik I
Di kantor Lancaster, Darian baru saja melihat foto kiriman misterius yang memperlihatkan Amara memegang paket syal dari Max. Rahangnya mengeras, kemarahan membuncah di dadanya karena Amara tidak menceritakan hal itu. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Nama Maya tertera di layar. "Ya, Maya? Ada apa?" tanya Darian dengan suara berat. "Tuan Darian, maaf mengganggumu. Aku baru saja menelpon Amara. Nenekku tiba-tiba drop dan dilarikan ke rumah sakit. Dia terus memanggil nama Amara. Bisakah aku menjemputnya dan membawanya menjenguk Nenek sebentar saja?" Darian terdiam. Ia mengenal nenek Maya dengan baik dan tahu betapa dekatnya Amara dengan wanita tua itu. Mengingat Amara baru saja pulih, ia merasa ini adalah alasan yang cukup kuat. "Baiklah, Maya. Tapi pengawalan akan tetap ketat. Aku tidak ingin kejadian di basement terulang." Maya tiba di penthouse. Amara sudah bersiap dengan pakaian rapi. Mereka berpamitan kepada Bi Ana yang sedang sibuk di dapur. Amara sengaja menatap In
Setelah mengantar Inara kembali ke kamarnya, Amara masuk ke kamar utama ruang pribadinya. Rasa penasaran yang sejak tadi tertahan kini mencapai puncaknya. Ia meraih ponselnya, mencari nama yang tertera pada kartu nama hitam itu: Maximilian Heuston. Layar ponsel Amara segera dipenuhi oleh berbagai artikel bisnis. "Maximilian Heuston: Sang Predator dari Utara. CEO Heuston Corp, Rival Abadi Lancaster Group."'Rival? Benarkah itu?' Amara terus menggulir layar, mencari lebih dalam. Hingga jemarinya berhenti pada sebuah artikel usang yang sudah menguning dari arsip berita lima belas tahun silam. "Putra Mahkota Heuston Corp berada di hutan yang sama dengan kasus penculikan putra tunggal Lancaster. Insiden ini menjadi sorotan utama nasional." Amara membeku. Matanya melebar saat membaca baris selanjutnya. "Maximilian Heuston dikirim ke luar negeri untuk studi segera setelah kejadian tersebut. Namun, desas-desus menyebutkan ada kasus besar yang disembunyikan di balik kepergian menda
Amara masih menggenggam kartu nama hitam dengan ukiran emas bertuliskan Maximilian Heuston itu. Syal lavender di atas meja tampak begitu kontras dengan suasana hatinya yang mulai diliputi kegelisahan. Ingatannya kembali ke basement, tatapan mata Max bukan sekadar tatapan pria yang berterima kasih. Itu adalah tatapan seseorang yang telah lama mengintai dari balik bayang-bayang. "Nona, siapa pengirim paket indah itu?" suara Bi Ana mengejutkan Amara. Amara dengan cepat menyelipkan kartu nama itu ke dalam saku gaun rumahnya. "Hanya... kenalan baru, Bi. Dia berterima kasih karena aku membantunya kemarin," jawab Amara setenang mungkin, meskipun ia tahu Bi Ana bisa merasakan ketegangannya. Tanpa Amara sadari, di lantai atas, di balik pilar marmer yang megah, Inara menekan tombol kirim pada ponselnya. Sebuah foto Amara yang sedang memegang syal pemberian Max terkirim kepada "Nona"-nya. Inara tersenyum penuh kemenangan. Baginya, setiap inci gerakan Amara kini adalah amunisi untuk men
Setelah ketegangan di ruang tamu mereda, Amara hanya bisa mengangguk pasrah saat Darian menegaskan perintahnya tentang pengawalan ekstra. Matahari jingga kini berubah pekat. Waktu makan malampun tiba, namun suasana makan malam itu terasa kaku. Darian lebih banyak diam, matanya sesekali melirik Amara dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa syukur karena istrinya selamat dan amarah yang terpendam terhadap situasi tersebut. Inara duduk di sudut meja, menyantap supnya dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah ia tidak ada di sana. Namun, matanya yang tajam tidak melewatkan satu pun getaran emosi antara suami istri itu. Setelah makan malam usai, Amara memilih untuk segera naik ke kamar, beralasan kepalanya kembali terasa berat. Malam semakin larut. Di dalam kamar utama yang remang-remang, Darian sudah tertidur karena kelelahan setelah seharian bertempur dengan rapat dan berita mengejutkan dari basement. Lengannya melingkar protektif di pinggang Amara, namun Amara send







