MasukDi kantor Lancaster, Darian baru saja melihat foto kiriman misterius yang memperlihatkan Amara memegang paket syal dari Max. Rahangnya mengeras, kemarahan membuncah di dadanya karena Amara tidak menceritakan hal itu. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Nama Maya tertera di layar. "Ya, Maya? Ada apa?" tanya Darian dengan suara berat. "Tuan Darian, maaf mengganggumu. Aku baru saja menelpon Amara. Nenekku tiba-tiba drop dan dilarikan ke rumah sakit. Dia terus memanggil nama Amara. Bisakah aku menjemputnya dan membawanya menjenguk Nenek sebentar saja?" Darian terdiam. Ia mengenal nenek Maya dengan baik dan tahu betapa dekatnya Amara dengan wanita tua itu. Mengingat Amara baru saja pulih, ia merasa ini adalah alasan yang cukup kuat. "Baiklah, Maya. Tapi pengawalan akan tetap ketat. Aku tidak ingin kejadian di basement terulang." Maya tiba di penthouse. Amara sudah bersiap dengan pakaian rapi. Mereka berpamitan kepada Bi Ana yang sedang sibuk di dapur. Amara sengaja menatap In
Setelah mengantar Inara kembali ke kamarnya, Amara masuk ke kamar utama ruang pribadinya. Rasa penasaran yang sejak tadi tertahan kini mencapai puncaknya. Ia meraih ponselnya, mencari nama yang tertera pada kartu nama hitam itu: Maximilian Heuston. Layar ponsel Amara segera dipenuhi oleh berbagai artikel bisnis. "Maximilian Heuston: Sang Predator dari Utara. CEO Heuston Corp, Rival Abadi Lancaster Group."'Rival? Benarkah itu?' Amara terus menggulir layar, mencari lebih dalam. Hingga jemarinya berhenti pada sebuah artikel usang yang sudah menguning dari arsip berita lima belas tahun silam. "Putra Mahkota Heuston Corp berada di hutan yang sama dengan kasus penculikan putra tunggal Lancaster. Insiden ini menjadi sorotan utama nasional." Amara membeku. Matanya melebar saat membaca baris selanjutnya. "Maximilian Heuston dikirim ke luar negeri untuk studi segera setelah kejadian tersebut. Namun, desas-desus menyebutkan ada kasus besar yang disembunyikan di balik kepergian menda
Amara masih menggenggam kartu nama hitam dengan ukiran emas bertuliskan Maximilian Heuston itu. Syal lavender di atas meja tampak begitu kontras dengan suasana hatinya yang mulai diliputi kegelisahan. Ingatannya kembali ke basement, tatapan mata Max bukan sekadar tatapan pria yang berterima kasih. Itu adalah tatapan seseorang yang telah lama mengintai dari balik bayang-bayang. "Nona, siapa pengirim paket indah itu?" suara Bi Ana mengejutkan Amara. Amara dengan cepat menyelipkan kartu nama itu ke dalam saku gaun rumahnya. "Hanya... kenalan baru, Bi. Dia berterima kasih karena aku membantunya kemarin," jawab Amara setenang mungkin, meskipun ia tahu Bi Ana bisa merasakan ketegangannya. Tanpa Amara sadari, di lantai atas, di balik pilar marmer yang megah, Inara menekan tombol kirim pada ponselnya. Sebuah foto Amara yang sedang memegang syal pemberian Max terkirim kepada "Nona"-nya. Inara tersenyum penuh kemenangan. Baginya, setiap inci gerakan Amara kini adalah amunisi untuk men
Setelah ketegangan di ruang tamu mereda, Amara hanya bisa mengangguk pasrah saat Darian menegaskan perintahnya tentang pengawalan ekstra. Matahari jingga kini berubah pekat. Waktu makan malampun tiba, namun suasana makan malam itu terasa kaku. Darian lebih banyak diam, matanya sesekali melirik Amara dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa syukur karena istrinya selamat dan amarah yang terpendam terhadap situasi tersebut. Inara duduk di sudut meja, menyantap supnya dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah ia tidak ada di sana. Namun, matanya yang tajam tidak melewatkan satu pun getaran emosi antara suami istri itu. Setelah makan malam usai, Amara memilih untuk segera naik ke kamar, beralasan kepalanya kembali terasa berat. Malam semakin larut. Di dalam kamar utama yang remang-remang, Darian sudah tertidur karena kelelahan setelah seharian bertempur dengan rapat dan berita mengejutkan dari basement. Lengannya melingkar protektif di pinggang Amara, namun Amara send
Amara masih terpaku di tempatnya berdiri, bahkan setelah mobil hitam mewah milik Maximilian melesat pergi meninggalkan area basement Fresh Market Royale. Di tangannya, tas yang tadi dilemparkannya terasa dingin, seolah masih menyisakan sisa sentuhan pria misterius itu. "Amara! Kau mendengarku tidak?" Maya mengguncang bahu Amara dengan wajah yang masih pucat pasi. "Siapa pria itu? Dan kenapa ada orang yang mau membunuhnya? Astaga, jantungku hampir copot!" Amara mengerjapkan mata, mencoba mengembalikan kesadarannya. "Aku tidak tahu, Maya. Dia bilang namanya Max. Dia hampir ditusuk dari belakang, dan aku hanya refleks bertindak." Dua pengawal Arcus yang dikirim Darian mendekat dengan wajah penuh penyesalan. Mereka menunduk dalam. "Maafkan kami, Nona. Kami lalai memantau pergerakan penyerang itu di balik pilar. Kami akan segera melaporkan kejadian ini pada Tuan Darian." "Jangan!" Amara memotong cepat, namun ia segera sadar itu mustahil. "Maksudku... Mas Darian pasti akan sangat kh
"Aku ingin mampir ke Fresh Market Royale, Maya. Stok sayur dan lauk di kulkas menipis," ajak Amara saat mereka kembali ke mobil. "Ok, let's go," ucap Maya bersemangat. Sesampainya di supermarket besar tersebut, Maya yang sudah kebelet langsung berlari keluar. "Aku ke toilet dulu ya! Setelah selesai, aku akan menyusul di lorong buah!" Amara tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Namun, saat ia hendak melangkah menuju lift, ia meraba tasnya. "Sial, ponselku tertinggal di laci mobil." Amara berbalik arah menuju basement parkir, diikuti oleh dua pengawalnya yang setia mengekor di belakang menjaga jarak aman. Setelah mengambil ponselnya, Amara berjalan keluar dari barisan mobil. Langkah kakinya menggema di lantai beton basement yang agak sepi. Namun, tiba-tiba, matanya menangkap sosok seorang pria yang berdiri di dekat pilar besar. Pria itu mengenakan kemeja rapi, sedang berbicara di ponsel dengan nada yang sangat fokus namun lembut. "Ya, Ma... aku sudah di basement. Cepatlah,







