Home / Romansa / Pak Ceo, Aku Ingin Anak / Bab 40: Kegelisahan Amara.

Share

Bab 40: Kegelisahan Amara.

Author: Za_dibah
last update Last Updated: 2025-11-11 22:25:39
​Darian berdiri tegap di tengah kamar, mengabaikan protes Amara tentang privasi. Ia menatap Suster Dewi yang sudah siap dengan peralatannya.

​"Suster Dewi, silakan masuk. Lakukan suntikan di sini," perintah Darian mutlak.

​Suster Dewi dan Bi Ana, yang tahu ini adalah perintah dari Darian, segera masuk. Namun, tepat sebelum Suster Dewi mengangkat jarum suntik, Darian berbalik.

​"Aku akan menunggu di luar," kata Darian, suaranya tenang. "Amara, kau bisa memanggilku kalau selesai. Aku akan berangkat ke kantor setelah kau melakukan suntikan."

​Darian keluar dari kamar utama, menutup pintu, dan menunggu di depan ruang kerjanya. Meskipun ia bersikeras suntikan dilakukan di kamar itu demi keamanan, ia masih memiliki naluri untuk menghargai privasi Amara yang rentan.

​Di dalam, Amara segera membalikkan tubuhnya. Ia merasakan jarum suntik PIO menembus kulitnya, membawa rasa sakit yang kini menjadi rutinitas.

​"Bu Amara, Tuan Darian sangat mengkhawatirkan Anda," bisik Suster Dewi sam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 124: Lanjut ronde ketiga 🔥🔞

    Darian mengangkat tubuh Amara yang sudah benar-benar lunglai dari sofa, membawanya menuju ranjang Kingsize yang megah di tengah kamar utama. Amara sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk sekadar memprotes; kepalanya terkulai di ceruk leher Darian, menghirup aroma keringat dan gairah yang menguar dari tubuh suaminya. ​Begitu tubuhnya menyentuh sprei sutra yang dingin, Amara merasakan sedikit kesegaran, namun itu hanya bertahan sesaat. Darian segera merangkak di antara kedua kakinya, menatap istrinya dengan tatapan yang begitu intens, seolah ingin menembus hingga ke dasar jiwa Amara. "Sekali lagi, Sayang. Ronde terakhir untuk malam ini... aku ingin memastikan benihku benar-benar bersemi di dalammu," ucap Darian sambil mengelus inti Amara yang masih sensitif. Amara menggeleng lemah, matanya yang sayu berair. "Mas... kumohon... aku sudah tidak kuat... pinggangku remuk... tubuhku lemas, Mas." ​Darian tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan foreplay yang jauh lebih intim. Ia

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 123: Ronde kedua 🔥🔞

    Ronde pertama seharusnya sudah cukup untuk pria normal, namun stamina Darian Lancaster bukanlah stamina pria biasa, terlebih dengan dorongan sisa zat kimia di tubuhnya. Tanpa melepaskan Amara, ia justru mengangkat tubuh istrinya yang sudah lemas ke dalam pelukan. Amara melingkarkan kakinya di pinggang Darian, kepalanya bersandar lelah di bahu suaminya. ​Darian melangkah keluar dari kamar tamu, berjalan menuju kamar utama mereka dengan langkah yang mantap. Untung lorong itu sepi, karena malam sudah larut Bi Ana pun juga sudah masuk kamar, para pengawal sudah menyelesaikan tugasnya dan pulang kerumah masing-masing. Namun, baru sampai di kamar utama yang menjadi pusat keindahan penthouse itu, Darian kembali berhenti. Hasratnya kembali bangkit saat merasakan gesekan kulit Amara pada tubuhnya. Alih-alih menuju ranjang, ia membawa Amara ke arah sofa beludru panjang yang menghadap ke arah kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. ​"Mas... tolong... aku lelah.

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 122: Badai gairah dikamar tamu 🔥🔞

    Darian melepaskan ciumannya sebentar, matanya yang merah menatap lapar ke arah dua gundukan kenyal istrinya yang naik-turun karena napas yang memburu. ​"Kau sangat cantik, Sayang... kau adalah penawarku," bisik Darian sebelum ia membenamkan wajahnya di dada Amara, menghisap puncaknya dengan sangat kuat. ​"Ahh! Mas... pelan... akh, itu nikmat..." rintih Amara, kepalanya terdongak ke belakang, jemarinya meremas rambut hitam Darian. Ia merasakan sensasi geli dan panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. ​Darian tidak memedulikan permohonan pelannya. Ia segera melepaskan sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan kejantanannya yang sudah tegang maksimal, besar, panjang, dan berurat. Amara menelan ludah, matanya membelalak melihat ukuran suaminya yang tampak jauh lebih mengancam malam ini akibat pengaruh zat kimia tersebut. ​"Mas... itu... apakah aku sanggup?" bisik Amara gemetar. ​"Kau harus sanggup, Sayang. Karena aku akan memenuhinya sampai kau menjerit, menyebut namaku

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 121: Efek obat yang menggairahkan.

    Darian di atas kasur terus mengerang, tangannya meraba udara. "Amara... sayang, panas... tolong aku..." Amara menatap Inara yang masih gemetar di lantai. "Kau dengar itu? Mas Darian meracau menyebut namaku, bukan namamu!" Amara segera menghampiri suaminya, menyingkirkan Inara dengan tendangan pelan namun penuh penghinaan. "Jangan pernah sentuh dia dengan tangan kotor itu lagi, jalang." ​Amara berlutut di samping Darian, mengusap dahi suaminya yang bersimbah keringat. "Aku di sini, Mas. Amara di sini. Maafkan aku karena harus menggunakan rencana ini untuk menjebak ular berbisa." ​"Pengawal! Masuk!" teriak Amara. ​Pintu kembali terbuka, dan dua pengawal berbadan tegap segera masuk dengan wajah sangat dingin. Mereka melihat Inara yang nyaris telanjang dengan jijik. ​"Bawa jalang ini keluar. Serahkan ke kantor polisi dengan bukti rekaman CCTV rahasia yang sudah kupasang dan rekaman pembicaraan teleponnya semalam. Laporkan atas percobaan pemerkosaan dan pemberian zat terlarang,

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bba 120: Camar asli adalah...

    Amara melepaskan cengkeramannya pada dagu Inara dengan kasar, membuat kepala wanita itu terhenyak. Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, sementara Inara hanya bisa meringkuk di lantai, menangis tanpa suara dengan lingerie yang membuatnya tampak begitu hina. ​"Kau ingin tahu bagaimana aku tahu semuanya?" tanya Amara dengan suara yang kini lebih tenang namun jauh lebih mematikan. *** Malam itu, saat penthouse diselimuti keheningan, Amara merasa haus dan hendak menuju dapur. Langkah kakinya yang tanpa suara terhenti tepat di depan kamar tamu saat ia mendengar suara samar dari dalam. Meskipun Inara mencoba berbisik, keheningan malam dan konstruksi pintu yang tidak sepenuhnya kedap suara membuat setiap kata Inara terdengar jelas di telinga Amara. ​"Semuanya berjalan sesuai rencana di sini," suara Inara terdengar angkuh, sangat berbeda dari nada memelas yang biasa ia gunakan. "Tapi ada gangguan kecil. Amara... dia menyelamatkan seseorang di parkiran sore tadi.

  • Pak Ceo, Aku Ingin Anak   Bab 119: Dasar jalang sialan!?

    Suasana di dalam kamar tamu penthouse Lancaster terasa begitu pekat dengan aroma obat yang menyengat dan ambisi busuk yang menyesakkan. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, seolah ikut menertawakan kehancuran martabat yang sedang dipertaruhkan. Di atas ranjang besar itu, Darian Lancaster, pria yang biasanya begitu tangguh dan tak tersentuh, kini tampak begitu rapuh. ​"Amara... sayang... di mana kau?" racau Darian dengan suara parau yang menyayat hati. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat kemeja putihnya yang mahal melekat transparan di kulitnya yang panas. "Panas... aku butuh kau, Sayang... cepatlah kemari..." ​Inara, kini didalamnya mengenakan lingerie hitam dibalut gaun tidur tipis, yang mengekspos lekuk tubuhnya, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan bagi seseorang yang seharusnya "pincang". Ia merangkak naik ke atas ranjang, menatap Darian dengan tatapan lapar dan penuh kemenangan. ​"Aku di sini, Rian," bisik I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status