Share

Bab 4

Author: Niu Susanti
Anak dari orang tua tunggal.

Mendengar kata-kata itu, pikiran Maudy seketika kosong.

Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.

Sebenarnya tidak salah kalau para guru itu berpikir begitu. Lagi pula, pernikahan semacam ini apa bedanya keluarga dengan orang tua tunggal?

….

Baru saja pulang dinas, segudang urusan sudah menanti di stasiun TV.

Rambut hitam panjang lurusnya diikat rapi menjadi kuncir kuda rendah. Mengenakan sepatu hak tinggi serta rok ketat panjang berbelahan tinggi hingga ke pangkal paha, dia melangkah mantap sambil membawa tumpukan dokumen tebal menuju ruangannya, lalu mendorong pintu dan masuk.

"Kak Maudy, akhirnya Anda kembali juga!"

Naila, sang asisten, menyambutnya seolah melihat sanak keluarga sendiri, Tinggal sedikit lagi rasanya dia bakal memeluk Maudy sambil menangis. "Kak Maudy harus lihat ke studio sekarang, di sana sudah mau meledak saking rusuhnya."

Kening Maudy berkerut.

"Ada apa?"

Stasiun televisi sudah heboh sejak semalam, tetapi tak ada yang berani melapor karena takut mengganggu Maudy yang sedang beristirahat menyesuaikan waktu.

Proyek baru stasiun TV saat ini adalah sebuah acara bincang-bincang. Presenter wanita yang semula ditunjuk adalah lulusan jurusan penyiaran dengan rekam jejak yang mumpuni dan popularitas tinggi. Namun, siapa sangka, semalam pihak sponsor utama tiba-tiba secara khusus meminta agar presenternya diganti.

Merasa dipermalukan, presenter wanita yang asli tentu saja tidak terima. Dia mengamuk di studio dan bersikeras tidak mau pergi.

Saat Maudy tiba di lokasi, dia melihat sosok yang familier.

Raline Sanjaya, presenter magang yang kemarin muncul di vilanya, kini sedang ditarik kerah bajunya dan dimaki-maki oleh presenter yang asli. "Kalau kamu punya nyali, ya bersaing yang sehat sama aku! Tiba-tiba gantiin aku itu maksudnya apa? Masih berani nangis? Memangnya kamu punya muka buat nangis? Jangan sok jadi korban!"

Raline menunduk. Matanya memerah, wajahnya dipenuhi kegelisahan. "Maaf."

"Maaf doang nggak ada gunanya! Kerjaan apa pun bisa kamu pilih, kenapa malah milih jadi pelakor! Sekarang sok-sokan pasang muka gitu buat siapa? Masih punya malu nggak sih ...."

"Udah, cukup." Maudy melangkah maju dengan langkah mantap di atas hak tingginya, menengahi dengan nada tenang. "Yumna."

Yumna, presenter yang asli, punya hubungan cukup dekat dengannya. Melihat Maudy datang, matanya merah karena marah, lalu menghentakkan kakinya dengan hak tinggi karena kesal. "Kak Maudy, kamu nggak tahu, si Raline itu ...."

"Aku tahu."

Yumna terkejut mendengar jawaban itu.

Tanpa sadar, genggamannya mengendur, lalu dia menoleh menatap Maudy.

Suasana di studio mendadak hening mencekam, saking tenangnya sampai jarum jatuh pun terdengar. Maudy kembali menenangkan Yumna dengan sabar dan lembut, "Jangan nangis, aku tahu."

Dia tahu, sponsor utama acara ini adalah Grup Hartono.

Dan dia juga tahu, David-lah yang semalam mendadak mengganti presenter itu dengan Raline.

Grup Hartono adalah pemimpin industri yang nyaris memonopoli pasar. Banyak anak perusahaan dan merek di bawah naungannya yang bekerja sama dengan stasiun TV mereka. Di stasiun TV ini, tidak ada seorang pun yang berani membantah perkataan David, bahkan kepala stasiun pun harus menyambut setiap ucapannya dengan senyum.

Jika David ingin mengangkat seseorang, itu adalah perkara yang sangat mudah.

Ke mana David pergi setelah meninggalkan vila semalam, maknanya sudah tersirat dengan jelas tanpa perlu diucapkan.

"Yumna, nggak apa-apa," ujar Maudy dengan nada lembut sambil menggenggam tangan gadis itu. "Kalau itu emang posisi kamu, nggak ada yang bisa merebutnya darimu."

Cara bicaranya memang selalu seperti itu, terdengar pelan, tetapi artikulasinya jelas, membuat orang di sekelilingnya tanpa sadar berhenti untuk menyimak dengan saksama.

Menangkap maksud tersirat dari ucapan wanita itu, Raline menggigit bibir, lalu bersuara ragu, "Kak Maudy, saya nggak tahu apa-apa sebelumnya. Pak David semalam nggak bilang apa-apa pada saya ...."

Semalam?

Mendengar itu, orang-orang di sekitar saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diungkapkan.

Maudy tak lagi bersikap sopan seperti kemarin. Dia tersenyum tipis. "Nona Raline, kamu tahu atau nggak, kita sama-sama paham. Jadi, nggak usah pura-pura jadi korban di sini, nggak ada gunanya."

Sebenarnya, Maudy jarang berbicara setegas ini. Namun baginya, rasa hormat harus datang dari kedua belah pihak. Kalau orang lain tidak berniat menghormatinya, dia juga tidak perlu lagi menjaga perasaan mereka.

Tatapan tajam Maudy membuat Raline panik. Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi masih saja bersikeras membela diri, "Benaran nggak ada. Anda salah paham ...."

Maudy berbalik dengan tatapan dingin, lalu melangkah masuk ke ruangannya.

Dia mengeluarkan ponselnya, lalu dengan cekatan menekan serangkaian nomor.

Di seberang sana, telepon berdering cukup lama tanpa ada yang mengangkat. Tepat beberapa detik sebelum panggilan terputus otomatis, akhirnya diangkat. Seolah sudah tahu Maudy akan menelepon, pria itu sama sekali tidak terdengar terkejut.

"Katakan."

Nadanya berat, dengan sikap dingin yang sudah biasa.

"Pak David." Maudy langsung berbicara tanpa basa-basi. "Menurut saya, meskipun Anda sponsor utama, Anda nggak berhak mengabaikan saya dan langsung mengganti presenter acara."

David tidak langsung menjawab, dia hanya mengangkat dagunya sedikit.

Robin yang berdiri di sampingnya langsung paham. Dia meletakkan berkas yang sedang dipegangnya, lalu keluar dari ruangan.

Pintu pun tertutup, seketika memutus semua suara dari luar hingga ruangan itu kembali sunyi.

"Kesempatan yang baru didapat presenter sebelumnya setelah mengikuti proses seleksi selama dua bulan, direnggut begitu saja cuma karena satu ucapan Anda." Nada bicara Maudy tetap tenang dan teratur, persis seperti nada bicaranya saat membahas urusan kantor. "Kita selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Dalam urusan pekerjaan, saya nggak pernah menganggap Anda sebagai orang yang akan menyalahgunakan wewenang. Jadi, saya harap Anda bisa memperlakukan orang-orang saya dengan adil."

Maudy memang selalu bersikap seperti ini.

Terlepas dari pertengkaran apa pun yang terjadi di ranah pribadi, dia tidak pernah membawa emosi tersebut ke dalam urusan pekerjaan.

Panggilan ini dia lakukan murni dalam kapasitasnya sebagai sutradara program untuk bernegosiasi dengan CEO Grup Hartono mengenai masalah ini.

Setelah Maudy selesai bicara, butuh waktu cukup lama sebelum ada respons dari seberang sana. Suara berat pria itu terdengar dengan nada yang sulit ditebak, penuh makna, "Kamu memang sangat mengenalku."

Tentu saja paham. Mana mungkin tidak.

Lagi pula, mereka sudah tidur di ranjang yang sama bertahun-tahun.

Maudy berjalan ke tepi jendela. Lengan yang memegang ponselnya terasa agak pegal. Dia langsung pada intinya. "Nona Raline sekarang belum punya kemampuan untuk memandu satu program sendirian. Kalau sudah tayang, penilaian publik paling banter cuma akan bilang dia 'masuk karena modal sponsor'. Jadi, demi kelancaran kontrak kerja sama antara perusahaan Anda dan stasiun TV kami, saya harap Pak David bisa mempertimbangkan ulang keputusan ini secara rasional."

Masuk karena modal sponsor.

Secara objektif, Raline sebagai seorang magang memang belum memiliki kemampuan memandu acara yang mumpuni, dan mustahil bisa memikul tanggung jawab sebagai pembawa acara untuk program baru stasiun TV.

Karena dia tidak punya rekam jejak dan tidak punya keunggulan.

"Maudy, kadang punya koneksi juga merupakan sebuah kemampuan, lho."

Suara David terdengar datar, menembus hiruk-pikuk lalu lintas Kota Amber yang berjarak puluhan kilometer melalui sambungan telepon, membawa nada ironi yang nyaris tak terdengar. "Orangku, selama dia mau, akulah modalnya."

Nadanya terdengar begitu tegas.

Kata-katanya sangat tidak adil dan memihak.

Kota Amber telah memasuki penghujung Desember. Banyak rumah sudah memasang hiasan jendela dan lampu-lampu berwarna. Maudy menatap ke luar, memandang deretan lampu kecil yang berkelap-kelip di balik kaca—hangat dan meriah, lalu tiba-tiba merasa tenggorokannya agak kering.

Dia mengalihkan pandangan, menangkap tayangan berita di layar komputernya. Berita itu sedang melaporkan insiden pesawat yang ditumpanginya kemarin yang nyaris jatuh akibat turbulensi. Di layar, terlihat seorang presenter sedang melaporkan langsung situasi kejadian tersebut.

Sebuah kecelakaan yang nyaris membuat Maudy tidak bisa kembali. Kini saat melihatnya kembali, dia justru merasa seolah-olah itu terjadi pada orang lain, tetapi rasa putus asa yang mencekam saat itu masih membekas dalam.

Menghadapi sikap suaminya yang tak acuh, Maudy mengepalkan tangannya erat, lalu mengendurkannya kembali.

Tidak mencintai seseorang memang tak bisa disembunyikan.

Dia mengalihkan pandangannya, mematikan layar komputer, lalu tiba-tiba bertanya dengan nada pelan, "Dia memang seistimewa itu buat kamu?"

Suara pria itu terdengar agak dingin, "Kamu mau ngapain?"

Mau ngapain?

Memangnya apa yang bisa dia lakukan.

Sebenarnya, Maudy sudah lama tahu soal keberadaan gadis itu.

Selama dua bulan menjalani perjalanan dinas di Kota Deblin, dia mendengar banyak desas-desus.

Mulai dari bawahan, rekan kerja, hingga atasannya, hampir semua orang tahu kalau Raline telah menggaet David.

Dan dirinya, justru menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.

Bagi pria yang duduk di posisi David, banyak wanita cantik yang berebut mendekat. Namun, entah mengapa, David justru memilih gadis ini.

Sosok seperti Raline. Penampilan dan latar belakangnya sama sekali tidak menonjol, bahkan dia masih terlihat sangat polos.

Orang-orang sampai bercanda, sepertinya pria itu benar-benar menemukan cinta sejatinya.

Lucu sekali.

Cinta sejati? Di usia 18 tahun, dia juga pernah menjadi cinta sejati David.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status