Saat berusia 18 tahun, Maudy diterima di sebuah universitas di Kota Deblin.
Kota Deblin di awal tahun 2010-an tidak seperti sekarang. Keadaan saat itu cukup kacau dan biaya hidupnya tinggi. Maudy, seorang gadis muda tanpa modal maupun koneksi, harus menelan banyak pahit sendirian di sana.
Saat itu, dia bekerja sambil kuliah dengan menjadi pelayan di sebuah kafe.
Suatu kali, dia dihadang oleh beberapa pria asing. Tatapan mereka penuh nafsu sambil melontarkan candaan cabul yang tak dia mengerti.
Maudy belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Dia jelas-jelas sudah menghindar berkali-kali, tetapi rombongan itu tetap saja menabraknya. Cangkir porselen di atas nampannya jatuh berantakan dan pecah berkeping-keping, sementara dia sendiri tersiram kopi hingga basah kuyup, membasahi sebagian besar dadanya.
Waktu itu masih siang hari. Karena keributan tersebut, banyak orang di sekitar menoleh. Maudy dengan canggung menggunakan nampan untuk menutupi bagian depan tubuhnya, tetapi mereka terus mendesak, bahkan berusaha merebut nampan dari tangannya.
"Beraninya cuma sama perempuan?"
Saat itulah David muncul. Dia melangkah maju, menghalangi tubuh Maudy, lalu dengan bahasa asing yang fasih memaki mereka sebagai sekumpulan bajingan dengan nada penuh penghinaan.
Meja-meja dihantam hingga terguling, piring-piring pun pecah berantakan. David mengganti rugi semua kerusakan itu dari kantongnya sendiri. Maudy mengikutinya dari belakang dan menawarkan diri untuk mengganti uang tersebut, tetapi ditolak.
"Ngapain ambil duit cewek," ucap pemuda itu. Di bawah temaram lampu jalan, goresan darah di wajahnya tampak jelas, tetapi dia hanya tersenyum santai. "Pokoknya kalau ketemu lagi, jangan sampai bikin dirimu seberantakan ini."
Suaranya bergema, seakan membawa serta embusan angin kencang.
Bagi Maudy yang saat itu sendirian merantau di negeri orang, ini adalah pertama kalinya dia merasakan sensasi yang begitu asing, tetapi istimewa.
Belakangan, dia baru tahu bahwa David adalah petinju profesional paling menjanjikan di Kota Deblin kala itu. Pantas saja, meski harus menghadapi tiga orang sekaligus, dia tetap bisa membuat pria-pria kekar itu terkapar. Pria itu jelas bukan orang sembarangan.
Berkat pertemuan tak sengaja itu, hubungan mereka makin dekat, hingga akhirnya mengalir begitu saja.
Mereka pun resmi bersama.
David saat itu benar-benar memanjakannya. Meski uangnya tak banyak, setiap uang hadiah yang dia dapat dari menjuarai pertandingan selalu dia serahkan seluruhnya kepada Maudy, tanpa menyisakan sepeser pun untuk dirinya.
Teman-temannya sering mengejeknya sebagai suami yang takut istri. Namun, dia tak pernah menganggap itu sebagai ejekan. "Cewek emang harus dimanjakan. Lagian aku cowok, hidup seadanya juga nggak masalah."
Dia adalah pria yang santai dan bebas. Baginya, kalau sudah mencintai seseorang, maka cintai dengan terang-terangan.
Kala itu, ke mana pun David pergi, Maudy selalu ada di sisinya. Secantik apa pun gadis yang mencoba mengajaknya mengobrol, David bahkan tidak sudi menoleh.
Kenangan yang paling membekas terjadi pada tahun 2016. Pertandingan itu berlangsung begitu sengit. Di tengah laga, petinju lawan nekat menggunakan cara kotor demi meraih kemenangan. Akibatnya, di babak kedua David babak belur, kelopak matanya bengkak hingga nyaris tidak bisa melihat. Setelah turun dari ring, dia tak mau mendengarkan nasihat siapa pun, bersikeras menolak perawatan luka, dan hanya ingin bertemu Maudy.
Dia akhirnya bertahan selama setengah jam hingga Maudy tiba. Begitu melihat wanita itu, dia langsung menariknya ke dalam pelukan dan mulai sibuk menitipkan pesan-pesan terakhirnya. Mulutnya berlumuran darah, hingga kata-kata yang keluar pun tak lagi jelas.
"Di bawah kasur masih ada uang. Aku nggak nabung diam-diam kok ... Tadinya mau dipakai buat beli kado buat kamu ...."
Maudy merasa tak berdaya sekaligus ingin menangis. Dia mengancam pria itu, kalau David berani mati, uang tersebut akan dihabiskan untuk laki-laki lain.
David menelan mentah-mentah ancaman itu. Tatapannya menyala tajam, menggenggam erat pergelangan tangan Maudy cukup lama tanpa bisa bersuara. Bahkan saat diseret masuk ke dalam ambulans, dia masih bertahan mati-matian dan menolak memejamkan mata.
Hal pertama yang dia lakukan setelah sadar adalah mencabut selang infusnya dan pergi mencari Maudy.
Hanya dari sikap nekat dan totalitasnya itu, teman-teman di sekitarnya tahu persis seberapa serius David terhadap Maudy.
Orang-orang sering berkata, di masa muda seseorang tak seharusnya bertemu dengan sosok yang terlalu memukau, karena hal itu bisa merusak sisa hidupnya.
Kala itu, Maudy masih dengan bodohnya berpikir, jika sosok itu adalah David, maka biarkan saja sisa hidupnya hancur.
Di usia 18 tahun, David sampai menyuruh orang mendatangkan satu truk penuh bunga matahari dari Oakhaven, lalu berdiri di depan gerbang universitas sepanjang sore untuk menyatakan cintanya, berjanji takkan pernah membuat Maudy menyesal.
Di usia 19 tahun, Maudy merayakan ulang tahun pertamanya. David mengajaknya berkendara menembus malam di sekitar Deblin Tower, dari Deblin Harbour hingga Blue Mountains, menemaninya naik ke Observatorium Deblin untuk menyaksikan pertunjukan "Galaksi Aurora", mendoakan agar masa depannya cerah dan gemilang.
Saat itu, Maudy mengira mereka akan bersama selamanya, melangkah beriringan sampai kapan pun.
Namun kemudian, segala sesuatunya berubah.
Memasuki tahun ketiga hubungan mereka, banyak masalah muncul di antara mereka.
Berbagai konflik di antara mereka perlahan mulai memuncak. Entah sejak kapan, David mulai sering tidak pulang dan makin jarang pulang ke rumah, hingga pada akhirnya mereka hampir tidak bertemu selama seminggu penuh.
Setiap kali Maudy menelepon, yang dia terima hanya jawaban seadanya dan sikap dingin David.
Teman-teman di sekitar mereka mulai ramai membicarakan bahwa David sudah bosan.
Akan tetapi, Maudy tidak percaya. Sedikit pun tidak.
Kalau David tidak mengangkat teleponnya, Maudy akan terus menelepon sampai pria itu menjawab. Kalau David tidak muncul, Maudy akan mencarinya dan menunggu di luar sasana tinju seharian penuh. Dan pada akhirnya, David memang keluar.
Raut wajahnya dingin, David bertanya dengan nada tidak sabar, "Ngapain kamu ke sini?"
Dari dalam sasana tinju terdengar suara seorang wanita yang tertawa renyah, memanggilnya dengan nada yang terdengar sangat akrab, "David, buruan sini, ngapain sih di luar?"
"Hmm," jawabnya cuek, lalu menoleh ke arah Maudy. "Nggak usah nungguin aku, mending cepetan pulang. Malam ini aku nggak pulang."
Usai berkata demikian, dia berbalik dan melangkah masuk.
Maudy menatap punggung pria itu, lalu bertanya pelan, "Terus, kapan kamu akan pulang?"
Punggungnya yang menjauh tak berhenti sedikit pun.
"Nggak tahu."
Toh usianya kala itu masih terlalu muda, Maudy dengan polosnya meyakini bahwa dia bisa menunggu sampai pria itu berubah pikiran.
Dia tetap menunggu tanpa mengenal siang dan malam.
Namun, dia tak pernah berhasil menunggu kepulangannya.
Pada akhirnya, dia justru mendapat kabar lain.
Ternyata, pria yang sudah bersamanya siang dan malam selama tiga tahun penuh bukanlah pemuda miskin yang tidak punya apa-apa.
Dia adalah putra tunggal Grup Hartono di Kota Amber, calon CEO Grup Hartono, David Hartono.
Sebenarnya, Maudy sudah lama merasakan hal ini.
Dia sadar betul bahwa dia dan David berasal dari dunia yang berbeda.
Namun, dia tak menyangka jarak di antara mereka begitu jauh, hingga terpaut beberapa lapis kelas sosial.
David tak pernah berniat bersamanya sampai akhir, sehingga dia pun tak pernah berniat mengungkapkan identitas aslinya.
Bagi David, Maudy hanyalah sekadar rasa penasaran sesaat.
Dan sekarang, David sudah bosan.
Hari itu, Maudy juga menerima telepon dari tanah air. Orang tuanya memaksanya untuk pulang dan meminta uang darinya, bahkan sampai menghancurkan abu jenazah kakeknya hingga berantakan. Padahal, sejak kecil hingga dewasa, kakeknya lah satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya.
Malam itu, setelah mengetahui semuanya, Maudy demam tinggi. Sepanjang malam tubuhnya menggigil hebat. Demam membuat sekujur tubuhnya terasa membara, seolah setiap organ dalamnya ikut terasa sakit.
Dia jatuh dari tempat tidur. Entah butuh tenaga sebesar apa, akhirnya dia berhasil menelepon David.
Namun, di seberang sana tak ada yang mengangkat.
Dua belas panggilan tak terjawab. Malam itu, dia terus berjuang dalam keputusasaan. Berkali-kali harapan itu muncul, berkali-kali pula hatinya kembali terkoyak.
Malam yang begitu panjang itu, dia tak akan pernah melupakan rasa sakit yang seolah merenggut sesuatu dari dirinya.
Akhirnya, saat langit hampir mulai terang, telepon David terangkat. Namun, yang menjawab adalah suara wanita asing. Dari ujung telepon, wanita itu bertanya pada David, "David, ada telepon dari pacarmu. Udah nelpon berkali-kali nih, mau diangkat nggak?"
"Nggak usah peduliin dia."
Suara dari seberang sana terdengar dingin, bahkan disertai nada tidak sabar.
Bagaikan jerami terakhir yang mematahkan punggung unta, tangan yang menggenggam ponsel itu akhirnya terlepas lemas. Dia menatap langit-langit dengan tatapan hampa. Matanya terasa perih, dan tanpa dia sadari, air mata telah mengalir turun menyusuri pipinya, terasa panas membakar.
Namun, dia sudah tidak bisa lagi merasakan panasnya.
Dia memejamkan mata perlahan. Hawa dingin yang menusuk tulang seolah menyelimuti sekelilingnya.
Tubuhnya terasa dingin, begitu pula hatinya.
Hari itu juga, Maudy memesan penerbangan paling awal, meninggalkan Kota Deblin, dan terbang pulang ke tanah air.
Dia memutuskan segala hubungan dengan Kota Deblin dan bertekad melupakan semua yang terjadi di sana. Dia menganggap semuanya hanyalah mimpi aneh yang tak masuk akal, dan kini mimpinya telah usai, saatnya dia kembali pada kenyataan.
Namun, takdir berkata lain.
Dua tahun berselang, saat sedang magang di stasiun TV Kota Amber, dia kembali bertemu David.
Dia masih ingat betul jamuan makan malam itu. David tak sekali pun menatapnya dari awal hingga akhir, membiarkannya dicekoki minuman keras hingga mabuk berat oleh beberapa petinggi. Mereka bahkan diam-diam merencanakan bagaimana cara membawanya pergi.
Saat itu, Maudy sudah tak sadarkan diri.
Pada akhirnya, para petinggi itu menyeret dan menggendongnya keluar pintu. Mereka sudah memesan mobil dan bersiap menuju hotel, tetapi tepat di depan pintu, mereka melihat David yang sedang merokok.
Pria itu bahkan tak mengangkat kepala, hanya dengan datar mengucapkan dua patah kata.
"Cukup."
Dia pun langsung menghentikan niat busuk mereka.
Setelah kerumunan itu pergi, David menatapnya cukup lama.
"Lama nggak jumpa, Maudy."
Maudy menunduk dan tersenyum tipis.
"Pak David sekarang hebat banget. Saya sampai hampir nggak mengenali Anda."
Malam itu, karena pengaruh alkohol, Maudy hanya ingat dirinya digendong masuk ke ruang VIP oleh David. Dia terlalu mabuk, sehingga sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun, justru karena 'kecelakaan' pada malam itu, pada akhirnya mereka menikah karena sang buah hati.
Dulu, saat mereka hendak menikah, Maudy mengalami masa-masa sulit di akhir kehamilannya. Dia merasa sangat mual sampai tidak tahan mencium bau apa pun, sekadar melihat sesuatu saja sudah membuat asam lambungnya naik.
Hari itu, melihat Maudy terpasang infus di rumah sakit, pria itu tak bersuara. Dia hanya mengeluarkan sebuah kartu ATM dan menyodorkannya, lalu berkata dengan nada dingin, "Jangan bikin dirimu kelihatan berantakan kayak gini. Anak Keluarga Hartono nggak boleh ada masalah apa pun. Sedangkan kamu, begitu anak ini lahir, Keluarga Hartono sudah tidak ada hubungan apa pun lagi denganmu."
Mereka menikah hanya agar anak itu memiliki status yang sah.
Sikapnya kala itu juga sangat tegas. Begitu anak ini lahir, Maudy boleh pergi.
Namun, saat Maudy melahirkan Althaf, bayinya lahir prematur. Si kecil harus menjalani terapi oksigen selama lebih dari setengah hari sebelum akhirnya berhasil bertahan hidup. Rere, ibunya David, tidak ingin orang luar menganggap keluarga mereka tidak punya hati, mengambil cucu dan membuang menantu, sehingga dia menolak memberikan Kartu Keluarga mereka kepada David.
Begitulah, mereka setengah terpaksa, setengah pasrah menjalani pernikahan ini hingga hari ini.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, jumlah kepulangan David bisa dihitung dengan jari.
Setiap kali dia pulang selalu larut malam dan pergi sebelum matahari terbit.
Selama bertahun-tahun, banyak sekali omongan miring dari luar yang beredar. Intinya selalu sama. Dia menggunakan anak untuk memaksa David menikah, menghalalkan segala cara demi mendaki tangga sosial, dan dicap sebagai perempuan materialistis yang licik dan berhati busuk.
David pun tak pernah peduli pada rumor-rumor tersebut. Karena dia tak punya perasaan, juga tak peduli pada Maudy.
Dulu, Maudy tak menyangka hati manusia bisa berubah semudah itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa berhenti mencintai begitu saja?
Namun, kini dia paham.
David bukan tak mampu mencintai, dia hanya memberikan seluruh cintanya pada wanita lain.
Hampir sepuluh tahun masa mudanya, ternyata tak sebanding dengan dua bulan kebersamaan pria itu dan gadis tersebut.
….
Maudy terdiam cukup lama, lalu mendengar suaranya sendiri berkata, "Saya nggak akan melakukan apa pun, tapi perlu saya ingatkan satu hal, kerja sama itu membutuhkan integritas. Kalau Pak David cuma mengikuti keinginan pribadi dan seenaknya ganti susunan tim, reputasi Anda di industri ini bisa terancam. Soal untung ruginya, semoga Pak David bisa menimbang baik-baik."
"Ini ancaman untukku?"
Pria di seberang sana perlahan mengembuskan asap rokok, terdengar desah tawa meremehkan. "Ke Kota Deblin dua bulan, kamu jadi berani banget, ya. Gimana? Udah dapat sandaran baru, makanya buru-buru mau lepasin aku?"
Maudy terdiam beberapa detik. Dia hanya menanggapi ucapan David sebelumnya.
"Saya cuma mengingatkan Pak David biar nggak kehilangan hal besar cuma karena hal sepele."
Entah karena David di seberang sana sedang terlalu sibuk, dia tiba-tiba tidak melanjutkan perdebatan seperti biasanya, dan akhirnya hanya memberi jawaban dingin yang asal-asalan.
"Nanti aku pertimbangkan."
Itulah jawabannya.
Maudy bergumam "Hmm", lalu menarik turun tirai jendela. Cahaya matahari di luar seketika lenyap, menyisakan ruangan kantor yang gelap dan terasa menyesakkan.
Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Althaf tadi pagi terus nanya kapan ayahnya mau bawa dia main ke taman bermain. Ke depannya, usahain jangan gampang janji deh, anak kecil tuh bakal menganggapnya serius."
Pria di seberang sana tak bersuara, tak tahu apakah dia mendengarnya atau tidak.
Maudy pun langsung menutup telepon setelah selesai bicara.
Kota Amber pukul delapan hingga sembilan pagi tengah disibukkan oleh arus lalu lintas jam berangkat kerja. Dari atas gedung Grup Hartono, terlihat susunan jalan layang yang saling terhubung dan berpotongan rumit. Di tengah hiruk-pikuk jalan raya yang padat itu, setiap mobil tampak sekecil titik-titik di kejauhan.
David berdiri di samping jendela kaca besar, kedua tangannya terselip di saku celana. Gelang lengan berwarna hitam pekat yang melingkar di kedua ujung lengan kemeja putihnya makin menonjolkan aura dingin dan angkuhnya. Dia perlahan menarik pandangannya, lalu memanggil Robin.
"Lakukan seperti apa yang dia katakan."
Robin agak ragu. "Maksud Anda, Nona Raline yang datang tadi pagi, atau yang baru saja menelepon ...."
"Apa ada Nyonya Hartono kedua di Keluarga Hartono?" Suara pria itu terdengar datar tanpa emosi.
Robin tertegun. "Baik."
"Satu lagi, cari tahu apa saja yang dia lakukan selama dua bulan di Kota Deblin."
Mendapat perintah tersebut, Robin segera bergegas untuk melaksanakannya.
David berbalik, pandangannya sekilas jatuh pada tumpukan map di atas meja. Surat perjanjian cerai Maudy terselip di tengah-tengahnya, tetapi dia belum pernah mengambilnya untuk dibaca dengan saksama.
Entah apa yang terlintas di benaknya, dia membukanya dan melihat tulisan nama dengan goresan tinta yang tegas dan mengalir di bagian awal.
[Pihak Perempuan: Maudy].
Samar-samar dia teringat gadis yang dulu selalu tersenyum itu sering dia goda karena tulisan tangannya terlalu gagah seperti laki-laki. Kalau dilihat sekarang, memang benar-benar mantap.
Goresan penanya mengalir mulus, selesai dalam satu tarikan napas.
Benar-benar tanpa ragu.