مشاركة

Bab 6

مؤلف: Niu Susanti
Saat Maudy mendorong pintu dan melangkah keluar dari ruangannya, para staf di stasiun TV sudah menerima instruksi dari atas. Semua orang segera bergerak, mulai merias dan memilihkan setelan jas untuk presenter yang asli.

Area studio riuh, orang-orang tampak luar biasa sibuk.

Sementara itu, Raline yang baru saja berganti jas dan bersiap naik ke panggung, berdiri di sudut ruangan dengan tatapan yang tampak agak bingung.

Dia tidak mengerti, kenapa sesuatu yang sudah pasti masih bisa diserobot di detik terakhir.

Entah sejak kapan, Maudy sudah berdiri di sampingnya. Raline buru-buru mengatupkan bibir, lalu menyapa dengan hati-hati dan sopan, "Kak Maudy ...."

Setiap kali melihat Maudy, Raline selalu merasa ciut.

Seperti tikus bertemu kucing, rasa takut itu seolah muncul secara naluriah.

Maudy berkata, "Bajunya cantik, cuma kurang cocok buat kamu."

Raline terkejut.

Setelan jas yang dia pakai berwarna merah tua yang sangat berwibawa, lengkap dengan bantalan di bagian bahu. Namun, karena tubuhnya terlalu kecil dan kurus, dia tidak mampu menampilkan siluet jas itu yang tegas dan jenjang sebagaimana mestinya. Alhasil, tampilannya justru terlihat agak norak.

Ibarat anak kecil yang diam-diam memakai baju orang dewasa, terlihat sangat tidak serasi.

Sebenarnya, sebelum jas itu dikenakan, penata rias sudah menyarankan untuk mengganti dengan yang lain, tetapi Raline menolak. Gadis itu memegang erat jas merah tersebut dan tidak mau melepaskannya. "Belum dicoba aja, kok sudah bilang nggak cocok?"

Setelah gadis itu memaksa berulang kali, penata rias itu tak punya pilihan lain selain memakaikannya. Karena ukurannya terlalu besar, banyak peniti yang disematkan di bagian dalam, membuatnya merasa tidak nyaman di sekujur tubuh.

….

Raline menundukkan pandangan, bersikap sangat rendah hati. "Saya 'kan masih muda, wajar kalau nggak bisa menandingi aura Kak Maudy. Tapi, kalau sering-sering dipakai, lama-lama juga pas kok."

Menyesuaikan diri?

Maudy bahkan tidak menoleh sedikit pun, pandangannya tetap tertuju pada area syuting di depan.

"Nona Raline, aku mau ngasih saran."

"Orang yang pakai baju, bukan baju yang pakai orang. Benda sebagus apa pun cuma buat pelengkap. Kalau mau sukses, ujung-ujungnya tetap butuh kemampuan."

Bergantung pada David mungkin bisa membuatnya terkenal untuk sementara, tetapi jika ingin bertahan di posisinya, dia harus bekerja lebih keras dari orang lain, bukan hanya mengandalkan koneksi tanpa memiliki kemampuan atau keahlian sama sekali.

Tetap saja, air yang bisa menopang perahu juga bisa menenggelamkannya.

Gadis itu benar-benar berpikir terlalu sederhana.

Namanya juga masih muda, dihina seperti itu, wajah Raline memerah hingga ke telinga. Suaranya nyaris tak terdengar, "Saya masih muda dan kurang pengalaman. Kalau ada perbuatanku yang kurang tepat dan membuat Kak Maudy nggak berkenan, tolong jangan diambil hati."

Mendengar itu, Maudy menoleh dan menatapnya.

Karena mengenakan sepatu hak tinggi, dia jadi setengah kepala lebih tinggi daripada Raline, sehingga tanpa sadar memandangnya dari atas.

"Tentu saja nggak. Masa aku sama anak kecil perhitungan? Umur muda belum ngerti apa-apa masih bisa dimaklumi, tapi kalau niatnya udah menyimpang, mau dibenerin gimana pun juga nggak bakal lurus."

Dengan nada tetap lembut, dia mengembalikan sindiran itu kepada Raline.

Raline menunduk makin dalam, mengepalkan tangannya karena tak terima. "Kak Maudy benar ...."

Bagaimanapun juga, program baru tetap syuting seperti biasa. Berkat presenter sebelumnya yang sudah berpengalaman, suasana di lokasi wawancara terjaga dengan baik, dan obrolan berjalan sangat lancar.

Saat jeda di tengah sesi, proses rekaman sudah melewati separuh.

Maudy sedang menonton hasil rekaman. Kepala stasiun yang berusia lima puluhan berjalan mendekat sambil membawa termos. Maudy baru saja hendak berdiri untuk memberi tempat, tetapi ditahan oleh pria itu, yang kemudian duduk di sampingnya sambil tersenyum.

"Duduk aja, nggak usah formal begitu. Oh ya, dengar-dengar hari ini kamu hebat banget ya, Maudy?"

Bagi tokoh besar seperti David, sedikit saja ada gosip pasti cepat menyebar di kalangan mereka. Kejadian heboh pagi tadi, sorenya sudah diketahui semua orang. Maudy sama sekali tidak terkejut.

"Tidak juga." Nadanya tetap lembut, "Saya cuma nggak mau Yumna diperlakukan nggak adil."

Maudy bukanlah tipe orang yang suka berebut, dia pun paham betul bahwa sesuatu yang bisa direbut orang lain tak layak lagi dipertahankan.

Jika hari ini yang diturunkan jabatannya adalah dirinya, dia tak akan punya satu keluhan pun.

Hanya saja, dia tak tega melihat bawahannya ikut-ikutan dirugikan gara-gara dirinya.

Sang kepala stasiun kurang setuju dengan perkataannya. "Kamu harus bersuara kalau kamu dirugikan. Kalau cuma diam saja, orang bakal mengira kamu gampang diinjak-injak. Lama-lama, mereka juga bakal berani merebut posisimu."

"Karena sudah bisa duduk di posisi ini, saya nggak akan takut kalau ada yang mau merebutnya," ucap Maudy tanpa jeda. "Soal yang lain, kalau dia suka, silakan ambil saja."

Jika yang Raline inginkan adalah posisi sutradara yang dia duduki sekarang, Maudy justru akan memberikan rasa hormat yang cukup, bahkan menganggapnya sebagai rival untuk bersaing secara sehat.

Namun, jika yang Raline incar adalah gelar Nyonya Hartono.

Maka terserah saja.

Dia tak peduli, juga tak berkeberatan.

Saat mengucapkan itu, dia tetap menatap layar monitor kamera dengan pandangan sedikit tertunduk, sama sekali tak terlihat sedikit pun rupa marah atau kesal.

Sang kepala stasiun tercekat, terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.

Dia sudah menyaksikan gadis ini tumbuh hingga menjadi seperti sekarang.

Dulu, saat masih belia, Maudy sudah datang ke stasiun TV menjadi asisten. Segala penderitaan siap dia telan. Dia paling tangguh dan paling pandai menahan diri, ibarat batu keras yang menerobos lumpur dan pasir, bisa tampil bersahaja, bisa pula sangat ulet. Siapa pun yang pernah bertemu dengannya, pasti tersentuh oleh ketulusan dan aura alaminya.

Namun, sejak Maudy menikah dan masuk ke Keluarga Hartono, tudingan miring dan cemoohan datang bertubi-tubi bak badai yang tak pernah reda.

Baru beberapa tahun berlalu, kini saat menatap Maudy lagi, rasanya seperti menatap orang yang sama sekali berbeda. Bagaikan tanah yang tertimbun setelah diterjang badai lumpur, hatinya kini mati rasa, tak beriak sedikit pun.

Usianya bahkan sebaya dengan putrinya sendiri. Kira-kira sudah berapa kali dia harus ditempa dan digembleng hingga bisa sekuat ini sekarang?

Sang kepala stasiun bergumam pelan, "Nak, kok bisa sampai jadi seperti ini?"

Hanya satu kalimat itu. Satu kalimat yang sarat akan rasa iba.

Emosi yang selama ini tersimpan rapat di lubuk hatinya seolah menerobos bendungan yang selama ini menahannya. Perasaan itu membesar hingga seribu, bahkan sepuluh ribu kali lipat, menghantam bagai banjir dan gelombang pasang yang tak terbendung. Ujung jari Maudy yang menggenggam walkie-talkie terasa ngilu, berkedut pelan, sakit hingga mati rasa.

Dalam diam, dia pun kembali bertanya pada dirinya sendiri.

Mungkin dulu dia terlalu dibutakan oleh cinta hingga nekat tenggelam dalam mimpi yang dia bangun sendiri.

Kini, mimpi itu telah hancur.

Saatnya dia membuka mata.

….

Lagi pula, ini adalah hari pertama syuting, banyak urusan remeh yang harus diselesaikan. Saat Maudy selesai bekerja, dia sudah melewatkan waktu untuk menjemput Althaf.

Ada pesan dari guru PAUD di ponselnya.

[Ibu Althaf, Althaf tadi sudah dijemput dengan selamat oleh ayahnya.]

Dia mematikan layar ponselnya, berpamitan pada para staf, lalu kembali ke vila.

David tidak suka ada orang lain di vila, sehingga selama tiga tahun menikah, mereka tidak pernah mempekerjakan pengasuh. Mereka hanya menggunakan jasa petugas kebersihan yang datang untuk membereskan rumah, dan koki yang langsung pulang setelah selesai memasak.

Saat Maudy tiba, langit sudah gelap gulita. Musim dingin di Kota Amber memang selalu cepat beranjak gelap.

Althaf sedang duduk di kursi makannya, mengenakan celemek kecil, dan asyik memakan udang. Melihat ibunya pulang, dia tersenyum lebar, lalu memamerkan udang di dalam mangkuknya.

"Ibu, lihat. Ini ulang."

David mengenakan sarung tangan sekali pakai, duduk dengan santai di samping si kecil untuk mengupas udang. Jari-jarinya yang panjang memisahkan kepala dan ekor udang, mengupasnya hingga bersih, lalu meletakkannya di mangkuk anak itu.

"Ikuti Ayah. Udang."

Mulut Althaf yang mungil penuh dengan makanan. Dia meniru gerakan mulut ayahnya dengan polos, "Ulang."

"Sudahlah, makan aja." Sudut bibir David sedikit terangkat. Dia mengupas tiga udang lagi ke dalam mangkuk anak itu, lalu melepas sarung tangannya untuk mencuci tangan.

Dari awal sampai akhir, dia tidak sekali pun menatap Maudy.

Keduanya juga tidak saling bertukar kata, bagai dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.

Setelah makan selesai, Althaf sudah mengantuk berat sampai matanya tak kuasa terbuka. Kepalanya yang mungil beberapa kali hampir tersungkur ke mangkuk. Maudy pun akhirnya membawanya ke kamar untuk tidur.

Setelah berhasil menidurkan Althaf, Maudy melangkah keluar kamar dengan hati-hati dan menutup pintu, lalu tak sengaja berpapasan dengan pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

Pandangan mereka bertemu.

Hanya sekilas, David lebih dulu memalingkan wajah. Dia membetulkan posisi earpiece bluetooth-nya, lalu kembali berdiskusi mengenai kerja sama dengan klien di layar komputer. Dia mengabaikan Maudy begitu saja. Nadanya tetap tenang, menunjukkan kendali yang luwes dan meyakinkan dalam negosiasi tersebut.

Dia bukanlah anak konglomerat yang hanya tahu foya-foya.

Sejak Grup Hartono diambil alih olehnya, hanya dalam beberapa tahun, perusahaan itu melesat naik dan kembali menjadi raksasa di industrinya. Harus diakui, dia memang seorang pengusaha yang sangat luar biasa.

Hanya saja, dalam perannya sebagai seorang ayah, dia masih jauh dari sempurna.

Sebagai seorang pengusaha yang lebih mementingkan pekerjaan hingga jarang pulang, tak heran jika Althaf yang sudah berusia dua setengah tahun belum bisa memanggilnya 'Ayah'. Melihatnya saja, si kecil langsung ketakutan dan buru-buru bersembunyi di pelukan Bibi Ratna, seolah memandangi orang asing.

Maudy tidak mengganggunya. Dia berjalan ke dapur dan menghangatkan bubur yang ditinggalkan oleh si koki. Setelah meneguk beberapa sendok bubur putih yang hangat, dia merasa hawa dingin di sekujur tubuhnya perlahan sirna.

Karena di lokasi syuting dia sering tidak punya waktu untuk makan, lama-kelamaan Maudy jadi terbiasa makan dengan sangat cepat. Seporsi bubur panas yang bahkan tidak sampai setengah mangkuk itu habis hanya dalam beberapa menit.

Setelah membereskan semuanya, dia bersiap membawa mangkuk ke dapur saat pria di ruang tamu tiba-tiba bersuara.

"Habis dari mana, pulang selarut ini?"

Maudy mengira pria itu sekadar sedang basa-basi dengan orang di dalam video. Namun, detik berikutnya, seolah membaca pikirannya, pria itu kembali berkata singkat dan padat, "Aku sedang bertanya padamu."

Maudy menjawab, "Kerja."

"Sama siapa? Ke mana? Kerja sampai selarut ini?"

Pria yang biasanya tak pernah peduli padanya, tiba-tiba memberondongnya dengan tiga pertanyaan berturut-turut.

"Althaf hari ini jadi anak terakhir yang pulang." David menutup laptopnya, suaranya sedingin bubur yang tadi belum sempat dihangatkan. "Kalau aku nggak jemput dia dan dia kenapa-napa di sana, kamu mau tanggung jawab gimana?"

Maudy tertegun, baru kini dia paham.

Ternyata, pria itu tiba-tiba angkat bicara hari ini bukan karena peduli, melainkan hanya untuk menginterogasinya kenapa terlambat menjemput anak mereka.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status