Share

Bab 6

Penulis: Runayanti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-18 09:08:28

Ia menoleh lebih jelas. Tapi tak ada siapa-siapa sekarang. Mungkin hanya bayangan. Atau... benar-benar dia? 

“Tunggu sebentar…” gumam Deon seraya melepas genggaman tangannya dari Bella lalu berdiri. Kakinya hendak melangkah meninggalkan ruangan, tapi—

“Akh!” Tiba-tiba Bella meringis pelan sambil memegangi perbannya.

Deon langsung berhenti. “Ada apa? Sakit lagi?” tanyanya cepat.

Bella mengangguk kecil, suaranya gemetar. “Maaf, tadi perbannya tersenggol. Rasanya perih sekali…”

Deon langsung duduk kembali dan memegang tangan Bella.

Bella menunduk, tapi dari semua itu, matanya melirik ke arah lorong tempat tadi Deon hendak pergi. Ia melihatnya juga. Sekilas. Sosok Jannah bersama seorang pria walau dia tidak begitu yakin. Tapi dia tak ingin Deon menyusul perempuan itu. Bukan sekarang. Bukan ketika posisinya mulai menguat di hati anak dan suami Jannah.

Tepat pada saat itu, suara perawat memanggil nama mereka.

“Pasien atas nama Bella O'Brien, silakan masuk ke ruang konsultasi.”

Deon menoleh, sedikit ragu. Masih ada keinginan dalam hatinya untuk memastikan siapa sosok yang tadi melintas. Tapi Bella menarik lengannya lembut.

“Yuk,” ujarnya dengan senyum tipis. “Kita sudah dipanggil.”

Alfie pun menggamit lengan ayahnya. “Cepat, Pa. Biar Ibu Bella cepat sembuh.”

Akhirnya, Deon menyerah pada situasi. Ia melangkah masuk ke ruang dokter bersama Bella dan Alfie, dia sempat menoleh kembali ke lorong itu, namun lorong itu sudah sepi.

Setelah keluar dari ruang konsultasi, Deon mengantar Bella dan Alfie menuju mobil.

Di bangku belakang, Alfie duduk sambil terus memegangi tangan Bella yang dibalut perban, ekspresi wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran.

“Papa, nanti Ibu Bella tetap bikin pie apel, kan? Kan Ibu Bella udah janji…” tanya Alfie tiba-tiba, memecah keheningan yang tegang.

Deon yang duduk di belakang kemudi hanya menoleh singkat ke kaca spion, memandangi anaknya yang begitu lengket pada wanita itu.

“Nanti kita lihat dulu, Nak,” jawabnya pendek.

Mobil melaju menuju sekolah Alfie, hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Alfie mencium pipi Bella dulu sebelum berpamitan pada ayahnya. Tidak sedikit pun menyebut nama Jannah.

Setelah Alfie masuk ke halaman sekolah, Deon menghela napas panjang, matanya mengarah lurus ke depan.

“Baiklah. Sekarang aku antar kamu pulang ya, Bella. Istirahat yang cukup. Tanganmu belum sembuh benar.”

Namun Bella hanya menggeleng dengan cepat. “Aku masih ingin menyelesaikan pie apel itu. Aku tahu Alfie sangat menantikannya.”

Deon mengernyit. “Tapi tanganmu… maksudku, kamu tidak perlu memaksakan diri.”

 “Aku tidak memaksakan diri,” potong Bella lembut. “Justru aku akan merasa lebih tidak enak kalau harus meninggalkan janji."

“Tapi—”

“Tuan Deon,” suara Bella sedikit lebih tegas, meskipun tetap dibalut kelembutan, “Aku hanya ingin membuat sesuatu yang bisa membuat Alfie tersenyum.”

Deon terdiam. Pandangannya tertuju ke jalanan yang perlahan mulai padat. Dalam hatinya, ia sempat berpikir untuk memutar balik, pergi ke rumah sakit, mengecek Jannah—melihat apakah ia sudah selesai konsultasi, menanyakan kondisinya, memastikan ia baik-baik saja.

Tapi...

Kata-kata Alfie yang menginginkan kue apel terngiang di telinganya. Akhirnya, Deon memutar setir ke arah rumah mereka.

“Baiklah… Tapi setelah selesai, saya akan mengantarmu pulang.”

Bella tersenyum puas, menoleh ke luar jendela, menyembunyikan kilatan menang kecil di matanya.

Selama perjalanan, Deon tak banyak bicara. Sesekali ia melirik ponselnya. Belum ada pesan dari Jannah. Tidak ada kabar, tidak ada laporan apakah ia sudah selesai bertemu dokter.

Dia bisa pulang sendiri dengan sopir… pikir Deon sambil menahan gumam. Dia tidak keberatan, kan? Dia sudah terbiasa sendiri.

Dan mobil itu terus melaju, membawa mereka pulang.

Begitu mobil berhenti di pelataran rumah, Deon segera turun dan membuka pintu mobil untuk Bella. Tapi sebelum sempat mengatakan apa pun, salah satu pelayan menghampirinya dengan ekspresi ragu.

“Eh, Tuan dan Nona Bella... maaf, saya pikir tadi adalah Nyonya, kirain tidak jadi menginap.”

Deon mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Tadi... setelah Nyonya bersiap pergi ke rumah sakit, saya membantu beliau membawa koper ke mobil.”

“Koper?” Deon mengulang dengan nada meninggi. “Koper apa maksudmu?”

Pelayan itu menunduk gugup. “Saya pikir... mungkin Nyonya ingin menginap di rumah sakit."

Wajah Deon langsung berubah. Jannah tidak pernah memakai koper walau harus menginap di rumah sakit. Biasanya hanya membawa tas jinjing berisi beberapa pakaian tidur dan handuk.

Matanya menatap kosong ke depan, lalu buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku. Ia mengetik cepat.

[“Di mana kamu?”] Tapi status pesan hanya centang satu. 

Ia mencoba menelepon. 

Nada jawaban dari mesin penjawab.

“Tidak nyambung...” gumamnya dengan nada cemas.

Tanpa pikir panjang, ia bergegas masuk ke dalam rumah, tidak menyadari langkah Bella yang ikut menyusul di belakangnya.

Deon langsung menuju kamar utama. Jantungnya berdegup kencang. Ia menarik pintu lemari besar dan mulai membuka satu per satu laci dan rak gantung. Matanya menyapu seluruh isi lemari. Kosmetik Jannah masih tersusun rapi di meja rias. Beberapa gaun harian masih tergantung, tapi...

Salah satu sisi lemari terlihat lebih kosong dari biasanya.

Dia benar-benar membawa pakaian…

“Tidak…” bisik Deon, sambil menutup laci dengan keras.

Sementara itu, Bella yang berdiri di belakang hanya mengamati. Tatapannya tajam, tapi raut wajahnya berpura-pura cemas.

Ketika ia melangkah ke arah meja di sisi tempat tidur, matanya tertumbuk pada sebuah map tipis berwarna cokelat. Di atasnya tergeletak sebuah memo kecil bertuliskan tangan Jannah.

[Tandatangani dan…] 

Surat Cerai? Mata Bella melebar. Tapi hanya sedetik sebelum ia bergerak cepat—menyembunyikan dokumen itu di balik punggungnya.

Deon yang masih panik langsung berbalik ke arah pintu. Tidak menyadari sepenuhnya.  “Pelayan!” teriaknya, lalu melangkah cepat keluar kamar.

Bella berdiri diam sejenak. Detak jantungnya kencang, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan samar yang ia simpan sendiri.

Ia membuka sedikit lipatan dokumen itu sebelum menyelipkannya ke dalam tas kecilnya dengan hati-hati. Lalu berdiri menghadap cermin, tersenyum tipis pada bayangannya sendiri.

"Bella, a-pa yang ada di tanganmu tadi?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Roroh Siti Rochmah
aah males banget pelakor licik
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
tuh sibgundik akan memperlancar perceraianmu. si deon juga terlalu g jelas. klu merasa istrimu g berguna maka cersikan.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 373

    Deon membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, nyaris tak peduli klakson yang bersahutan di belakangnya. Pikirannya penuh, dadanya sesak oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti. Bella.Dia ingin segera menyelesaikan masalah Bella lalu kembali ke rumah untuk acara makan malam bersama yang sudah sangat ia rindukan selama ini.Begitu sampai di depan kamar rawat inap, Cahyo sudah lebih dulu menyambut majikannya. Wajah asisten pribadinya itu tegang, seolah sudah menyiapkan diri untuk kemarahan yang tak terelakkan."P-Pak Deon."“Bagaimana bisa bagian produksi begitu lalai?” suara Deon rendah, namun penuh tekanan.“Iya, Pak. Kami sudah menyelidiki,” jawab Cahyo cepat. “Tangga di lokasi memang licin, dan bagian produksi malah meletakkan beberapa kain di tangga itu sebagai dekorasi, katanya untuk mempercantik ruangan pengambilan foto.”Rahang Deon mengeras. “Dan keadaannya?”Cahyo menelan

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 372

    Mereka duduk bersama di ranjang besar itu, tanpa jarak, tanpa sekat. Deon meraih Amara sebentar, menggoyangnya pelan hingga bayi itu terkekeh kecil. Jannah tertawa, suara yang lama tidak terdengar sebebas itu. Alfie ikut tertawa, lalu menceritakan hal-hal kecil yang ia lakukan hari itu, tentang mainan barunya, tentang cerita yang dibacakan pengasuh, tentang bagaimana Amara tersenyum saat ia mengajak bicara.Untuk sesaat, dunia di luar kamar itu lenyap. Tidak ada rencana, tidak ada ancaman, tidak ada masa lalu yang membayangi. Yang ada hanya mereka, keluarga kecil yang utuh dalam tawa dan sentuhan.Deon tersenyum puas, memandangi pemandangan itu dengan dada penuh. Ada rasa bahagia yang begitu sederhana namun menyesakkan karena terlalu indah. Ia berpikir, andai waktu bisa berhenti di sana. Diam-diam ia berjanji untuk selalu melindungi keluarga kecilnya sampai nafas terakhir yang dia miliki.Dia tidak akan mengizinkan siapa pun merusak kebahagiaan yang ia miliki sa

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 371

    Deon mengecup air mata itu, satu per satu, seolah menghapus hari-hari yang terlalu berat. Ia tidak berkata apa-apa lagi, mereka kembali berpelukan di dalam selimut yang sama.Karena kadang, cinta sejati tidak membutuhkan kalimat panjang. Cukup kehadiran yang setia.Pelampiasan hasrat yang dalam dan penuh cinta.Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Malam pun perlahan merapat ke pagi. Saat akhirnya mereka terlelap, Jannah tertidur lelap, dengan tangan Deon melingkar di punggungnya, pelukan yang tidak mengekang, tidak menuntut atau pun penuh permintaan.Pagi datang dengan cahaya lembut. Jannah terbangun lebih dulu. Ia memandang wajah Deon yang tertidur, lelaki yang ia cintai, lelaki yang ia marahi, lelaki yang kini memilihnya lagi tanpa paksaan dan lelaki yang baru saja menyiksanya di atas ranjang.Wajah Jannah menghangat, membayangkan bagaimana lelaki itu sudah menjungkirbalikkan garis pertahanannya. Bagaimana ia membuatnya merintih, mengeran dan mendesah tanpa malu.Ada garis lelah di wa

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 370

    Dan di antara kulit yang menyatu dalam keringat dan saling mengenal kembali, Jannah sadar: inilah cinta yang ia dambakan, cinta yang sabar, yang memilih, dan yang tinggal meski tahu betapa rapuhnya mereka berdua.Malam itu menjadi sunyi yang menenangkan. Mereka saling merangkul dalam cinta. Beberapa saat kemudian mereka menyatukan kembali kepingan yang retak dengan sentuhan yang penuh kasih, ciuman yang pelan, hati-hati, dan tulus. Lalu mereka kembali menanamkan diri ke satu inti penuh kenikmatan yang hangat dan dalam.Di antara napas yang berangsur tenang, bercampur aduk dengan keringat dan bagian inti yang basah serta sedikit nyeri, Jannah memejamkan mata.Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa istimewa. Deon benar-benar memberikan kehormatan dan penghargaan kepadanya disertai kasih sayang yang sempurna.Malam itu berjalan perlahan, seperti waktu yang sengaja melambat agar dua hati yang sempat tersesat bisa saling menemukan kembali.Setelah

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 369

    Jannah memejamkan mata. Napasnya bergetar. Di antara marah dan rindu, hatinya terbelah.Tubuh Deon limbung di atas ranjang empuk dengan keras, tapi laki-laki itu benar-benar tampak tak berdaya."Nyonya, Pak Deon mungkin membutuhkan... pelepasan, atau dia mungkin akan sangat menderita. Ha-haruskah aku memanggil dokter?"Jannah terdiam, berusaha meredakan peperangan bathin dalam dirinya. Waktunya terlalu singkat untuk Deon divonis berselingkuh sementara keadaan dirinya saat ini masih membuktikan bagaimana dia membutuhkan pelepasan.Cahyo mundur selangkah, memberi ruang. Deon menatap Jannah dengan harap yang nyaris runtuh.Dan di ambang keheningan itu, keputusan Jannah menggantung—rapuh, tapi menentukan segalanya.Dia mengibaskan tangannya ke arah Cahyo. Memerintahkan kepadanya untuk keluar.Cahyo menangkap isyarat itu dengan cepat. Ia mengangguk singkat, lalu melangkah mundur ke pintu.“Saya akan di luar,” ucapn

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 368

    Cahyo mengangguk, menahan Deon agar tetap tegak. Mereka berdua melangkah keluar. Bella tidak mengejar. Ia berdiri di tempat, menatap punggung mereka dengan senyum yang pelan-pelan melebar.Begitu pintu menutup, Bella menoleh ke sudut ruangan, ke titik-titik kecil yang tak mencolok, tersembunyi di balik ornamen dan lampu. Kamera. Banyak kamera.Di layar monitor kecil di meja samping, tayangan barusan terulang: momen singkat ketika Bella merangkul Deon, detik-detik yang tampak ambigu bila dipotong dengan sudut tertentu."Makan malam dengan perempuan lain dan perempuan itu adalah Bella. Kemudian saling berpelukan."“Bagus,” gumam Bella puas. Ia meraih ponselnya, memberi instruksi singkat.“Kirim ke Jannah. Sekarang.”Ia tersenyum lebar, puas dan dingin.“Wanita emosional itu,” bisiknya, nyaris berlagak iba, “akan mulai menggila seperti dulu.”"Cukup untuk oleh-oleh pertama dari Irlandia!"Di dalam lift, Deon memejamkan mata, berusaha menenangkan denyut di kepalanya. Cahyo menekan tombol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status