LOGIN"Kamu membuntutiku ya?" terka Senja memandang Arion penuh selidik.
Arion tertawa, giginya rapi menyinari, "Aku mengantar omku." Dia menunjuk pria tua di kejauhan – yang menatapnya dengan pandangan dingin, membuat Senja bergidik. "Kamu kenal om Bas?" "Aku tidak kenal dia," jawab Senja. "Arion Wiratama," Mengenalkan namanya sambil mengeluarkan kartu undangan dari saku. "Aku juga punya undangan kok. Hanya setahun ini aku di luar negeri, jadi mungkin kamu belum pernah denger nama ku di sini sebelumnya." Wiratama? Keluarga yang punya Dominion Law? Senja merasa dada terasa sesak. Senja tahu keluarga itu terkenal sebagai bilioner, tapi juga selalu menyembunyikan sesuatu. "Jadi kamu teman Gavi? Dan menjebakku di bar dengan rekaman AI yang dipalsukan?" Senja mendekat, bibirnya hampir menyentuh bahu Arion, "Kita tidak pernah berhubungan intim, kan?" Arion menarik pinggangnya perlahan – panas tangannya menyebar ke kulitnya seperti nyala api. "Tapi aku suka membayangkan rambutmu acak-acakan di bantal, Nona Beringin." "Kurang ajar!" Senja mau menamparnya, tapi Arion menahan tangannya dengan erat. "Lihat – pacarmu dateng." Gavi datang dengan langkah cepat, "Arion, kan! Udah lama gak ketemu!" Ia berjabat tangan dengan nada akrab, tapi Arion hanya jawab dengan gumaman. "Kamu kenal dengan pacarku?" "Aku dosen bimbingan skripsinya," jawab Arion. Gavi mendecakkan lidahnya, "Wah, pulang studi langsung jadi dosen – untung punya nama Wiratama ya." Lalu suaranya menurun, tajam seperti pisau: "Terus gimana kabar lisensi pengacaramu yang ditangguhkan? Karena penggelapan dana?" Mata Arion menyala dingin, tapi Gavi tidak mau berhenti: "Kalau tidak karena ayahmu yang kaya, kamu sudah masuk penjara." "Gosipmu kurang akurat, Gavi!" geram Arion dengan suara tajam. Gavi tersenyum licik dan berkata pelan, "Pengacara korup kayak gitu, apa gunanya gelar?" Senja merasakan ketegangan meluap di antara keduanya. Apa yang pernah terjadi antara mereka? Mata Arion menyala dingin. "Sorry, harusnya gak di bahas depan muridmu yah," canda Gavi dengan senyum licik. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun," balas Arion acuh, "Batas waktunya hampir habis dan aku bisa kembali bekerja sebagai pengacara," "Pasti dong, siapa yang akan meneruskan Dominion Law selain kamu," kekeh Gavi tersirat nada menghina. Masa iya dia putra billioner Damian Wiratama? Senja terus menatap Arion, membuat tubuh Gavi kaku dan dahinya mengkerut. "Senja ... " panggil Gavi pelan. Tapi pembicaraan mereka terhenti saat moderator acara membuka acara, dan meminta Gavi memberikan sambutan. "Nanti kita ngobrol lagi," Ucapnya pada Arion, lalu menarik lengan Senja. "Jangan menatapnya terus!" tegas Gavi dengan cepat. "Senyum, ingat kamu pacarku," "Tapi aku bukan boneka, aku bebas.... " "Dia tidak akan memilihmu," kekeh Gavi, "seleranya cukup tinggi," "Benarkah?" tantang Senja. Tepuk tangan meriah mengiringi langkah Gavi, hanya wajah Arion yang membeku menjadi peringatan bagi Senja untuk waspada. Haruskah aku menerima tawarannya? Senja melirik Arion yang kini tengah berbincang dengan seorang pria yang tidak pernah di kenalnya, bahkan tampak berbahaya. Saat itu, Tara muncul dengan membawa troli kue. Sesampai dari panggung, Gavi langsung menyambutnya dengan senyum ramah, tanpa melihat Senja sama sekali. Tara tersenyum lebar, seolah ia yang menjadi pasangan sah. Senja merasa dada terasa sesak. "Sayang, kamu undang Tara juga?" kata Senja berbisik sambil menarik lengan jas Gavi, "Harusnya aku yang membawa kue itu," "Aku lupa bilang sayang," ucapnya tanpa melirik Senja yang berdiri di sampingnya, "Ia sekarang part time di kantor," "Mulai kapan? Kok kamu gak minta aku? Kamu bilang aku sibuk, Tara juga!" tanya Senja. Gavi menoleh, "Kita bahas ini lain kali," pintanya. Acara tetap berlangsung tanpa mempedulikan perasaan Senja, Gavi berjalan bersama Tara. Perhatian tamu kini beralih pada Tara hingga menyisihkan Senja sebagai pasangan Gavi. Dengan senyum lebar, Gavi memperkenalkan Tara ke para tamu. "Harusnya itu posisimu," bisik Arion melihat tubuh Senja yang kaku, "Bukan dia," "Diam, aku tidak akan terpancing olehmu," ucap Senja. Dari kejauhan, terlihat tangan Gavi melingkarkan mesra di pinggang Tara. "Mereka gak canggung ya," komentar Arion. Senja menginjak kaki Arion dengan tumit sepatunya, "Aku tidak buta," Arion menahan rasa sakitnya meski terdengar umpatan kecil akan tindakan Senja. "Mau kubantu mengalihkan perhatian pacarmu?" tanyanya. Belum selesai Senja menjawab, jemari Arion menangkup pipinya, memutar wajahnya agar saling menatap, jemarinya kaku, menahan erat sehingga dia tak bisa memalingkan wajah. Matanya gelap dan dalam, memborong setiap ekspresi. Nafasnya hangat menyentuh bibir: terlalu dekat untuk nyaman, terlalu jauh untuk puas. Di tengah keramaian, beberapa tamu yang lewat hanya bisa menatap dengan tatapan iri karena dunia di sekitar keduanya seolah berhenti hanya untuk saat itu. Termasuk Gavi. "Diam!" ucap Arion tanpa membuka mulutnya, "Pacarmu sedang melihat ke sini," "Lepas!" ketus Senja sambil mendorong tubuh Arion. Tenaganya hampir habis alhasil tubuh Arion bergeming dan jemari yang lain memeluk pinggang Senja. "Permainan baru dimulai, Nona Beringin," kini wajah Arion menyusup ke telinganya. "Kamu akan memuji hasilnya dalam tiga hitungan," Rasa cemburu seperti duri menyusup ke hati Gavi yang pertama kalinya dia merasakannya. Ia marah pada Arion yang terlalu berani, marah pada Senja yang terlalu lemah. Tara memanggil namanya untuk menghentikannya, tapi dia tidak mendengar. "Mana mungkin Gavi cemburu, dia tidak cinta Senja!" terdengar suaranya di kejauhan. Langkah Gavi terasa berat tapi cepat, seolah kaki sendiri yang menggerakkan. Matanya menyala, seperti api matahari kecil di tengah kelopak mata yang meradang. "Tiga... Dua... " Belum sampai hitungan satu, Gavi menarik lengan Senja dengan kuat. "Apa yang kamu lakukan?" geramnya. Alisnya mengkerut rapat, bibir tergigit sampai putih, dan ia secara tidak sadar mencengkram lengan Senja hingga meninggalkan bekas merah. "Sakit," bentak Senja menghempas lengan Gavi. "Jangan mempermalukanku!" geramnya pada Senja. "Hei," lerai Arion, "Dia cuma bantu kok, aku pusing dan butuh sandaran," jelas Arion. "Dia pacarku!" tegas Gavi. Arion mengangkat kedua tangannya, "Terserah kalau tak percaya," balasnya sambil melangkah pergi ditemani seorang pria yang tampak berbahaya. "Dia itu bajingan, pengacara korup," kata Gavi. Bajingan tapi jadi pengacra? Alis Senja mengernyit, Terlalu banyak teka-teki tentang Arion, pikirnya. "Terus kamu?" ejek Senja, "Pengacara tukang selingkuh," "Haa.. Apa?" Gugup Gavi. "Tuh lihat," Senja menunjuk Tara dengan dagunya, "Bukannya kamu sibuk dengan temanku daripada aku," "Sayang," manja Gavi, "Ini masalah kerjaan, Tara mesti tahu siapa klien kantor," "Oh ya?" sindir Senja. "Sayang, please jangan buat ulah," pinta Gavi. Senja hanya tertawa, "Kalo gitu aku pergi!" pamitnya. Gavi memanggil nama Senja berulang kali tapi tidak ada niatan buat mengejarnya, dari sudut matanya ia melihat Tara bergelayut mesra di lengannya. "Dasar pelakor! Bahkan dia tak menyapaku sama sekali," ucapnya sedih meninggalkan keriuhan pesta. Sementara itu, Senja yang sedang berjalan ke pintu melihat Arion merokok, ditemani pria tinggi dengan rambut hitam pendek rapi. Baju kemejanya ketat menyoroti otot lengan, ada bekas luka sembuh di dagunya. Siapa dia? Dia mencoba mengingat, tapi cuma rasa tidak nyaman yang terasa di tulang belakang. "Gimana videonya, berhasil, Bro?" Garda bertanya. "Gak," Arion menghembuskan asap rokoknya, "Harus cari cara lain, dia pintar dan keras kepala, dia bisa menebak kalau itu editan," Garda terkekeh, "Ketua Brandal Baja bisa kalah juga sama cewek," "Ingat, dia anak Elio Kalani," Arion membuang rokoknya dan menginjak dengan kasar hingga si puntung gepeng. Senja merasa dunia berputar. Elio Kalani? Ayahku? Setahun lalu, ayah mengalami kecelakaan dan di tuduh menggelapkan dana amal. "Tapi..." lanjut Arion, lengan bajunya naik – muncul tato kecil di pergelangan tangannya: roda motor yang dipotong rantai baja, dengan inisial "BB" di tengahnya. "Dia akan berpihak padaku. Setelah membuat pacarnya ngamuk tadi, dan skripsinya ada di tanganku kalo mau lulus." Senja yang melihatnya terkejut, ia tidak menyadari Arion punya tato, apalagi yang berhubungan dengan geng. "Licik juga lo, Bro!" puji Garda. Senja menahan nafas. Semua ini bukan kebetulan. Dia datang dengan rencana yang tersusun. Dan dia pasti tahu apa yang terjadi pada ayahku. Ponselnya masih merekam, tapi tangannya gemetar parah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu. Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja. "Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!"Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi. "Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter."Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?"Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung
Lingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil. Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya.Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. "Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja. "Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya. "Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar.Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja."Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya."Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya,
"Kamu membuntutiku ya?" terka Senja memandang Arion penuh selidik.Arion tertawa, giginya rapi menyinari, "Aku mengantar omku." Dia menunjuk pria tua di kejauhan – yang menatapnya dengan pandangan dingin, membuat Senja bergidik. "Kamu kenal om Bas?""Aku tidak kenal dia," jawab Senja."Arion Wiratama," Mengenalkan namanya sambil mengeluarkan kartu undangan dari saku. "Aku juga punya undangan kok. Hanya setahun ini aku di luar negeri, jadi mungkin kamu belum pernah denger nama ku di sini sebelumnya."Wiratama? Keluarga yang punya Dominion Law? Senja merasa dada terasa sesak.Senja tahu keluarga itu terkenal sebagai bilioner, tapi juga selalu menyembunyikan sesuatu. "Jadi kamu teman Gavi? Dan menjebakku di bar dengan rekaman AI yang dipalsukan?" Senja mendekat, bibirnya hampir menyentuh bahu Arion, "Kita tidak pernah berhubungan intim, kan?"Arion menarik pinggangnya perlahan – panas tangannya menyebar ke kulitnya seperti nyala api. "Tapi aku suka membayangkan rambutmu acak-acakan di b
Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin. Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin... Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya. Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung."Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun."Ah," gumam Senja."Kamu disuruh mas
Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja.""Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. "Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi."Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kal







