LOGINLingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil.
Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya. Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. "Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja. "Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya. "Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar. Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja. "Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya. "Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya, "Mikirin apa sih?" Senja tak menjawabnya dan malah pergi, Ngapain dia pagi-pagi banget di sini! "Senja ngomong apa?!" Tara menggelayut di lengan Senja. "Senja marah yah soal semalem," Tara mencegat langkah Senja, "Jadi gini Senja, semua rencana Gavi, dia larang aku cerita, soal kerja part time, terus di pesta juga..." Senja menyetop cerita Tara, "Kamu temen Gavi apa aku? Kok nurut banget sama pacarku?" Terlihat bibir Tara mengkerut, dia menggigit bibir dalam kecil dan berkedip cepat, seolah coba menahan senyum yang ingin keluar. "Senja, aku..." "Apa!" bentak Senja, ""Semalem di pesta, kamu melangkah ke posisiku, menggantikan aku sebagai pasangan Gavi. Kayaknya lebih cocok kamu jadi pacarnya ketimbang aku," "Kok Senja ngomong gitu..." Tara bisik dengan suara yang menyedihkan, matanya sesaat melirik sekeliling untuk memastikan ada yang melihat, "Masa aku tega ngerebut pacarmu?" Dia menunduk seakan korban, sementara mahasiswa yang lewat mulai menatap. "Terserahlah," Senja pergi tanpa mengenai tubuh Tara, namun seketika Tara menjatuhkan tubuhnya. "Senja, aku kan sudah minta maaf..." isaknya menjadi tontonan mahasiswa yang mulai bergosip. "Si rambut Einsten galak juga" atau "dia cemburu tuh sama Tara", bisikan itu terdengar semakin nyaring. Mulai deh dramanya, cibir Senja dalam hati. Senja mengulurkan tangannya hendak membantu Tara, "Kelas mau dimulai," ucapnya. "Senja jangan marah, ini salah Gavi. Aku butuh kerjaan ini buat skripsiku," pinta Tara. Tangan kiri Tara menyentuh lengan Senja dengan lembut tapi jari-jarinya kaku menyiapkan aksi. "Iya iya..." jawab Senja yang kini sudah menjadi lirikan tajam mahasiswa yang melintas. "Senja maafin kan?" "Ehm, cepat bangun," jawab Senja. Tiba-tiba, Tara menarik lengan Senja dengan kekuatan tak terduga. Lalu sengaja mendorongnya ke tengah jalan raya, dengan sudut bibir yang sedikit melengkung dalam senyum yang samar. Senja terkejut dan terjatuh, tubuhnya tergelincir ke aspal. Otaknya membeku sejenak, tidak percaya teman akrabnya malah lakukan itu. Di ujung jalan, mobil sedan melaju cepat, lampu depannya menyilaukan. Jaraknya semakin dekat, pengemudi kaget menginjak rem keras. "Senja...." Suara Tara terdengar panik. Ketika Senja menoleh, sudut bibirnya melengkung lebih lebar, membentuk senyum yang mencurigakan dan jahat, tidak ada kesedihan sama sekali. "Kamu tak apa?" Arion keluar dari mobil, sigap membantu dan mendelik Tara. Dia sengaja — teriak hati Senja, rasa takut seketika digantikan oleh amarah yang membara. Tubuhnya terasa kaku karena terkejut, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah Tara yang tersenyum itu. "Oh, Senja..." pekik Tara yang datang belakangan, "Ah, darah..." ucapnya cepat menunjuk ke arah tangan dan lutut Senja. "Gimana ini?" tanyanya. "Bisa jalan ke mobilku?" tanya Arion. Senja mengangguk pelan, masih merasakan sakit di tubuhnya. Arion memapah Senja dengan hati-hati, menepis tangan Tara yang hendak membantu. "Senja, kamu tidak apa-apa?" tanya Tara dengan nada dibuat-buat, berusaha menarik perhatian. "Rumah sakit," usul Tara lagi, kali ini dengan nada lebih khawatir. "Tidak usah, hanya lecet," jawab Senja sinis, merasa risih dengan perhatian berlebihan Tara. "Pak, bantu ke klinik saja ya," pinta Senja yang di respon anggukan cepat. Matanya tidak pernah menjauh dari wajah Tara yang pura-pura khawatir. Arion membukakan pintu mobil untuk Senja. "Biar aku saja yang membantumu," ucapnya lembut, mengabaikan kehadiran Tara. "Tapi, Pak Arion, aku khawatir dengan Senja," rengek Tara, berusaha menghalangi Arion. Arion menunjuk buku-buku yang berserakan di jalanan. "Kamu bisa menyusul setelah membereskan itu," ucapnya tegas. Tara menghentakkan kakinya kesal melihat perlakuan Arion. "Sepertinya keduanya punya hubungan spesial," gumamnya dalam hati, merasa iri dan penasaran. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Gavi, cepet ke klinik! Senja kecelakaan... Dan dia barusan sama Pak Arion, deket banget lho..." isaknya di telepon, berusaha memancing perhatian dan simpati. *** "Duduk di sini," ucap Arion sambil memapah Senja ke bangsal klinik. Pendingin ruangan mengeluarkan bunyi halus yang terdengar seolah mengintai, menyebarkan aroma antiseptik yang menyengat tenggorokan. Suara gemeretak botol-botol obat terdengar jelas di keheningan, ketika Arion menyentuhnya. "Perlihatkan lukamu," pintanya dengan nada yang mendadak lembut, membuat Senja tertegun. "Mana?" tanyanya lembut. Arion menarik tangan Senja, membuatnya meringis kesakitan. "Bantunya yang ikhlas, sakit tahu," keluh Senja dengan nada kesal. Arion tidak menjawab. Ia dengan telaten mengobati luka di tangan dan lutut Senja. Gerakannya hati-hati, seolah takut menyakiti gadis itu. "Apa alasanmu mau membantuku? Selain masalah Gavi, pasti ada alasan lain. Misalnya..." Senja mendongak, menatap Arion yang tampak terkejut dengan pertanyaan tiba-tibanya. "Masalah ayahku, Elio Kalani?" Gerakan Arion saat membubuhkan antiseptik terhenti sejenak. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Wah, apa seseorang menguping pembicaraan semalam," ucapnya dengan nada mengejek. Senja menatap mata Arion lekat-lekat. Di balik kacamatanya, pupil matanya tampak bergeming. Helaan napas Arion yang panjang terdengar memecah keheningan. "Karena Gavi lebih sukses dariku!" jawab Arion akhirnya, mencoba mengelak. "Ayolah, aku tidak bodoh. Namamu Wiratama dan ketua geng, sekali hajar Gavi akan tumbang," komentar Senja dengan nada mencibir. "Kebencianmu lebih dalam dari itu, seolah Gavi merusak kehidupanmu, kan?" "Pengamatan yang bagus, Nona Beringin," jawab Arion sinis, mengakui ketajaman intuisi Senja. "Dan itu juga berhubungan dengan ayahku, kan?" Senja menyeringai, lalu memutar rekaman suara pembicaraan Arion dan teman gengnya, Garda. Arion bersiul kagum akan keberhasilan Senja mengurai benang kusut. "Tapi, ini tidak cukup untuk mengancamku, Nona Beringin," ucapnya dengan nada meremehkan, namun matanya memancarkan kekaguman. "Oh, ya?" Senja menyeringai, lalu menggulir layar ponselnya. Mata Arion bersabar menanti kejutan yang di siapkannya. "Bagaimana dengan ini?" Ia memperlihatkan tajuk berita daring yang berbunyi, "Bukan Pengacara Jika Tangannya Digunakan Menghajar Warga Sipil." "Ini Anda, kan, Pak Dosen?" lirih Senja dengan suara penuh kemenangan. "Meskipun hanya tertulis inisial A.W., tapi berita ini ditulis setahun lalu. Boom! Anda terjebak, Pak Dosen!" Arion bertepuk tangan pelan, ia tersenyum memuji investigasi Senja. Sesaat, hati Senja menghangat. Pujian Arion terdengar tulus, dan wajah kakunya perlahan berubah, tergantikan oleh ekspresi tenang. "Aku dan ayahmu terkena kasus yang sama. Dan yang kudengar, anak didik ayahmu—Gavi—mempunyai bukti kuat siapa dalang yang menjebak kami," jelas Arion, nada suaranya melunak. "Dan kebetulan, di hari kepulanganku, kita bertemu di bar. Itu memudahkan rencanaku untuk mendekatimu." Arion membiarkan informasinya dicerna oleh Senja, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajahnya. Ia bisa melihat keraguan, kebingungan, dan secercah harapan bercampur aduk di sana. "Apa jawabanmu, Nona Beringin?" tanya Arion dengan nada rendah, memecah keheningan yang tercipta. Benarkah semua yang dikatakannya? Mungkinkah semua ini berhubungan dengan Gavi, pria yang selama ini ia cintai? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. "Aku bisa meloloskan skripsimu, memulihkan nama baik ayahmu, bahkan membalas perselingkuhan Gavi," tawar Arion, berusaha meyakinkan Senja untuk mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya. "Bukankah semalam aku sudah membuktikannya?" tambahnya, mengingatkan Senja akan kecemburuan Gavi untuk pertama kalinya. Arion memerangkap tubuh Senja dengan kedua tangannya yang kekar, membuatnya tidak bisa melarikan diri. Tubuhnya sedikit bergetar, campuran antara takut akan kedekatan ini dan bingung dengan apa yang dia dengar. Sepasang mata itu saling menatap, masing-masing mencari jawaban dan kebenaran di dalam pandangan satu sama lain. "Tidak ada ruginya jika kita bekerja sama, Nona Beringin," bisik Arion, suaranya tenang dan menggoda. "Kita bisa saling menguntungkan." Arion seolah merasakan sesuatu, matanya sedikit bergerak ke arah pintu. Senja juga merasa ada yang tidak beres, napasnya terhenti sebentar. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang ringan tapi pasti mendekat dari koridor luar. Brak! Pintu klinik terbuka dengan kasar, suara menggelegar di ruangan yang sunyi. Seorang pria berdiri di sana, rambutnya kacau karena berlari, wajahnya memerah karena kemarahan yang tak tertahankan. "Apa yang kalian lakukan?!" Suaranya melengking — suara Gavi yang sangat akrab bagi telinga Senja. Mata Senja membesar. Ia tidak bisa berkata apa-apa, melihat Gavi melotot ke arah dirinya dan Arion yang masih berdampingan. "Arion! Menjauh dari pacarku!" hardik Gavi dengan suara lantang, berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam dan napas memburu. Penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya acak-acakan, mencerminkan emosi yang tengah berkecamuk dalam dirinya.Arion mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur menyerah, dan perlahan menjauh dari Senja. "Santai, bro," jawabnya dengan nada mengejek. "Aku hanya membantu membersihkan lukanya saja, bukan seperti pikiran kotormu!"Arion mengembangkan senyum sinis yang semakin memprovokasi emosi Gavi. "Maksudmu?" tanya Gavi dengan nada mengancam. Langkahnya makin mendekat sampai jarak mereka cuma beberapa sentimeter."Aku bukan dirimu yang suka mengambil keuntungan," sindir Arion, matanya menatap tajam ke mata Gavi. "Memilih asisten baru, mengenalkannya pada kolegamu dan lupa sama pacarmu, bukan begitu, Nona Beringin?"Wajah Senja membeku mendengar ucapan Arion. Matanya bergerak cepat, menatap Arion dan Gavi secara bergantian. Ia merasa bingung
Lingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil. Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya.Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa. "Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja. "Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya. "Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar.Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja."Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya."Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya,
"Kamu membuntutiku ya?" terka Senja memandang Arion penuh selidik.Arion tertawa, giginya rapi menyinari, "Aku mengantar omku." Dia menunjuk pria tua di kejauhan – yang menatapnya dengan pandangan dingin, membuat Senja bergidik. "Kamu kenal om Bas?""Aku tidak kenal dia," jawab Senja."Arion Wiratama," Mengenalkan namanya sambil mengeluarkan kartu undangan dari saku. "Aku juga punya undangan kok. Hanya setahun ini aku di luar negeri, jadi mungkin kamu belum pernah denger nama ku di sini sebelumnya."Wiratama? Keluarga yang punya Dominion Law? Senja merasa dada terasa sesak.Senja tahu keluarga itu terkenal sebagai bilioner, tapi juga selalu menyembunyikan sesuatu. "Jadi kamu teman Gavi? Dan menjebakku di bar dengan rekaman AI yang dipalsukan?" Senja mendekat, bibirnya hampir menyentuh bahu Arion, "Kita tidak pernah berhubungan intim, kan?"Arion menarik pinggangnya perlahan – panas tangannya menyebar ke kulitnya seperti nyala api. "Tapi aku suka membayangkan rambutmu acak-acakan di b
Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin. Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin... Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya. Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung."Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun."Ah," gumam Senja."Kamu disuruh mas
Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja.""Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. "Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi."Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kal







