Home / Romansa / Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku / Nama Ayahku di Bibir Geng

Share

Nama Ayahku di Bibir Geng

Author: Makaira
last update Last Updated: 2026-01-21 13:18:12

Lingkaran hitam terlukis di mata Senja, semalaman ia mencari informasi tentang kasus ayahnya yang terhubung dengan Arion Wiratama yang ternyata ketua Brandal Baja. Namun, tidak membuahkan hasil.

Dia mendapat sedikit petunjuk dari rekaman semalam, tapi belum sepenuhnya yakin bisa mengungkap sosok sebenarnya.

Semua beban ini menekan dada, rasanya ingin menangis tapi tidak bisa.

"Sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi peringatan kematian Ayah, dan Arion yang tahu nama ayahku membuatku semakin khawatir," gumam Senja.

"Senja... Senja..." panggil Tara dengan manja, suaranya yang dibuat-buat lemah tidak menggubris pikiran Senja. Semua tentang Arion menguasai fokusnya.

"Senja..." jerit Tara yang menarik rambut mengembangnya dengan kasar.

Senja refleks melayangkan tangannya begitu berbalik ke belakang, "Kyaa..." teriak Tara segera melepas jemarinya di rambut Senja.

"Tara..." gagap Senja kaget akan kehadirannya.

"Senja apaan sih! Aku panggilin kamu dari tadi gak nengok juga," sewotnya, "Mikirin apa sih?"

Senja tak menjawabnya dan malah pergi, Ngapain dia pagi-pagi banget di sini!

"Senja ngomong apa?!" Tara menggelayut di lengan Senja.

"Senja marah yah soal semalem," Tara mencegat langkah Senja, "Jadi gini Senja, semua rencana Gavi, dia larang aku cerita, soal kerja part time, terus di pesta juga..."

Senja menyetop cerita Tara, "Kamu temen Gavi apa aku? Kok nurut banget sama pacarku?"

Terlihat bibir Tara mengkerut, dia menggigit bibir dalam kecil dan berkedip cepat, seolah coba menahan senyum yang ingin keluar.

"Senja, aku..."

"Apa!" bentak Senja, ""Semalem di pesta, kamu melangkah ke posisiku, menggantikan aku sebagai pasangan Gavi. Kayaknya lebih cocok kamu jadi pacarnya ketimbang aku,"

"Kok Senja ngomong gitu..." Tara bisik dengan suara yang menyedihkan, matanya sesaat melirik sekeliling untuk memastikan ada yang melihat, "Masa aku tega ngerebut pacarmu?"

Dia menunduk seakan korban, sementara mahasiswa yang lewat mulai menatap.

"Terserahlah," Senja pergi tanpa mengenai tubuh Tara, namun seketika Tara menjatuhkan tubuhnya.

"Senja, aku kan sudah minta maaf..." isaknya menjadi tontonan mahasiswa yang mulai bergosip.

"Si rambut Einsten galak juga" atau "dia cemburu tuh sama Tara", bisikan itu terdengar semakin nyaring.

Mulai deh dramanya, cibir Senja dalam hati.

Senja mengulurkan tangannya hendak membantu Tara, "Kelas mau dimulai," ucapnya.

"Senja jangan marah, ini salah Gavi. Aku butuh kerjaan ini buat skripsiku," pinta Tara.

Tangan kiri Tara menyentuh lengan Senja dengan lembut tapi jari-jarinya kaku menyiapkan aksi.

"Iya iya..." jawab Senja yang kini sudah menjadi lirikan tajam mahasiswa yang melintas.

"Senja maafin kan?"

"Ehm, cepat bangun," jawab Senja.

Tiba-tiba, Tara menarik lengan Senja dengan kekuatan tak terduga. Lalu sengaja mendorongnya ke tengah jalan raya, dengan sudut bibir yang sedikit melengkung dalam senyum yang samar.

Senja terkejut dan terjatuh, tubuhnya tergelincir ke aspal. Otaknya membeku sejenak, tidak percaya teman akrabnya malah lakukan itu.

Di ujung jalan, mobil sedan melaju cepat, lampu depannya menyilaukan. Jaraknya semakin dekat, pengemudi kaget menginjak rem keras.

"Senja...." Suara Tara terdengar panik.

Ketika Senja menoleh, sudut bibirnya melengkung lebih lebar, membentuk senyum yang mencurigakan dan jahat, tidak ada kesedihan sama sekali.

"Kamu tak apa?" Arion keluar dari mobil, sigap membantu dan mendelik Tara.

Dia sengaja — teriak hati Senja, rasa takut seketika digantikan oleh amarah yang membara.

Tubuhnya terasa kaku karena terkejut, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah Tara yang tersenyum itu.

"Oh, Senja..." pekik Tara yang datang belakangan, "Ah, darah..." ucapnya cepat menunjuk ke arah tangan dan lutut Senja. "Gimana ini?" tanyanya.

"Bisa jalan ke mobilku?" tanya Arion. Senja mengangguk pelan, masih merasakan sakit di tubuhnya.

Arion memapah Senja dengan hati-hati, menepis tangan Tara yang hendak membantu.

"Senja, kamu tidak apa-apa?" tanya Tara dengan nada dibuat-buat, berusaha menarik perhatian.

"Rumah sakit," usul Tara lagi, kali ini dengan nada lebih khawatir.

"Tidak usah, hanya lecet," jawab Senja sinis, merasa risih dengan perhatian berlebihan Tara.

"Pak, bantu ke klinik saja ya," pinta Senja yang di respon anggukan cepat. Matanya tidak pernah menjauh dari wajah Tara yang pura-pura khawatir.

Arion membukakan pintu mobil untuk Senja. "Biar aku saja yang membantumu," ucapnya lembut, mengabaikan kehadiran Tara.

"Tapi, Pak Arion, aku khawatir dengan Senja," rengek Tara, berusaha menghalangi Arion.

Arion menunjuk buku-buku yang berserakan di jalanan. "Kamu bisa menyusul setelah membereskan itu," ucapnya tegas.

Tara menghentakkan kakinya kesal melihat perlakuan Arion. "Sepertinya keduanya punya hubungan spesial," gumamnya dalam hati, merasa iri dan penasaran.

Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

"Gavi, cepet ke klinik! Senja kecelakaan... Dan dia barusan sama Pak Arion, deket banget lho..." isaknya di telepon, berusaha memancing perhatian dan simpati.

***

"Duduk di sini," ucap Arion sambil memapah Senja ke bangsal klinik.

Pendingin ruangan mengeluarkan bunyi halus yang terdengar seolah mengintai, menyebarkan aroma antiseptik yang menyengat tenggorokan.

Suara gemeretak botol-botol obat terdengar jelas di keheningan, ketika Arion menyentuhnya. "Perlihatkan lukamu," pintanya dengan nada yang mendadak lembut, membuat Senja tertegun.

"Mana?" tanyanya lembut.

Arion menarik tangan Senja, membuatnya meringis kesakitan. "Bantunya yang ikhlas, sakit tahu," keluh Senja dengan nada kesal.

Arion tidak menjawab. Ia dengan telaten mengobati luka di tangan dan lutut Senja. Gerakannya hati-hati, seolah takut menyakiti gadis itu.

"Apa alasanmu mau membantuku? Selain masalah Gavi, pasti ada alasan lain. Misalnya..." Senja mendongak, menatap Arion yang tampak terkejut dengan pertanyaan tiba-tibanya. "Masalah ayahku, Elio Kalani?"

Gerakan Arion saat membubuhkan antiseptik terhenti sejenak. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Wah, apa seseorang menguping pembicaraan semalam," ucapnya dengan nada mengejek.

Senja menatap mata Arion lekat-lekat. Di balik kacamatanya, pupil matanya tampak bergeming. Helaan napas Arion yang panjang terdengar memecah keheningan.

"Karena Gavi lebih sukses dariku!" jawab Arion akhirnya, mencoba mengelak.

"Ayolah, aku tidak bodoh. Namamu Wiratama dan ketua geng, sekali hajar Gavi akan tumbang," komentar Senja dengan nada mencibir. "Kebencianmu lebih dalam dari itu, seolah Gavi merusak kehidupanmu, kan?"

"Pengamatan yang bagus, Nona Beringin," jawab Arion sinis, mengakui ketajaman intuisi Senja.

"Dan itu juga berhubungan dengan ayahku, kan?" Senja menyeringai, lalu memutar rekaman suara pembicaraan Arion dan teman gengnya, Garda.

Arion bersiul kagum akan keberhasilan Senja mengurai benang kusut. "Tapi, ini tidak cukup untuk mengancamku, Nona Beringin," ucapnya dengan nada meremehkan, namun matanya memancarkan kekaguman.

"Oh, ya?" Senja menyeringai, lalu menggulir layar ponselnya. Mata Arion bersabar menanti kejutan yang di siapkannya.

"Bagaimana dengan ini?" Ia memperlihatkan tajuk berita daring yang berbunyi, "Bukan Pengacara Jika Tangannya Digunakan Menghajar Warga Sipil."

"Ini Anda, kan, Pak Dosen?" lirih Senja dengan suara penuh kemenangan. "Meskipun hanya tertulis inisial A.W., tapi berita ini ditulis setahun lalu. Boom! Anda terjebak, Pak Dosen!"

Arion bertepuk tangan pelan, ia tersenyum memuji investigasi Senja. Sesaat, hati Senja menghangat. Pujian Arion terdengar tulus, dan wajah kakunya perlahan berubah, tergantikan oleh ekspresi tenang.

"Aku dan ayahmu terkena kasus yang sama. Dan yang kudengar, anak didik ayahmu—Gavi—mempunyai bukti kuat siapa dalang yang menjebak kami," jelas Arion, nada suaranya melunak.

"Dan kebetulan, di hari kepulanganku, kita bertemu di bar. Itu memudahkan rencanaku untuk mendekatimu."

Arion membiarkan informasinya dicerna oleh Senja, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajahnya. Ia bisa melihat keraguan, kebingungan, dan secercah harapan bercampur aduk di sana.

"Apa jawabanmu, Nona Beringin?" tanya Arion dengan nada rendah, memecah keheningan yang tercipta.

Benarkah semua yang dikatakannya? Mungkinkah semua ini berhubungan dengan Gavi, pria yang selama ini ia cintai? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.

"Aku bisa meloloskan skripsimu, memulihkan nama baik ayahmu, bahkan membalas perselingkuhan Gavi," tawar Arion, berusaha meyakinkan Senja untuk mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya.

"Bukankah semalam aku sudah membuktikannya?" tambahnya, mengingatkan Senja akan kecemburuan Gavi untuk pertama kalinya.

Arion memerangkap tubuh Senja dengan kedua tangannya yang kekar, membuatnya tidak bisa melarikan diri.

Tubuhnya sedikit bergetar, campuran antara takut akan kedekatan ini dan bingung dengan apa yang dia dengar.

Sepasang mata itu saling menatap, masing-masing mencari jawaban dan kebenaran di dalam pandangan satu sama lain.

"Tidak ada ruginya jika kita bekerja sama, Nona Beringin," bisik Arion, suaranya tenang dan menggoda. "Kita bisa saling menguntungkan."

Arion seolah merasakan sesuatu, matanya sedikit bergerak ke arah pintu. Senja juga merasa ada yang tidak beres, napasnya terhenti sebentar.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang ringan tapi pasti mendekat dari koridor luar.

Brak!

Pintu klinik terbuka dengan kasar, suara menggelegar di ruangan yang sunyi. Seorang pria berdiri di sana, rambutnya kacau karena berlari, wajahnya memerah karena kemarahan yang tak tertahankan.

"Apa yang kalian lakukan?!" Suaranya melengking — suara Gavi yang sangat akrab bagi telinga Senja.

Mata Senja membesar. Ia tidak bisa berkata apa-apa, melihat Gavi melotot ke arah dirinya dan Arion yang masih berdampingan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Rima Kematian di Balik Mikrofon

    Senja tidak datang untuk berpesta; dia datang untuk menghadiri pemakaman reputasi orang-orang yang telah menghancurkan ayahnya. Lautan manusia berbalut sutra dan kemewahan itu seolah menghimpit ruang gerak Senja. Sepanjang selasar, sapaan-sapaan formal mampir padanya—bukan sebagai bentuk pengakuan, melainkan sekadar upeti penghormatan bagi Gavi, atau konfirmasi dingin bahwa ia memang darah daging Elio Kahlani.Di sudut ruangan, pandangan Senja terantuk pada netra Arion. Namun, bukan Arion yang membuat napasnya tertahan, melainkan Sitaresmi yang berdiri di samping pria itu. Perempuan itu melemparkan tatapan sedingin es, sarat akan keangkuhan yang menguliti harga diri siapa pun yang dipandangnya.Tanpa sadar, jemari Senja meremas lengan Gavi hingga kain jas pria itu kusut dalam genggamannya. Gavi melirik tajam, menyadari getaran halus di sana."Gugup?" bisik Gavi, suaranya datar namun menuntut."Sedikit," sahut Senja pendek, berusaha mengontrol degup jantungnya.Gavi menepuk punggung

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Investasi Paling Berbahaya

    Semenjak Arion menurunkannya di depan kos dengan amarah yang meledak, Senja seolah kehilangan jejak. Arion dan Garda tidak pernah mendatanginya, seolah keduanya ditelan bumi. Bahkan ruko Dokter Koh pun mendadak mati, terkunci permanen dengan garis sunyi yang menyiratkan tempat itu baru saja digerebek.Di bawah bayangan gedung kantor Gavi, Senja meremas sebuah kancing manset dalam genggamannya. Logam dingin itu terasa seperti satu-satunya kunci yang tersisa."Hanya ini jalannya," gumamnya lirih.Ia melangkah masuk ke lift, menyembunyikan kancing itu di balik saku jaket denimnya yang kaku. Saat pintu lift berdenting terbuka, Tara mendongak dari balik monitor. Sebuah senyum merekah di wajahnya—terlalu manis, hingga Senja merasa ada duri di baliknya."Gavi ada?" tanya Senja, mencoba menetralkan nada suaranya."Ada," jawab Tara singkat, kembali pada layar monitornya.Kerutan di dahi Senja dalam. Biasanya Tara punya seribu alasan untuk menghalanginya, tapi sekarang perempuan itu seolah ke

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Kepingan yang Hilang

    Rahang Arion mengeras, menciptakan garis tegas yang kaku di sepanjang perjalanannya mengantar Senja. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kirinya tak sedetik pun berpindah dari tas laptop di sampingnya—seolah benda itu adalah jantung yang harus ia lindungi."Tindakanmu impulsif, Arion," suara Senja memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil."Dia dalangnya. Titik." Suara Arion rendah, parau oleh amarah yang tertahan."Itu bukan Garda.""Kenapa kamu terus membelanya?!" Arion menghantam kemudi, membuat mobil sedikit oleng."Aku tidak membela siapa pun. Aku memintamu melihat dengan kepala dingin!" Senja menyambar lengan Arion, memaksanya menepi. "Kejadian ini terlalu rapi. Seolah-olah panggung ini memang sengaja disiapkan untukmu."Arion tertawa sinis, matanya menyalang merah. "Hanya dia yang tahu koordinat tempat itu, Senja. Hanya dia!""Bisa saja seseorang membuntutimu tanpa kamu sadari.""Mustahil. Aku tidak sebodo

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Jejak yang Tertinggal

    Arion menyentak tubuh Senja ke kursi penumpang dengan kasar. Belum sempat gadis itu memprotes, tubuh besar Arion sudah mengurungnya, menghalangi celah keluar."Diam. Jangan berontak," desis Arion. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang sedang memperingatkan mangsanya.Senja hanya mendengus, memilih membuang muka. Ia menelan semua makian yang sudah di ujung lidah. Ia tahu harga yang harus dibayar jika melawan; rahasia tentang tempat itu tidak boleh bocor. Sikap arogan pria itu adalah racun yang harus ia teguk demi keamanan.Sekilas, Senja mendongak. Di sana, di bawah remang lampu jalan, Garda berdiri mematung. Wajahnya tertutup bayangan, namun Senja bisa merasakan sepasang mata itu menghujamnya—dingin dan menuntut penjelasan."Apa yang kamu lihat?" Arion mengikuti arah pandang Senja. Sebuah tawa sinis lolos dari bibirnya saat menyadari keberadaan Garda. Tanpa ragu, ia mengacungkan jari tengahnya ke udara. "Keparat. Jangan harap kamu bisa mendapatkan milikku."Ari

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Saat Bayangan Mulai Bicara

    Sisa pagutan Arion masih terasa membakar di bibirnya, namun Senja tidak membiarkan sensasi itu melumpuhkan logikanya. Begitu pintu lift griya tawang terbuka di lobi, ia melangkah lebar, mengabaikan tatapan penjaga keamanan dan rintik gerimis yang menyambutnya di luar. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen dengan langkah yang nyaris tersandung. Hawa dingin malam itu langsung menusuk kulitnya, namun tidak mampu memadamkan panas yang menjalar di wajahnya akibat ulah Arion beberapa menit lalu. Ia merasa seperti baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia tidak butuh taksi mewah; ia butuh menghilang. Di bawah payung ojek daring yang pengap, Senja memacu tujuannya menuju ruko di pinggiran kota yang aromanya selalu menghantuinya setiap malam."Jangan sekarang, Senja. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada diri sendiri sambil merapatkan jaket.Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa tenang. Matanya terus terpaku pada sebuah mobil sedan gelap di belakang ojek yang ia tumpangi. Pera

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Bibir yang Membungkam Logika

    "Kamu menuduhku mencuri?"Suara Senja memecah keheningan, tajam dan bergetar karena amarah. Di depannya, Arion hanya menyesap sisa-sisa kesabarannya. Tatapan pria itu sinis, menguliti harga diri Senja tanpa ampun."Uangnya lenyap, Nona Beringin. Itu fakta, bukan tuduhan," jawab Arion santai. Ia menyandarkan punggung, menumpangkan kaki dengan gestur arogan yang seolah mengatakan bahwa ia memiliki seluruh ruangan—termasuk nasib Senja di dalamnya.Senja terbungkam. Ia mencoba memutar otak, membedah setiap detik dalam ingatannya, mencari detail kecil yang mungkin terlewat seperti retakan pada dinding yang nyaris tak terlihat. Namun, Arion tidak membiarkannya tenang."Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?" Arion mendesak, suaranya rendah namun penuh intimidasi. Konsentrasi Senja buyar berkeping-keping. "Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu melenggang pergi sebelum uangku kembali utuh."Arion mencondongkan tubuh, mengikis jarak hingga Senja terperangkap di antara sandaran kursi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status