Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin.
Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."
Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin...
Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.
Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya.
Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung.
"Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.
Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun.
"Ah," gumam Senja.
"Kamu disuruh masuk, loh!" Tara memperbesar suaranya, menggoyangkan lengan Senja.
"Oh..." jawab Senja dengan suara pelan, kaki terasa berat mau melangkah.
Langkahnya kikuk sehingga memperbesar kecurigaan Tara terhadapnya. "Ada apa dengannya? Jelas itu pakaiannya yang semalam," gumam Tara setelah Senja memasuki ruangan. "Bodo ah, yang penting dia tidak menghalangi jalanku soal Gavi!"
Ruangan terasa lebih dingin – tak pernah dia bayangkan bertemu dosen seperti ini.
"Duduk," suaranya keluar datar, tanpa jeda, tanpa melihat Senja sama sekali. Jari-jarinya masih mengetik di laptop. "Judul yang diajukan cukup menarik, tapi cuma itu saja."
"Oh ya?" jawab Senja gugup sambil terus menatap dosen di depannya. Ya, dia orang yang sama semalam, hanya tampilannya lebih kalem.... batin Senja.
"Kenapa menatapku?" tanya Arion.
"Kamu..." Senja menggantung kalimatnya.
"Kamu?" Mata Arion beralih dari layar laptopnya, "Aku dosen pembimbingmu," jelasnya.
"Maksudku, Pak Arion," ralat Senja.
Pasti bukan dia, pikir Senja, apa dia punya kembaran?
"Hanya saja, aku menolak judul yang diajukan," kata Arion.
"Kenapa?" tanya Senja.
Arion meregangkan tubuhnya, "Kasus salah tangkap korupsi memang menarik, tapi butuh waktu lama, jika mau lulus dalam setahun sebaiknya cari saja yang lebih ringan," sarannya.
Senja tertegun tak memerhatikan Arion sudah berada di belakang kursinya dan berbisik, "Atau ini kasus pribadi?"
Senja terlonjak dan memegang telinganya yang memerah, senyum tipis Arion menyeruak di wajah datarnya.
"Telingamu sangat sensitif," goda Arion.
Arion membuka ponselnya dan memperlihatkan rekaman video Senja semalam — dia yang menangis dan memeluk Arion di kamar motel.
Mata Senja membulat, "Bapak mengancamku?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Sudah kubilang kita saling bantu," Arion mendekati Senja, napasnya menyentuh telinga Senja.
Saat itu, sesuatu menyambar pikiran Senja yang kacau: "Jadi bukan karena waktu, tapi karena kamu mau pakai ini buat mengontrolku?" suaranya pelan tapi penuh kemarahan.
"Aku tidak sudi jadi budakmu," tolaknya, mencoba mundur.
"Terus gimana dong sama video ini? Apa mau kusebarkan di grup kampus? Si Nona Einstein yang terkenal alim ternyata liar di malam hari?" Arion menggigit bibirnya dengan senyum jahat.
Senja melompat cepat, tendangannya tepat menyambar pergelangan kakinya. "Licik!" suaranya berdentang, pipi memerah dan mata menyala.
Arion terkejut dan mundur sebentar.
"Wah, liar juga ya?" Arion tersenyum lebar sambil menggosok bagian kaki yang terkena tendangan. "Sama seperti semalam... pas kamu nangis ngomong, 'jangan tinggalin aku'."
Ucapnya mengolok-olok sambil menirukan kemanjaan Senja pada malam itu.
"Oh iya, pacarmu selingkuh, Gavi dan Tara," Arion mengingatkan.
Mata Senja seketika memerah lebih dalam. Air mata hampir keluar tapi ia tahan. Begonya aku bisa curhat sama orang kayak gini!
"Mengenai hal itu .....," lanjut Arion mendekati lagi sampai wajahnya cuma bersentuhan jarak jempol, napasnya menyentuh pipi Senja.
Ia menundukkan kepalanya, bisiknya tepat di telinga Senja: "Dan aku punya cara buat mengakhiri semua yang dia lakukan ke kamu. Cuma butuh sedikit bantuan darimu,"
Dia sengaja, pikir Senja bingung akan kelakuan dosennya.
"Aku tidak akan mempersulit skripsimu," Arion duduk di meja menatap Senja yang seperti kucing ketakutan, "Aku bisa membantumu, tapi tidak gratis,"
"Pikirkanlah dengan baik," Arion mengedipkan matanya, dan mengetuk telunjuknya pada jam tangannya, "Waktumu habis, Nona Beringin."
Cih, ini bukan bimbingan, tapi pemaksaan – geram nurani Senja membara sambil melangkah mendekati pintu, tangannya gemetar saat pegang pegangan pintu.
"Waktumu berpikir sampai besok," tuntut Arion, "Panggilkan Tara, hmm apa dia orang yang sama dengan yang di sebut semalam?" ejeknya dengan senyum jahat, senang menanggapi sorot mata Senja yang bagai ingin menikamnya.
"Selingkuhan pacarmu?" tambah Arion yang menikmati ekpresi Senja.
Senja menghela napas dalam-dalam, tangan masih gemetar saat memegang pegangan pintu. Ia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan itu dan menjauh dari dosen yang menyebalkan ini.
"Sampai jumpa nanti malam, Nona Beringin."
Kata Arion keluar dengan lembut dari belakangnya, membuat Senja berhenti sejenak.
"Malem ini?" Senja menoleh dengan wajah bingung. "Aku tidak akan pergi ke bar lagi!"
Ketika membuka pintu, Tara terkejut dan hampir masuk tergesa-gesa. Rambutnya sedikit kacau dan wajahnya memerah, seolah-olah dia baru saja mendengar semua percakapan kita.
"Ah, Senja udah selesai bimbingannya toh?" suaranya pelan dan canggung.
Ngapain kamu di situ? Nguping semua percakapan kita? batin Senja curiga, dada terasa lebih sesak.
"Giliranmu tuh," ucap Senja dengan nada dingin, mengerutkan wajah ke arah dosen bimbingannya yang sadis, tidak mau melihat wajah Tara.
"Ah iya," jawab Tara gugup, kaki terasa berat mau masuk ke ruangan yang terasa seperti sel penjara.
"Tara Maheswari," panggil Arion yang menangkap interaksi canggung mereka.
"Ya, Pak Arion... giliran aku ya," sambil menggosok lengan baju. Ia melenggang dengan gemulai bak model.
"Duduk," suruh Arion tegas dan dingin menghentikan aksi menggoda Tara.
"Penasaran banget ya," ledek Senja pelan, sambil menutup pintu dengan bunyi klak yang sedikit kasar.
Senja menghela napas dan melanjutkan langkahnya. Barusan dia mencapai tangga, suara dering ponselnya terdengar. Dia mengambilnya dengan ragu – nama Gavi muncul di layar dengan pesan baru:
"Sayang, jangan lupa ya malam ini! Ultahku di Firma Apex Legal jam 9."
***
Firma Apex Legal buka setahun setelah ayah Senja meninggal, berdiri megah di pusat perkantoran mewah dengan sewa yang fantastis.
Kantor yang berada di lantai 10 tersebut telah menangani berbagai kasus besar yang membuat nama Gavi mulai diperhitungkan.
"Apa Tara diundang?" Gumam Senja sambil lihat penampilannya di pintu lift. "Tak masalah," senyum percaya diri muncul saat pintu lift terbuka.
"Senja," Kagum Gavi yang menunggunya di depan lift. "Lumayanlah," nilainya.
Gaun hitam bertabur manik menghias tubuh Senja, rambut Einsteinnya ia gelung dengan tambahan aksesoris kalung mutiara sepasang dengan antingnya.
"Sayang," sapa Senja manja tapi menolak di cium Gavi, "Maaf, aku tak mau make up-ku luntur," alasannya meredam ekspresi Gavi yang kesal akan sikapnya tersebut.
"Oh," gumam Gavi.
Senja melingkarkan tangannya pada lengan Gavi, mereka memasuki kantor, "Sepertinya banyak tamu yang diundang," komentarnya.
"Hanya klien tetap," jawab Gavi.
"Kupikir kita merayakan berdua aja," kata Senja.
Beberapa klien yang di kenal menatap Senja, meski tidak terbiasa akan penilaian mereka, ia tetap mengembangkan senyum ramah.
"Salahmu tak datang kemarin," balas Gavi.
Senja tersenyum canggung, "Maaf," gumamnya, bayangan perselingkuhan Gavi kembali melintas.
Senja memandang sekeliling kantor yang disulap menjadi buffet kecil terhidang makanan dan minuman, "Gimana?" tanyanya.
"Lebih mewah dibanding di kafe," puji Senja, "Sayang," panggilnya.
"Hm," jawab Gavi.
"Semalem kamu di kantor? Gak ke kafe yang aku sewa buat ultahmu?"
"Gak," jawab Gavi singkat.
"Yakin?" Gavi mengangguk cepat.
"Kudengar dari pelayan, CCTV menangkap seseorang di situ semalem," kata Senja.
Gavi tertawa, "Maling kali," jawabnya santai.
"Bukan, katanya terdengar suara aneh juga seperti orang bermesraan," Senja semakin menyudutkannya.
Gavi melepas kasar pelukan lengan Senja di tangannya, "Sayang, berhenti deh ngurusin hal gak penting," pintanya.
"Masa gak penting, kan aku nyewa kafe itu buat ultahmu," balas Senja.
"Sudah lihat rekamannya?" tanya Gavi.
Senja menggeleng, namun dalam hati ngedumel, Mataku yang merekam aksi selingkuhmu, sayang!
"Tuh kan," ejek Gavi, "Itu akal-akalan mereka aja biar kamu percaya aku selingkuh,"
Emang iya kan, ejek nurani Senja.
"Mungkin," jawabnya, "Tapi gimana kalo benar?"
"Kamu percaya mereka atau aku, sayang?" tanya Gavi.
Senja tertegun – hati dia meradang, tapi lidahnya terasa kaku. "Kamu dong," jawabnya, suara sekeras kertas terlipat.
"Nah, gitu dong sayang," senyum Gavi, "Aku nyapa tamu dulu," Ia melambai pada salah seorang klien yang tidak pernah Senja lihat sebelumnya.
Gavi meninggalkan Senja dengan santai, menyapa dan menyalami tamu.
"Sampai kapan dia mau ngelak terus?" ejek Senja dengan gumam penuh kemarahan, mata menyipit menatap Gavi.
Tiba-tiba, napas hangat menyentuh telinganya. "Sampai kamu berani ngomong 'cukup' – biarkan dia merasakan apa yang kamu rasakan."
Arion berada di belakangnya dengan senyum yang tidak terlihat melintasi bibirnya.
"Aku bisa bantu," bisik Arion dari belakang. Telinga Senja langsung memerah.
Minuman di tangan Senja bergoyang. "Kamu? Kok ada di sini?" tanyanya kaget, lupa sejenak tentang Gavi.
Arion tersenyum, matanya melesat ke arah Gavi yang sedang berbicara dengan klien.
"Diundang. Lho, pacarmu nggak bilang ya?" Suaranya santai, tapi ada nada yang menyiratkan dia tahu lebih banyak tentang Gavi.
Arion. Pemuda di bar. Dosen bimbingan skripsi. Dan tamu undangan Gavi.
Siapa kamu sebenarnya? Kenapa bisa ada di sini? batin Senja bertanya-tanya.