Home / Romansa / Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku / Dosen dari Malam yang Lupa

Share

Dosen dari Malam yang Lupa

Author: Makaira
last update Last Updated: 2026-01-21 13:14:16

Senja berdiri kaku di depan pintu, mata tak bisa lepas dari Arion yang berdiri dengan jas hitam, tampilan profesional yang jauh berbeda dari pria yang ia temui di bar malam kemarin.

Tara menyelipkan lengan ke sampingnya, "Senja, kamu baik-baik aja? Wajahmu pucat banget."

Senja cuma bisa mengangguk, hati berdebar kencang. Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin...

Kilas balik malam itu tiba-tiba muncul lagi — Arion yang memeluknya, bibir mereka yang bertaut — dan ia merasakan malu yang menyelimuti badannya.

Arion memutar badan, matanya sebentar menyoroti Senja sebelum berkata, "Siapa yang mau pertama?" Suaranya dingin, seolah tidak mengenalnya.

Tapi Senja melihat ke dalam matanya — ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat ia bingung.

"Kamu – yang rambutnya kayak beringin," Arion memutuskan, menunjuknya dengan senyum tipis sebelum kembali ke ruangan.

Tara menyenggol, "Senja, kamu dipanggil," memperingatkan temannya yang sedari tadi melamun.

"Ah," gumam Senja.

"Kamu disuruh masuk, loh!" Tara memperbesar suaranya, menggoyangkan lengan Senja.

"Oh..." jawab Senja dengan suara pelan, kaki terasa berat mau melangkah.

Langkahnya kikuk sehingga memperbesar kecurigaan Tara terhadapnya. "Ada apa dengannya? Jelas itu pakaiannya yang semalam," gumam Tara setelah Senja memasuki ruangan. "Bodo ah, yang penting dia tidak menghalangi jalanku soal Gavi!"

Ruangan terasa lebih dingin – tak pernah dia bayangkan bertemu dosen seperti ini.

"Duduk," suaranya keluar datar, tanpa jeda, tanpa melihat Senja sama sekali. Jari-jarinya masih mengetik di laptop. "Judul yang diajukan cukup menarik, tapi cuma itu saja."

"Oh ya?" jawab Senja gugup sambil terus menatap dosen di depannya. Ya, dia orang yang sama semalam, hanya tampilannya lebih kalem.... batin Senja.

"Kenapa menatapku?" tanya Arion.

"Kamu..." Senja menggantung kalimatnya.

"Kamu?" Mata Arion beralih dari layar laptopnya, "Aku dosen pembimbingmu," jelasnya.

"Maksudku, Pak Arion," ralat Senja.

Pasti bukan dia, pikir Senja, apa dia punya kembaran?

"Hanya saja, aku menolak judul yang diajukan," kata Arion.

"Kenapa?" tanya Senja.

Arion meregangkan tubuhnya, "Kasus salah tangkap korupsi memang menarik, tapi butuh waktu lama, jika mau lulus dalam setahun sebaiknya cari saja yang lebih ringan," sarannya.

Senja tertegun tak memerhatikan Arion sudah berada di belakang kursinya dan berbisik, "Atau ini kasus pribadi?"

Senja terlonjak dan memegang telinganya yang memerah, senyum tipis Arion menyeruak di wajah datarnya.

"Telingamu sangat sensitif," goda Arion.

Arion membuka ponselnya dan memperlihatkan rekaman video Senja semalam — dia yang menangis dan memeluk Arion di kamar motel.

Mata Senja membulat, "Bapak mengancamku?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Sudah kubilang kita saling bantu," Arion mendekati Senja, napasnya menyentuh telinga Senja.

Saat itu, sesuatu menyambar pikiran Senja yang kacau: "Jadi bukan karena waktu, tapi karena kamu mau pakai ini buat mengontrolku?" suaranya pelan tapi penuh kemarahan.

"Aku tidak sudi jadi budakmu," tolaknya, mencoba mundur.

"Terus gimana dong sama video ini? Apa mau kusebarkan di grup kampus? Si Nona Einstein yang terkenal alim ternyata liar di malam hari?" Arion menggigit bibirnya dengan senyum jahat.

Senja melompat cepat, tendangannya tepat menyambar pergelangan kakinya. "Licik!" suaranya berdentang, pipi memerah dan mata menyala.

Arion terkejut dan mundur sebentar.

"Wah, liar juga ya?" Arion tersenyum lebar sambil menggosok bagian kaki yang terkena tendangan. "Sama seperti semalam... pas kamu nangis ngomong, 'jangan tinggalin aku'."

Ucapnya mengolok-olok sambil menirukan kemanjaan Senja pada malam itu.

"Oh iya, pacarmu selingkuh, Gavi dan Tara," Arion mengingatkan.

Mata Senja seketika memerah lebih dalam. Air mata hampir keluar tapi ia tahan. Begonya aku bisa curhat sama orang kayak gini!

"Mengenai hal itu .....," lanjut Arion mendekati lagi sampai wajahnya cuma bersentuhan jarak jempol, napasnya menyentuh pipi Senja.

Ia menundukkan kepalanya, bisiknya tepat di telinga Senja: "Dan aku punya cara buat mengakhiri semua yang dia lakukan ke kamu. Cuma butuh sedikit bantuan darimu,"

Dia sengaja, pikir Senja bingung akan kelakuan dosennya.

"Aku tidak akan mempersulit skripsimu," Arion duduk di meja menatap Senja yang seperti kucing ketakutan, "Aku bisa membantumu, tapi tidak gratis,"

"Pikirkanlah dengan baik," Arion mengedipkan matanya, dan mengetuk telunjuknya pada jam tangannya, "Waktumu habis, Nona Beringin."

Cih, ini bukan bimbingan, tapi pemaksaan – geram nurani Senja membara sambil melangkah mendekati pintu, tangannya gemetar saat pegang pegangan pintu.

"Waktumu berpikir sampai besok," tuntut Arion, "Panggilkan Tara, hmm apa dia orang yang sama dengan yang di sebut semalam?" ejeknya dengan senyum jahat, senang menanggapi sorot mata Senja yang bagai ingin menikamnya.

"Selingkuhan pacarmu?" tambah Arion yang menikmati ekpresi Senja.

Senja menghela napas dalam-dalam, tangan masih gemetar saat memegang pegangan pintu. Ia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan itu dan menjauh dari dosen yang menyebalkan ini.

"Sampai jumpa nanti malam, Nona Beringin."

Kata Arion keluar dengan lembut dari belakangnya, membuat Senja berhenti sejenak.

"Malem ini?" Senja menoleh dengan wajah bingung. "Aku tidak akan pergi ke bar lagi!"

Ketika membuka pintu, Tara terkejut dan hampir masuk tergesa-gesa. Rambutnya sedikit kacau dan wajahnya memerah, seolah-olah dia baru saja mendengar semua percakapan kita.

"Ah, Senja udah selesai bimbingannya toh?" suaranya pelan dan canggung.

Ngapain kamu di situ? Nguping semua percakapan kita? batin Senja curiga, dada terasa lebih sesak.

"Giliranmu tuh," ucap Senja dengan nada dingin, mengerutkan wajah ke arah dosen bimbingannya yang sadis, tidak mau melihat wajah Tara.

"Ah iya," jawab Tara gugup, kaki terasa berat mau masuk ke ruangan yang terasa seperti sel penjara.

"Tara Maheswari," panggil Arion yang menangkap interaksi canggung mereka.

"Ya, Pak Arion... giliran aku ya," sambil menggosok lengan baju. Ia melenggang dengan gemulai bak model.

"Duduk," suruh Arion tegas dan dingin menghentikan aksi menggoda Tara.

"Penasaran banget ya," ledek Senja pelan, sambil menutup pintu dengan bunyi klak yang sedikit kasar.

Senja menghela napas dan melanjutkan langkahnya. Barusan dia mencapai tangga, suara dering ponselnya terdengar. Dia mengambilnya dengan ragu – nama Gavi muncul di layar dengan pesan baru:

"Sayang, jangan lupa ya malam ini! Ultahku di Firma Apex Legal jam 9."

***

Firma Apex Legal buka setahun setelah ayah Senja meninggal, berdiri megah di pusat perkantoran mewah dengan sewa yang fantastis.

Kantor yang berada di lantai 10 tersebut telah menangani berbagai kasus besar yang membuat nama Gavi mulai diperhitungkan.

"Apa Tara diundang?" Gumam Senja sambil lihat penampilannya di pintu lift. "Tak masalah," senyum percaya diri muncul saat pintu lift terbuka.

"Senja," Kagum Gavi yang menunggunya di depan lift. "Lumayanlah," nilainya.

Gaun hitam bertabur manik menghias tubuh Senja, rambut Einsteinnya ia gelung dengan tambahan aksesoris kalung mutiara sepasang dengan antingnya.

"Sayang," sapa Senja manja tapi menolak di cium Gavi, "Maaf, aku tak mau make up-ku luntur," alasannya meredam ekspresi Gavi yang kesal akan sikapnya tersebut.

"Oh," gumam Gavi.

Senja melingkarkan tangannya pada lengan Gavi, mereka memasuki kantor, "Sepertinya banyak tamu yang diundang," komentarnya.

"Hanya klien tetap," jawab Gavi.

"Kupikir kita merayakan berdua aja," kata Senja.

Beberapa klien yang di kenal menatap Senja, meski tidak terbiasa akan penilaian mereka, ia tetap mengembangkan senyum ramah.

"Salahmu tak datang kemarin," balas Gavi.

Senja tersenyum canggung, "Maaf," gumamnya, bayangan perselingkuhan Gavi kembali melintas.

Senja memandang sekeliling kantor yang disulap menjadi buffet kecil terhidang makanan dan minuman, "Gimana?" tanyanya.

"Lebih mewah dibanding di kafe," puji Senja, "Sayang," panggilnya.

"Hm," jawab Gavi.

"Semalem kamu di kantor? Gak ke kafe yang aku sewa buat ultahmu?"

"Gak," jawab Gavi singkat.

"Yakin?" Gavi mengangguk cepat.

"Kudengar dari pelayan, CCTV menangkap seseorang di situ semalem," kata Senja.

Gavi tertawa, "Maling kali," jawabnya santai.

"Bukan, katanya terdengar suara aneh juga seperti orang bermesraan," Senja semakin menyudutkannya.

Gavi melepas kasar pelukan lengan Senja di tangannya, "Sayang, berhenti deh ngurusin hal gak penting," pintanya.

"Masa gak penting, kan aku nyewa kafe itu buat ultahmu," balas Senja.

"Sudah lihat rekamannya?" tanya Gavi.

Senja menggeleng, namun dalam hati ngedumel, Mataku yang merekam aksi selingkuhmu, sayang!

"Tuh kan," ejek Gavi, "Itu akal-akalan mereka aja biar kamu percaya aku selingkuh,"

Emang iya kan, ejek nurani Senja.

"Mungkin," jawabnya, "Tapi gimana kalo benar?"

"Kamu percaya mereka atau aku, sayang?" tanya Gavi.

Senja tertegun – hati dia meradang, tapi lidahnya terasa kaku. "Kamu dong," jawabnya, suara sekeras kertas terlipat.

"Nah, gitu dong sayang," senyum Gavi, "Aku nyapa tamu dulu," Ia melambai pada salah seorang klien yang tidak pernah Senja lihat sebelumnya.

Gavi meninggalkan Senja dengan santai, menyapa dan menyalami tamu.

"Sampai kapan dia mau ngelak terus?" ejek Senja dengan gumam penuh kemarahan, mata menyipit menatap Gavi.

Tiba-tiba, napas hangat menyentuh telinganya. "Sampai kamu berani ngomong 'cukup' – biarkan dia merasakan apa yang kamu rasakan."

Arion berada di belakangnya dengan senyum yang tidak terlihat melintasi bibirnya.

"Aku bisa bantu," bisik Arion dari belakang. Telinga Senja langsung memerah.

Minuman di tangan Senja bergoyang. "Kamu? Kok ada di sini?" tanyanya kaget, lupa sejenak tentang Gavi.

Arion tersenyum, matanya melesat ke arah Gavi yang sedang berbicara dengan klien.

"Diundang. Lho, pacarmu nggak bilang ya?" Suaranya santai, tapi ada nada yang menyiratkan dia tahu lebih banyak tentang Gavi.

Arion. Pemuda di bar. Dosen bimbingan skripsi. Dan tamu undangan Gavi.

Siapa kamu sebenarnya? Kenapa bisa ada di sini? batin Senja bertanya-tanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Rima Kematian di Balik Mikrofon

    Senja tidak datang untuk berpesta; dia datang untuk menghadiri pemakaman reputasi orang-orang yang telah menghancurkan ayahnya. Lautan manusia berbalut sutra dan kemewahan itu seolah menghimpit ruang gerak Senja. Sepanjang selasar, sapaan-sapaan formal mampir padanya—bukan sebagai bentuk pengakuan, melainkan sekadar upeti penghormatan bagi Gavi, atau konfirmasi dingin bahwa ia memang darah daging Elio Kahlani.Di sudut ruangan, pandangan Senja terantuk pada netra Arion. Namun, bukan Arion yang membuat napasnya tertahan, melainkan Sitaresmi yang berdiri di samping pria itu. Perempuan itu melemparkan tatapan sedingin es, sarat akan keangkuhan yang menguliti harga diri siapa pun yang dipandangnya.Tanpa sadar, jemari Senja meremas lengan Gavi hingga kain jas pria itu kusut dalam genggamannya. Gavi melirik tajam, menyadari getaran halus di sana."Gugup?" bisik Gavi, suaranya datar namun menuntut."Sedikit," sahut Senja pendek, berusaha mengontrol degup jantungnya.Gavi menepuk punggung

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Investasi Paling Berbahaya

    Semenjak Arion menurunkannya di depan kos dengan amarah yang meledak, Senja seolah kehilangan jejak. Arion dan Garda tidak pernah mendatanginya, seolah keduanya ditelan bumi. Bahkan ruko Dokter Koh pun mendadak mati, terkunci permanen dengan garis sunyi yang menyiratkan tempat itu baru saja digerebek.Di bawah bayangan gedung kantor Gavi, Senja meremas sebuah kancing manset dalam genggamannya. Logam dingin itu terasa seperti satu-satunya kunci yang tersisa."Hanya ini jalannya," gumamnya lirih.Ia melangkah masuk ke lift, menyembunyikan kancing itu di balik saku jaket denimnya yang kaku. Saat pintu lift berdenting terbuka, Tara mendongak dari balik monitor. Sebuah senyum merekah di wajahnya—terlalu manis, hingga Senja merasa ada duri di baliknya."Gavi ada?" tanya Senja, mencoba menetralkan nada suaranya."Ada," jawab Tara singkat, kembali pada layar monitornya.Kerutan di dahi Senja dalam. Biasanya Tara punya seribu alasan untuk menghalanginya, tapi sekarang perempuan itu seolah ke

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Kepingan yang Hilang

    Rahang Arion mengeras, menciptakan garis tegas yang kaku di sepanjang perjalanannya mengantar Senja. Jemarinya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kirinya tak sedetik pun berpindah dari tas laptop di sampingnya—seolah benda itu adalah jantung yang harus ia lindungi."Tindakanmu impulsif, Arion," suara Senja memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil."Dia dalangnya. Titik." Suara Arion rendah, parau oleh amarah yang tertahan."Itu bukan Garda.""Kenapa kamu terus membelanya?!" Arion menghantam kemudi, membuat mobil sedikit oleng."Aku tidak membela siapa pun. Aku memintamu melihat dengan kepala dingin!" Senja menyambar lengan Arion, memaksanya menepi. "Kejadian ini terlalu rapi. Seolah-olah panggung ini memang sengaja disiapkan untukmu."Arion tertawa sinis, matanya menyalang merah. "Hanya dia yang tahu koordinat tempat itu, Senja. Hanya dia!""Bisa saja seseorang membuntutimu tanpa kamu sadari.""Mustahil. Aku tidak sebodo

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Jejak yang Tertinggal

    Arion menyentak tubuh Senja ke kursi penumpang dengan kasar. Belum sempat gadis itu memprotes, tubuh besar Arion sudah mengurungnya, menghalangi celah keluar."Diam. Jangan berontak," desis Arion. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang sedang memperingatkan mangsanya.Senja hanya mendengus, memilih membuang muka. Ia menelan semua makian yang sudah di ujung lidah. Ia tahu harga yang harus dibayar jika melawan; rahasia tentang tempat itu tidak boleh bocor. Sikap arogan pria itu adalah racun yang harus ia teguk demi keamanan.Sekilas, Senja mendongak. Di sana, di bawah remang lampu jalan, Garda berdiri mematung. Wajahnya tertutup bayangan, namun Senja bisa merasakan sepasang mata itu menghujamnya—dingin dan menuntut penjelasan."Apa yang kamu lihat?" Arion mengikuti arah pandang Senja. Sebuah tawa sinis lolos dari bibirnya saat menyadari keberadaan Garda. Tanpa ragu, ia mengacungkan jari tengahnya ke udara. "Keparat. Jangan harap kamu bisa mendapatkan milikku."Ari

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Saat Bayangan Mulai Bicara

    Sisa pagutan Arion masih terasa membakar di bibirnya, namun Senja tidak membiarkan sensasi itu melumpuhkan logikanya. Begitu pintu lift griya tawang terbuka di lobi, ia melangkah lebar, mengabaikan tatapan penjaga keamanan dan rintik gerimis yang menyambutnya di luar. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen dengan langkah yang nyaris tersandung. Hawa dingin malam itu langsung menusuk kulitnya, namun tidak mampu memadamkan panas yang menjalar di wajahnya akibat ulah Arion beberapa menit lalu. Ia merasa seperti baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia tidak butuh taksi mewah; ia butuh menghilang. Di bawah payung ojek daring yang pengap, Senja memacu tujuannya menuju ruko di pinggiran kota yang aromanya selalu menghantuinya setiap malam."Jangan sekarang, Senja. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada diri sendiri sambil merapatkan jaket.Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa tenang. Matanya terus terpaku pada sebuah mobil sedan gelap di belakang ojek yang ia tumpangi. Pera

  • Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku   Bibir yang Membungkam Logika

    "Kamu menuduhku mencuri?"Suara Senja memecah keheningan, tajam dan bergetar karena amarah. Di depannya, Arion hanya menyesap sisa-sisa kesabarannya. Tatapan pria itu sinis, menguliti harga diri Senja tanpa ampun."Uangnya lenyap, Nona Beringin. Itu fakta, bukan tuduhan," jawab Arion santai. Ia menyandarkan punggung, menumpangkan kaki dengan gestur arogan yang seolah mengatakan bahwa ia memiliki seluruh ruangan—termasuk nasib Senja di dalamnya.Senja terbungkam. Ia mencoba memutar otak, membedah setiap detik dalam ingatannya, mencari detail kecil yang mungkin terlewat seperti retakan pada dinding yang nyaris tak terlihat. Namun, Arion tidak membiarkannya tenang."Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?" Arion mendesak, suaranya rendah namun penuh intimidasi. Konsentrasi Senja buyar berkeping-keping. "Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu melenggang pergi sebelum uangku kembali utuh."Arion mencondongkan tubuh, mengikis jarak hingga Senja terperangkap di antara sandaran kursi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status