LOGINPada saat itu, Dani kembali ke rombongan mereka, dan langsung menyela pertanyaan Doni kepada Richard.Melihat kedatangan Dani, Doni menyapanya, "Pak Dani."Dani mengangguk, tetapi pandangannya justru tertuju pada Richard. "Pak Richard."Richard mengangguk. "Halo, Pak Dani."Mereka jarang bertemu, tetapi selama kegiatan berkemah terakhir kali, keduanya sama-sama menyadari perasaan mereka masing-masing terhadap Clara.Dani dan Richard tidak banyak berinteraksi, tetapi dia tahu kalau Richard cukup pendiam, dan biasanya jarang menghadiri jamuan bisnis karena tuntutan profesinya.Kehadirannya malam itu kemungkinan besar karena Richard tahu Clara juga akan hadir.Tatapan mata mereka bertemu beberapa sesaat, dan mengonfirmasi perasaan masing-masing.Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang membuat keributan. Setelah pandangan mereka bertemu, mereka pun segera berpaling wajah.Richard pada dasarnya tidak terlalu mengenal Edward, termasuk pada Vanessa dan yang lainnya. Apalagi, karena Anggi j
Sesaat kemudian, Dani muncul di hadapan Clara. “Pak Dylan, Bu Clara.”Clara dan Dylan mengangguk. “Pak Dani.”Dani berkata kepada Clara, “Aku sudah menonton siaran langsung saat kau memenangkan penghargaan minggu lalu. Selamat, ya.”Dani bukan hanya menontonnya, tetapi dia sebenarnya sangat ingin datang menyaksikan momen bahagia itu dan mengucapkan selamat kepada Clara secara langsung.Namun, dia sangat sibuk beberapa hari itu, jadi tidak bisa datang ke sana.Clara berkata, “Terima kasih.”Pada hari dia memenangkan penghargaan, Dani sebenarnya juga sudah mengirimkan pesan untuk mengucapkan selamat kepadanya. Sekarang, mendengar dia kembali mengucapkan selamat, Clara berpikir itu karena Dani tidak tahu harus mengobrol apa dengannya dan Dylan, jadi mengungkit hal itu lagi.Dani ingin mengobrol lebih banyak dengan Clara, tetapi pada saat itu, Gery tiba. Dia tentu saja juga melihat Dani, tetapi bersikap seolah-olah tidak melihatnya sama sekali, dan hanya menyapa Clara beserta Dylan, “Halo
Vanessa mengambil inisiatif dan menyapa terlebih dahulu, "Halo, Doktor Luwana. Nama saya Vanessa."Doktor Luwana mengangguk dan menjabat tangannya.Saat itu, asisten Doktor Luwana memberitahu bahwa beberapa teman lamanya telah tiba. Dia menepuk bahu Edward dan berkata, "Aku akan pergi menemui beberapa teman lama dulu, kita mengobrol lagi nanti."Edward menjawab, "Silakan."Setelah beberapa saat, Dani dan Gading juga tiba.Melihat keberadaan Edward dan Vanessa, Gading dan Dani segera datang menghampiri mereka. Gading berkata, "Bagus ya kalian berdua, aku tadi bertanya ke kalian di grup mau berangkat jam berapa, tapi nggak ada yang menjawab. Aku pikir kalian akan datang telat, tapi ternyata malah sudah sampai duluan."Edward mengeluarkan ponselnya dan memeriksa sekilas. "Maaf, tadi aku sedang di perjalanan, jadi nggak sempat memperhatikan ponsel."Gading mengangkat alisnya, lalu memandang Edward dan Vanessa dengan ekspresi menggoda. "Oh, jadi kalian berdua sama-sama nggak punya waktu unt
Selama dua hari berikutnya, Clara menjadi lebih sibuk, bahkan pada hari Sabtu pun dia tidak memiliki waktu luang.Elsa meneleponnya, dan setelah mengetahui Clara masih harus bekerja pada hari Sabtu, dia bertanya, "Bagaimana dengan malam ini? Apa Mama juga nggak punya waktu malam ini?""Iya, Mama ada urusan lain nanti malam."Elsa berkata, "Ayah juga nggak punya waktu nanti malam."Clara menduga Edward mungkin juga akan menghadiri perayaan ulang tahun Institut Penelitian Doktor Luwana.Doktor Luwana sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif Global dari tiga perusahaan teknologi yang masuk dalam peringkat tiga besar dunia selama bertahun-tahun. Beliau adalah salah satu sosok langka di dunia akademisi dan industri Kecerdasan Buatan Marola, dia memiliki reputasi akademis internasional tingkat atas serta pengalaman industri perusahaan terkemuka.Jaringan relasi dan sumber dayanya tentu saja amat sangat luar biasa.Institut Penelitian Doktor Luwana baru-baru ini berhasil me
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”Diana tidak mengerti tentang investasi atau pun industri, tetapi dia sangat takut jika sampai kehabisan uang.Dia menatap Vanessa. “Kak, bagaimana dengan Kak Edward ....”Sebelum dia selesai berbicara, ponsel Vanessa tiba-tiba berdering. Melihat nama penelepon di layar, ekspresi Vanessa menjadi rileks seketika, dan segera menjawab panggilan tersebut.Setelah mendengar apa yang dikatakan orang di ujung telepon, wajahnya yang tegang perlahan berubah, kembali menjadi tenang dan penuh percaya diri seperti biasanya.Dia tersenyum dan berkata, “Oke, aku mengerti. Aku akan segera ke sana.”Dilihat dari ekspresi dan nadanya, semua orang sudah bisa menebak siapa orang yang ada di ujung telepon itu.Ervan bertanya, “Apa itu dari Edward?”Vanessa tersenyum, lalu bergumam mengiyakan. Dia segera mengambil tasnya, dan berkata, “Aku sudah berbicara dengan Edward soal masalah perusahaan kita beberapa hari yang lalu. Dia membantuku menghubungi beberapa orang dan
Clara keluar dari mobil Edward yang berhenti dengan jarak sekitar tiga ratus meter dari Morti Group.Setelah dia keluar, mobil Edward pun langsung melaju pergi.Rendi yang terus mengikuti dari belakang, memperhatikan ke arah perginya mereka selama beberapa saat, kemudian akhirnya pergi.Kerja sama Morti Group dan Jetwave Labs selalu berjalan dengan sangat baik.Sesampainya di kantor, Clara langsung mengadakan rapat kecil sebelum pergi menuju ke Jetwave Labs.Sore itu, Jetwave Labs memberikan kabar baik bahwa mereka telah berhasil mencapai terobosan besar dalam teknologi fusi multimodal.Begitu kabar tersebut diberitakan secara luas oleh media massa, langsung menarik perhatian para pakar teknologi baik di dalam maupun luar negeri.Baik X-Tech maupun Jetwave Labs sama-sama bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan kendaraan otonom pada mobil. Begitu berita dari Jetwave Labs keluar, Diana dan yang lainnya langsung menerima kabar itu dan segera mengabarkannya kepada Vanessa.Ekspre







