INICIAR SESIÓNVanessa tahu bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak bisa membiarkan keadaan ini semakin memburuk.Dia tersenyum dan segera berbicara, "Pak Dylan, saya ...."Namun, sebelum dia selesai bicara, Anggi sudah menyela, "Bukannya memang benar begitu?"Anggi melipat tangannya, lalu menatap Dylan dan Clara dengan pandangan sinis. Nada suaranya tidak sesopan Rendi. "Pak Dylan, kalau kau berani melakukannya, seharusnya kau juga berani mengakuinya, kan? Lagipula, walaupun kau mengaku, aku tetap akan menganggapmu ...."Vanessa tidak menyangka Anggi akan tiba-tiba berbicara. Ekspresinya langsung berubah, dan buru-buru menyela, "Anggi!"Setelah menyela Anggi, Vanessa menatap Dylan, dan hendak berbicara, tetapi bagaimana mungkin Dylan akan memberinya kesempatan?Dylan menatap Anggi, senyum tipis terukir di bibirnya. "Anda Bu Anggi, kan? Kalau nggak salah ingat, Anda dan Vanessa adalah teman dekat. Pantas saja setelah kembali ke negara ini, Anda langsung melabrak ke Morti Group untuk mempermalukan dan m
Vanessa, Edward, dan Anggi juga sudah mendekati area panggung, tidak jauh dari posisi Clara dan Dylan.Namun, Vanessa belum sempat mengatakan apa pun.Mendengar semua ucapan Rendi, dia buru-buru berkata, "Kak Rendi ...."Rendi kemudian menoleh ke arah Vanessa.Ekspresinya langsung melembut saat melihat sosok Vanessa.Namun, ketika melihat sosok Edward yang ada di samping Vanessa, sorot matanya langsung berubah kembali dingin.Melihat Vanessa hendak berbicara, Rendi berasumsi bahwa dia tidak ingin mengungkapkan kebenaran dalam situasi ini, lagipula, ini adalah acaranya Dokter Luwana.Tetapi .…Rendi hanya merasa kasihan padanya.Dia hanya merasa sangat kasihan pada wanita itu.Karena Vanessa sama sekali tidak tahu bahwa jika dia tidak membela, maka tidak akan ada yang benar-benar tulus mencari keadilan untuknya!Semakin Rendi memikirkannya, semakin teguh pula tatapannya.Rendi memberi isyarat kepada Vanessa dengan tatapannya, dia ingin mengatakan bahwa wanita itu tak perlu bicara apa pu
Melihat reaksi Dokter Luwana dan semua tamu undangan, senyuman Rendi tidak memudar, tetapi sorot matanya tampak dingin. Dia menatap lurus ke arah Clara dan berkata, "Benar, semua orang juga tahu kalau itu nggak mungkin, kan? Tapi anehnya, ada orang yang ber..ha..sil melakukannya!"Rendi sengaja mengucapkan kata-kata "berhasil melakukannya" dengan penekanan satu per satu, tanpa menyembunyikan sarkas di wajah dan nada suaranya.Setelah mendengar ucapan Rendi, para tamu otomatis langsung mengerti bahwa Rendi ingin memberi tahu semua orang kalau cara Clara masuk Morti Group tidaklah bersih. Dia tidak sebaik yang diperkirakan semua orang, dan makalah yang dia terbitkan bukan hasil karyanya sendiri.Apakah Clara sehebat yang dipikirkan semua orang atau tidak, sepertinya tidak ada masalah dengan pihak luar selama tidak mempengaruhi kerja sama kedua belah pihak.Jika makalah yang diterbitkan oleh Clara semuanya ditulis oleh Dylan sendiri atau orang lain, maka hal itu berarti sudah menjadi peni
Kata-kata Rendi ditujukan langsung kepada Dokter Luwana.Dokter Luwana mendengarkan, lalu dia berpikir sejenak, dan berkata dengan suara datar, "Itu nggak berlebihan." Vanessa masuk universitas pada usia empat belas tahun, meraih gelar doktor dari salah satu tiga universitas terbaik dunia pada usia dua puluh lima tahun, dan pembimbing doktoralnya adalah Prof Kevin Smith, seorang tokoh besar di industri ini. Salah satu dari tiga prestasi tersebut saja sudah cukup untuk menjadikannya seorang jenius, apalagi jika ketiganya digabungkan sekaligus.Namun .… Rendi terkekeh dan melanjutkan, “Pada hari teman saya seharusnya datang ke Morti Group, saya menunggu lama sekali tapi dia nggak jadi datang. Sebaliknya, saya justru melihat Pak Dylan mencium dan memeluk seorang wanita asing di depan pintu kantor. Ketika saya menghubungi teman saya saat itu, saya baru tahu bahwa posisinya telah diambil, dan bahwa Pak Dylan tiba-tiba memutuskan untuk nggak mempekerjakannya lagi.” Setelah mengatakan hal
Rendi tidak memandang ke arah bawah panggung dan memperhatikan reaksi orang lain, dia juga tidak memberi Vanessa kesempatan untuk berbicara.Mendengar ucapan Dokter Luwana, dia lalu tersenyum sinis. "Oh, begitu? Apa yang membuat Anda berpikir begitu, Dokter Luwana? Apa karena Anda telah membaca makalah-makalahnya yang telah diterbitkan, atau karena Anda baru saja berbicara dengannya dan langsung bisa memastikan bahwa kemampuan Clara memang sehebat itu?"Dokter Luwana hendak menjawab iya, tetapi Rendi menatapnya dan melanjutkan tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara, "Tapi apa Anda yakin benar-benar sudah mengenalnya? Apa Anda yakin dia benar-benar sehebat yang Anda bayangkan?"Ucapan Rendi jelas sarat akan makna.Awalnya, sebagian besar tamu merasa cukup bingung dengan adegan tersebut, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.Namun, sebagian besar orang yang hadir di sana, baik mereka berkecimpung di bidang Kecerdasan Buatan atau tidak, dan terlepas dari apakah me
Suara yang tiba-tiba terdengar menyela itu langsung menarik perhatian semua orang ke arah panggung.Clara dan Dylan yang berada lebih dekat dengan panggung, langsung mengenali bahwa sosok orang itu adalah Rendi.Ditambah dengan apa yang baru saja dikatakan Rendi, mereka berdua tertegun sejenak dan saling pandang.Saat itu juga, mereka sudah bisa menebak apa yang sebenarnya direncanakan oleh Rendi.Melihat tiba-tiba ada seseorang yang kembali menyela, Dokter Luwana mengerutkan kening.Asisten Dokter Luwana yang menyadari situasi, segera mendekati Rendi. "Pak, Dokter Luwana sedang ada urusan penting yang harus beliau sampaikan sekarang. Kalau Anda memiliki pertanyaan, Anda bisa bertanya nanti …." Rendi sama sekali tidak menatapnya, tetapi hanya menatap fokus pada Dokter Luwana, dan berkata, "Dokter Luwana, jangan khawatir, saya nggak bermaksud membuat masalah. Saya hanya ingin tahu saja. Setahu saya, Bu Vanessa yang adalah kekasih dari Pak Edward dan sekaligus Presdir dari X-Tech juga i







