Share

Bab 130

Author: Ratih Larasati
Langkah Shelly langsung terhenti.

Secara refleks, dia bergerak mundur ke sudut yang lebih tersembunyi.

Di parkiran bawah tanah yang remang-remang, Melly dan Jeffry sedang berdiri di samping Maybach.

Pintu mobil terbuka setengah. Sepertinya Jeffry tadinya hendak masuk mobil, namun dihentikan Melly.

Pria itu berdiri di sisi dalam pintu mobil dengan satu tangan bertumpu di atas bingkai pintu.

Punggungnya membelakangi Shelly.

Shelly tidak bisa melihat ekspresinya.

Dia hanya mendengar suara rendah pr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 136

    “Pak Harrison.” Tatapan kosong di mata Shelly perlahan menghilang dan kembali jernih.Namun, Harrison tetap bisa langsung melihat kalau dia sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa? Kamu masih pusing dengan urusan Elora?”Shelly tersenyum tipis sambil menggeleng. “Nggak.”Sikap sopan dan dinginnya tentu tidak mungkin luput dari perhatian Harrison.“Aku sudah menyelidiki semuanya. Orang yang berulah memang wanita bernama Livia itu. Dia main curang dan mengambil keuntungan diam-diam sampai menyinggung orang lain. Ujung-ujungnya, Elora yang kena imbas. Livia memang orangnya Elora, jadi Elora pantas menanggungnya.”Jadi, jatuhnya Elora waktu itu bukan kecelakaan?Shelly langsung tercengang. Begitu mendengar nama Livia, rasa terkejutnya makin besar.“Aku juga sudah memperingatkan Elora. Dia nggak akan mencari masalah denganmu lagi.”Harrison merasa Elora pasti takut reputasi rusak sehingga pasti akan mendengarkan ancamannya.“Kamu menemui Elora?”“Tentu saja.” Harrison menepuk dadanya sendiri. “

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 135

    “Meskipun dia nggak punya keluarga sedarah, kemungkinan cocok dengan donor lain tetap cukup besar. Nggak akan apa-apa.”Shelly akhirnya membuka suara.Saryna yang sedang jongkok sambil bersandar di dinding itu mengangkat kepala untuk menatap Shelly. “Masalahnya ada pada uang. Perkiraan paling minim sebesar 1,2 miliar. Kalau uang kita habis untuk ini, bagaimana mungkin kita masih bisa pergi dari Tavira?”Ucapan itu membuat jantung Shelly langsung menegang.Firasat buruk yang beberapa hari terakhir terus menghantuinya kini membesar sampai puncaknya.Kalau tidak punya uang, bagaimana mereka bisa pergi? Bagaimana dia bisa mengundurkan diri?Bibir Shelly bergetar. Dia menunduk menatap Saryna.Kerutan di dahinya semakin dalam hingga wajahnya tampak rapuh.Keduanya saling diam.Waktu berlalu sedetik demi sedetik, hati Shelly tenggelam sedikit demi sedikit.Beberapa saat kemudian, Saryna berdiri dan berjalan mendekati Shelly. “Lyly … kita nggak mungkin abaikan. Kita ….”Dia menggigit bibir. Ti

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 134

    “Bu, aku datang terlambat. Ibu pasti sudah kelaparan, ya.”Kevin membawa sekotak makanan, menutup pintu kamar dan berjalan ke ranjang pasien di sebelah sambil berbicara pelan.Wanita di ranjang perlahan duduk sambil memaksakan senyum. “Ibu belum lapar. Akhir-akhir ini kamu pasti kecapekan karena harus bolak-balik mengurus ibu.”“Nggak apa-apa, Ibu makan dulu.” Kevin membuka kotak makanannya satu per satu, lalu menyuruh ibunya segera makan.Namun setelah semuanya ditata, dia baru sadar dirinya lupa mengambil sendok.“Aduh, tadi terlalu buru-buru sampai lupa ambil sendok. Aku beli dulu.”Ibunya langsung menahannya. “Ibu makan roti saja. Lauknya simpan untuk malam. Sebentar lagi kamu juga harus kembali kerja. Cepat istirahat sebentar!”“Tapi Ibu harus konsumsi banyak nutrisi.” Kevin mencoba melepaskan tangan ibunya.Namun, sang ibu kembali menariknya.Keduanya terus saling bersikeras.Melihat situasi ini, Shelly akhirnya membuka suara. “Aku punya sendok cadangan. Pakai saja dulu.”Saat me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 133

    “Bu Shelly awalnya cuma izin setengah hari. Barusan dia mengirim pesan lagi dan meminta cuti beberapa hari.”Jeffry memainkan pulpen di ujung jarinya.Ekspresinya sulit ditebak, tidak terlihat marah ataupun senang.Namun ada aura seolah semuanya memang sudah dia duga sejak awal.“Kamu keluar saja.”Roy langsung berbalik dan buru-buru pergi.Setelah suara pintu tertutup terdengar, kantor kembali sunyi.Maxwell yang berdiri di samping hanya bisa menahan napas.Dia adalah satu-satunya orang yang tahu Jeffry sudah memberikan surat perjanjian pengunduran diri pada Shelly. Dan semua syarat tambahan di dalam surat itu, ditambahkan olehnya sesuai instruksi Jeffry.“Masalah di acara pertunangan sudah diselidiki?” Jeffry tiba-tiba mengganti topik dan tidak lagi membahas Shelly.Maxwell juga tahu diri dan ikut tidak menyinggungnya lagi. “Walaupun belum ada bukti pasti .…”Maxwell menjawab hati-hati, “… semua petunjuk mengarah ke Livia.”“Dia memanfaatkan wewenang yang diberikan Nona Elora untuk m

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 132

    Setengah jam kemudian, Rumah Sakit Umum Tavira.Shelly turun dari taksi lalu berjalan cepat menuju gedung rawat inap.Begitu sampai di lantai tiga dan membuka pintu kamar rawat inap, bahkan sebelum sempat melihat keadaan di dalam, seseorang langsung menggenggam tangannya dan menariknya keluar.Bibi Yanti membawa Shelly sampai ke sudut lorong yang sepi.Belum sempat Shelly bertanya, wanita itu sudah lebih dulu menangis.“Bagaimana keadaan Jessica?”Melihat Bibi Yanti menangis, hati Shelly langsung kacau.“Dokter curiga … dia mengidap penyakit leukemia!” Suara Bibi Yanti bergetar karena tangis.“Aku pikir dia bisa jadi anak paling berhasil berikutnya setelah kamu … siapa sangka malah jadi begini .…”“Jangan menangis dulu.” Shelly buru-buru menenangkan. “Hasil pemeriksaan akhir masih belum keluar. Jessica pasti akan baik-baik saja.”Shelly menghibur Bibi Yanti, sekaligus terus mencoba menenangkan dirinya sendiri.Karena saat melihat Jessica, dia seperti melihat dirinya sendiri di masa lal

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 131

    Namun kalau Jeffry yang bergerak, mustahil ada celah yang bisa ditemukan.Shelly sama sekali tidak menemukan jalan keluar.“Jadi … kamu tetap tanda tangan?” Saryna mulai gelisah. “Kita masih jadi pergi atau nggak?” Shelly terdiam beberapa detik, lalu dia menutup dokumen itu dengan tegas.Mengambil napas panjang, dia berkata, “Tanda tangan. Kita tetap pergi.”Shelly mengambil pulpen dan langsung menuliskan namanya di atas surat pengunduran diri itu.Saryna langsung bersemangat. “Aku dukung kamu! Kalau nanti kamu nggak punya pekerjaan, aku yang akan menafkahi ….”Saryna buru-buru menambahkan sambil tertawa, “… kalian berdua!”“Besok aku langsung serahkan surat pengunduran diriku. Tunggu kabar baik dariku.”Begitu tanda tangannya selesai dibubuhkan, Shelly merasa hatinya jauh lebih ringan.Meski di dalam sana masih ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.Malam itu juga Saryna mulai membereskan barang-barang.Saking senangnya, dia bahkan tidak tidur sampai larut malam.…Di rumah sakit, men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status