Share

Bab 170

Author: Ratih Larasati
Shelly menceritakan semua perkataan Jessica kepada Saryna tanpa melewatkan satu detail pun.

“Aku selalu merasa ada yang aneh.”

“Itu .…”

Belum Saryna menyelesaikan kalimatnya, bayi kecil itu tiba-tiba menangis keras.

Saryna langsung berdiri dan menggendong Nara sambil menenangkannya.

“Sudah, sudah, jangan nangis ya … Ibu di sini .…”

Saryna menggendong bayinya sambil mondar-mandir di dalam ruangan, lalu memberi isyarat pada Shelly.

“Kamu tidur dulu di kamarku sana. Lihat deh akhir-akhir ini kamu s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 251

    Shelly tidak melihat siapa pun di luar. Dengan hati-hati, dia membuka sedikit celah.“Taraaa!”Saryna menyembulkan kepala sambil mengangkat dua es krim di tangannya. “Mau makan?”“Kenapa kamu datang?”Shelly membuka pintu sepenuhnya, menerima es krim itu, lalu berkata, “Bukannya kamu bilang aku nggak boleh makan yang beginian?”“Nggak boleh terlalu banyak. Sesekali nggak masalah.”Saryna masuk ke dalam rumah dan langsung menarik koper Shelly. “Kamu sedang hamil. Mana mungkin aku tega membiarkanmu beres-beres sendirian? Ayo, aku jemput kamu pulang.”Dia memberi isyarat agar Shelly segera mengganti sepatu.Setelah berganti sepatu, Shelly membawa es krimnya dan mengikuti Saryna turun.Dia menggigit sedikit demi sedikit. Rasa dingin dan manis perlahan meleleh di dalam mulutnya.Matanya tanpa sadar menyipit penuh kepuasan.“Tadi aku menemani Nana tidur sebentar, jadi sekarang tenagaku penuh lagi. Nanti kita cari tempat makan, ya?”Saryna memasukkan koper Shelly ke bagasi mobil.Shelly membu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 250

    Garis rahang Jeffry tampak tegas. Urat-urat di tangan yang bertumpu di tepi meja terlihat menonjol, sementara ujung jarinya masih sedikit basah oleh teh yang tumpah.“Siapa orang yang baru saja kamu temui?”Herman duduk di hadapannya. “Oh, aku sampai lupa. Itu sekretarismu. Seharusnya tadi aku memanggilnya masuk untuk menyapamu.”Napas Jeffry seketika tertahan.Alisnya yang semula hanya sedikit berkerut kini mengatup rapat.Shelly?Hamil 22 minggu?Perkembangan janin lebih kecil dari seharusnya?Trimester akhir sama sekali tidak boleh melakukan hubungan suami istri?Soal pengetahuan kehamilan, Jeffry tidak tahu apa pun.Dari percakapan yang barusan didengarnya, satu-satunya hal yang terasa akrab hanyalah suara Shelly.Semua yang lain terdengar asing. Begitu asing hingga dia merasa wanita itu bukan Shelly, melainkan hanya seseorang yang memiliki suara serupa.Namun ….Bagaimana mungkin dia salah mengenali suara yang begitu dikenalnya?“Aku dengar dia akan dipindahkan ke luar kota karena

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 249

    Ruang VIP itu terbagi menjadi dua bagian. Pintu ruangan di bagian dalam terbuka setengah.Herman duduk di depan meja berbentuk persegi. Tangannya menyeduh teh dengan gerakan terampil.“Dokter Herman.” Shelly melangkah masuk.“Maaf sudah merepotkan Nona Shelly datang sejauh ini.”Herman mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Shelly duduk.Shelly tidak melihat berkas rekam medisnya. Dengan sopan dia berkata, “Aku nggak ingin mengganggu waktu Anda. Tolong berikan berkasnya saja.”“Maaf, berkasnya ada di mobil. Aku sudah meminta pelayan untuk mengambilnya.”Herman mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung, lalu menuangkan teh hingga memenuhi cangkir di depan Shelly.“Mohon tunggu sebentar. Tenang saja, teh ini aman untuk ibu hamil. Kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.”Dari ruangan di balik pintu yang terbuka setengah itu terdengar suara pelan.Sepertinya ada seseorang di dalam. Mungkin tamu yang sebelumnya diundang Herman.Shelly tanpa sadar mengernyitkan al

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 248

    Jeffry tidak menghentikan gerakannya yang mendorong pintu.“Sesama pria, kenapa banyak sekali drama? Kalau kamu berani membohongiku, aku habisi nyawamu.”Nada bicaranya terdengar santai. Ini menunjukkan keyakinannya terhadap persahabatan mereka, sekaligus kepercayaannya kepada Herman.Herman kembali duduk di kursinya.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.Setelah lama terdiam, sorot matanya perlahan berubah semakin dalam dan suram.Elora, tunggu saja!…Sehari sebelum akhir pekan, Shelly menerima pesan dari Herman yang mengajaknya bertemu di sebuah kafe di pinggiran kota keesokan harinya.“Dia mengajakmu bertemu?”Begitu mendengar cerita itu, Saryna hampir meloncat dari tempat tidur. “Dia tertarik padamu? Aku yang sudah punya anak saja sudah terdengar nggak masuk akal, apalagi kamu yang sedang hamil!”Shelly mematikan layar ponselnya, lalu menepuk pelan kepala Saryna.“Dia hanya ingin memberikan berkas rekam medisku.”Saryna mengusap dahinya. “Oh ….” Lalu kembali menjatuhkan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 247

    Elora menarik napas dalam-dalam. Jangan-jangan … dia benar-benar dipermainkan oleh Herman?“Silakan berbaring. Jangan tegang. Ini hanya pemeriksaan biasa.”Dokter asing itu mendorong kacamatanya ke atas pangkal hidung.Elora tetap berdiri di tempat.Secara refleks dia meraba kantong bajunya, tetapi kantong itu kosong.Tasnya berada di tangan Jeffry dan ponselnya ada di dalam tas itu.Dia ingin menelepon Herman untuk memastikan semuanya, tetapi .…“Nona Elora, tidak perlu terlalu gugup.” Melihat Elora tetap tidak bergerak, dokter asing itu menepuk pelan ranjang pemeriksaan. “Silakan berbaring dulu, ya? Masih ada pasien lain yang sedang menunggu di luar.”Elora menarik napas panjang.Dengan susah payah dia menahan keinginan untuk berlari keluar dari ruangan, lalu perlahan berbaring di atas ranjang.“Tolong angkat bajunya.”Dokter asing itu menyiapkan alat pemeriksaan.Melihat Elora masih diam, dia kembali mengingatkan.Elora menggenggam ujung bajunya erat-erat.“Dokter … tiba-tiba saya t

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 246

    Bibi Yanti tiba-tiba menerobos masuk.Shelly dan Jessica sama-sama terkejut.Mereka menoleh bersamaan ke arah Bibi Yanti.Saat itu, Bibi Yanti sudah berjalan hingga berdiri di depan mereka.“Mau pergi ke mana?”Nada suaranya tajam dan penuh ketidakpuasan, seolah-olah Shelly baru saja melakukan kesalahan besar.“Belum pasti.” Shelly melepaskan genggaman tangan Jessica, lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya dan berjalan keluar.Dengan keadaan Bibi Yanti sekarang, tidak pantas membahas hal itu di depan Jessica.Baru saja Shelly keluar, Bibi Yanti langsung mengikutinya.“Setiap kali ditanya jawabannya selalu belum pasti. Berarti kamu sendiri juga belum punya rencana. Dengan perut yang sedang mengandung, sebenarnya kamu mau pergi ke mana?”“Soal kehamilanmu juga belum selesai kita bicarakan. Mumpung perutmu belum terlalu terlihat dan bayinya masih kecil, lebih baik segera digugurkan. Kamu juga tidak akan terlalu menderita nanti .…”Shelly langsung berhenti melangkah.Dia berbalik dan mem

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 124

    Banyak tatapan langsung mengarah pada Shelly.Ada yang memandang iba.Ada juga yang terang-terangan ingin menonton keributan.Yang membuat Shelly sedikit terkejut adalah … Livia hanya meliriknya sekali dan tidak menunjukkan ekspresi puas seperti biasanya.Jendela ruang tamu terbuat dari kaca buram s

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 123

    Begitu Melly dan Jeffry pergi, Marina langsung menoleh pada Elora dan bertanya,“Bagaimana bisa kamu jatuh?”Elora tampak seperti ingin menangis. “Aku juga tidak tahu … tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan.”Padahal pertunangan tinggal selangkah lagi berhasil.Siapa sangka masalah justru muncu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 122

    Masalah dihina habis-habisan di internet sebelumnya … semuanya ditimpakan pada Shelly.Dan sekarang, kejadian kali ini juga tetap disalahkan padanya!Begitu Marina selesai bicara, Melly langsung terdiam.Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba.Tidak ada yang benar-benar melihat apa yang sebenarnya terja

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 121

    “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Harrison membaca berita di ponselnya sambil berkata santai, “Media bilang tulang kaki Elora retak.”Jatuh dari tangga setinggi itu dan hanya mengalami retak tulang sebenarnya sudah termasuk keberuntungan di tengah kesialan.Namun Elora adalah putri kesayangan Kelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status